Punya Aksen Bicara Ternyata Bagus di Zaman AI

Salah satu topik video Prof. Jiang yang menarik

Algoritma Youtube sekarang bisa merekomendasikan video apa saja yang dianggap akan menarik untuk kita berdasarkan histori kita menonton. Kemarin, Youtube di layar saya tiba-tiba memutar video komentar Profesor Jiang tentang perang Iran. Saya biarkan audionya berjalan sambil mengerjakan hal lain. Awalnya meyakinkan. Suaranya identik, natural, familiar. Tapi semakin lama saya mendengarkan, semakin terasa ada yang aneh: Oh, bahasa Inggrisnya terlalu sempurna! Saya langsung mengambil kendali layar, mengecek kanalnya. Benar saja: bukan kanal resmi Prof. Jiang. Saya lalu membuka kanal Predictive History untuk membandingkan. Di situlah terasa jelas perbedaannya. Prof. Jiang yang asli punya aksen khas orang non-native. Walau bahasa Inggris-nya lancar, tetap saja sering ada jeda yang acak dan pelafalannya tidak selalu sempurna. Sesekali ada kata-kata yang kadang kurang jelas terdengar. Intinya: dia punya aksen! Tapi justru itu yang meyakinkan saya bahwa video sebelumnya hanya hasil AI, karena Prof. Jiang yang asli tidak sesempurna itu.

Di momen itu, saya jadi berpikir, wah, beruntung sekali ternyata orang-orang yang memiliki aksen tertentu. Dengan banyaknya teknologi AI yang berpusat di Barat dan menggunakan bahasa Inggris, warga non-native pemilik aksen justru relatif diuntungkan dalam konteks ini. Sesuatu yang tidak umum membuat dirinya menjadi unik, yang bahkan teknologi AI kini masih belum bisa menyerupainya. Semakin pola kita tidak terbaca, semakin sulit kita dipalsukan oleh AI. Saya sendiri tidak bisa menebak di kata apa saja aksen Prof. Jiang akan muncul. Polanya acak. Jadi, di momen ini, saya menyimpulkan perfection = imperfection in the AI (generated-content) world. Inkonsistensi yang manusiawi adalah kunci.

Lantas, bagaimana kalau nanti AI sudah bisa menyerupai sampai ke detail-detail inkonsistensi manusia seperti tadi? Awalnya saya pikir solusinya adalah basis data. AI hanya bisa menyampaikan data yang sudah direkam. Selama ada data yang tidak kita publikasikan, AI peniru tetap tidak akan sempurna. Tapi setelah dipikir ulang, AI kan punya kemampuan prediksi juga, jadi sepertinya dia akan tetap bisa memprediksi data dan informasi yang belum kita sampaikan. Sekarang kesimpulan saya adalah: keaslian tetap tidak akan bisa diandalkan dari sinyal. Bukan dari suara, gaya bicara, bahkan bukan dari ketidaksempurnaan, karena semua itu pada akhirnya akan bisa ditiru. So, satu-satunya yang tersisa adalah: sumbernya. Bukan lagi “Apakah ini terdengar seperti dia?” melainkan “Apakah ini benar-benar berasal dari dia?”. Authenticity is no longer in the signal, but in the source. Itu kesimpulan saya untuk saat ini.

Sambil menunggu AS-Iran gencatan senjata,

Hani

Satu Kalimat di Film Yang Memaksaku Lama Berpikir

Salah satu poster film Palestine 36 yang fotonya bukan tokoh utama

Seminggu yang lalu aku nonton film Palestine 36 di CGV Grand Indonesia, bercerita tentang awal sejarah Palestina yang dizalimi oleh Zionis. Sesuai judul, ada dialog di film itu yang memaksaku untuk lama berpikir setelahnya, yang sayangnya, karena tidak dicatat, sekarang aku jadi lupa kalimat persisnya apa :’D Ditanya ke ChatGPT pun, dia tidak tahu. Tapi kira-kira begini adegannya:

[Anak kecil perempuan sedang dinasehati neneknya di tengah kondisi desanya yang sudah banyak diteror zionis]

Grandma: “I will teach you how to use it (a weapon). But you must know you have something more powerful than the entire British empire.”

The girl: “What is it?”

Grandma: “You come from a people who fight. They may take our land, but they cannot take who we are.”

Dan kurasa, dari kalimat-kalimat neneknya itu, akhirnya tertanamlah pengertian di benak si anak bahwa dia sungguh harus jadi kuat dan terus pantang menyerah, karena dia keturunan pejuang. Bisa jadi itu pulalah yang tertanam secara kolektif di jiwa rakyat Palestina, sehingga sampai sekarang mereka masih berani melindungi tanah mereka. Kita akan lebih punya semangat juang pada saat kita tahu siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Mungkin ini juga bukan pertama kali aku atau kamu melihat adegan atau mendengar kalimat seperti itu. Tapi entah mengapa, di momen itu, interaksi si anak perempuan dan neneknya membuatku jadi berhenti sejenak untuk berpikir ulang tentang banyak hal.

  1. Aku jadi berefleksi ke diriku sendiri. Fun fact: di beberapa momen terendahku, yang bisa mengembalikan semangatku adalah setiap kali aku bilang ke diriku: “Hani, inget, kamu tu anak bapak!” Mungkin kalian sadar dari nama blogku atau beberapa tulisan di blog ini bahwa bapakku adalah manusia yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak merasa dibesarkan untuk jadi daddy’s little princess, tapi daddy’s little warrior, yang akhirnya kujadikan identitas blog ini. Bapakku seorang pekerja keras, banting tulang, tidak banyak bicara, tapi perjuangan dan berbagai pengorbanan dalam hidupnya bisa kusaksikan sendiri. Sehingga cukup hanya dengan mengingat bahwa aku adalah anak beliau, anak dari seseorang yang tidak mudah patah, itu sudah bisa memberikanku lecutan untuk tidak menyerah pada hidup, mengingatkanku lagi siapa aku dan dari mana aku berasal. Sepowerful itu. Selalu kusampaikan juga hal tersebut di depan keluarga besar, yang hasilnya, mereka tahu semangatku seperti apa, bahkan termasuk saat aku cedera lutut parah sampai meniskus (bantalan sendi) robek dan kondisi kakiku jadi “tidak normal” sampai sekarang, respon ibuku jadi seperti ini:
obrolan Whatsapp dengan ibu

“Tidak ada anak Bapak cengeng.” Hmmm… Tapi aku jadi lanjut berpikir, “Kenapa ya itu mempan di aku?”, karena aku yakin motivasi seperti itu belum tentu mempan di orang lain. Sejauh ini, teori sementaraku adalah: kekuatan diri = pengenalan identitas + attachment/kemelekatan.

2. Di saat yang sama, ini bulan Ramadan, dan aku berinteraksi dengan anak-anak muda yang beragama Islam tapi tidak berpuasa, hanya karena malas, tidak ada uzur apa pun. Itu jadi bahan renunganku juga. Jangan-jangan mereka lemah seperti itu karena tidak mengenal diri mereka dan dari mana mereka berasal. Tidak ada kekuatan karena tidak ada identitas dan tidak ada attachment. Sebenarnya, mengujinya bisa dimulai dengan memberi mereka pertanyaan pendek: “Apa kamu tahu awal mengapa kamu diciptakan Tuhan?” Karena Allah sudah berfirman: ‘Tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (kepada-Ku)” (Q.S. Adz-Dzariyat, 56). Default setting-nya manusia seharusnya hanya untuk beribadah. Kalau kamu tidak beribadah, itu artinya kamu sedang mengingkari identitasmu sendiri yang paling sejati sebagai hamba Tuhan. Ibadah bisa jadi terasa lebih ringan kalau kita ingat siapa kita di muka bumi ini. Lagi-lagi penanaman identitas.

