Saat Kawan Nigeria-ku di Jakarta

Namanya Favour, dari Abuja, Nigeria

Sebenarnya tidak hanya seorang kawan, karena Favour-pun adalah kolega di kantor, anggota tim di OO (nama kantor). Usianya paling muda, tapi karena latar belakangnya dari hukum, sesuai dengan bidang pekerjaan, dan dia memang pintar di bidangnya, membuat karirnya cukup melesat, sampai akhirnya sekarang berada di posisi Senior Country Manager untuk wilayah Afrika. Karena pekan kemarin ada kegiatan lokakarya di Jakarta, dia pun akhirnya datang ke kota ini, yang tidak kusangka ternyata adalah kota Asia pertamanya. Ternyata dia belum pernah ke benua Asia sama sekali sebelumnya. Yah, sama saja denganku yang belum juga kunjung ada kesempatan ke benua Afrika.

Di hari terakhir dia di Indonesia, setelah satu pekan lokakarya dan empat hari terakhir dia habiskan dengan berlibur ke Bali sendirian, akhirnya kami jalan berdua. Janjian di Grand Indonesia (GI), karena dia bersikeras ingin ke satu tempat di mall itu untuk menyantap satu makanan yang menurutnya nikmat sekali. Dia ingin makanan itu lagi sebelum pulang ke negaranya. Penasaran, akupun mengiyakan. Aku sampai penasaran makanan apa yang dia maksud. Terlebih karena dia menyebutkan nama tempatnya adalah Three Uncles, tempat di GI yang belum pernah aku datangi. Saat sudah sampai, aku biarkan dia pesan, dan ternyata, oh la la, ternyata dia pesan nasi goreng!! “Ooohhh nasi goreeeng”, kataku. “Ya ya”, katanya. Dari percakapan kami, sepertinya dia tidak tahu bahwa nasi goreng dan fried rice merujuk pada makanan yang sama. Tapi baiklah, ini jadi memberikanku referensi, bahwa orang asing memang suka dengan nasi goreng. Lain kali, kalau ada kawan asing lainku datang, kuajak saja ke tempat seperti ini.

Kami pun berbincang tentang banyak hal, baik personal maupun profesional. Menariknya, Favour memang tipe orang yang hidupnya sangat didekasikan untuk pekerjaan, seolah-olah pekerjaannya lah yang mendefinisikan dirinya. Hasilnya, saat rapat ataupun bicara santai seperti ini, tata bicaranya tetap formal, dan dia akui itu. Sesama orang lokal (di negara masing-masing) yang bekerja di lembaga internasional, kurang lebih kami memiliki kesamaan, maka kubagikan lah beberapa pandanganku juga tentang ini. Salah satunya adalah tentang dinamika bagaimana kami harus membawa diri saat menghadapi pemerintah setempat. Bahwa walaupun kami representatif dari kantor global yang berusaha menawarkan solusi, kami harus tetap punya kerendahan hati untuk menyampaikan bahwa pemerintah tersebut lah yang lebih mengerti tentang isu terkait negaranya, caranya adalah saat datang mengenalkan diri, kami tidak bilang “we are the experts”, tapi justru memilih diksi ” we are people with expertise”. Ternyata hal sepele seperti itu saja bisa jadi signifikan beda hasilnya.

Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami pun bersegera pergi, karena Favour sudah harus ke bandara. Tapi sebelum itu, dia ingin beli oleh-oleh kopi Indonesia, dan kuarahkan ke booth kopi Tanamera, karena itu kopi andalan suamiku juga sehari-hari. Karena uang rupiah dia kurang, kuminta saja uang itu, biar jadinya aku yang bayar ke kasir pakai QRIS. Melihat aku bayar, dia ternyata terkesan, karena di Indonesia bisa cukup scan barcode seperti itu. Aku sampaikan bahwa penggunaan QRIS sudah umum di negara ini, bahkan untuk sekadar beli jajanan di jalan. Sedikit banyak aku jadi bangga dengan kemajuan negara ini, walau aku tak sempat tanyakan balik apa di Nigeria sudah mulai mengadopsi teknologi yang sama. Selain kopi, kubelikanlah juga dia eskrim andalanku setiap ke GI, yaitu eskrim buah dari Paletas Way terbaik.

Pertemuan berakhir, kami pun berpelukan tanda perpisahan, berjanji akan bertemu lagi di bagian dunia yang lain. Semoga berikutnya aku yang giliran ke Afrika. Amin.

Saat kami di Oslo. Kawan wanitaku yang dari Afrika memang sering ganti gaya rambut.

Jakarta, 30 Agustus, 9 hari setelah jalan-jalan di GI

Haniwww

Renungan Pemilu: Bentuk Negara dan Anehnya Calon Pemimpin

Orang ini telah mengecewakanku. Tapi karenanya aku jadi berpikir ulang tentang banyak hal.

