
Saat usia 20-an gw inget ada yang pernah bilang sama gw bahwa hidup manusia bisa dikategorikan per-dekade. Usia belasan anggaplah masih usia berkembang, belum dihitung dewasa. Saat menginjak usia 20-an, saatnya eksplorasi segala hal, coba apapun, “habisin jatah gagalmu”, katanya. Intinya di usia 20-an, orang ditantang untuk tidak takut mencoba, karena itu memang waktunya. Nah, di usia 30-an, mestinya udah punya gambaran apa yang mau difokuskan, waktunya leveraging, lebih bagus lagi kalau bisa akselerasi, sudah punya identitas yang jelas. Begitu menginjak 40, udah bukan lagi waktunya mencari-cari, tapi saatnya menikmati, seharusnya semua sudah stabil, ya pekerjaan, ya karir, keuangan, semuanya sudah terarah. Bahkan kalau Adriano Qalbi sering bilang: “kenapa life begins at 40? ya karena kalau umur 40 hidup lu gak jelas, seterusnya lu beneran gak akan kemana-mana”. Waw. Usia kritis sekali bukan?
Nah, masalahnya sekarang, gak kerasa gw udah di usia 30-an menuju 40, dan surprise surprise! Gw ngerasa kok gw masih belum menemukan jati diri ya? Cukup mengejutkan buat gw bahwa pencarian jati diri bisa seberliku dan sekompleks ini. Dari sisi personal, gw masih terus mempelajari diri sendiri dan bagaimana relasi dengan mahluk sekitar yang gak mudah, dan dari sisi profesional, lebih kompleks lagi, karena gw sangat generalist, interests gw banyak, dan bidang gw bisa lumayan berubah-ubah. Rencana hidup selalu terlalu dinamis, tapi karena kalau terencana pun, hidup selalu menunjukkan kejutannya. Orang-orang yang kenal gw di usia 20-an, pasti tahu kalau di periode itu gw orang bisnis banget, topiknya duit duit duit, coba wiraswasta ini itu. Sedangkan orang yang kenal gw saat usia 30-an, pasti tahunya gw orang open data, ngomongin anti korupsi, integrasi data, kebijakan data, dan hal-hal terkait itu. Lantas, gw ini sebenernya mau jadi apa? Kemarin anti korupsi, sekarang interest gw nambah lagi ke AI policy, yang ternyata butuh learning curve baru lagi. Sering gw mumet sendiri, “mestinya gw ini gimana sih?”.
Setelah sekian lama gw bergumul dengan kebingungan ini, pada akhirnya, gw berusaha berdamai. Gw lupa kemarin gw dapat inspirasi dari mana, tapi intinya: gak apa-apa terus mencari, selama kamu masih terus berproses, dalam artian masih terus belajar, gak berhenti di satu titik dan nyaman tanpa perkembangan apapun. Gw emang bingung, tapi toh gw masih terus belajar hal-hal baru, skill gw nambah, terus baca buku, pengetahuan gw juga nambah. Jangan takut dengan kebingungan, tapi takutlah kalau kamu tidak sama sekali berkembang #azheg. Mungkin ini klise, tapi semoga bisa beresonansi dengan kamu kalau kamu juga sama seperti aku, masih terus mencari di usia yang mungkin menurut orang lain sudah tidak ideal. Kalau orang bijak bilang: “semua orang punya timeline-nya masing-masing”. Ingat, yang penting: TERUSLAH BELAJAR!
Salam #LifeLongLearning,
Hani