Proses Branding

Ada Ko Peri FO, ada Bob Maicih, ada om Wiwit C59. Mereka semua adalah orang-orang yang punya branding kuat terhadap produknya masing-masing. Apapun bisnis sampingannya, yang bisa aja ngasilin duit jauh lebih besar, tapi image yang sudah terbangun akan membuat mereka kembali pada perspektif tersebut.

Beruntunglah orang-orang itu yang sudah menemukan spesialisasi yang menghasilkan diferensiasi di pasar/masyarakat. Walaupun diyakini memang itu tidak terjadi begitu saja. Di luar usaha, kerja keras, teknis, dan modal, yang pasti ada keberuntungan, faktor X yang gak bisa diganggu gugat, murni berkah dari yang Maha Kuasa (atau bagi yang atheis, adalah hasil kesiapan-bertemu-kesempatan, atau ada yang bilang, pengaruh kosmos terhadap usaha kita – ala The Secret, intinya semesta mendukung lah).

Branding. Branding. Branding.

Muterrr terus di otak. Kita mau branding kayak apa?
Ada niat, tapi kan ujungnya tergantung hoki juga. Kalo masih muda, banyak yang bilang, “masih banyak waktu. Coba aja dulu segala macem”. Lah, jadi… Kita ngerencanain dulu mau branding kayak apa? Atau suka-suka aja, ntar juga nemu sendiri? Tapi kalo gitu artinya kita bakal ngejalanin sesuatu tanpa image yang kuat dulu di awal? Hahhh… Over thinking will kill you. Kebanyakan mikir, kalo tanpa action, emang gak bakal jadi apa-apa. Kadang kalo kebanyakan dipikirin juga emang tambah bingung sendiri. Kalo belum bisa branding produk emang bagusnya branding diri sendiri dulu. Dan kalo udah ngomongin personal branding, ya pasrah aja. Karena rasanya bukan sesuatu yang hal yang terbangun dalam sekejap juga. Tapi hasil akumulasi dari apa yang udah terjadi dari dulu. Personality & experiences. Walaupun sekarang sih gw pengennya dibranding dengan bidang usaha yang dibuat (yang sangat jauh image-nya dengan gw secara pribadi). Nah loh… Jadi mana yang duluan coba? Muter aja terus. Makanya udah dibilang gak usah kita pikirin aja lah ya :))

Balik lagi ke contoh sukses. Personal branding yang kuat juga kadang mengancam keberlangsungan perusahaan, ya nggak sih? Kang Emil (Ridwan Kamil) yang super eksis, katakanlah dari usaha jasa arsitekturnya, yaitu Urbane, namanya udah melekat sangat kuat. Artinya, bisa jadi mayoritas orang datang ke Urbane, karena nama besarnya beliau. Soo… the question is, what do you think will happen if he moves out from the company? Ya jelas bisa tetap jalan karena orang di dalamnya banyak. But the main image will change, I guess. Ya, anggaplah itu pertanyaan yang lain.
Lebih penting kuat di image pribadi atau image perusahaan? Ya,ya,ya. Pasti semua akan jawab itu saling mendukung. Tapi kalo disuruh milih mau lebih memperkuat yang mana? Karena kalo dari contoh di atas, memeperkuat image perusahaan akan lebih menjamin sustainability nya. Anggaplah foundernya wafat, gak akan terlalu banyak perubahan di pasaran. Ya begitulah…

Hey, ini mau ngomongin apa ya sebenernya? Ada kata “branding”, “spesialisasi”, dan “hoki”. Aha! Mungkin cuma ada satu kata yang bisa mengintegrasikan itu semua: FOKUS.

Hufffttt…

Aku memohon pada Tuhan, orang tua, dan kalian… Doakan jalan itu segera ditemukan. Kini sedang dalam perjalanan. Semoga semuanya dimudahkan. Yay!

08/10/12
Di kamar. Jam 12 malam.
Setelah percakapan bersama mas Yaya di acara perpisahannya sebelum kembali ke Bulukumba.

 

 

Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/12/proses-menemukan-spesialisasi.html untuk tujuan integrasi blog.