3. Dalam konteks yang lebih besar, mau tidak mau, film Palestina 36 juga memaksaku untuk berpikir tentang umat Islam bahwa kita harus kuat dan pintar agar bisa berdaya, tidak mudah dizalimi dan terus berkembang. Dengan menggunakan rumus yang sama, mungkin umat Islam bisa lebih kuat jika lebih mengenali identitasnya dan memiliki ikatan dengan agama dan sesama umat. Selain dalam hal perang, kita harus ingat bahwa kita adalah umat yang dulu memimpin dalam ilmu pengetahuan, yang seharusnya itu digaungkan terus sehingga kita lebih punya semangat untuk meneruskan nilai-nilai itu.

4. Kalau dalam konteks rakyat Indonesia, identitas apa ya yang harus ditanamkan? Bahwa kita juga adalah bangsa pejuang? Sepertinya rakyat Indonesia tidak kekurangan attachment terhadap negaranya, tapi semakin aku berpikir dan mengingat, semakin aku sulit menangkap identitas apa ya yang selama ini ditanamkan secara kolektif. Kisah-kisah penjajahan dulu sepertinya malah membuat Indonesia punya mental “terjajah”, melihat kaum kulit putih lebih istimewa dan pintar, sehingga sering kali merasa bahwa adanya orang-orang asing di pucuk kepemimpinan itu biasa saja. Apa identitas kita? Bahwa kita bangsa besar? Besar dalam hal apa? Jumlah penduduk? Besar di sumber daya alam yang semakin lama semakin hancur itu? Sepertinya yang paling kuat adalah identitas Pancasila, konsep “berbeda tapi satu”. Terbukti ada banyak suku, ras, dan agama, tapi negara ini masih berdiri. Tapi apa itu cukup? Dan kira-kira identitas mana ya yang membuat kita jadi bangsa koruptor? Mungkin kita harus meredefinisikan lagi itu semua, kembali ke akar-akar yang baik, lalu memperkuat identitas itu sehingga kita secara kolektif bisa menjadi negara yang lebih kuat.

Akhirnya, semua kembali tentang pengenalan identitas. Yang menariknya, setiap orang punya banyak identitas yang menempel pada dirinya. Identitas mana yang kamu pilih akan menentukan karakter dan motivasimu dalam hidup. Sejauh ini, aku sendiri memilih untuk merangkul semua identitas yang aku miliki, bahwa aku adalah hamba Tuhan yang wajib beribadah, aku juga anak bapakku yang kuat, aku adalah orang Islam yang harus pintar dan berdaya, dan aku selamanya adalah orang Indonesia. Walau banyak negeri kudatangi, dan mungkin suatu hari nanti aku bisa saja berganti kewarganegaraan, tidak akan bisa menghilangkan identitas dari mana aku berasal. Identitas adalah kekuatan, tapi akan selalu butuh proses untuk mempelajari kesemuanya.

Long live Palestine,

Hani

Efek (Suplemen) Kreatin Untuk Thalassemia Gw

September 2015, di hari pertama kali gw tahu punya thalassemia

Waktu itu awalnya iseng regular check-up ke dokter, gara-gara gw punya OSHC (Overseas Student Health Cover) atau simpelnya asuransi yang bisa gw pake selama studi di Australia. Temen-temen pada pake untuk periksa macem-macem, gw jadi FOMO, padahal gw gak punya keluhan kesehatan sama sekali. Tapi ternyata hasil check-up-nya surprising. Gw jadi tahu kondisi gw yang selama ini gw gak sadar bahwa gw sangat defisit vitamin E dan termasuk bahwa gw punya thalassemia minor. Itu adalah pertama kali gw denger ada yang namanya thalassemia, dan pertanyaan yang keluar dari mulut gw pertama kali adalah: “Is it curable?”, “No, kata dokternya. Gak bisa disembuhin, cuy. Dia jelasin bahwa thalassemia adalah kelainan darah genetik, yang artinya di antara ibu dan bapak gw, salah satu dari mereka ada yang thalassemia juga. Dokternya bilang karena ini thalassemia minor, gw gak separah penderita thalassemia mayor yang harus rutin transfusi darah. Tapi setidaknya gw harus aware, karena ini akan berdampak kalau suatu hari gw menikah dan merencanakan punya anak. Sebagai pemilik thalassemia minor, kalau suami gw punya thalassemia minor juga, ada kemungkinan anaknya jadi thalassemia mayor, dan itu sangat membahayakan nyawanya. Waw, terdengar ekstrem. Tapi karena kondisi gw saat itu sangat tenang dan gw gak ngerasa si thalassemia banyak mengganggu aktivitas, jadi gw santai aja. Begitu pulang hari itu ke apartemen, gw video call ibu bapak dan ngasih tahu bahwa salah satu dari mereka punya thalassemia yang diturunin ke gw. Ibu langsung bantah, “Ah, nggak. Ibu bapak sehat-sehat aja.” “Bukannya nggak, Bu. Tapi Ibu Bapak gak tahu aja, karena gak pernah cek.” Kebetulan nyokap gw adalah tipe orang yang selalu lebih pilih gak tahu, daripada tahu lalu jadinya banyak pikiran. Makanya, regular check-up bukanlah sebuah ide yang menarik untuk beliau.

Gw cek di kliniknya kampus UniSA (Uni of South Australia)

Waktu berlalu, akhirnya 2018 gw menikah. Belum ada rencana punya anak, pikiran tentang thalassemia pun jarang diingat. Tapi setelah hidup bersama manusia lain (baca: suami) selama beberapa tahun, barulah gw ngeh bahwa ternyata gw beda. Badan gw beda, apalagi di beberapa tahun terakhir. Ngeh-nya adalah saat setiap kali pulang dari traveling, setelah gw dan suami pergi agak lama, di mana aktivitas kami selalu bareng ke mana-mana, ngerasain pengalaman yang persis sama, tapi ternyata saat pulang, kondisi badan kami sangat jauh berbeda. Misalnya, setelah jalan-jalan dari luar negeri selama dua minggu, begitu kami pulang nyampe apartemen di Jakarta, suami gw bisa langsung mandi dan pergi ke kantor di hari itu juga. Sedangkan gw, tepar gak punya tenaga sama sekali dan butuh bedrest minimal 2 hari sampai ngerasa lumayan recover. Selama ini gw pikir badan orang-orang lain juga kayak gw, setelah bepergian lama, pasti butuh bed rest lama sampai bisa berfungsi normal. Tapi setelah nikah, ada orang lain yang secara konsisten bisa gw bandingkan dengan gw, gw baru ngeh bahwa badan gw lemah. Bisa jadi memang karena beda gender juga, tapi secara umum, kalau dibandingkan dengan perempuan lain pun di aktivitas traveling bersama, badan gw minim banget tenaganya untuk kembali. Ini kadang jadi sumber konflik. Misal saat kecapekan, gw beneran setepar itu, sedangkan dari sisi suami gw, saat dia gak ngerti, ngelihat gw yang tiduran lama, dia mikirnya gw pemalas dan lelet. Padahal gw beneran slow recovery, cuy. Hal ini pula lah yang akhirnya menghubungkan titik-titik lain di hidup gw yang selama ini gw pikir gak saling berhubungan, tapi lama kelamaan kok gw ngerasa ada hubungannya:

  1. Dari dulu, dari gw kecil, mau ke puskesmas, dokter, atau RS, setiap kali gw diukur tensi, hasilnya selalu rendah. Tekanan darah gw hampir gak pernah normal. Saking selalu terjadi, setiap kali susternya bilang “wah, tensinya rendah ya. Lagi kurang tidur atau kecapekan?” “Nggak, sus. Emang selalu rendah.” Tekanan darah rendah buat gw adalah default, jadi gw selama ini berpikir bahwa tensi rendah terus ya normal aja.
  2. Kalau badan diibaratkan baterai, gw ngerasa baterai gw tu gak pernah 100%, bahkan di momen gw paling bertenaga dan fit maksimal. Ibarat battery health di iPhone, badan gw tuh levelnya 87%. So, seberapa pun gw nge-push supaya naik ke 100%, gw ngerasanya stamina gw gak akan nyampe 100.
  3. Gw sangat gampang dan sering sakit kepala, semua jenis sakit kepala, ya migren, ya kleyeng-kleyeng, ya nyeri di tengah pusat kepala, semua deh. Gw sampe googling (waktu itu belum zaman AI) apa yang terjadi di gw sebenarnya. Tapi gw malah nemu salah satu artikel yang bilang penyebab migren adalah perempuan. Jadi gw gampang migren simply karena gw perempuan. Blah. Gak fair banget. Tapi lama-kelamaan gw merhatiin pola sakit kepala gw. Ternyata kepala gw auto kumat kalau gw telat makan, atau abis kena asap polusi motoran di jalanan, kadang di hari pertama haid, daaan yang rese adalah, gw juga sakit kepala kalau masuk mall! Masuk mall ini sakit kepalanya on-off. Kadang sakit ringan, kadang sakit berat, tapi kadang juga normal biasa aja. Tapi ada mall yang konsisten bikin gw sakit kepala kalau gw muter-muter jalan di situ. Jadi kayaknya gw sensitif sama sistem AC mall-nya. Tapi kadang juga out of the blue gw bisa tiba-tiba migren. Dan fyi, sakit kepala ini nyiksa banget. Gw capeeek tiap harus ngerasain nyerinya. Apalagi kalau pas kena sakit di pusat kepala. Haduh. Literally gw gak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa nahan sakit. Dan karena gw juga bukan orang yang suka konsumsi obat, tiap kali sakit, gw lebih milih maksa diri untuk tidur, karena setelah tidur, begitu bangun, kepala gw jadi terasa lebih ringan.
Di Sungai Mekong di Vietnam, hari terakhir menjelajah Ho Chi Minh bersama suamik, yang setelahnya gw tepar capek

Nah, selama ini gw merasa bahwa 3 hal di atas tuh gak saling terhubung secara langsung, tapi lama-lama gw jadi mikir, apa jangan-jangan sebenernya mereka semua terjadi karena thalassemia gw?

Akhirnya di 2025, gw memutuskan untuk cek lagi ke dokter untuk mantau si thalassemia ini, termasuk karena gw udah kepikiran rencana punya anak. Kebetulan bukti hasil thalassemia dari Australia di tahun 2015 itu gak gw bawa atau gw gak tahu ada di mana. Jadi gw sekalian mau mastiin lagi aja, gw beneran thalassemia atau nggak, kadarnya gimana, dan supaya ada bukti rujukan juga untuk dokter di Indonesia. Gw menjalani tes darah ini itu, dan hasilnya positif, gw memang thalassemia. Dokter ngegambarinnya “ibarat kalau darah orang normal itu bentuknya bulat, darah kamu tu bentuknya gak bulat, tapi meliuk-liuk gak simetris. Jadi bukan kurang darah, tapi bentuk darahnya memang gak normal.” Sayangnya walaupun begitu, gak ada saran kesehatan spesifik dari dokter, selain pokoknya gw harus jaga kesehatan, makan makanan bergizi, jaga pola tidur, dan berolahraga. Saran pada umumnya aja, karena memang gak ada hal khusus yang harus dilakukan.

Hasil awal tes darah

Di saat yang sama, di tengah isu thalassemia. gw masih tetap rutin nge-gym latihan beban, dan gw hampir selalu mengalami DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness atau rasa pegal setelah aktivitas fisik berat) setelah nge-gym, apalagi kalau abis leg day. Ada yang bilang gw DOMS karena latihannya kurang sering (gw latihan beban cuma 2x seminggu). Kalau lebih rutin katanya bisa jarang DOMS. Tapi haduh, gw ngerasa 2x seminggu aja udah cukup, sisanya gw lebih pilih cardio di hari yang lain. Tapi karena urusan DOMS ini, entah dari omongan siapa, gw jadi terpapar dengan yang namanya suplemen kreatin (tambahan kreatin dari luar selain kreatin alami yang dihasilkan tubuh dari dalam) karena katanya kreatin bisa mengurangi DOMS. Mungkin pernyataan ini gak sepenuhnya benar. Kreatin gak serta-merta bisa langsung mengurangi DOMS, tapi cara kerjanya yang ngasih tenaga tambahan saat latihan bisa bikin badan jadi lebih siap dan gak gampang pegal setelahnya. Suplemen kreatin biasanya dikonsumsi oleh gym rat untuk bulking, tapi kabarnya, konsumsi kreatin tambahan juga bisa ngasih manfaat lebih selain hanya membesarkan badan. Selain membantu stamina, gw terpapar dengan postingannya @CoachDanGo yang bilang bahwa kreatin bermanfaat juga untuk performa kognitif, yang bahkan dia ngasih kreatin itu ke keluarga lansianya yang demensia. Riset seputar kreatin masih terus berkembang. Sekarang gak cuma terkait fitness, tapi juga dampak konsumsi kreatin tambahan terhadap fungsi kerja otak. Nah, atas dasar semua informasi terkait itu, termasuk info bahwa mengonsumsi kreatin tambahan secara rutin dalam jangka panjang tidak berisiko memberi efek samping berbahaya, akhirnya gw mulailah mengonsumsi kreatin. Gw beli creatine monohydrate unflavored dengan porsi satu scoop per hari. Selama mengonsumsinya, hanya ada satu hal yang gw jaga: gw berusaha minum air yang cukup karena katanya kreatin menyerap air di badan, jadi kita harus jaga asupan air supaya badan tidak dehidrasi. Gw rutin konsumsi kreatin di jam yang sama di setiap hari, dan hasilnya… jeng jeng… selain gw jadi lebih gendut (damn it), tapi ternyata gw juga jadi GAK PERNAH SAKIT KEPALA LAGI, COOYYYYY!! Masya Allah, alhamdulillah, Allohu akbar! Nah itu, gw gak tahu ini semua emang saling berhubungan atau gw yang cocokologi, tapi kenyataannya seperti itu. Gw gak pernah lagi sakit kepala, dan bahkan tiap masuk mall yang biasanya selalu bikin gw nyut nyut, sekarang udah gak pernah lagi! Gw bisa jalan-jalan di mall itu berjam-jam tanpa ngerasain kepala gw nyeri. Rasanyaaaa… luarrr biasaaaaa! Kalau kalian ngerasa ini mungkin kebetulan, fyi, gw pernah ke-skip gak konsumsi kreatin satu hari, dan gw tiba-tiba nyeri kepala lagi. Sakiiit banget. Dan karena itu nyiksa, gw jadi gak pernah lagi mau nge-skip si kreatin ini. Kalau ada yang bilang “wah, jadi ketagihan dong?”, entahlah, tapi sekarang gw udah ketagihan punya kepala enteng tanpa rasa sakit. Lebih dari itu, battery health gw juga jadi kerasa nambah, dari yang cuma 87%, sekarang kerasa jadi bisa maksimal di 95%. Sesignifikan itu. Walau konsekuensinya adalah: gw jadi genduuutt! Biasanya gw masih 40 kg-an, sejak pandemi gw jadi gembrot nyampe ke 50. Eh, setelah kreatin, gw udah nyampe ke 54 kg. Hadeuuhh -__- Gw ngeluhin ini sama suami, tapi menurut dia pun, lebih baik gendut tapi sehat daripada kurus sakit-sakitan. Jadi sementara ini yasudah, terima aja dulu badan agak membesar begini. Jadiin motivasi aja untuk lebih sering olahraga supaya pembakaran kalorinya lebih banyak. Disyukuri alhamdulillah untuk manfaat kreatinnya untuk hidupku.

Teman hidupku sekarang, walau rasanya kayak tepung

Nah, begitulah kira-kira pengalaman setelah 5 bulan konsumsi kreatin untuk gw si penderita thalassemia ini. Gw juga gak pengen cocokologi, makanya gw tuliskan semuanya di sini, siapa tahu ada yang relate atau sedang riset tentang kreatin atau thalassemia, lalu ingin membenarkan asumsi gw, atau mungkin sedang butuh responden untuk bantu risetnya, jadi kelinci percobaan, gw bersedia. Demi terwujudnya kehidupan para pemilik thalassemia (minor) agar bisa bebas beraktivitas tanpa rasa sakit. Semoga curhatan gw ini ada manfaatnya, minimal untuk mengingatkan bahwa kesehatan itu berharga, bahwa tiap momen kita bisa produktif tanpa rasa nyeri apa pun, itu adalah hal yang sangat harus disyukuri.

