Ditraktir mas Aizil makanan India di hari Idul Adha
Aku baru pulang dari Singapura, setelah satu minggu di sana sambil merasakan suasana Idul Adha yang berbeda. Sudah lama sekali tidak jalan-jalan di kotanya, karena biasanya hanya transit di Bandara Changi untuk menuju destinasi di negara lain. Banyak hal berbeda yang kualami, dan ada juga hal yang baru kusadari, salah satunya adalah makanan.
Selama seminggu, aku dan suamiku selalu makan di luar, karena aku lupa membawa alat masak, dan ya sudah, lebih praktis makan di luar saja. Kami makan di berbagai tempat berbeda, termasuk restoran, hawker center (pujasera ala orang lokal), sampai food court di mal besar seperti MBS. Dan ada menu yang selalu ada: nasi Padang. Mungkin kamu merasa itu biasa saja, tapi buatku itu menarik. Kenapa? Karena dia selalu bersebelahan dengan makanan India, makanan Thailand, dan makanan Barat. Contohnya ini:
foto di jalan saat naik bis
India adalah negara, Thailand juga satu negara, Western adalah gabungan berbagai negara, sedangkan Padang berdiri sebagai satu-satunya kota di situ. Bukan Indo food atau Indonesian Food, tapi NASI PADANG 😀 Yang menjual berbagai makanan Indonesia hanya restoran khusus Indonesia , seperti salah satu restoran yang kami coba di area Orchard. Tapi di tempat-tempat yang menjual berbagai makanan seperti di hawker center, tidak pernah kami temui ada yang menjual Indo food, hanya nasi Padang. Keren ya si nasi Padang ini. Makanan Sunda aja gak ada. Padahal makanan sunda lumayan sehat loh, banyak sayuran mentahnya XD Setidaknya ada beberapa poin yang kuambil dari sini:
Nasi Padang sepertinya cocok di lidah banyak orang, didukung oleh rendang yang dinilai sebagai salah satu makanan terenak di dunia.
Indonesia terbukti memang sulit branding, karena justru punya terlalu banyak keanekaragaman. Kalau seandainya ada orang yang jual ‘Indo Food’ tapi ternyata hanya jual makanan daerah tertentu, daerah lain bisa jadi merasa tidak direpresentasikan.
Nasi Padang berpotensi besar jadi representasi Indonesia di kancah global. Walau persoalannya adalah: apakah orang-orang asing yang makan nasi Padang itu tahu bahwa itu makanan Indonesia? Atau jangan-jangan mereka menyangka itu makanan khas Singapura? Sayangnya aku tak sempat bertanya ke mereka soal hal itu.
Di luar semua itu, aku suka branding si nasi Padang ini, karena otentik, tidak di-Inggris-kan jadi Padang Rice atau Padang Food, melainkan diperkenalkan secara literal saja, yaitu Nasi Padang.
Semoga Nasi Padang semakin mendunia dan branding kuliner Indonesia bisa makin baik ke depannya.
Jakarta, 3 Juni 2026
Sambil menikmati dried mango Filipin yang kubeli lebih murah di SG dibanding di Indo
Aku suka berbicara dengan orang lain. Tapi aku paling suka berbicara dengan orang-orang yang tak punya motif dan pretensi. Tahu dari mana mereka tak punya itu? Ya, tahu saja. Mereka yang bahkan tak tahu tempat tinggalku atau dari mana aku berasal dan tidak saling follow di media sosial. Mereka yang tahu aku hanya dari saat kami bertemu. Salah satunya tukang jagung rebus di gang sebelah masjid besar di dekat apartemen tempat aku tinggal. Namanya saja aku tidak tahu. Tapi kami sering berbincang setiap kali aku membeli dagangannya setelah Maghrib kalau tidak hujan. Termasuk tadi malam.
jagungnya banyak yang muda, sesuai seleraku
Tanpa tedeng aling-aling, dia mengeluh, “Kenapa ya sekarang gak ada demo lagi?” Kata ‘lagi’ aku asumsikan merujuk pada demo besar beberapa bulan lalu, demo di hari Mens Rea Jakarta diadakan, demo bakar-bakaran yang entah apa hasilnya. Di hari demo itu, memang aku mempertanyakan kenapa dia tetap menjual jagung padahal kondisi Jakarta sedang mencekam. “Butuh uang,” katanya. Kalau diingat-ingat, iya sih, sejak hari itu, sepertinya tidak ada demo lagi yang sebesar itu. Menjawab pertanyaannya, kubilang “Kayaknya sekarang bakal susah untuk demo. Karena belum mulai aja, yang ngajakin pasti udah ditangkap duluan. Dianggap provokasi atau apalah”. “Padahal pemerintahnya kacau banget ya,” sahutnya. “Lebih ke inkompeten sih,” aku mengonfirmasi. Dari obrolan selanjutnya akhirnya terkuaklah bahwa dia sedang kesal karena BPJS (gratis)-nya dicabut. “Masih mending zaman Jokowi. Saya bisa pakai Kartu Indonesia Sehat (KIS), jadi gak bayar kalau sakit. Sekarang udah gak bisa.” “Loh, bukannya ada BPJS PBI (yang dibayarin pemerintah)?”, “Udah gak bisa, susah. Udah gak ada. Adanya MBG.” Huft, itu lagi. “Jadi sekarang bayar Rp35.000/bulan?” sambil mengangguk, dia jawab, “Iya. Makanya Prabowo mending diganti aja sama KDM.” Wow. Aku terhenyak sedikit. Tapi dari situ, aku jadi merasa dapat banyak insight:
BPJS PBI sudah makin pilih-pilih?
Bayar 35.000/bulan is a deal breaker
Popularitas KDM setinggi itu (sambil aku mengingat bahwa tontonan orang tuaku pun di rumah didominasi video-video KDM)
Aku yang tak punya otoritas apa-apa hanya diam sambil berpikir. Yang bisa kulakukan hanya tetap membeli dagangannya, yang sebenarnya bukan hanya jagung rebus, tapi juga kacang rebus dan minuman susu jahe. Kubayar pakai QRIS sampai mesin barcode-nya berbunyi “Tring! Lima belas ribu rupiah, sudah diterima gopay”. Semestinya total belanjaanku Rp16.000, tapi si abang selalu kasih diskon karena katanya aku selalu beli susu jahe tanpa susu (kental manis). Aku berbalik pulang sambil mendoakan semoga abang penjual jagung dapat banyak rezeki dari arah mana saja, terlebih karena aku sama sekali tidak pernah melihat dia merokok.