Dinamika Absolut

Setelah melalui banyak peristiwa/kejadian, perubahan perasaan, sebab akibat, dan pemikiran, akhirnya gw sampai di titik ini. Titik dimana gw harus membuka diri bahwa segala sesuatunya adalah dinamis. Gak ada yang pasti, gak ada yang akan selalu sama. Statis itu bisa jadi semu. Cuma pintu dari pandangan yang belum terbuka, atau denial kita akan sesuatu.

Kali ini gw emang spesifik membicarakan hubungan antar manusia. Bagaimana orang baik gak akan selalu baik, bisa berubah gak sesuai dengan ekspektasi kita. Dan orang jahat juga bisa melakukan kebaikan, yang mungkin akan kita sangkal kalo kita emang udah ngasih cap buruk. Dan dalam konteks ini, gw punya kecenderungan yang kurang bagus. Dulu, kalo udah sebel sama orang, selalu keterusan. Apapun yang dia lakukan, bawaannya sebel aja terus, kesel, dan gak suka. Makanya kalo ada orang yang berselisih, gw gak mau ikutan. Contoh: si A sama B bermasalah. Karena emang secara objektif si B yang salah, gw bisa aja jadi ikut sebel sama si B. Tapi resikonya, pas si A sama si B baikan, bisa jadi gw sebelnya tetep. Gak banget kan? Makanya kalo urusan orang, emang bagusnya gak usah ikut jadi pikiran. Mind your own business,dude. (Jelas bukan berarti gak peduli. Tapi ala-ala psikiater aja, gak jadi urusan personal). Dannn… itu perlu latihan.

Balik lagi ke atas, semuanya dinamis. Berawal dari kekecewaan akan seorang teman, walaupun gw sangat berusaha untuk mengingat semua kebaikan dia, tapi selalu berujung pada kenyataan bahwa semua hal bisa berubah. Gak perlu kaget, heran, atau berharap berlebihan. Semua akan kembali pada penerimaan kita. Maka yang harus dibentuk adalah kesiapan menghadapi ketidakpastian. Begitupun sebaliknya. Gw harus menanamkan dalam-dalam di otak, bahwa orang yang pernah menyakiti gw, tidak secara otomatis pasti akan melakukan hal yang sama. Pikiran-pikiran negatif itu justru akan menghalangi gw untuk menerima kebaikan yang bisa dia kasih. Dan bisa sangat mengukung perasaan, terhantui oleh masa lalu.

Tetap positif, namun fleksibel. Setiap hari adalah hari yang baru. Bukan masalah, tapi fokus pada solusi. Semoga selalu bisa mengontrol diri.

Terbuka!

 

 

Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/09/resensi-buku-raditya-dika-marmut-merah.html untuk tujuan integrasi blog.

Hanya Jika Kau Mengerti

Jalan ini semakin bercabang
Senja datang membawa bimbang
Hey, jangan dulu gelap! Aku tak bawa penerang
Nanti aku berpegangan pada siapa?

Namun akhirnya awan gelap datang
Tak peduli aku yang sedang sendirian
Kulangkahkan kaki walau perlahan
Suara orang-orang berlari terdengar dari kejauhan

18/10/12
Kamar. Di malam aku mulai tidak suka Path

@haniwww VS @AngkringanDago ?

Well… it might be a very ridiculous story yet still many people pay attention. Somebody called it a “twitwar”, while I’m asking, “Heyy.. Wait,wait. Who exactly fighting here? Me?? Zzzz…”

Oke, I have to admit that it was me who start writing like this:

IMG_0790

But, that’s all.
It just a common comment, I guess. People do even harsher when complaining to a big big cellular company when something happen with their cellphone. “Ind**at bangsat! Sucks! Rubbish! Damn hell! Stop being a b*tch, hey you Tel***sel! I don’t pay much for this such a scum of network, you jerk! F*ck!” (O-ow.. I just start being harsh here -.- )