Salam sehat berstamina di bulan Ramadhan,

Hani

Sebagai Pecinta Buku, Ini Alasan Saya Tidak Suka Buku Motivasi

Two things I love the most: books & traveling (Photo: circa 2012)

Latar belakang: Saya ingin jadi pintar, makanya saya suka merhatiin orang pintar. Pola tingkah mereka, cara mereka berpikir, dan apa yang bisa ditiru. Dan salah satu orang yang pintar menurut saya adalah suami saya sendiri, jadi saya suka merhatiin kenapa kok kayaknya dia selalu bisa lebih pintar dari saya. Ada setidaknya dua poin yang saya dapatkan dari berinteraksi dengan dia:

1. Kadang gap antara kita dengan orang yang lebih pintar bukan ada di jumlah informasi yang dimiliki, tapi beda di kemampuan kita untuk menghubungkan antar informasi tersebut. Ini sering kali terjadi selama percakapan saya dan suami. Saat dia menjelaskan sesuatu, dia bisa menghubungkan informasi A ke B, lalu ke C, kemudian ke D, yang setelah saya telaah, semua titik informasi A-D itu bukanlah informasi baru untuk saya, tapi di kepala saya ya mereka semua tidak saling terhubung. Tapi saat dia yang menjelaskan, jadi terasa lebih komprehensif karena dia bisa menghubungkan berbagai informasi tersebut menjadi satu kesimpulan yang menjawab isu yang sedang didiskusikan. Selain titik informasi, cara membuat penghubung antara informasi pun sangatlah penting, agar jadi bentuk abstraksi yang masuk akal. Karena walau titik informasinya valid, tapi kalau penghubungnya tidak rasional, itulah yang dinamakan cocokologi. Di momen itu, saya jadi berpikir: “Wah, gila! How could I acquire that skill? To connect the dots!” Kalau suami, kayaknya ada faktor gifted juga, selain memang bacaan dia yang jauh lebih banyak. Tapi untuk membantu orang-orang kayak saya, sebenarnya ada metodologi yang bisa dipelajari, yaitu metodologi “knowledge management” seperti Zettelkasten, yang diciptakan oleh sosiolog Jerman, dan menjadi rujukan orang juga tentang bagaimana membangun “the second brain”. Ini membawa kita ke poin berikutnya, yaitu…

Rasanya beda otak saya dan suami seperti di gambar ini

2. Ilmu itu sifatnya tidak linier, tapi eksponensial. Misal: suami baca suatu buku yang saya gak baca. Dari luar, mungkin orang akan berpikir bahwa beda/gap antara saya dan dia adalah 1 buku tersebut. X-Y=1. Tapi kenyataannya, apa benar begitu? Tentu tidak. Karena dari 1 buku itu saja, apa pun informasi yang dia dapatkan, dia bisa langsung menghubungkan itu dengan informasi-informasi yang sebelumnya sudah ada di otak dia, lalu dia bisa membentuk pengetahuan baru dari situ. Seberapa banyak pengetahuan baru yang dia hasilkan, tergantung dari seberapa banyak informasi yang sebelumnya sudah ada, dan seberapa canggih dia menghubungkan antar informasi tersebut. Seperti bola salju, tapi faktor eksponennya tidak bisa dihitung pasti untuk semua orang. Jadi, walau beda jumlah buku yang dibaca mungkin cuma satu, tapi X-Y bisa sama dengan 100, atau bahkan X-Y=10.000, X-1=Y^4 atau X-1=Y^10, sesignifikan itu. Setelah menghasilkan pengetahuan baru, lalu ditambah dengan basis moral yang dimiliki, barulah dia sebagai manusia bisa melakukan suatu action sesuai dengan preferensinya.

Nah.. Apakah kamu lihat polanya? Dari awal satu informasi muncul di otak sampai akhirnya jadi satu action, idealnya itu melalui proses berpikir yang lalu digabungkan dengan kompas moral kita. Dan itu kayaknya menjawab pertanyaan kenapa saya, semakin bertambah umur, semakin tidak suka dengan buku motivasi, yaitu karena buku-buku motivasi atau semacamnya seperti men-skip proses berpikir kita. Thought process-nya manaaaa?? Saya ingat saya jadi lebih bersemangat hidup justru setelah membaca cerita Firdaus di buku Perempuan di Titik Nol, karena dari situ otak saya memproses titik-titik informasi yang masuk melalui kisahnya, lalu menghubungkan dengan informasi pengalaman saya sendiri. Motivasi apa yang didapatkan orang lain mungkin akan berbeda, tergantung pengalaman masing-masing. Tapi kita tergerak karena sudah melalui proses berpikir; itulah seni dari kemampuan otak kita. Bukan serta-merta suatu buku menyampaikan kalimat “hadapilah kerasnya hidup, karena akan ada titik terang di ujung sana”, seperti langsung loncat ke kesimpulan. Jadi, tidak harus buku motivasi yang berisi kata-kata indah penyemangat hidup, tapi juga buku-buku yang polanya langsung loncat ke kesimpulan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan, wah saya yang skip deh. Sungguhlah itu seperti buku-buku yang hanya cocok untuk orang yang malas berpikir.

Sekian renungan saya tentang buku motivasi. Tapi kalau kamu masih suka baca buku sejenis itu, ya gak apa-apa juga, daripada gak baca buku sama sekali.

Salam semangat hidup,

Hani

KUMPULAN KODE REFERRAL LENGKAP – Honey Money Hack

Hai, gaes!

Karena gw punya banyak banget kode referral yang bisa menguntungkan aku dan kamu, jadi gw bikin postingan ini untuk mengumpulkan semuanya di satu halaman terpusat. Berikut ini adalah kode-kode referral yang bisa kamu pake, beserta syarat welcome bonus-nya jika ada. INFO BAGUS: Kalau kamu menggunakan minimal dua saja kode dari gw, kamu berhak bergabung ke grup whatsapp Honey Money Hack, di mana gw akan lebih banyak share cara-cara maksimalin cuan dari berbagai penjuru. Tinggal DM gw di akun instagram @haniwww. Salam cuan!

KODE REFERRAL APLIKASI

Ajaib atau Ajaib Alpha: hani5971663184

Aladin Bank: 7JD6TE

Allo Bank: https://alloappmgm.onelink.me/xSrn/kryecymr

Alfagift: HANI1313

Amar Bank: HANIO001

Astra Pay: E2VJAFP

AttaPoll: ONWKK https://attapoll.app/join/onwkk

Atome Card:

Bale by BTN: RSYF5708

Bank Saqu: BFJ87Y (Syarat: Harus menambahkan dana di Saku Utama paling telat 1 hari setelah membuka akun minimal Rp100.000. Pertahankan dana minimum Rp100.000 tersebut selama 7 hari agar mendapatkan reward)

BIBIT: hani10 (Syarat: investasi minimal Rp1.000.000 untuk pembelian pertama agar mendapatkan reward)

Binance: GRO_14352_XGV80 (https://www.bmwweb.net/referral/earn-together/refertoearn2000usdc/claim?hl=en&ref=GRO_14352_XGV80&utm_medium=app_share_link)

Bizhare: HRPF5P9V

BLIBLI: BLIBLIHANIQDWC

blu BCA DIGITAL: HANIO6Y3D

BNI (rekening): HANIOK105090

BNI (Kartu Kredit) Referral: 113764 (Link: Bit.ly/BNIW12) Khusus kartu kredit BNI, untuk kesempatan di-approve yang lebih besar, setelah apply, infokan aku nama lengkap kalian dan tanggal lahir, supaya bisa dicek dan minta diprioritaskan.