September 2015, di hari pertama kali gw tahu punya thalassemia
Waktu itu awalnya iseng regular check-up ke dokter, gara-gara gw punya OSHC (Overseas Student Health Cover) atau simpelnya asuransi yang bisa gw pake selama studi di Australia. Temen-temen pada pake untuk periksa macem-macem, gw jadi FOMO, padahal gw gak punya keluhan kesehatan sama sekali. Tapi ternyata hasil check-up-nya surprising. Gw jadi tahu kondisi gw yang selama ini gw gak sadar bahwa gw sangat defisit vitamin E dan termasuk bahwa gw punya thalassemia minor. Itu adalah pertama kali gw denger ada yang namanya thalassemia, dan pertanyaan yang keluar dari mulut gw pertama kali adalah: “Is it curable?”, “No,“kata dokternya. Gak bisa disembuhin, cuy. Dia jelasin bahwa thalassemia adalah kelainan darah genetik, yang artinya di antara ibu dan bapak gw, salah satu dari mereka ada yang thalassemia juga. Dokternya bilang karena ini thalassemia minor, gw gak separah penderita thalassemia mayor yang harus rutin transfusi darah. Tapi setidaknya gw harus aware, karena ini akan berdampak kalau suatu hari gw menikah dan merencanakan punya anak. Sebagai pemilik thalassemia minor, kalau suami gw punya thalassemia minor juga, ada kemungkinan anaknya jadi thalassemia mayor, dan itu sangat membahayakan nyawanya. Waw, terdengar ekstrem. Tapi karena kondisi gw saat itu sangat tenang dan gw gak ngerasa si thalassemia banyak mengganggu aktivitas, jadi gw santai aja. Begitu pulang hari itu ke apartemen, gw video call ibu bapak dan ngasih tahu bahwa salah satu dari mereka punya thalassemia yang diturunin ke gw. Ibu langsung bantah, “Ah, nggak. Ibu bapak sehat-sehat aja.” “Bukannya nggak, Bu. Tapi Ibu Bapak gak tahu aja, karena gak pernah cek.” Kebetulan nyokap gw adalah tipe orang yang selalu lebih pilih gak tahu, daripada tahu lalu jadinya banyak pikiran. Makanya, regular check-up bukanlah sebuah ide yang menarik untuk beliau.
Gw cek di kliniknya kampus UniSA (Uni of South Australia)
Waktu berlalu, akhirnya 2018 gw menikah. Belum ada rencana punya anak, pikiran tentang thalassemia pun jarang diingat. Tapi setelah hidup bersama manusia lain (baca: suami) selama beberapa tahun, barulah gw ngeh bahwa ternyata gw beda. Badan gw beda, apalagi di beberapa tahun terakhir. Ngeh-nya adalah saat setiap kali pulang dari traveling, setelah gw dan suami pergi agak lama, di mana aktivitas kami selalu bareng ke mana-mana, ngerasain pengalaman yang persis sama, tapi ternyata saat pulang, kondisi badan kami sangat jauh berbeda. Misalnya, setelah jalan-jalan dari luar negeri selama dua minggu, begitu kami pulang nyampe apartemen di Jakarta, suami gw bisa langsung mandi dan pergi ke kantor di hari itu juga. Sedangkan gw, tepar gak punya tenaga sama sekali dan butuh bedrest minimal 2 hari sampai ngerasa lumayan recover. Selama ini gw pikir badan orang-orang lain juga kayak gw, setelah bepergian lama, pasti butuh bed rest lama sampai bisa berfungsi normal. Tapi setelah nikah, ada orang lain yang secara konsisten bisa gw bandingkan dengan gw, gw baru ngeh bahwa badan gw lemah. Bisa jadi memang karena beda gender juga, tapi secara umum, kalau dibandingkan dengan perempuan lain pun di aktivitas traveling bersama, badan gw minim banget tenaganya untuk kembali. Ini kadang jadi sumber konflik. Misal saat kecapekan, gw beneran setepar itu, sedangkan dari sisi suami gw, saat dia gak ngerti, ngelihat gw yang tiduran lama, dia mikirnya gw pemalas dan lelet. Padahal gw beneran slow recovery, cuy. Hal ini pula lah yang akhirnya menghubungkan titik-titik lain di hidup gw yang selama ini gw pikir gak saling berhubungan, tapi lama kelamaan kok gw ngerasa ada hubungannya:
Dari dulu, dari gw kecil, mau ke puskesmas, dokter, atau RS, setiap kali gw diukur tensi, hasilnya selalu rendah. Tekanan darah gw hampir gak pernah normal. Saking selalu terjadi, setiap kali susternya bilang “wah, tensinya rendah ya. Lagi kurang tidur atau kecapekan?” “Nggak, sus. Emang selalu rendah.” Tekanan darah rendah buat gw adalah default, jadi gw selama ini berpikir bahwa tensi rendah terus ya normal aja.
Kalau badan diibaratkan baterai, gw ngerasa baterai gw tu gak pernah 100%, bahkan di momen gw paling bertenaga dan fit maksimal. Ibarat battery health di iPhone, badan gw tuh levelnya 87%. So, seberapa pun gw nge-push supaya naik ke 100%, gw ngerasanya stamina gw gak akan nyampe 100.
Gw sangat gampang dan sering sakit kepala, semua jenis sakit kepala, ya migren, ya kleyeng-kleyeng, ya nyeri di tengah pusat kepala, semua deh. Gw sampe googling (waktu itu belum zaman AI) apa yang terjadi di gw sebenarnya. Tapi gw malah nemu salah satu artikel yang bilang penyebab migren adalah perempuan. Jadi gw gampang migren simply karena gw perempuan. Blah. Gak fair banget. Tapi lama-kelamaan gw merhatiin pola sakit kepala gw. Ternyata kepala gw auto kumat kalau gw telat makan, atau abis kena asap polusi motoran di jalanan, kadang di hari pertama haid, daaan yang rese adalah, gw juga sakit kepala kalau masuk mall! Masuk mall ini sakit kepalanya on-off. Kadang sakit ringan, kadang sakit berat, tapi kadang juga normal biasa aja. Tapi ada mall yang konsisten bikin gw sakit kepala kalau gw muter-muter jalan di situ. Jadi kayaknya gw sensitif sama sistem AC mall-nya. Tapi kadang juga out of the blue gw bisa tiba-tiba migren. Dan fyi, sakit kepala ini nyiksa banget. Gw capeeek tiap harus ngerasain nyerinya. Apalagi kalau pas kena sakit di pusat kepala. Haduh. Literally gw gak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa nahan sakit. Dan karena gw juga bukan orang yang suka konsumsi obat, tiap kali sakit, gw lebih milih maksa diri untuk tidur, karena setelah tidur, begitu bangun, kepala gw jadi terasa lebih ringan.