*sigh*

Its all started 2 months ago when me and my several friends was going out to attend the premiere of “Pertama Kali” short movie because the producer is our friend too (may i mention your name here, Aria? :p). Then, after the screening, we intend to have a dinner in kind of cheap place, because some of us are still students and not in a good condition financially, hahaha… In an instant, we decided to go to “angkringan”, and one of us suggest how if we try the “Angkringan Dago” because it’s the nearest from where we are by that time. So there we go…
But, tadaaaaaa…!!!
When we reach the place, we see an “angkringan” that so different with usual, so much bigger (read: too big) than we expected (yeaa.. we never been here before -.-) So we were already suspicious and feel bad about the place. But we found nothing wrong with try, so we walked in, while hoping the brand aint really trick us.
But unfortunately our feeling was proven, the price is standard of café, we felt like being fooled, til have an idea like below:

IMG_0790PS: We didn’t really execute that plan, at last…

But yeaah.. we definitely regret it. We weren’t going there if we really want to go to a café.

The end.

So.. Where’s the problem?
Three hours after i tweet, unexpectedly the @AngkringanDago account reply me like this:

Image

And it feels like.. “Haahhh??” *frowning . Its get outta my head.

Then with a ruined mood, I tweet once again:

IMG_0788

Oke. Sorry for not reply him personally, because I don’t want to argue with someone whose no manners, and instead of doing that, I prefer ask my friend’s reaction & support just to cheer and make me feel a lil bit better. And I am. I already feel better when my two friends say:

edit

But then the other reactions are coming:

edit

And you know? Uh-oh-uh-oh! The @AngkringanDago keep reply with his particular style:

cats

And I cant expect what’s coming next:

IMG_0780-tile

While you can see who actually enjoy it:

IMG_0838-tile

Snowball effect:

click and zoom to see the larger version

click and zoom to see the larger version

And reach the peak when well-known people take part:

IMG_0780-tile

Somebody become suspicious of me:

IMG_0780-tile

While others put me on a good position:

IMG_0780-tile

being opportunist for fun:

IMG_0811-tile

Good people accept this case as a lesson:

IMG_0780-tile

Eventhough some people think that I’m the victim:

IMG_0780-tile

But I start to worry when reading this:

IMG_0719-tile

So I decide to take voice again:

IMG_0934

Eventhough the @AngkringanDago is so rude, how come if he really lose profit? He may looks so happy, but it’s not really what I want.
A silly question also cross my mind, what if me who become the target, and somebody becomes hate me and do something? XD :p
But then I think, all I have to do is tweet again, and you’re all still stay behind my back,rite? :S

Along with the reactions, finally I can do nothing. I’M BANNED!! By Twitter. I cant tweet, reply, or retweet at all for 2 hours. Maybe Twitter is asking me to chill and calm myself down first, and I follow him. I watch TV and have a dinner. And after my access is back, I choose to not reply the mentions and end the night:

IMG_0719-tile

But I want to mark of these tweet:

IMG_0934

Yes, I notice that some people follow me after that incident, yet I confuse what they really expect from me. I mean.. I ask myself, “What kind of people are they? Do they expect me to keep fight and become a show?” Sad. And its proven. After a day, they unfollow me one by one, but who cares? I’m so sorry to disappoint you,guys..

And another mark is goes to these tweets:

IMG_0834

Yes, I do think so. The person who hold the @AngkringanDago account might be the owner. If he just an admin, it’s too risky to do, rite? He must be fired with no excuse. But who is he actually? Let we allow him to keep hiding behind the avatar.

What a night.

And as a closing, I just want to show you his tweet (in the morning) after all of this:

IMG_0818

Reblogged from: http://hanirosidaini.blogspot.com/2012/12/haniwww-vs-angkringandago.html

 

 

[Resensi Buku] Raditya Dika – Marmut Merah Jambu

8268852

Rate: 6.1/10

Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequited love – Charlie Brown

Telat banget.