Citilink (LinkMiles): hanirosidaini@yahoo.co.id

Crowdana: HANIO906 https://app.crowddana.id/Nh6g/referral

DANA: b7XcTo

Deliveree: ub072dd

DepositoBPR: HR5090

F&B ID APP: ZGVLGE (SyaratL Jajan pertama minimal Rp15.000 melalui aplikasi F&B APP)

FLIP: HFAO2766 https://flip.id/s/rhfao2766 (Syarat: Bertransaksi transfer beda bank atau top-up e-wallet minimal Rp100.000)

Gotrade: 592626 https://heygotrade.com/referral?code=592626

GROWIN (Mandiri Sekuritas): MDFA21 https://join.growin.id/register?ref=MDFA21

Heymax: https://heymax.ai/?referral_code=BC5EE559 (sebisa mungkin install Heymax-nya dimulai dari link ini. Kalau prosesnya benar, kamu akan langsung dapat 200 miles)

Imperial Club: HAN875959

Indodax: haniwww

Jago BANK: HAND1E9F (Syarat dapat reward Rp50.000: Top up Rp500.000 dan transaksi QRIS Jago Rp20.000. Top up dalam 7 hari pertama registrasi, dan jaga saldo rata-rata Rp.500.000 selama 30 hari)

Jakpat: haniwww

Jiwa+ (aplikasi Janji Jiwa): HANG8Z

KLOOK: XLES4 (Syarat dapat reward Rp75.000: menyelesaikan satu pesanan)

KROM Bank: HANI2921

Kris+: F541093 (Link: https://app.krisplus.com/tpJv5RHr3Wb)

LakuEmas Elite: HANI444118

LINE BANK: SBYLB5

Livin Mandiri: https://livin.page.link/?link=https://livin.page.link/referral?c%3DMGMKF5YM3X&apn=id.bmri.livin&isi=1555414743&ibi=id.bmri.livin

LUNO: CSRPA5 (Syarat dapat reward Rp20.000: deposit dan beli kripto Rp1.500.000 dari Luno’s Instant Buy, bukan Luno Exchange)

Mega Bank Kartu Kredit: MGMHAN7488 https://msmile.onelink.me/ZTtt/mgm (Jika aplikasi kartu kreditnya disetujui, akan dapat bonus Rp150.000 MPC Points)

MAP CLUB: HAQVINR

Mobee: 164184c0 (https://mobee.onelink.me/kGn9/6amq01sn)

Motion Bank: 01HANSY29 https://motionbank.page.link/jUAEjCsbt4586Nsn8

MyValue: HANIWWW

Nex Card/Bank: 8ct9v7rl

Paxel: haniwww

Pelago: https://pel.sg/Vh8HA0

Pegadaian Digital (TRING!): TRHANIF386 (https://tring.onelink.me/rIEN/2gqk5)

Pintu: hanirosidaini033

Pluang: HANI315276

RAYA Bank: HANIOKTSPO2F

Reku: @haniwww

Revolut: https://revolut.com/referral/?referral-code=haniq4dol!FEB1-25-AR-H1

Seabank: TWPDSD (Syarat dapat reward: nabung minimal Rp50.000 dan pertahankan selama 3 hari)

Shariacoin: 78433 (https://app.shariacoin.co.id/r/78433)

Shopback: rmZMLL

Shopeepay: ZBRV8HJ9N

SOCO app: haniwww https://sociolla.app.link/haniwww-referral

Starbucks (Rewards App): HANIR-443F0E-15DBCA (Syarat: bonus minuman dengan pembelian min.50ribu)

Superbank: LNXL1M

Surveyon: Ps330765

TanamDuit: HANIO00LE2K (https://app.tanamduit.com/invite/ddFT)

Tiktok: F64DPLP6SPYXG

Tomoro Coffee: I4HE2I

Treasury: trs-651205090d1633 (https://treasury.id/pages?redirect=Register&referralCode=trs-651205090d1633)

TREVO: IIIFLR

Ultra Voucher: L7Y8P4

Watsons ID: hw8V6HlIbg

Wondr by BNI: 1owo https://referral-wondr.bni.co.id/1owo

YUP: https://finture.id/active/mgm-b/JWv07mWvro5MCiTI5jbZis8Ys34bNMEz5pWX8I1DTMXgv4vCwV%2FedhNzmHHCRiZc

Thank you!

Saat Kawan Nigeria-ku di Jakarta

Namanya Favour, dari Abuja, Nigeria

Sebenarnya tidak hanya seorang kawan, karena Favour-pun adalah kolega di kantor, anggota tim di OO (nama kantor). Usianya paling muda, tapi karena latar belakangnya dari hukum, sesuai dengan bidang pekerjaan, dan dia memang pintar di bidangnya, membuat karirnya cukup melesat, sampai akhirnya sekarang berada di posisi Senior Country Manager untuk wilayah Afrika. Karena pekan kemarin ada kegiatan lokakarya di Jakarta, dia pun akhirnya datang ke kota ini, yang tidak kusangka ternyata adalah kota Asia pertamanya. Ternyata dia belum pernah ke benua Asia sama sekali sebelumnya. Yah, sama saja denganku yang belum juga kunjung ada kesempatan ke benua Afrika.

Di hari terakhir dia di Indonesia, setelah satu pekan lokakarya dan empat hari terakhir dia habiskan dengan berlibur ke Bali sendirian, akhirnya kami jalan berdua. Janjian di Grand Indonesia (GI), karena dia bersikeras ingin ke satu tempat di mall itu untuk menyantap satu makanan yang menurutnya nikmat sekali. Dia ingin makanan itu lagi sebelum pulang ke negaranya. Penasaran, akupun mengiyakan. Aku sampai penasaran makanan apa yang dia maksud. Terlebih karena dia menyebutkan nama tempatnya adalah Three Uncles, tempat di GI yang belum pernah aku datangi. Saat sudah sampai, aku biarkan dia pesan, dan ternyata, oh la la, ternyata dia pesan nasi goreng!! “Ooohhh nasi goreeeng”, kataku. “Ya ya”, katanya. Dari percakapan kami, sepertinya dia tidak tahu bahwa nasi goreng dan fried rice merujuk pada makanan yang sama. Tapi baiklah, ini jadi memberikanku referensi, bahwa orang asing memang suka dengan nasi goreng. Lain kali, kalau ada kawan asing lainku datang, kuajak saja ke tempat seperti ini.

Kami pun berbincang tentang banyak hal, baik personal maupun profesional. Menariknya, Favour memang tipe orang yang hidupnya sangat didekasikan untuk pekerjaan, seolah-olah pekerjaannya lah yang mendefinisikan dirinya. Hasilnya, saat rapat ataupun bicara santai seperti ini, tata bicaranya tetap formal, dan dia akui itu. Sesama orang lokal (di negara masing-masing) yang bekerja di lembaga internasional, kurang lebih kami memiliki kesamaan, maka kubagikan lah beberapa pandanganku juga tentang ini. Salah satunya adalah tentang dinamika bagaimana kami harus membawa diri saat menghadapi pemerintah setempat. Bahwa walaupun kami representatif dari kantor global yang berusaha menawarkan solusi, kami harus tetap punya kerendahan hati untuk menyampaikan bahwa pemerintah tersebut lah yang lebih mengerti tentang isu terkait negaranya, caranya adalah saat datang mengenalkan diri, kami tidak bilang “we are the experts”, tapi justru memilih diksi ” we are people with expertise”. Ternyata hal sepele seperti itu saja bisa jadi signifikan beda hasilnya.

Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami pun bersegera pergi, karena Favour sudah harus ke bandara. Tapi sebelum itu, dia ingin beli oleh-oleh kopi Indonesia, dan kuarahkan ke booth kopi Tanamera, karena itu kopi andalan suamiku juga sehari-hari. Karena uang rupiah dia kurang, kuminta saja uang itu, biar jadinya aku yang bayar ke kasir pakai QRIS. Melihat aku bayar, dia ternyata terkesan, karena di Indonesia bisa cukup scan barcode seperti itu. Aku sampaikan bahwa penggunaan QRIS sudah umum di negara ini, bahkan untuk sekadar beli jajanan di jalan. Sedikit banyak aku jadi bangga dengan kemajuan negara ini, walau aku tak sempat tanyakan balik apa di Nigeria sudah mulai mengadopsi teknologi yang sama. Selain kopi, kubelikanlah juga dia eskrim andalanku setiap ke GI, yaitu eskrim buah dari Paletas Way terbaik.

Pertemuan berakhir, kami pun berpelukan tanda perpisahan, berjanji akan bertemu lagi di bagian dunia yang lain. Semoga berikutnya aku yang giliran ke Afrika. Amin.