Di Sungai Mekong di Vietnam, hari terakhir menjelajah Ho Chi Minh bersama suamik, yang setelahnya gw tepar capek
Nah, selama ini gw merasa bahwa 3 hal di atas tuh gak saling terhubung secara langsung, tapi lama-lama gw jadi mikir, apa jangan-jangan sebenernya mereka semua terjadi karena thalassemia gw?
Akhirnya di 2025, gw memutuskan untuk cek lagi ke dokter untuk mantau si thalassemia ini, termasuk karena gw udah kepikiran rencana punya anak. Kebetulan bukti hasil thalassemia dari Australia di tahun 2015 itu gak gw bawa atau gw gak tahu ada di mana. Jadi gw sekalian mau mastiin lagi aja, gw beneran thalassemia atau nggak, kadarnya gimana, dan supaya ada bukti rujukan juga untuk dokter di Indonesia. Gw menjalani tes darah ini itu, dan hasilnya positif, gw memang thalassemia. Dokter ngegambarinnya “ibarat kalau darah orang normal itu bentuknya bulat, darah kamu tu bentuknya gak bulat, tapi meliuk-liuk gak simetris. Jadi bukan kurang darah, tapi bentuk darahnya memang gak normal.” Sayangnya walaupun begitu, gak ada saran kesehatan spesifik dari dokter, selain pokoknya gw harus jaga kesehatan, makan makanan bergizi, jaga pola tidur, dan berolahraga. Saran pada umumnya aja, karena memang gak ada hal khusus yang harus dilakukan.
Hasil awal tes darah
Di saat yang sama, di tengah isu thalassemia. gw masih tetap rutin nge-gym latihan beban, dan gw hampir selalu mengalami DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness atau rasa pegal setelah aktivitas fisik berat) setelah nge-gym, apalagi kalau abis leg day. Ada yang bilang gw DOMS karena latihannya kurang sering (gw latihan beban cuma 2x seminggu). Kalau lebih rutin katanya bisa jarang DOMS. Tapi haduh, gw ngerasa 2x seminggu aja udah cukup, sisanya gw lebih pilih cardio di hari yang lain. Tapi karena urusan DOMS ini, entah dari omongan siapa, gw jadi terpapar dengan yang namanya suplemen kreatin (tambahan kreatin dari luar selain kreatin alami yang dihasilkan tubuh dari dalam) karena katanya kreatin bisa mengurangi DOMS. Mungkin pernyataan ini gak sepenuhnya benar. Kreatin gak serta-merta bisa langsung mengurangi DOMS, tapi cara kerjanya yang ngasih tenaga tambahan saat latihan bisa bikin badan jadi lebih siap dan gak gampang pegal setelahnya. Suplemen kreatin biasanya dikonsumsi oleh gym rat untuk bulking, tapi kabarnya, konsumsi kreatin tambahan juga bisa ngasih manfaat lebih selain hanya membesarkan badan. Selain membantu stamina, gw terpapar dengan postingannya @CoachDanGo yang bilang bahwa kreatin bermanfaat juga untuk performa kognitif, yang bahkan dia ngasih kreatin itu ke keluarga lansianya yang demensia. Riset seputar kreatin masih terus berkembang. Sekarang gak cuma terkait fitness, tapi juga dampak konsumsi kreatin tambahan terhadap fungsi kerja otak. Nah, atas dasar semua informasi terkait itu, termasuk info bahwa mengonsumsi kreatin tambahan secara rutin dalam jangka panjang tidak berisiko memberi efek samping berbahaya, akhirnya gw mulailah mengonsumsi kreatin. Gw beli creatine monohydrate unflavored dengan porsi satu scoop per hari. Selama mengonsumsinya, hanya ada satu hal yang gw jaga: gw berusaha minum air yang cukup karena katanya kreatin menyerap air di badan, jadi kita harus jaga asupan air supaya badan tidak dehidrasi. Gw rutin konsumsi kreatin di jam yang sama di setiap hari, dan hasilnya… jeng jeng… selain gw jadi lebih gendut (damn it), tapi ternyata gw juga jadi GAK PERNAH SAKIT KEPALA LAGI, COOYYYYY!! Masya Allah, alhamdulillah, Allohu akbar! Nah itu, gw gak tahu ini semua emang saling berhubungan atau gw yang cocokologi, tapi kenyataannya seperti itu. Gw gak pernah lagi sakit kepala, dan bahkan tiap masuk mall yang biasanya selalu bikin gw nyut nyut, sekarang udah gak pernah lagi! Gw bisa jalan-jalan di mall itu berjam-jam tanpa ngerasain kepala gw nyeri. Rasanyaaaa… luarrr biasaaaaa! Kalau kalian ngerasa ini mungkin kebetulan, fyi, gw pernah ke-skip gak konsumsi kreatin satu hari, dan gw tiba-tiba nyeri kepala lagi. Sakiiit banget. Dan karena itu nyiksa, gw jadi gak pernah lagi mau nge-skip si kreatin ini. Kalau ada yang bilang “wah, jadi ketagihan dong?”, entahlah, tapi sekarang gw udah ketagihan punya kepala enteng tanpa rasa sakit. Lebih dari itu, battery health gw juga jadi kerasa nambah, dari yang cuma 87%, sekarang kerasa jadi bisa maksimal di 95%. Sesignifikan itu. Walau konsekuensinya adalah: gw jadi genduuutt! Biasanya gw masih 40 kg-an, sejak pandemi gw jadi gembrot nyampe ke 50. Eh, setelah kreatin, gw udah nyampe ke 54 kg. Hadeuuhh -__- Gw ngeluhin ini sama suami, tapi menurut dia pun, lebih baik gendut tapi sehat daripada kurus sakit-sakitan. Jadi sementara ini yasudah, terima aja dulu badan agak membesar begini. Jadiin motivasi aja untuk lebih sering olahraga supaya pembakaran kalorinya lebih banyak. Disyukuri alhamdulillah untuk manfaat kreatinnya untuk hidupku.