Pemilihan presiden 2024 sudah lewat. Proses dan hasilnya memuakkan, tapi itulah demokrasi. Benar kata orang: demokrasi itu layak jika masyarakatnya cukup terdidik secara merata. Di saat setiap orang punya satu suara, padahal mereka punya kapasitas berpikir yang jauh berbeda, apalagi didukung dengan ketimpangan ekonomi yang buruk, sehingga mudah digerakkan oleh gimik-gimik murahan, ya hasilnya seperti saat ini. Apalagi aku juga tahu salah satu cara mereka menggerakkan massa dengan menggunakan agama. Bikin sakit kepala. Walau ada juga yang bilang “yasudahlah.. menuju demokrasi yang ideal kan ada prosesnya.” Iya, tapi masalahnya aku hidup di masa ini. Dan intinya.. dari semua kejadian, aku jadi semakin bertanya-tanya, sebenarnya bentuk pemerintahan yang less-evil itu yang mana? diantara monarki, aristokrasi, timokrasi, oligarki, demokrasi, teokrasi, dan tirani?

Untuk menjawab itu, aku perlu banyak belajar dulu. Membaca banyak literatur dan catatan sejarah. Inginnya aku menulis nanti saja, kalau sudah ketemu jawabannya. Tapi menulis prosesnya pun sepertinya menarik, maka dari itu kutuliskan awalku di sini. Ada beberapa buku yang akan kubaca terkait ini:

Yang Social Contract sudah kubaca belasan tahun lalu, tapi sepertinya di saat aku tidak banyak tahu, jadi belum banyak mengerti. Why Nations Fail juga ada di rumah, milik suamiku, walaupun dia juga belum selesai membacanya. The Communist Manifesto sepertinya akan jadi buku pertama, karena aku sedang tertarik-tertariknya dengan Marxisme. Yang lain menyusul.

Aku yakin pasti sudah banyak juga tesis dan jurnal berisi perbandingan bentuk pemerintahan. Ujung-ujungnya pasti berkesimpulan “tidak ada bentuk yang sempurna”, karena kalau memang ada yang sempurna, pasti sudah berusaha diadopsi oleh banyak negara. Tapi aku ingin menemukan jawabanku sendiri, jadi kupilih untuk menempuh perjalanan membaca buku-buku klasik ini.

Sebuah pemikiran pun muncul: jika kembali ke agama (Islam), Allah dan Rasul menyuruh dan mencontohkan seperti apa? Dulu, khilafah seperti pemimpin untuk semua aspek kehidupan, mengurusi ibadah sampai perkara perut. Sekarang, pada prakteknya, pemimpin wilayah dan pemimpin agama seperti dua pihak yang berbeda. Urusan agama, diatur oleh pembesar di mesjid, sedangkan pemerintah hanya harus mengakomodir semua orang bisa beribadah, karena toh warganya pun saling berbeda kepercayaan. Pertanyaannya, apakah pemimpin agama merangkap pemimpin wilayah itu masih relevan? Dan jika memang tak mengapa dibedakan, apakah kepemimpinan wilayah kita samakan saja dengan kepemimpinan di perusahaan? Artinya bukan sesuatu yang harus kita hukumi secara agama?

Yang pasti, yang kutahu dan kuyakini, jadi pemimpin itu berat, tanggung jawabnya dunia akherat. Menengok ke kepemimpinan islam, cara memilih pemimpin adalah dengan bermusyawarah. Seperti pada saat Nabi Muhammad wafat, para ahli berdebat, dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Yang menarik, adabnya adalah, calon pemimpin itu tidak mengajukan diri, tapi diajukan orang-orang lain, berdasarkan kepribadian dan kemampuannya. Jika sudah terpilih, calon itu diminta berbesar hati untuk menerima amanah tersebut. Orang yang mengerti ilmu kepemimpinan, kubayangkan pasti akan merasa berat menerima posisi itu, mengingat pertanggungjawabannya langsung dengan Allah, dan betul-betul jadi bertanggungjawab terhadap semua orang yang berada di bawah otoritasnya. Taruhannya surga neraka. Lalu, bagaimana jika sampai harus memimpin 280 juta orang seperti di Indonesia? Memastikan semuanya bisa hidup dengan baik. Kalau mengerti betul maknanya, semestinya tidak ada yang mau jadi pemimpin. Akhirnya bagiku sekarang, melihat ada orang yang mengajukan diri jadi presiden Indonesia itu aneh, ngotot jadi gubernur atau walikota, itu aneh. Perspektifku melihatnya lebih seperti orang yang ingin kekuasaan alih-alih ingin mengabdi. Jika kau ingin mengabdi, mengabdilah apapun posisimu. Jika kau memang layak jadi pemimpin, pasti orang-orang akan mengajukanmu. Namun jika engkaulah yang merasa sangat percaya diri untuk mengambil kursi pemimpin, ada yang aneh dengan pemahamanmu. Atas dasar itu, untuk konteks Indonesia, apapun pemilunya di masa yang akan datang, sepertinya kriteria yang kucari hanya satu: aku mencari calon yang diajukan orang, dan dia terlihat paling segan untuk mengambil posisi. Bukan karena tak mampu, tapi karena dia tahu, itu bukan sesuatu yang layak dicita-citakan.

