SEPATU UNTUK BAPAK

Saat masih tinggal di daerah Kebon Kacang, Jakarta, saya sering sekali ke mall Grand Indonesia karena jaraknya sangat dekat. Saking seringnya, saya sampai hapal layout gedung dan pertokoannya. Namun tiba-tiba ada yang aneh. Setiap terdorong mampir ke toko sepatu, saya selalu tertarik membeli, tapi bukan untuk saya sendiri, melainkan untuk Bapak. Entah kenapa yang teringat selalu Bapak. Begitu terus sampai akhirnya saya telepon orang tua saya di Bandung, dan bilang ke Bapak, “Pak, nanti aku ke Bandung, kita beli sepatu ya. Tiba-tiba aja pengen beliin”. “Siaapp”, kata Bapak. Ibu yang ada di situ mungkin agak cemburu, tapi juga maklum karena anaknya ini memang “anak Bapak” dan sangat moody, jadi saat mood-nya untuk membelikan Bapak, ya sudah, dibiarkan saja.

Tibalah waktu saya ke Bandung, dan saya ajak keluarga ke Trans Studio Mall, untuk belikan sepatu Bapak sekalian makan bersama. Saat di salah satu toko mall, saya bilang ke Bapak, “pokoknya pilih yang bagus dan enak, harganya harus di atas 1 juta”. Saya tidak ingin Bapak merasa segan, dan saya betul-betul ingin Bapak beli yang terbaik. Walaupun akhirnya kebablasan. Setelah pilih-pilih sepatu, Bapak jadi nunjuk baju-baju yang ada di toko, topi, kaos kaki, sambil seolah ngasih arahan “Ni… “. “Hahaha”, tawa saya dalam hati. Akhirnya kami keluar toko dengan tas berisi barang belanjaan, milik Bapak seorang.

Para penonton Bapak belanja

Ekspresi Bapak yang priceless

Semua tampak biasa saja, bukan? Sampai akhirnya belakangan saya sadar kenapa saya seperti itu. Kenapa saya ingin belikan Bapak, dan kenapa hanya Bapak.

Dulu, saat saya kecil, memori yang tertanam di kepala saya, Bapak-lah yang selalu menemani saya beli sepatu untuk sekolah. Pergi ke pasar Suci, pasar baru, atau pasar lain, selalu di pasar. Tidak ada memori di kepala saya beli sepatu di tempat bagus, apalagi beli sepatu bermerek. Sepatu saya, paling harganya Rp 25.000, produk abal-abal. Bapak bilang “sepatu itu sama aja, ujungnya sama-sama diinjek. Sepatu mahal itu cuma buat gaya, jadi untuk apa”. Itu yang saya akhirnya percaya dan yakini.

Hingga akhirnya saya dewasa, punya uang, saya jadi punya kesempatan untuk coba beli sepatu “bagus”, sepatu “mahal”. Dan ternyata rasanya memang beda, nyamannya beda, empuknya beda. “Kemana saja saya selama ini?”, itu yang saya rasakan. Waktu berlalu, ternyata sepertinya pengalaman itu membangkitkan memori lama. Saat lihat sepatu, secara alam bawah sadar ternyata saya ingat si Hani kecil, yang seandainya punya kesempatan, mungkin akan bilang ke Bapaknya waktu itu “nggak, Pak. ternyata sepatu mahal tu rasanya beda. Empuknya beda. Ini beda dengan sepatu murah yang Bapak bilang sama aja”. Ternyata si Hani kecil ingin membayar pengalaman itu. Si Hani kecil ingin bapaknya tahu apa bedanya sepatu bermerek, dan ingin bapaknya ikut merasakan langsung.

Menyadari itu, saya tertegun sendiri. Betapa dalamnya pengalaman masa kecil tertanam di diri kita, betapa besar dampaknya bagi psikologis kita, dan betapa kita tidak tahu kapan momen-momen emosional itu akan muncul ke permukaan saat kita dewasa. Mungkin karena itu, ada yang namanya “inner child”. Karena kenyataannya kita tidak seutuhnya tumbuh, kita tidak benar-benar adalah kita di momen sekarang, dan kita hanyalah kita saat kecil yang bersembunyi jauh di dalam kumpulan memori, seperti si Hani kecil dan pengalamannya membeli sepatu dengan Bapak, puluhan tahun yang lalu.

Hari ke-21 Ramadhan sehabis sholat shubuh,

Hani Rosidaini

2 thoughts on “SEPATU UNTUK BAPAK

Leave a comment