Nah, begitulah kira-kira pengalaman setelah 5 bulan konsumsi kreatin untuk gw si penderita thalassemia ini. Gw juga gak pengen cocokologi, makanya gw tuliskan semuanya di sini, siapa tahu ada yang relate atau sedang riset tentang kreatin atau thalassemia, lalu ingin membenarkan asumsi gw, atau mungkin sedang butuh responden untuk bantu risetnya, jadi kelinci percobaan, gw bersedia. Demi terwujudnya kehidupan para pemilik thalassemia (minor) agar bisa bebas beraktivitas tanpa rasa sakit. Semoga curhatan gw ini ada manfaatnya, minimal untuk mengingatkan bahwa kesehatan itu berharga, bahwa tiap momen kita bisa produktif tanpa rasa nyeri apa pun, itu adalah hal yang sangat harus disyukuri.
Two things I love the most: books & traveling (Photo: circa 2012)
Latar belakang: Saya ingin jadi pintar, makanya saya suka merhatiin orang pintar. Pola tingkah mereka, cara mereka berpikir, dan apa yang bisa ditiru. Dan salah satu orang yang pintar menurut saya adalah suami saya sendiri, jadi saya suka merhatiin kenapa kok kayaknya dia selalu bisa lebih pintar dari saya. Ada setidaknya dua poin yang saya dapatkan dari berinteraksi dengan dia:
1. Kadang gap antara kita dengan orang yang lebih pintar bukan ada di jumlah informasi yang dimiliki, tapi beda di kemampuan kita untuk menghubungkan antar informasi tersebut. Ini sering kali terjadi selama percakapan saya dan suami. Saat dia menjelaskan sesuatu, dia bisa menghubungkan informasi A ke B, lalu ke C, kemudian ke D, yang setelah saya telaah, semua titik informasi A-D itu bukanlah informasi baru untuk saya, tapi di kepala saya ya mereka semua tidak saling terhubung. Tapi saat dia yang menjelaskan, jadi terasa lebih komprehensif karena dia bisa menghubungkan berbagai informasi tersebut menjadi satu kesimpulan yang menjawab isu yang sedang didiskusikan. Selain titik informasi, cara membuat penghubung antara informasi pun sangatlah penting, agar jadi bentuk abstraksi yang masuk akal. Karena walau titik informasinya valid, tapi kalau penghubungnya tidak rasional, itulah yang dinamakan cocokologi. Di momen itu, saya jadi berpikir: “Wah, gila! How could I acquire that skill? To connect the dots!” Kalau suami, kayaknya ada faktor gifted juga, selain memang bacaan dia yang jauh lebih banyak. Tapi untuk membantu orang-orang kayak saya, sebenarnya ada metodologi yang bisa dipelajari, yaitu metodologi “knowledge management” seperti Zettelkasten, yang diciptakan oleh sosiolog Jerman, dan menjadi rujukan orang juga tentang bagaimana membangun “the second brain”. Ini membawa kita ke poin berikutnya, yaitu…
Rasanya beda otak saya dan suami seperti di gambar ini
2. Ilmu itu sifatnya tidak linier, tapi eksponensial. Misal: suami baca suatu buku yang saya gak baca. Dari luar, mungkin orang akan berpikir bahwa beda/gap antara saya dan dia adalah 1 buku tersebut. X-Y=1. Tapi kenyataannya, apa benar begitu? Tentu tidak. Karena dari 1 buku itu saja, apa pun informasi yang dia dapatkan, dia bisa langsung menghubungkan itu dengan informasi-informasi yang sebelumnya sudah ada di otak dia, lalu dia bisa membentuk pengetahuan baru dari situ. Seberapa banyak pengetahuan baru yang dia hasilkan, tergantung dari seberapa banyak informasi yang sebelumnya sudah ada, dan seberapa canggih dia menghubungkan antar informasi tersebut. Seperti bola salju, tapi faktor eksponennya tidak bisa dihitung pasti untuk semua orang. Jadi, walau beda jumlah buku yang dibaca mungkin cuma satu, tapi X-Y bisa sama dengan 100, atau bahkan X-Y=10.000, X-1=Y^4 atau X-1=Y^10, sesignifikan itu. Setelah menghasilkan pengetahuan baru, lalu ditambah dengan basis moral yang dimiliki, barulah dia sebagai manusia bisa melakukan suatu action sesuai dengan preferensinya.
Nah.. Apakah kamu lihat polanya? Dari awal satu informasi muncul di otak sampai akhirnya jadi satu action, idealnya itu melalui proses berpikir yang lalu digabungkan dengan kompas moral kita. Dan itu kayaknya menjawab pertanyaan kenapa saya, semakin bertambah umur, semakin tidak suka dengan buku motivasi, yaitu karena buku-buku motivasi atau semacamnya seperti men-skip proses berpikir kita. Thought process-nya manaaaa?? Saya ingat saya jadi lebih bersemangat hidup justru setelah membaca cerita Firdaus di buku Perempuan di Titik Nol, karena dari situ otak saya memproses titik-titik informasi yang masuk melalui kisahnya, lalu menghubungkan dengan informasi pengalaman saya sendiri. Motivasi apa yang didapatkan orang lain mungkin akan berbeda, tergantung pengalaman masing-masing. Tapi kita tergerak karena sudah melalui proses berpikir; itulah seni dari kemampuan otak kita. Bukan serta-merta suatu buku menyampaikan kalimat “hadapilah kerasnya hidup, karena akan ada titik terang di ujung sana”, seperti langsung loncat ke kesimpulan. Jadi, tidak harus buku motivasi yang berisi kata-kata indah penyemangat hidup, tapi juga buku-buku yang polanya langsung loncat ke kesimpulan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan, wah saya yang skip deh. Sungguhlah itu seperti buku-buku yang hanya cocok untuk orang yang malas berpikir.