Saat kami di Oslo. Kawan wanitaku yang dari Afrika memang sering ganti gaya rambut.

Jakarta, 30 Agustus, 9 hari setelah jalan-jalan di GI

Haniwww

Renungan Pemilu: Bentuk Negara dan Anehnya Calon Pemimpin

Orang ini telah mengecewakanku. Tapi karenanya aku jadi berpikir ulang tentang banyak hal.

Pemilihan presiden 2024 sudah lewat. Proses dan hasilnya memuakkan, tapi itulah demokrasi. Benar kata orang: demokrasi itu layak jika masyarakatnya cukup terdidik secara merata. Di saat setiap orang punya satu suara, padahal mereka punya kapasitas berpikir yang jauh berbeda, apalagi didukung dengan ketimpangan ekonomi yang buruk, sehingga mudah digerakkan oleh gimik-gimik murahan, ya hasilnya seperti saat ini. Apalagi aku juga tahu salah satu cara mereka menggerakkan massa dengan menggunakan agama. Bikin sakit kepala. Walau ada juga yang bilang “yasudahlah.. menuju demokrasi yang ideal kan ada prosesnya.” Iya, tapi masalahnya aku hidup di masa ini. Dan intinya.. dari semua kejadian, aku jadi semakin bertanya-tanya, sebenarnya bentuk pemerintahan yang less-evil itu yang mana? diantara monarki, aristokrasi, timokrasi, oligarki, demokrasi, teokrasi, dan tirani?

Untuk menjawab itu, aku perlu banyak belajar dulu. Membaca banyak literatur dan catatan sejarah. Inginnya aku menulis nanti saja, kalau sudah ketemu jawabannya. Tapi menulis prosesnya pun sepertinya menarik, maka dari itu kutuliskan awalku di sini. Ada beberapa buku yang akan kubaca terkait ini:

Yang Social Contract sudah kubaca belasan tahun lalu, tapi sepertinya di saat aku tidak banyak tahu, jadi belum banyak mengerti. Why Nations Fail juga ada di rumah, milik suamiku, walaupun dia juga belum selesai membacanya. The Communist Manifesto sepertinya akan jadi buku pertama, karena aku sedang tertarik-tertariknya dengan Marxisme. Yang lain menyusul.

Aku yakin pasti sudah banyak juga tesis dan jurnal berisi perbandingan bentuk pemerintahan. Ujung-ujungnya pasti berkesimpulan “tidak ada bentuk yang sempurna”, karena kalau memang ada yang sempurna, pasti sudah berusaha diadopsi oleh banyak negara. Tapi aku ingin menemukan jawabanku sendiri, jadi kupilih untuk menempuh perjalanan membaca buku-buku klasik ini.

Sebuah pemikiran pun muncul: jika kembali ke agama (Islam), Allah dan Rasul menyuruh dan mencontohkan seperti apa? Dulu, khilafah seperti pemimpin untuk semua aspek kehidupan, mengurusi ibadah sampai perkara perut. Sekarang, pada prakteknya, pemimpin wilayah dan pemimpin agama seperti dua pihak yang berbeda. Urusan agama, diatur oleh pembesar di mesjid, sedangkan pemerintah hanya harus mengakomodir semua orang bisa beribadah, karena toh warganya pun saling berbeda kepercayaan. Pertanyaannya, apakah pemimpin agama merangkap pemimpin wilayah itu masih relevan? Dan jika memang tak mengapa dibedakan, apakah kepemimpinan wilayah kita samakan saja dengan kepemimpinan di perusahaan? Artinya bukan sesuatu yang harus kita hukumi secara agama?

Yang pasti, yang kutahu dan kuyakini, jadi pemimpin itu berat, tanggung jawabnya dunia akherat. Menengok ke kepemimpinan islam, cara memilih pemimpin adalah dengan bermusyawarah. Seperti pada saat Nabi Muhammad wafat, para ahli berdebat, dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Yang menarik, adabnya adalah, calon pemimpin itu tidak mengajukan diri, tapi diajukan orang-orang lain, berdasarkan kepribadian dan kemampuannya. Jika sudah terpilih, calon itu diminta berbesar hati untuk menerima amanah tersebut. Orang yang mengerti ilmu kepemimpinan, kubayangkan pasti akan merasa berat menerima posisi itu, mengingat pertanggungjawabannya langsung dengan Allah, dan betul-betul jadi bertanggungjawab terhadap semua orang yang berada di bawah otoritasnya. Taruhannya surga neraka. Lalu, bagaimana jika sampai harus memimpin 280 juta orang seperti di Indonesia? Memastikan semuanya bisa hidup dengan baik. Kalau mengerti betul maknanya, semestinya tidak ada yang mau jadi pemimpin. Akhirnya bagiku sekarang, melihat ada orang yang mengajukan diri jadi presiden Indonesia itu aneh, ngotot jadi gubernur atau walikota, itu aneh. Perspektifku melihatnya lebih seperti orang yang ingin kekuasaan alih-alih ingin mengabdi. Jika kau ingin mengabdi, mengabdilah apapun posisimu. Jika kau memang layak jadi pemimpin, pasti orang-orang akan mengajukanmu. Namun jika engkaulah yang merasa sangat percaya diri untuk mengambil kursi pemimpin, ada yang aneh dengan pemahamanmu. Atas dasar itu, untuk konteks Indonesia, apapun pemilunya di masa yang akan datang, sepertinya kriteria yang kucari hanya satu: aku mencari calon yang diajukan orang, dan dia terlihat paling segan untuk mengambil posisi. Bukan karena tak mampu, tapi karena dia tahu, itu bukan sesuatu yang layak dicita-citakan.

Jakarta, 12 Agustus 2024

dengan pemikiran yang bisa terus berubah

PS: Untuk Pak Jokowi, Anda sangat mengecewakan. Kau bukan lagi wajah rakyat, tapi hanya pengulangan dari sejarah yang tak pantas.

Asal Kau Tahu

Aku sedang gila-gilanya membaca

Membaca apapun yang membuat kepalaku kaya

Membaca cerita mereka yang biasa sampai istimewa

Semuanya membuat hatiku memarak karena berbeda

Mengapa mereka bisa menulis seperti itu

Tanyaku terus dengan kagum

Aku juga ingin menulis

Aku ingin seperti mereka

Menorehkan setitik tinta dalam sejarah

Memberikan ruang untuk pojok imajinasimu

Bahkan ingin membuat ideologi baru

Asal kau tahu, akupun punya semangat itu!

Sempat ku berpikir dogma membuatnya tiada

Menciptakan batas tak boleh semena-mena

Tapi kini ku hanya ingin menulis

Menulis, agar semua energi ini sampai pada muaranya.

Jakarta, 8 Agustus 2024

Sambil menelaah kata-kata Pramoedya

Review Buku Perempuan di Titik Nol: Cerita yang Ternyata Terlalu Menyayat Hati

Akhirnya menyelesaikan buku ini di perjalanan KL-Jakarta

Saat mengulas buku, setidaknya ada tiga hal utama yang selalu ingin aku bagikan: ringkasan isi, hal-hal yang menurutku menarik dari bukunya, dan hal-hal yang jadi terpikir olehku karena terstimulus dari buku tersebut. Buku yang kali ini dibahas sebenarnya bisa dibilang buku “tipis”, terjemahan bahasa Indonesia-nya saja hanya 150 halaman, tapi kesan yang ditinggalkan sebegitu dalam sampai aku ingin membuat ulasan tersendiri.