Yak, mungkin emang agak telat gw ngomongin buku ini. Terbit tahun 2010, dan gw baru baca di September 2012. Padahal bisa dibilang, gw termasuk pembaca setia blognya Radit dan ngikutin semua buku dia sebelumnya. (Mungkin emang baru jodoh aja kali)

Lebih tebel dari yang lain (218 halaman), dan covernya sendiri, secara pribadi gw suka. Udah berapa tahun ya berarti sejak gw baca bukunya yang terakhir, Babi Ngesot? 3 tahun? 4 tahun? Rasanya udah lama banget. Udah agak-agak lupa detail ceritanya kayak gimana. Tapi inget gambaran umum dan kesan yang tertinggal. Hidupnya, cara pandang dia, dan cara dia nyeritain lagi ke orang lain, semuanya absurd, tapi menyenangkan =)

So, pada saat gw baca si Marmut Merah Jambu ini, sedikit banyak kayaknya gw masih bisa ngebandingin dengan 4 bukunya yang lain, dan menurut gw, cerita-cerita di buku ini, emang lebih “dalem”. Radit keliatan menggali nilai-nilai dalam kisah hidupnya yang kebetulan di edisi kali ini memang bertema besar tentang ‘jatuh cinta’. Walaupun tetap dengan gaya khasnya yang absurd dan mancing orang untuk ketawa, tapi hasil eksplorasi tadi bikin cerita-cerita yang dia sampaikan itu jadi gak shallow. (PS: Saat baca, gw lagi agak mellow)

“Dalem” yang gw maksud terutama ada di chapter-chapter awal. Cerita tentang jatuh cinta diam-diam, kelakukan orang yang terlalu suka sama kakak kelasnya, sunatan karena gebetan, semuanya adalah pengalaman pribadi yang konyol, tapi diakhiri dengan kalimat penutup yang cukup JLEB di hati.

Sayangnya, ada chapter dimana bahannya udah dipake Radit di stand-up comedy. (Ya, silakan salahkan gw yang yang bacanya baru sekarang, tapi ya jelas jadinya gak surprising dan sangat expectable).

Tapi di luar bagian itu, kita juga jadi bisa tau proses lahirnya film ‘Kambing Jantan’ (yang gokil banget, pas ngobrol sama produser berselera pasar), resiko jadi penulis absurd yang punya fans-fans absurd juga (gw sampe penasaran kejadian ini emang nyata atau agak fiksi), dan yang paling gossipable, pastinya kisah cinta dengan seorang penyanyi nasional kita, yang walaupun semua orang udah tau siapa, tapi tetep aja namanya disamarkan menjadi Shero (wuidiii… “geretan.. jadinya geregetan..”). Hehe…

Dan akhirnya halaman per halaman pun ditutup manis dengan makna dari judul buku ini sendiri.

Gw rasa, sebagai personal, Radit pasti mengalami banyak perubahan. Kesan “lebih dewasa” mau gak mau gak bisa terelakkan. Semoga dalam konteks itu, dia gak terlalu punya kekhawatiran. Karena pembaca-pembacanya pun pasti sama-sama berkembang. Walaupun dengan seiring waktu semua orang memang akan jadi lebih bijak, toh sifat ngocolnya emang udah jadi karakter dan berakar. Intinya, kalo ntar dia bikin buku yang agak serius, gw sih oke-oke aja. (Lah, siapa gw? =)))

Note: Di buku ini, ada gombalan-gombalan ‘papa kamu’. Dan mengingat ini ditulis udah lama, apakah inilah awal muasalnya? Atau memang ada yang lebih dulu mencetusnya? (Yea,yea,, what kind of things that originally original in this such global world?) #JustCurious


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/09/resensi-buku-raditya-dika-marmut-merah.html untuk tujuan integrasi blog.