Sekian renungan saya tentang buku motivasi. Tapi kalau kamu masih suka baca buku sejenis itu, ya gak apa-apa juga, daripada gak baca buku sama sekali.
I wouldn’t say ‘how Australia changed me’ because I feel like I’m still myself, but the way I act was shifted because of my experience studying in the country. I studied at Flinders Uni in Adelaide and the Uni of Sydney in Sydney, but this time is more about my experience at Flinders because I spent more time there. The program was under the consortium of the Business and Gender Study Department, therefore, I visited a lot of businesses and studied them not only from the business side but also from the gender perspective.
My lessons and takeaways from Australia are numerous, but if I have to choose the top 3, it would be:
1. Learn from your biases. It was funny or quite ironic, because I started learning about gender when I was having a huge bias towards it. At the time, I was having a business team where I was the only woman, and there was quite a resistance to adding more women to the team. During the process of learning, I encountered unpleasant events and was forced to think more. Later on, I just realised that I was biased, so I learned it the hard way. But then, it also made me think about the other (potential) biases I have. I think it’s crucial to notice your personal biases in order to make a better decision and interact with other people.
2. The courage to speak. Perhaps it’s not only in Australia, but also in other Western countries (?), which is very different compared to Asian countries (?). Affected by my surroundings, I felt like I was always encouraged to speak. Ask questions, state your opinions, and dare to argue. It improved my confidence and English speaking skills significantly (I couldn’t stop talking). Now, every time I feel like I need to speak a certain language fluently (and more importantly, eloquently), I know I need a supportive environment. If there’s none, I have to create one.
3. The retrospective method. When I was studying at Flinders, every time after we visited a business or attended a course, at the end of the day, we were asked to present three things: 1. key ideas, 2. what was new for us, and 3. how to implement. The first point (the key ideas) might be the same for all the students, because we heard the same thing. But for the second and the third, they must be different, because it depends on our personal experience and the relation between what we just learned and our work. For example: when we were visiting a winery, how to produce wine might be new knowledge for some students, but not for others. And then, some might think about implementing the business, but as for me, since wine is illegal in Islam, what I thought implementable was the concept of its sustainability. We always presented these three points to end the class, repeatedly, over and over again, until it became a norm. Now, every time after I read a book, attend a seminar, or talk with inspiring people, I try to use this method. I think and reflect, hmmm… (1) what are the key ideas? (2) which parts are new for me or the most interesting? and (3) how can I implement this knowledge or information? Shout out to Prof. Anuradha Mundkur and Cara Ellickson from Flinders, who introduced me to this method!
That’s what I can think of now. Perhaps I will share more in the future, which hopefully can be useful, at least for me, to organize my memory.
Jakarta, during the Friday prayer time, after attending a neuroscience masterclass the night before,
Karena gw punya banyak banget kode referral yang bisa menguntungkan aku dan kamu, jadi gw bikin postingan ini untuk mengumpulkan semuanya di satu halaman terpusat. Berikut ini adalah kode-kode referral yang bisa kamu pake, beserta syarat welcome bonus-nya jika ada. INFO BAGUS: Kalau kamu menggunakan minimal dua saja kode dari gw, kamu berhak bergabung ke grup whatsapp Honey Money Hack, di mana gw akan lebih banyak share cara-cara maksimalin cuan dari berbagai penjuru. Tinggal DM gw di akun instagram @haniwww. Salam cuan!
Bank Saqu: BFJ87Y (Syarat: Harus menambahkan dana di Saku Utama paling telat 1 hari setelah membuka akun minimal Rp100.000. Pertahankan dana minimum Rp100.000 tersebut selama 7 hari agar mendapatkan reward)
BIBIT: hani10 (Syarat: investasi minimal Rp1.000.000 untuk pembelian pertama agar mendapatkan reward)
BNI (Kartu Kredit) Referral: 113764 (Link: Bit.ly/BNIW12) Khusus kartu kredit BNI, untuk kesempatan di-approve yang lebih besar, setelah apply, infokan aku nama lengkap kalian dan tanggal lahir, supaya bisa dicek dan minta diprioritaskan.
Heymax: https://heymax.ai/?referral_code=BC5EE559 (sebisa mungkin install Heymax-nya dimulai dari link ini. Kalau prosesnya benar, kamu akan langsung dapat 200 miles)
Imperial Club: HAN875959
Indodax: haniwww
Jago BANK: HAND1E9F (Syarat dapat reward Rp50.000: Top up Rp500.000 dan transaksi QRIS Jago Rp20.000. Top up dalam 7 hari pertama registrasi, dan jaga saldo rata-rata Rp.500.000 selama 30 hari)
Jakpat: haniwww
Jiwa+ (aplikasi Janji Jiwa): HANG8Z
KLOOK: XLES4 (Syarat dapat reward Rp75.000: menyelesaikan satu pesanan)
Sebenarnya tidak hanya seorang kawan, karena Favour-pun adalah kolega di kantor, anggota tim di OO (nama kantor). Usianya paling muda, tapi karena latar belakangnya dari hukum, sesuai dengan bidang pekerjaan, dan dia memang pintar di bidangnya, membuat karirnya cukup melesat, sampai akhirnya sekarang berada di posisi Senior Country Manager untuk wilayah Afrika. Karena pekan kemarin ada kegiatan lokakarya di Jakarta, dia pun akhirnya datang ke kota ini, yang tidak kusangka ternyata adalah kota Asia pertamanya. Ternyata dia belum pernah ke benua Asia sama sekali sebelumnya. Yah, sama saja denganku yang belum juga kunjung ada kesempatan ke benua Afrika.
Di hari terakhir dia di Indonesia, setelah satu pekan lokakarya dan empat hari terakhir dia habiskan dengan berlibur ke Bali sendirian, akhirnya kami jalan berdua. Janjian di Grand Indonesia (GI), karena dia bersikeras ingin ke satu tempat di mall itu untuk menyantap satu makanan yang menurutnya nikmat sekali. Dia ingin makanan itu lagi sebelum pulang ke negaranya. Penasaran, akupun mengiyakan. Aku sampai penasaran makanan apa yang dia maksud. Terlebih karena dia menyebutkan nama tempatnya adalah Three Uncles, tempat di GI yang belum pernah aku datangi. Saat sudah sampai, aku biarkan dia pesan, dan ternyata, oh la la, ternyata dia pesan nasi goreng!! “Ooohhh nasi goreeeng”, kataku. “Ya ya”, katanya. Dari percakapan kami, sepertinya dia tidak tahu bahwa nasi goreng dan fried rice merujuk pada makanan yang sama. Tapi baiklah, ini jadi memberikanku referensi, bahwa orang asing memang suka dengan nasi goreng. Lain kali, kalau ada kawan asing lainku datang, kuajak saja ke tempat seperti ini.
