Cool Sides of ‘Pride and Prejudice’

I gave 4 stars on Goodreads because i have a little group to discuss this literature and found out many interesting things that we could learn, while also enjoyed the book along with the TV series, which made me so much in love with Collin Firth who cast Mr.Darcy. The condition will be so different if i read the book itself. So, i recommend anyone to watch the series like i did ^^

 

Image

 

[Resensi Buku] Raditya Dika – Marmut Merah Jambu

8268852

Rate: 6.1/10

Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequited love – Charlie Brown

Telat banget.

Yak, mungkin emang agak telat gw ngomongin buku ini. Terbit tahun 2010, dan gw baru baca di September 2012. Padahal bisa dibilang, gw termasuk pembaca setia blognya Radit dan ngikutin semua buku dia sebelumnya. (Mungkin emang baru jodoh aja kali)

Lebih tebel dari yang lain (218 halaman), dan covernya sendiri, secara pribadi gw suka. Udah berapa tahun ya berarti sejak gw baca bukunya yang terakhir, Babi Ngesot? 3 tahun? 4 tahun? Rasanya udah lama banget. Udah agak-agak lupa detail ceritanya kayak gimana. Tapi inget gambaran umum dan kesan yang tertinggal. Hidupnya, cara pandang dia, dan cara dia nyeritain lagi ke orang lain, semuanya absurd, tapi menyenangkan =)

So, pada saat gw baca si Marmut Merah Jambu ini, sedikit banyak kayaknya gw masih bisa ngebandingin dengan 4 bukunya yang lain, dan menurut gw, cerita-cerita di buku ini, emang lebih “dalem”. Radit keliatan menggali nilai-nilai dalam kisah hidupnya yang kebetulan di edisi kali ini memang bertema besar tentang ‘jatuh cinta’. Walaupun tetap dengan gaya khasnya yang absurd dan mancing orang untuk ketawa, tapi hasil eksplorasi tadi bikin cerita-cerita yang dia sampaikan itu jadi gak shallow. (PS: Saat baca, gw lagi agak mellow)

“Dalem” yang gw maksud terutama ada di chapter-chapter awal. Cerita tentang jatuh cinta diam-diam, kelakukan orang yang terlalu suka sama kakak kelasnya, sunatan karena gebetan, semuanya adalah pengalaman pribadi yang konyol, tapi diakhiri dengan kalimat penutup yang cukup JLEB di hati.

Sayangnya, ada chapter dimana bahannya udah dipake Radit di stand-up comedy. (Ya, silakan salahkan gw yang yang bacanya baru sekarang, tapi ya jelas jadinya gak surprising dan sangat expectable).

Tapi di luar bagian itu, kita juga jadi bisa tau proses lahirnya film ‘Kambing Jantan’ (yang gokil banget, pas ngobrol sama produser berselera pasar), resiko jadi penulis absurd yang punya fans-fans absurd juga (gw sampe penasaran kejadian ini emang nyata atau agak fiksi), dan yang paling gossipable, pastinya kisah cinta dengan seorang penyanyi nasional kita, yang walaupun semua orang udah tau siapa, tapi tetep aja namanya disamarkan menjadi Shero (wuidiii… “geretan.. jadinya geregetan..”). Hehe…

Dan akhirnya halaman per halaman pun ditutup manis dengan makna dari judul buku ini sendiri.

Gw rasa, sebagai personal, Radit pasti mengalami banyak perubahan. Kesan “lebih dewasa” mau gak mau gak bisa terelakkan. Semoga dalam konteks itu, dia gak terlalu punya kekhawatiran. Karena pembaca-pembacanya pun pasti sama-sama berkembang. Walaupun dengan seiring waktu semua orang memang akan jadi lebih bijak, toh sifat ngocolnya emang udah jadi karakter dan berakar. Intinya, kalo ntar dia bikin buku yang agak serius, gw sih oke-oke aja. (Lah, siapa gw? =)))

Note: Di buku ini, ada gombalan-gombalan ‘papa kamu’. Dan mengingat ini ditulis udah lama, apakah inilah awal muasalnya? Atau memang ada yang lebih dulu mencetusnya? (Yea,yea,, what kind of things that originally original in this such global world?) #JustCurious


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/09/resensi-buku-raditya-dika-marmut-merah.html untuk tujuan integrasi blog.