Jakarta, 12 Agustus 2024

dengan pemikiran yang bisa terus berubah

PS: Untuk Pak Jokowi, Anda sangat mengecewakan. Kau bukan lagi wajah rakyat, tapi hanya pengulangan dari sejarah yang tak pantas.

Asal Kau Tahu

Aku sedang gila-gilanya membaca

Membaca apapun yang membuat kepalaku kaya

Membaca cerita mereka yang biasa sampai istimewa

Semuanya membuat hatiku memarak karena berbeda

Mengapa mereka bisa menulis seperti itu

Tanyaku terus dengan kagum

Aku juga ingin menulis

Aku ingin seperti mereka

Menorehkan setitik tinta dalam sejarah

Memberikan ruang untuk pojok imajinasimu

Bahkan ingin membuat ideologi baru

Asal kau tahu, akupun punya semangat itu!

Sempat ku berpikir dogma membuatnya tiada

Menciptakan batas tak boleh semena-mena

Tapi kini ku hanya ingin menulis

Menulis, agar semua energi ini sampai pada muaranya.

Jakarta, 8 Agustus 2024

Sambil menelaah kata-kata Pramoedya

Review Buku Perempuan di Titik Nol: Cerita yang Ternyata Terlalu Menyayat Hati

Akhirnya menyelesaikan buku ini di perjalanan KL-Jakarta

Saat mengulas buku, setidaknya ada tiga hal utama yang selalu ingin aku bagikan: ringkasan isi, hal-hal yang menurutku menarik dari bukunya, dan hal-hal yang jadi terpikir olehku karena terstimulus dari buku tersebut. Buku yang kali ini dibahas sebenarnya bisa dibilang buku “tipis”, terjemahan bahasa Indonesia-nya saja hanya 150 halaman, tapi kesan yang ditinggalkan sebegitu dalam sampai aku ingin membuat ulasan tersendiri.

Judul internasionalnya adalah ‘Woman at Point Zero’, aslinya ditulis dan dipublikasikan dalam bahasa Arab di tahun 1977 oleh Nawal el Saadawi. Di halaman belakang buku, dijelaskan bahwa Nawal adalah penulis/sastrawan Mesir yang juga dokter dan seorang feminis. Jujur, klaim ‘feminis’ awalnya membuatku agak kurang nyaman, dan jadi punya antisipasi sendiri isi bukunya akan seperti apa. Tapi latar belakangnya sebagai seorang dokter, membuatku penasaran juga, karena jarang-jarang aku tahu ada seorang dokter yang menjadi sastrawan. (Apa di Indonesia ada sastrawan besar yang juga seorang dokter?). Belakangan aku tahu bahwa Nawal ternyata memang besar di negara-negara Arab, terkenal dengan keberaniannya, mengangkat banyak isu penting, sampai pernah ditangkap dan dipenjara di bawah pemerintahan presiden Sadat. Dia juga perempuan cemerlang, sempat menjabat direktur di bidang kesehatan, dan bahkan banyak yang mendukung dia untuk mendapatkan hadiah nobel bidang literasi. Buku Perempuan di Titik Nol hanyalah satu dari puluhan buku yang dia tulis.