Kami pun berbincang tentang banyak hal, baik personal maupun profesional. Menariknya, Favour memang tipe orang yang hidupnya sangat didekasikan untuk pekerjaan, seolah-olah pekerjaannya lah yang mendefinisikan dirinya. Hasilnya, saat rapat ataupun bicara santai seperti ini, tata bicaranya tetap formal, dan dia akui itu. Sesama orang lokal (di negara masing-masing) yang bekerja di lembaga internasional, kurang lebih kami memiliki kesamaan, maka kubagikan lah beberapa pandanganku juga tentang ini. Salah satunya adalah tentang dinamika bagaimana kami harus membawa diri saat menghadapi pemerintah setempat. Bahwa walaupun kami representatif dari kantor global yang berusaha menawarkan solusi, kami harus tetap punya kerendahan hati untuk menyampaikan bahwa pemerintah tersebut lah yang lebih mengerti tentang isu terkait negaranya, caranya adalah saat datang mengenalkan diri, kami tidak bilang “we are the experts”, tapi justru memilih diksi ” we are people with expertise”. Ternyata hal sepele seperti itu saja bisa jadi signifikan beda hasilnya.
Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami pun bersegera pergi, karena Favour sudah harus ke bandara. Tapi sebelum itu, dia ingin beli oleh-oleh kopi Indonesia, dan kuarahkan ke booth kopi Tanamera, karena itu kopi andalan suamiku juga sehari-hari. Karena uang rupiah dia kurang, kuminta saja uang itu, biar jadinya aku yang bayar ke kasir pakai QRIS. Melihat aku bayar, dia ternyata terkesan, karena di Indonesia bisa cukup scan barcode seperti itu. Aku sampaikan bahwa penggunaan QRIS sudah umum di negara ini, bahkan untuk sekadar beli jajanan di jalan. Sedikit banyak aku jadi bangga dengan kemajuan negara ini, walau aku tak sempat tanyakan balik apa di Nigeria sudah mulai mengadopsi teknologi yang sama. Selain kopi, kubelikanlah juga dia eskrim andalanku setiap ke GI, yaitu eskrim buah dari Paletas Way terbaik.
Pertemuan berakhir, kami pun berpelukan tanda perpisahan, berjanji akan bertemu lagi di bagian dunia yang lain. Semoga berikutnya aku yang giliran ke Afrika. Amin.
Saat kami di Oslo. Kawan wanitaku yang dari Afrika memang sering ganti gaya rambut.
Jakarta, 30 Agustus, 9 hari setelah jalan-jalan di GI
Tadi malem gw seneeng banget, akhirnya buku yang sekian lama gw cari, ketemu judulnya apa di internet. Jadi sekian tahun lalu (sekitar belasan tahun) gw baca buku cerita anak bergambar di Gramedia, dan gw suka ceritanya. Tapi bukunya gak berujung dibeli, karena waktu itu gw masih berpikir harganya agak mahal. Tapi cerita di buku itu nempel banget di kepala gw, dan setahun belakangan keinget terus. Tapi karena gw gak tahu judulnya apa, jadi gak ketemu juga di Google. Sampe akhirnya semalem nanya ChatGPT, dan akhirnyaa, voila! Ketemuuu!! Judulnya adalah Monster Are Afraid of the Moon, karya Marjane Satrapi.
Ceritanya tentang anak yang takut gelap, karena bisa muncul monster. Bagian yang menariknya adalah saat dia lihat bulan bersinar sangat terang di langit, dia jadi kepikiran untuk ngambil gunting gede, lalu ngegunting bulan di langit itu supaya bisa dibawa ke kamar dia. Kamar dia jadi terang, tapi seluruh kota jadi gelap sampe kucing-kucing pada tabrakan. Gimana? Absurd, bukan? Tapi justru itu yang bikin gw suka!
Tangkapan layar orang yang read aloud bukunya di Youtube
Kayaknya beberapa tahun terakhir gw terlalu banyak baca buku “serius” atau secara umum ya non-fiksi. Hidup di dunia normal yang semuanya berdasarkan logika dan harus rasional. Begitu gw balik baca fiksi lagi, terutama genre fantasi (dimulai dari kemarin gw baca The Ickabog-nya J.K Rowling), gw kayak diingetin lagi kenapa gw jauh lebih suka fantasi dari dulu. Yaitu karena isinya bisa tetap bermakna, ada bobot nilai, termasuk secara moral maupun perasaan, tapi dikemas dengan cerita yang lebih membebaskan pikiran. Gimana gak bebas? Gw tiba-tiba jadi beneran ngebayangin seandainya gw bisa ngegunting bulan juga dari langit. Gw ngebayangin seandainya gw ketemu mahluk kayak Ickabog yang bentuknya beda sendiri dengan semua mahluk yang ada selama ini. Gw bisa nge-push imajinasi gw sampe ke imajinasi orang lain yang juga gak terbatas, dan itu sangat refreshing. Ada momen di masa kecil gw, saat gw sangat rajin baca fantasi, dan itu juga jadi mendorong kreatifitas gw jadi pengen bikin macem-macem. Asli, gw yakin kebiasaan membaca fantasi itu akan berdampak bagi kreatifitas. Waktu SD, gw sampe bikin buku cerita fiksi bergambar (cerita sendiri, ngegambar sendiri) dan gw jual itu ke temen-temen di kelas. 200 perak! Gw inget betul harganya. Sayangnya gw lupa ceritanya apa, dan gak ada dokumentasi sama sekali. Tapi sungguh, gw rindu kreatifitas dan imajinasi Hani yang bebas ituuu!