[Resensi Buku] Keep Your Lights On dan Project Baru

9574718

Rate: 5,7/10

Dari covernya saja, pasti orang2 sudah bisa menebak isi buku ini. Membahas tentang ide, yang erat kaitannya dengan kontes BIA (Black Innovation Award). Digagas langsung oleh salah satu jurinya, yaitu Yoris Sebastian, dengan tujuan menjangkau pelosok2 daerah yang gak bisa disinggahi workshop pra-kompetisi.
Untuk yang memang berniat ikut, mungkin buku ini bisa dijadikan tambahan motivasi + sedikit pegangan, menjelaskan  proses seleksi, dan melihatnya dari sisi para dewan juri (mayoritas juri, selain Yoris). Tapi untuk orang umum pun, buku ini disertai pembahasan koseptual tentang ide dan inovasi, contoh2 produk yang bisa ikut menstimulasi, dan juga menyinggung tentang HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Saya membaca buku ini sebanyak dua kali. Untuk yang pertama, entah kenapa saya agak jengah, karena merasa ada terlalu banyak repetisi, terutama di bagian pendefinisian inovasi, bahwa ‘inovasi adalah sesuatu yang tidak harus selalu baru, tapi bisa saja hanya pengembangan dari yang sudah ada’. Kalimat itu diulang terus menerus entah sampai berapa kali, dengan format yang sedikit berbeda, tapi jadinya tetap membosankan. Namun anehnya, saya tidak merasa demikian lagi pada saat baca ulang.

484517_10151044551344477_521399732_n

si project baru

Mungkin ini dikarenakan oleh isi buku yang adalah gabungan dari berbagai testimoni orang-orang yang pernah jadi juri (Nicholas Saputra, Sigi Wimala, Agni Pratista,dll).
Maka itulah alasan saya untuk meresensi buku ini (padahal bacanya sih udah lama).
Pasalnya, saya sedang bergabung dengan projek pembuatan buku, bertema volunteering, yang berisi 24 kisah dari 24 volunteer. Dengan satu benang merah, namun ditulis oleh sebegitu banyak orang, apalagi dengan ketidak pastian proses editing (karena lewat self-publishing), bukan tidak mungkin di dalamnya akan banyak sekali repetisi definisi. “Volunteering adalah…”, “volunteer artinya…”. Walaupun kalimatnya bisa saja direka-reka berdasar masing2 penulis, namun secara konteks tetaplah sama. Ya… semoga saja ini bisa dihindari. Tentu dengan koordinasi dari sejak awal. Terutama buku yang bagus rasanya bukanlah yang bersifat menggurui, tapi lebih seperti berbagi, maka makna yang didapat setiap orang pasti akan berbeda, tergantung penerimaan dan pengalaman pribadi masing2 pembaca.
Doakan saja ya! 😀

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Dapet langsung dari mas Yoris.

Kembali ke buku BIA. Setelah menamatkannya hingga halaman terakhir (cuma 168 siih :p), jadi telintas beberapa hal juga di benak saya.
Yang pertama, saya jadi penasaran, apakah sudah ada atau belum produk BIA yang diproduksi masal, karena dari beberapa contoh yang dimuat, rasanya semua masih kurang familiar. Saya juga jadi penasaran tentang label ‘Best Seller’ yang ada di buku. Jujur aja, saya hanya ngasi rate 5.7, justru karena label tersebut. Ekspektasi tinggi, tapi ternyata tidak terlalu mind-blowing. Katanya sih ini buku seri kedua. Seri pertamanya sudah terbit jauh lebih dulu dan best seller juga. Berarti atau mungkin karena mayoritas materinya sudah tersedot di edisi pertama, jadi yang kedua ini sebagai tambahan saja? Ohh.. harus dibuktikan.

Selain itu, saya juga jadi berangan-angan loh tentang produk apa yang pengen saya liat di masa depan. Dan salah satunya adalah… alat yang bisa ngeliat bagian dalam tubuh dengan mudah. Mata kita bisa liat langsung setiap luka, goresan, atau apapun yang ada di permukaan kulit. Saya pengen itu bisa terjadi juga dengan setiap organ dalam tubuh saya. Langsung tau kalo2 ada yang gak beres dengan jantung, paru-paru, hati, dan itu semua jadi jauh lebih mudah dari sekarang, sesederhana kita bisa liat memar di betis.
Ide awalnya sih jelas karena penasaran sama kesehatan diri sendiri yang sebenernya. Tapi kalo disuru full medical check-up yang kayak masuk mesin scanning, kayaknya, ya gitu deeh :))


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/08/resensi-buku-dan-project-baru.html untuk tujuan integrasi blog.