Judul internasionalnya adalah ‘Woman at Point Zero’, aslinya ditulis dan dipublikasikan dalam bahasa Arab di tahun 1977 oleh Nawal el Saadawi. Di halaman belakang buku, dijelaskan bahwa Nawal adalah penulis/sastrawan Mesir yang juga dokter dan seorang feminis. Jujur, klaim ‘feminis’ awalnya membuatku agak kurang nyaman, dan jadi punya antisipasi sendiri isi bukunya akan seperti apa. Tapi latar belakangnya sebagai seorang dokter, membuatku penasaran juga, karena jarang-jarang aku tahu ada seorang dokter yang menjadi sastrawan. (Apa di Indonesia ada sastrawan besar yang juga seorang dokter?). Belakangan aku tahu bahwa Nawal ternyata memang besar di negara-negara Arab, terkenal dengan keberaniannya, mengangkat banyak isu penting, sampai pernah ditangkap dan dipenjara di bawah pemerintahan presiden Sadat. Dia juga perempuan cemerlang, sempat menjabat direktur di bidang kesehatan, dan bahkan banyak yang mendukung dia untuk mendapatkan hadiah nobel bidang literasi. Buku Perempuan di Titik Nol hanyalah satu dari puluhan buku yang dia tulis.

Buku ini setengah biografi dan setengah memoar, karena berdasarkan kisah nyata, yang diceritakan Nawal saat dia menemui pasien di penjara kelam Kairo bernama Firdaus. Dibuka dengan cerita awal mula Nawal mengetahui seorang narapidana wanita bernama Firdaus, yang beberapa hari lagi akan dihukum mati dengan cara digantung. Baik dia maupun pembaca, pasti langsung jadi penasaran, apa sebab musabab Firdaus bisa sampai dihukum mati, apa yang telah dia lakukan, dan mengapa dia jadi sosok manusia yang sangat dingin pada hidup, sampai-sampai ditawari grasi dari presiden pun dia tidak mau. Penjelasannya akhirnya dijabarkan dengan penggambaran perjalan hidup Firdaus dari kecil hingga dewasa. Membaca cerita hidup Firdaus, membuat aku syok, karena ternyata hidupnya semenyakitkan itu. Sejak kecil, dia diperkosa paman dan temannya, tanpa dia mengerti sebenarnya apa yang terjadi, karena dia belum paham konsep seksualitas. Orang-orang yang kelihatan ingin membantu, ternyata malah membuat hidupnya semakin hancur, termasuk pamannya yang dianggap berpendidikan. Yang membuat makin sedih adalah karena Firdaus adalah anak pintar di sekolah, dan dia awalnya ingin bercita-cita tinggi. Dia “dijual” dengan cara dinikahkan dengan pria tua yang memperlakukannya tak layak, hingga akhirnya dia pun sinis dengan konsep pernikahan. Pernikahan akhirnya baginya jadi tidak lebih dari cara laki-laki memanfaatkan perempuan dengan biaya rendah. Tanpa sengaja dia pun akhirnya menjadi pelacur, dan jadi pelacur dengan tarif tinggi jadi opsi yang menurutnya lebih baik seiring perjalanan hidup. Sulit untuk menyalahkan pendapatnya, jika mengetahui kejadian demi kejadian yang dia alami. Saya sampai tidak habis pikir, bahwa ada satu malam dia di jalanan yang padahal ingin menyelamatkan diri, tapi malah dibawa dan diperkosa polisi, kembali ke jalan, lalu diperkosa lagi dan lagi oleh laki-laki yang berbeda. Jadi sulit bagi saya untuk tidak men-generalisir kaum pria di Mesir pada zaman itu. Apa isi otak kalian memang hanya itu saja??!! Berani-beraninya kalian menyebut nama Tuhan dengan kelakuan kalian yang bejat!! Saking gelap hidupnya, saya juga sampai sempat berpikir, kematian jadi tidak terlihat lebih menakutkan jika dibanding harus menjalani hidup Firdaus. Seumur hidup dia seperti tidak pernah punya pilihan. Sampai akhirnya dia bisa memilih untuk tetap dihukum mati, setidaknya jadi memberikan dia rasa kekuatan bahwa akhirnya ada satu momen dia lah yang menentukan apa yang dia mau.

Salah satu kutipan buku

Aku tidak pernah baca buku yang jenisnya seperti ini, yang berbicara lugas tentang sisi kelam hidup perempuan. Buku ini jadi membuatku berpikir tentang banyak hal. Tentunya bahwa konsep seksualitas harus diajarkan sejak dini, apa saja area pribadi tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, apalagi lawan jenis, apa itu pemerkosaan, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal yang mengancam. Buku ini juga merupakan kritik sosial tentang ketimpangan ekonomi, penyalahgunaan wewenang, betapa lemahnya posisi perempuan di lingkungan Mesir zaman itu (hingga sekarang?), hingga berbagai pertanyaan terntang moralitas. Membaca ini jadi seperti membaca esai sosial, dan mungkin karena itulah Nawal sempat dicekal, karena tulisan-tulisannya dianggap terlalu provokatif.

Buku ini diterbitkan hampir 50 tahun yang lalu, tapi rasanya masih relevan hingga sekarang. Awalnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia pada tahun 1989 untuk sama-sama belajar sesama “negara dunia ketiga”, walau pada dasarnya mereka tidak suka dengan istilah tersebut. Sesama negara bekas jajahan yang sedang berkembang, tantangannnya akan kurang lebih mirip, termasuk dalam hal nilai pandangan pada perempuan. Tapi karena Mesir masih termasuk negara Arab, pada kelanjutannya, sepertinya kedua negara memiliki progres yang berbeda. Penjelasan tujuan diterbitkannya buku ini jadi menginspirasi aku juga, bahwa sebegitu kuatnya sebuah cerita. Tidak hanya untuk kita bisa merasakan empati terhadap tokoh yang diceritakan, tapi lebih dari itu, bahkan bisa jadi bahan pembelajaran kita tentang situasi sosial suatu negara, dan bagaimana situasi tersebut bisa bertransformasi seiring zaman. Aku jadi merasakan urgensi akan selalu hadirnya cerita-cerita baru dari setiap zaman, untuk bisa merepresentasikan periode tertentu. Di zaman modern, penyampaian lewat video mungkin dianggap lebih baik karena adanya tampilan visual, didukung oleh majunya teknologi ini itu, tapi aku yakin penulisan cerita teks tetap punya kekuatan tersendiri. Perasaan yang muncul akan berbeda dan penghayatan terhadap yang terjadi bisa terasa lebih syahdu (setidaknya itulah yang aku rasakan). Maka dari itu, setelah ini, semoga aku dan kamu juga jadi lebih bersemangat untuk menulis, menangkap fenomena, dan menyampaikan nilai-nilai yang bisa dipelajari kepada banyak orang, agar cerita kita bisa sekuat cerita tentang Firdaus. Semoga.

Jakarta, 6 Agustus 2024,

dengan badan lemas setelah perjalanan satu pekan di negeri Jiran

Sejarah Mungkin Gak Menarik Sampe Akhirnya Ceritanya Nyambung Dengan Hidupmu

Gak sengaja kenalan sama negara Iran gara-gara buku ini

Di postingan blog sebelumnya, gw cerita soal buku anak yang gw suka karena ceritanya absurd. Gara-gara buku itu, gw jadi nyari buku-buku lain dari penulisnya, Marjane Satrapi, termasuk buku ini: Persepolis, yang awalnya gw gak tahu isinya tentang apa. Jujur, emang gw termasuk yang jarang ngepoin sinopsis sebelum baca satu buku, karena gw gak suka spoiler. Biasanya gw baca satu buku, itu karena penulisnya terkenal, gw suka karyanya yang lain, banyak diomongin orang, atau simply karena suka covernya aja. Isinya apa, biarkan itu jadi kejutan. Dan yang ini beneran jadi kejutan, karena ternyata si penulisnya orang cukup penting, keturunan dari kaisar lama, isinya tentang biografi dia, yang dia tulis dan gambar sendiri, nyeritain tentang revolusi Iran, dimana dia ngalamin saat Iran berubah jadi negara syiah, dan semua kekacauan yang terjadi selama periode itu. Surprising banget. Gw yang sebelumnya gak familiar sama Iran, jadi “terpaksa” berkenalan, ngikutin sejarahnya, dan anehnya gw suka. Padahal gw jarang suka sejarah. Bisa jadi yang ini karena ceritanya menarik, perspektifnya unik, gambarnya bagus, atau karena gw lagi suka aja sama Marji (panggilan Marjane Satrapi), dan pengen tahu hidupnya kayak apa sampe bisa bikin cerita anak absurd. Entah yang mana.