Gw pengen bisa kembali nulis fiksi. Seandainya kalian bilang, “ya tinggal berimajinasi lagi aja, Han. Kalo mau absurd, ya tinggal bikin cerita aneh aja”. Oh, believe me, I’ve tried. Tapi coba deh, kalian juga ngebayangin, kalo logika dan rasionalitas dienyahkan, kalian kepikiran gak mau bikin cerita apa? Apakah gampang? Aku yakin tidak. Di titik ini, gw cukup yakin imajinasi itu gak cuma datang dari langit, tapi juga lahir dari kebiasaan dan latihan. Jadi sekarang ini, gw kalo lihat penulis fiksi yang bukunya berjejer di toko buku, gw bisa “waaah, gila sih. Ni orang isi kepalanya pasti banyak banget dunia yang ada di sana. Dunia yang gak terbatas, semuanya bisa beda-beda. Seru abis”.
Lalu semua hal di atas juga jadinya membawa gw ke satu pertanyaan, “Ada apa dengan gw? Kemana imajinasi gw pergi?”. Mungkin bisa ada banyak faktornya. Dan tiba-tiba semalem gw kepikiran, “apakah dogma agama adalah salah satu penyebabnya?”. Gara-garanya adalah karena gw abis nonton serial Joko Anwar’s Nightmares & DayDreams di Netflix. Di episode 4, ada cerita tentang sosok Wahyu, manusia biasa yang tiba-tiba jadi dianggap utusan Tuhan sama penduduk kampungnya, yang akhirnya didukung oleh adegan penutup dimana Wahyu tiba-tiba bisa terbang. Reaksi gw begitu nonton itu adalah “That’s not right. That’s musyrik”. Tapi lalu suami gw bilang, “jangan bahas agama di sini. Ini kan cerita superhero”. Hmm.. Bener juga. Kenapa gw anggep dunia fiksi itu harus sejalan dengan ajaran agama gw?
Episode favorit mas suamik
Di luar dari apa sebenarnya penyebab imajinasi gw sangat jauh berkurang, yaudahlah, sekarang gw lakuin aja dulu apa yang bisa dilakuin. Gw beli buku-buku yang kayaknya bisa ngelatih gw ngebayangin hal-hal yang absurd lagi, termasuk buku tentang mahluk favorit gw (baca: naga), buku kumpulan fiksi hasil karya murid-murid SD, dan buku lainnya dari si penulis buku yang gw sebut di atas: Marjane Satrapi. Semoga seiring waktu, imajinasi gw bisa kembali, dan gw bisa membuat cerita fantasi sambil menyampaikan hal-hal yang gw resahkan dari dunia ini. Dunia normal itu membosankan. Jadilah absurd! Kembalilah absurd! Jika sudah absurd, lanjutkan! Hidup absurd!
Sambil baca buku Captain Underpants di Sabtu siang Jakarta,
Kejadiannya beberapa bulan yang lalu. Di satu malam, saya syok karena mendapat kabar salah satu keponakan saya (putra dari sepupu) meninggal dunia. Usianya masih 4 tahun 10 bulan, persis 2 bulan lagi mencapai ulang tahun ke-5 andai saja dia tidak berpulang. Ya bagaimana tidak syok, baru kurang dari dua hari sebelumnya dia tiba-tiba masuk rumah sakit karena demam tinggi. “DBD, kayaknya”, kata orang-orang. Tapi dalam waktu sesingkat itu, tidak mungkin kami sekeluarga siap menerima kabar duka. Saat itu juga saya yang sedang di Jakarta langsung buru-buru naik travel menuju Bandung, sampai di Bandung hampir jam 1 pagi. Saat saya sampai, jenazah sudah dimandikan, dikafani, dan ditutup oleh kain motif batik warna cokelat. Saya jadi tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali, hanya mendengar bagaimana kondisinya dari orang-orang, termasuk tangan si anak yang mengepal sampai akhir hayatnya karena menahan sakit. Iya, dua hari terakhir itu dia selalu mengerang kesakitan, satu hal yang pasti membuat semua orang tidak tega untuk melihat dirasakan seorang anak kecil. Di sampingnya ada kedua orang tuanya yang kelihatan sangat hancur. Saya sampai tidak tega untuk menyapa dan menyampaikan apapun.
Esoknya si anak dibawa ke mesjid untuk disholati keluarga dan warga sekitar. Yang memimpin sholat ghoib itu bapak-bapak yang sepertinya salah satu pengurus mesjid. Setelahnya, saya lupa bapak-bapak itu ceramah apa. Yang jelas, setelah sebagian orang bubar, bapak itu menghampiri sepupu saya sambil bicara dalam bahasa Sunda “Turut berduka. Ya semoga segera diganti dengan (anak) yang baru”. Kalimat pertama masih oke, tapi kalimat kedua membuat saya tiba-tiba cukup kesal. “Anak yang baru? Terus kalau diganti, anak pertama tergantikan, gitu?” Oh iya, keponakan saya yang meninggal adalah putra pertama dan anak satu-satunya dari sepupu saya. Jadi seharusnya terbayang seberat apa kejadian ini bagi pihak orang tua. Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal, tapi saya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai detik itu, saya saja masih berpikir harus menyampaikan apa ke sepupu saya. Tidak harus mendoakan pengampunan dosa dan masuk surga, karena anak sekecil itu sudah terjamin surganya, beda dengan kita. Akhirnya saya cuma bisa peluk sambil bilang “Nanti insya Allah pasti ketemu lagi”.
Karena kejadian itu, saya jadi berpikir, sepertinya banyak orang tidak tahu adab menghadapi orang berduka, terlebih pada orang tua yang kehilangan anaknya. Saya pernah baca tulisan seorang kawan saat dia ditinggal meninggal ibunya. Dia agak terganggu dengan perkataan para pelayat seperti “Jangan sedih terus, ya. Yang kuat”. Apa rasionalisasi mereka untuk meng-invalidasi kesedihan keluarga yang ditinggalkan? Kenapa jangan sedih? Semua orang berhak untuk merasakan dan mengolah rasa mereka sendiri. Bahkan kalimat “Turut berduka cita” saja jika tidak disampaikan dengan tepat, bisa malah melukai perasaan, karena yang ditinggalkan bisa jadi merasa “Kalian tidak mengalami ini. Jadi kalian tidak akan mengerti rasanya. Jangan bilang turut berduka, karena yang kita rasakan itu tidak sama”. Sebegitu tricky-nya kalimat yang harus kita keluarkan di momen orang berduka.