Buku ini setengah biografi dan setengah memoar, karena berdasarkan kisah nyata, yang diceritakan Nawal saat dia menemui pasien di penjara kelam Kairo bernama Firdaus. Dibuka dengan cerita awal mula Nawal mengetahui seorang narapidana wanita bernama Firdaus, yang beberapa hari lagi akan dihukum mati dengan cara digantung. Baik dia maupun pembaca, pasti langsung jadi penasaran, apa sebab musabab Firdaus bisa sampai dihukum mati, apa yang telah dia lakukan, dan mengapa dia jadi sosok manusia yang sangat dingin pada hidup, sampai-sampai ditawari grasi dari presiden pun dia tidak mau. Penjelasannya akhirnya dijabarkan dengan penggambaran perjalan hidup Firdaus dari kecil hingga dewasa. Membaca cerita hidup Firdaus, membuat aku syok, karena ternyata hidupnya semenyakitkan itu. Sejak kecil, dia diperkosa paman dan temannya, tanpa dia mengerti sebenarnya apa yang terjadi, karena dia belum paham konsep seksualitas. Orang-orang yang kelihatan ingin membantu, ternyata malah membuat hidupnya semakin hancur, termasuk pamannya yang dianggap berpendidikan. Yang membuat makin sedih adalah karena Firdaus adalah anak pintar di sekolah, dan dia awalnya ingin bercita-cita tinggi. Dia “dijual” dengan cara dinikahkan dengan pria tua yang memperlakukannya tak layak, hingga akhirnya dia pun sinis dengan konsep pernikahan. Pernikahan akhirnya baginya jadi tidak lebih dari cara laki-laki memanfaatkan perempuan dengan biaya rendah. Tanpa sengaja dia pun akhirnya menjadi pelacur, dan jadi pelacur dengan tarif tinggi jadi opsi yang menurutnya lebih baik seiring perjalanan hidup. Sulit untuk menyalahkan pendapatnya, jika mengetahui kejadian demi kejadian yang dia alami. Saya sampai tidak habis pikir, bahwa ada satu malam dia di jalanan yang padahal ingin menyelamatkan diri, tapi malah dibawa dan diperkosa polisi, kembali ke jalan, lalu diperkosa lagi dan lagi oleh laki-laki yang berbeda. Jadi sulit bagi saya untuk tidak men-generalisir kaum pria di Mesir pada zaman itu. Apa isi otak kalian memang hanya itu saja??!! Berani-beraninya kalian menyebut nama Tuhan dengan kelakuan kalian yang bejat!! Saking gelap hidupnya, saya juga sampai sempat berpikir, kematian jadi tidak terlihat lebih menakutkan jika dibanding harus menjalani hidup Firdaus. Seumur hidup dia seperti tidak pernah punya pilihan. Sampai akhirnya dia bisa memilih untuk tetap dihukum mati, setidaknya jadi memberikan dia rasa kekuatan bahwa akhirnya ada satu momen dia lah yang menentukan apa yang dia mau.

Salah satu kutipan buku

Aku tidak pernah baca buku yang jenisnya seperti ini, yang berbicara lugas tentang sisi kelam hidup perempuan. Buku ini jadi membuatku berpikir tentang banyak hal. Tentunya bahwa konsep seksualitas harus diajarkan sejak dini, apa saja area pribadi tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, apalagi lawan jenis, apa itu pemerkosaan, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal yang mengancam. Buku ini juga merupakan kritik sosial tentang ketimpangan ekonomi, penyalahgunaan wewenang, betapa lemahnya posisi perempuan di lingkungan Mesir zaman itu (hingga sekarang?), hingga berbagai pertanyaan terntang moralitas. Membaca ini jadi seperti membaca esai sosial, dan mungkin karena itulah Nawal sempat dicekal, karena tulisan-tulisannya dianggap terlalu provokatif.

Buku ini diterbitkan hampir 50 tahun yang lalu, tapi rasanya masih relevan hingga sekarang. Awalnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia pada tahun 1989 untuk sama-sama belajar sesama “negara dunia ketiga”, walau pada dasarnya mereka tidak suka dengan istilah tersebut. Sesama negara bekas jajahan yang sedang berkembang, tantangannnya akan kurang lebih mirip, termasuk dalam hal nilai pandangan pada perempuan. Tapi karena Mesir masih termasuk negara Arab, pada kelanjutannya, sepertinya kedua negara memiliki progres yang berbeda. Penjelasan tujuan diterbitkannya buku ini jadi menginspirasi aku juga, bahwa sebegitu kuatnya sebuah cerita. Tidak hanya untuk kita bisa merasakan empati terhadap tokoh yang diceritakan, tapi lebih dari itu, bahkan bisa jadi bahan pembelajaran kita tentang situasi sosial suatu negara, dan bagaimana situasi tersebut bisa bertransformasi seiring zaman. Aku jadi merasakan urgensi akan selalu hadirnya cerita-cerita baru dari setiap zaman, untuk bisa merepresentasikan periode tertentu. Di zaman modern, penyampaian lewat video mungkin dianggap lebih baik karena adanya tampilan visual, didukung oleh majunya teknologi ini itu, tapi aku yakin penulisan cerita teks tetap punya kekuatan tersendiri. Perasaan yang muncul akan berbeda dan penghayatan terhadap yang terjadi bisa terasa lebih syahdu (setidaknya itulah yang aku rasakan). Maka dari itu, setelah ini, semoga aku dan kamu juga jadi lebih bersemangat untuk menulis, menangkap fenomena, dan menyampaikan nilai-nilai yang bisa dipelajari kepada banyak orang, agar cerita kita bisa sekuat cerita tentang Firdaus. Semoga.

Jakarta, 6 Agustus 2024,

dengan badan lemas setelah perjalanan satu pekan di negeri Jiran