Hi, there.
Ini hampir jam 2 pagi dan gw masih melek banget gara-gara minum kopi kemarin sore (sungguh keputusan yang salah). Karena bingung harus ngapain, energi berlebih, tapi males untuk olahraga jam segini, akhirnya gw putuskan untuk menyalurkan energi lewat menulis. Ngintip-ngintip kumpulan topik yang pengen ditulis dari lama, gw pilih topik ini, walaupun udah agak telat, karena sebenarnya unek-uneknya udah muncul dari sejak awal masa covid. Tapi mari lah kita bahas.

Di awal masa covid, banyak artikel seperti di atas bermunculan, dan gw jadi terpantik untuk beropini.
Intinya sih gw bingung aja sama feminis-feminis yang pengen disetarakan, tapi kalo ada kasus-kasus bagus yang dilakukan perempuan, mereka seperti over glorify itu. Kenapa harus disebutin bahwa dia adalah great woman leader? Kalo emang menuntut kesetaraan, kenapa gak bilang aja dia adalah great leader? Artinya dia setara dengan para leader lain, termasuk leader laki-laki, dan dia unggul diantara mereka. Bukan karena perempuan, tapi karena memang kapabilitasnya. Semua laki-laki ada yang hebat, ada yang nggak. Perempuan pun ya begitu, ada yang keren, tapi ada juga yang biasa aja.
Ngomongin perbedaan, perempuan dan laki-laki, buat gw analoginya sama kayak orang ngomongin suku, agama, dan atau perbedaan-perbedaan lain yang kita punya. Jadinya hanya akan membatasi dan mengkotak-kotakkan manusia. Ini jatuhnya sama aja kayak kalo ada presiden hebat yang kebetulan dia orang Jawa, maka orang akan bilang, “tuh kan, orang Jawa tuh hebat”. Padahal ya bukan semata karena presidennya itu adalah orang Jawa, tapi karena emang dia orangnya hebat aja. Kebetulan memang dia orang Jawa”. Dengan bilang orang Jawa hebat, hanya akan menimbulkan perasaan uneasy di sebagian orang non-Jawa. Padahal kita bisa aja menghargai presiden hebat dalam kacamata personal, bahwa ada kualitas dalam dirinya tanpa atribut embel-embel yang di-over glorify.
Sebagai orang yang dikasih beasiswa untuk belajar gender di Australia, dan dilatih untuk jadi feminis, opini gw di atas bikin gw khawatir kayaknya gw adalah feminis gagal. Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir gw. Tapi sampe saat ini sih, esensi yang gw dapet dari belajar gender adalah bahwa tiap karakter, termasuk perempuan dan laki-laki, memang butuh treatment yang berbeda, dan itu masih harus terus ditingkatkan. Tapi saat membicarakan kesetaraan, gw lebih memilih untuk jadi objektif tanpa glorifikasi identitas gender tersebut.
Semoga tulisan ini bisa diterima dengan hati terbuka.
Jam 02.21 pagi,
masih juga belum bisa tidur.