Bicara tentang kehilangan anak, saya lantas jadi teringat bahwa ibu saya pun pernah mengalami hal serupa. Di tahun 1997 kakak saya no.3 meninggal karena sakit. Saya jadi cerita ke ibu tentang kalimat bapak-bapak mesjid itu yang saya rasa kurang berkenan, dan saya tanya ibu bagaimana rasanya ditinggal anak, saat ibu sebenarnya masih punya empat anak yang lain. Kata ibu, rasanya tetap tidak tergantikan (seperti yang saya duga). Saat itu ibu sampai stress dan harus bertemu psikolog (sesuatu yang saat itu belum lazim dilakukan, apalagi oleh keluarga kami) saking beratnya. Hancurnya sampai sekarang. Ibu tidak mau sedih, tapi ibu juga tidak mau kalau harus membicarakannya lagi. “Mending gak usah dibahas”, kata ibu. Raut wajahnya langsung berubah.
Kehilangan orang yang berarti pasti berat. Menghadapi orang yang mengalaminya, kita harus punya adab. Kalau tidak mengerti betul harus bicara apa, lebih baik diam saja. Jika memang punya itikad baik, saya pikir, yang penting kita hadir, menemani, agar yang kehilangan merasa setidaknya kita ada. Saya pun masih belajar. Semoga kita semua bisa belajar juga.
Apa kalian pernah lihat meme di atas? Dia lewat di timeline gw, and I couldn’t help saying “DAMN, THAT’S SO TRUEEEE!!!!”. Itu kejadian di gw setahun lalu, tapi untungnya ngasih dampak positif setelahnya dan sampe sekarang.
Awalnya, gw bukan orang yang terlalu memperhatikan penampilan, termasuk mempermasalahkan berat badan, ke diri sendiri maupun ke orang lain. Apalagi dulu gw ngerasa gw termasuk orang yang susah gemuk. Makan seberapa pun, badan gw tetep kecil, hampir gak pernah ngelewatin 40 kg. Sampe akhirnya pandemi mengubah segalanya. Full WFH, gak pernah keluar rumah, gak bergerak, dan pesen makanan apapun, termasuk makanan berat dan makanan manis di tengah malam, ajaib tapi nyata, BB gw naik sampe 57 kilo! Karena pada dasarnya gw gak peduli, jadi gw stay cool aja. Walaupun suami udah sering ngatain “paha kamu kayak ular cobra”, tapi gw tetep berprinsip “ah, yang penting aku hepi. Gendut kurus yang penting hepi”. Tinggal gak usah ngaca aja.
Sampe akhirnya lewat lah di linimasa gw, foto-foto temen SMA. Dan kesan pertama gw lihat foto mereka adalah: “ebuset, tua bangeettt”. Kami seumuran, tapi yang cewek udah kayak ibu-ibu banget, dan yang cowok apalagi, babeh-babeh banget, yang (you know lah) didukung sama perut buncit yang udah gak bisa disembunyiin lagi saking gedenya. Gw shock. Apa jangan-jangan gw juga udah keliatan setua itu? Aaaaaa tidaaaak~ Gw yang pada dasarnya takut sama penuaan, dibikin makin menjadi-jadi lihat mereka. Tapi ada juga temen-temen yang masih looking good, setidaknya gak keliatan tua. Dan setelah gw perhatikan, kuncinya adalah: JANGAN GENDUT. Lemak bikin badan dan muka beleber, dan itu bikin efek tua luar biasa. Ah, gw kurang beruntung. Gw kalo menggendut, yang kena pertama adalah muka, lalu sekarang yang paling membesar adalah paha (kayaknya didukung oleh gw yang lebih banyak duduk), yang setelah semakin disadari, sebenernya gw udah ngerasa cukup terganggu sama paha ini, gara-gara paha dalemnya udah terlalu besar, yang bikin akhirnya tiap gw jalan, si paha kanan kiri selalu tabrakan dan gesekan. Berawal dari situ, akhirnya gw bertekad melakukan perubahan!
Kayak semesta mendukung, tiba-tiba gw dapet email dari Bank Jago tentang promo coba gratis di gym Fithub. Gw yang gak pernah nge-gym sama sekali sebelumnya, mencoba datang, dan akhirnya malah kena sama marketingnya, langsung jadi member 6 bulan plus pake PT (personal trainer) pula untuk make alat-alat. Huft~ Sungguh keputusan yang impulsif walau sekarang tetap gw syukuri (Pengalaman nge-gym di Fithub akan gw tulis di postingan yang lain). Gw juga jadi suka nonton channel Youtube-nya Ade Rai, belajar pentingnya latihan beban, peran penting otot, ngejalanin intermitten fasting, jaga makanan, dan lebih banyak bergerak.
Bareng PT gw yang pertama (sekarang udah ganti). Pengen upload foto gw pas lagi gendut-gendutnya, tapi gak pede.
Sudah setahun berlalu, saat tulisan ini dibuat, berat badan gw baru di angka 50,7 kg, belum turun ekstrim, tapi gw merasa jauh lebih baik. Di usia sekarang, gak bisa bohong, ternyata BB emang cepet naik, tapi susah turun. Effort harus lebih gede, tapi jaga aja jangan sampe gembrot, supaya gak keliatan jelek. So, kalo ditanya apa motivasi gw berolahraga? Nomor satunya adalah: gw gak pengen jelek. Sehat adalah motivasi berikutnya. Mungkin sebagian orang akan bilang gw shallow, karena lebih peduli tampilan luar, hal yang gak esensial dibanding hal-hal dari dalam. Tapi gw rasa tiap orang berhak punya motivasinya masing-masing. Kalo kalian punya motivasi lain lagi yang berbeda, gw akan tetep dukung. Asal jangan diem aja. Tipe bentuk badan dan wajah itu nasib, penuaan juga mutlak, tapi untuk jadi fit dan gak jelek-jelek amat itu pilihan. Choose wisely!
Jam 11 siang, 1 jam menuju breakfast gw
Hani Rosidaini
PS: Oiya. Stop normalisasi omongan orang yang kalo lihat bapak-bapak buncit, bilang itu tanda keluarganya bahagia. Bullsh*t. Malah jadi toxic positivity. Jadi gendut dan buncit adalah tanda lu gak terawat dan gak merawat diri. Teman yang baik akan ngingetin untuk workout, kecuali lu punya isu kesehatan tertentu.