Isi buku ‘Perspepolis’. Gambarnya juga unik, full hitam putih, tanpa abu-abu sama sekali

Di tengah buku ini, saat cerita soal pemerintah Iran yang nangkep warganya yang pendukung komunisme, gw jadi nanya sama mas suamik, “kenapa sih orang-orang itu takut atau benci sama komunis?”. Pertanyaan yang menurut gw sederhana, tapi akhirnya mas cerita panjang lebar tentang berbagai ideologi yang ada di dunia ini, termasuk komunisme dan lain-lain, tentang perebutan kekuasaan, kenapa ada negara yang alergi terhadap ideologi tertentu, di saat negara lain biasa aja, sampai spesifik sejarah Iran yang dia tahu. Gw tiba-tiba jadi merasa terhubung dengan ceritanya. Mas suamik cerita udah hampir kayak sejarawan, karena se-passionate itu dia dengan sejarah, beda banget sama istrinya.

Dulu zaman sekolah, sejak SMP, mata pelajaran yang gw gak suka itu sejarah. Karena menurut gw membosankan, kebanyakan ngebahas periode perjuangan sebelum Indonesia merdeka, termasuk yang katanya dijajah Belanda 350 tahun (yang ternyata bohong). Padahal menurut gw saat itu, setiap hari adalah sejarah, masa lalu udah berlalu, yaudah lebih baik fokus aja jalani hari ini dan siapkan diri hadapi hari esok. Sampai barulah ketika dewasa, gw belajar ilmu data, dan gw melihat ternyata sejarah itu bisa dianalogikan seperti database (basis data), yang semakin kita banyak punya, maka bisa semakin bagus pula model prediksi yang kita bikin. Tiba-tiba gw jadi merasa sejarah itu penting. Tapi untuk ngikutin semua sejarah yang ada di muka bumi ini, tetep aja gw gak ngerasa ada urgensinya. Again, beda banget sama mas suamik yang semua sejarah dia lahap. Seringnya gw cuma cari tahu sejarah tertentu kalo itu lagi ada hubungannya sama gw, dan kadang datangnya dari hal-hal yang gak penting.

Contoh hal gak penting: Gw pengen jalan-jalan ke Cina, dan gw nanya mas suamik, gw harus ke kota apa kalo mau foto di tembok besar Cina. Dia lalu mengernyitkan dahi, dan jadi nanya ke gw, “kamu gak tahu ya tembok Cina segede apa?”. Gw menggeleng. Gw kirain tembok Cina itu ya beberapa kilometer, dari ujung gunung ke ujung gunung sebelahnya, dan jawaban itu bikin mas tepok jidat. Dia jadi cerita awal muasal tembok Cina dibangun, saat Cina ngelawan Mongolia, bahwa ternyata bangsa Mongol itu pernah jadi bangsa yang sangat kuat di dunia, pertarungannya seperti apa sampe tembok Cina dibangunnya seperti itu, dibangunnya gak ujung ke ujung, makanya tembok Cina gak semuanya terhubung, dibangun selama 2500 tahun, sampe akhirnya temboknya bisa sepanjang 21.196 km. Uwedaaann, panjang bangeeeet!! Dan istrinya nanya, tembok Cina di kota apa??? Tembok Cina ada di banyak kota, woyy! XD (walau memang yang biasa dikunjungi turis ada di spot-spot tertentu). Gw jadi sangat amazed, dan cerita mas jadi menstimulus pikiran gw ke banyak hal, seperti: Kok bisa bangsa yang dulunya superior (Mongol) sekarang jadi biasa aja? Negara mana lagi yang nasibnya kayak gitu? Apa yang bisa bikin satu bangsa jadi superior? Gimana caranya supaya negara kita bisa jadi superior di masa depan? Gw jadi kagum sama Cina dan gimana mereka bisa bangun satu hal dalam jangka panjang secara berkelanjutan (penting!). Kenapa Indonesia kok kayaknya susah punya rencana jangka panjang? Apa karena pemilu kita tiap 5 tahunan? Jadi apakah sebenarnya demokrasi dan bentuk negara republik itu bukan pilihan terbaik? Isi kepala gw jadi bercabang banyak. Keinginan gw ke tembok Cina juga jadi semakin tinggi, dan gw yakin pengalamannya akan jadi sangat berbeda karena gw udah lebih tahu tentang kenapa tembok ini keren dan layak jadi keajaiban dunia. Padahal awalnya cuma karena pertanyaan gak penting.

Panjangnya tembok Cina itu kayak jalan dari ujung barat ke ke ujung timur Pulau Jawa 17x

Contoh lain gw jadi ketarik belajar sejarah karena hal gak penting adalah saat gw kerja di NGO Inggris, yang isinya 90% orang Inggris. Suatu hari, waktu ada kasus penculikan jurnalis oleh Taliban, salah satu orang kantor gw ngetwit soal itu dan mention akun orang-orang kantor. Banyak yang di-mention, kecuali gw. Jelas itu jadi bikin gw bertanya-tanya, kenapa gw gak diajak ngobrol (di twit itu)? Lagi-lagi gw jadi nanya mas suamik, cerita Taliban itu seperti apa. Mas jadi ngejelasin awal muasal Taliban di Afganistan, yang asalnya didukung Amerika, karena Amerika gak suka Rusia berkuasa di situ, tapi akhirnya setelah Rusia pergi, Taliban jadi ambil alih kekuasaan dan ngelawan Amerika, hubungannya sama Al-qaeda seperti apa di zaman Osama bin Laden yang aslinya dari keluarga Arab kaya, sampe terjadi peristiwa WTC 9-11, yang bikin orang-orang pada sensi sama Islam, lalu dimanfaatkan pemerintah Amerika untuk invasi Iraq, lalu hubungannya dengan ISIS, yang ada di sebagian Iraq dan Syria, yang ternyata aneh beda sendiri gak jelas maunya apa dan gak beraliansi dengan siapapun, sampe kasus Taliban yang paling baru terjadi. Gw yang asalnya gak tertarik, awalnya cuma pengen mengerti ‘kenapa ya gw gak di-mention di twitter sama orang kantor gw?’, setelah dijelasin, jadi bikin gw berpikir ke hal-hal lain juga, seperti relasi keislaman dan kekuasaan, apakah pemimpin agama memang harus berkuasa, geopolitik negara-negara sekitar seperti apa, dan bagaimana sebaiknya sikap kita menghadapi itu semua. Gila, ternyata sejarah semenarik itu (kalo gw lagi tertarik).

Dunia damai tetaplah yang kudambakan

Yah, begitulah kira-kira, semoga bisa menjelaskan judul dari tulisan ini. Gw yang asalnya gak suka sejarah, sekarang berpikir bahwa mempelajari sejarah adalah ‘the art of connecting the dots’. Setiap kejadian di dunia ini adalah titik-titik. Untuk orang yang gak suka sejarah, mungkin orang itu masih ngelihat sejarah sebagai titik-titik yang sporadis. Sampe akhirnya titik itu ketemu dengan titik kejadian pada dirinya, mau gak mau dia jadi berusaha menghubungkan titik itu supaya tersambung, setidaknya tersambung dengan titik-titik yang paling dekat. Bedanya dengan sejarawan, mereka sudah bisa menghubungkan banyak titik sampe yang kelihatannya jauh. So, se-ignorant apapun, gw yakin semua orang bisa jadi suka sejarah, kalo pas lagi ada hubungannya sama hidup dia, ada benang merah atau relatability dengan dirinya. Nemu relatibility-nya gimana? Nah, itu tergantung pengalaman hidup, dan bisa juga dari buku yang kamu baca, bahkan dari buku cerita anak random absurd yang gak sengaja ketemu XD

Sebagai penutup, atas semua pengetahuan yang jadi masuk ke kepala, aku ucapkan special thanks untuk suamiku, yang seperti ChatGPT untuk sejarah (dan bidang-bidang lain), yang bahkan lebih bagus jawabnya karena on point langsung ke bagian yang bikin diri ini kepo. Terima kasih AuliaGPT! (nama suami)

Sambil planning trip ke Cina,

Hani