[Resensi Buku] Keep Your Lights On dan Project Baru

9574718

Rate: 5,7/10

Dari covernya saja, pasti orang2 sudah bisa menebak isi buku ini. Membahas tentang ide, yang erat kaitannya dengan kontes BIA (Black Innovation Award). Digagas langsung oleh salah satu jurinya, yaitu Yoris Sebastian, dengan tujuan menjangkau pelosok2 daerah yang gak bisa disinggahi workshop pra-kompetisi.
Untuk yang memang berniat ikut, mungkin buku ini bisa dijadikan tambahan motivasi + sedikit pegangan, menjelaskan  proses seleksi, dan melihatnya dari sisi para dewan juri (mayoritas juri, selain Yoris). Tapi untuk orang umum pun, buku ini disertai pembahasan koseptual tentang ide dan inovasi, contoh2 produk yang bisa ikut menstimulasi, dan juga menyinggung tentang HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Saya membaca buku ini sebanyak dua kali. Untuk yang pertama, entah kenapa saya agak jengah, karena merasa ada terlalu banyak repetisi, terutama di bagian pendefinisian inovasi, bahwa ‘inovasi adalah sesuatu yang tidak harus selalu baru, tapi bisa saja hanya pengembangan dari yang sudah ada’. Kalimat itu diulang terus menerus entah sampai berapa kali, dengan format yang sedikit berbeda, tapi jadinya tetap membosankan. Namun anehnya, saya tidak merasa demikian lagi pada saat baca ulang.

484517_10151044551344477_521399732_n

si project baru

Mungkin ini dikarenakan oleh isi buku yang adalah gabungan dari berbagai testimoni orang-orang yang pernah jadi juri (Nicholas Saputra, Sigi Wimala, Agni Pratista,dll).
Maka itulah alasan saya untuk meresensi buku ini (padahal bacanya sih udah lama).
Pasalnya, saya sedang bergabung dengan projek pembuatan buku, bertema volunteering, yang berisi 24 kisah dari 24 volunteer. Dengan satu benang merah, namun ditulis oleh sebegitu banyak orang, apalagi dengan ketidak pastian proses editing (karena lewat self-publishing), bukan tidak mungkin di dalamnya akan banyak sekali repetisi definisi. “Volunteering adalah…”, “volunteer artinya…”. Walaupun kalimatnya bisa saja direka-reka berdasar masing2 penulis, namun secara konteks tetaplah sama. Ya… semoga saja ini bisa dihindari. Tentu dengan koordinasi dari sejak awal. Terutama buku yang bagus rasanya bukanlah yang bersifat menggurui, tapi lebih seperti berbagi, maka makna yang didapat setiap orang pasti akan berbeda, tergantung penerimaan dan pengalaman pribadi masing2 pembaca.
Doakan saja ya! 😀

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Dapet langsung dari mas Yoris.

Kembali ke buku BIA. Setelah menamatkannya hingga halaman terakhir (cuma 168 siih :p), jadi telintas beberapa hal juga di benak saya.
Yang pertama, saya jadi penasaran, apakah sudah ada atau belum produk BIA yang diproduksi masal, karena dari beberapa contoh yang dimuat, rasanya semua masih kurang familiar. Saya juga jadi penasaran tentang label ‘Best Seller’ yang ada di buku. Jujur aja, saya hanya ngasi rate 5.7, justru karena label tersebut. Ekspektasi tinggi, tapi ternyata tidak terlalu mind-blowing. Katanya sih ini buku seri kedua. Seri pertamanya sudah terbit jauh lebih dulu dan best seller juga. Berarti atau mungkin karena mayoritas materinya sudah tersedot di edisi pertama, jadi yang kedua ini sebagai tambahan saja? Ohh.. harus dibuktikan.

Selain itu, saya juga jadi berangan-angan loh tentang produk apa yang pengen saya liat di masa depan. Dan salah satunya adalah… alat yang bisa ngeliat bagian dalam tubuh dengan mudah. Mata kita bisa liat langsung setiap luka, goresan, atau apapun yang ada di permukaan kulit. Saya pengen itu bisa terjadi juga dengan setiap organ dalam tubuh saya. Langsung tau kalo2 ada yang gak beres dengan jantung, paru-paru, hati, dan itu semua jadi jauh lebih mudah dari sekarang, sesederhana kita bisa liat memar di betis.
Ide awalnya sih jelas karena penasaran sama kesehatan diri sendiri yang sebenernya. Tapi kalo disuru full medical check-up yang kayak masuk mesin scanning, kayaknya, ya gitu deeh :))


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/08/resensi-buku-dan-project-baru.html untuk tujuan integrasi blog.