Belajar Soal Bisnis Wine

71

Mister dan nyonya pemilik tempat.

 

Beberapa hari yang lalu aku dan temen sekelas di Flinders Uni kunjungan lapangan seputar bisnis ke salah satu winery, kebun anggur dan tempat pembuatan wine di Adelaide, namanya Sinclairs Gully. Lumayan jauh dari city, entah berapa lama di jalan, yang jelas rasanya di bis aku sampe bisa ngobrol lama dan liat berbagai tempat. Kebetulan tuannya adalah sepasang suami istri yang juga jalanin eco-tourism di Sumatra Utara, Indonesia (makanya mungkin agak relate kalo ketemu orang Indo). Untuk yang suka wine, pasti seneng banget main ke sini, nyobain berbagai macam wine. Tapi walaupun aku gak minum, tetep banyak yang bisa dipelajari dari bisnisnya kok. Ya selain karena memang “dipaksa” harus bisa begitu sih, haha.. karena setiap habis kunjungan, kami selalu harus bikin summary, nemuin key ideas-nya, apa yang bisa diimplementasikan di bidang masing-masing, didiskusiin di kelompok, dan lalu dipresentasiin di depan semua orang.

This slideshow requires JavaScript.

Menurut empunya, wilayah ini adalah milik keluarga yang luasnya mencapai 26 acre (atau sekitar 12 hektar?). Tapi walaupun bersifat pribadi, dalam pengelolaannya mereka tetap diawasi oleh pihak kementrian, sudah dimintakan izin, dan mereka berjanji bahwa ini akan tetap bisa jadi cagar alam atau wisata lindung. Komunitas di sekitarnya pun diberdayakan dalam menjalankan usaha, dari pemetikan anggur, pengolahan, dan pembotolan higga bisa jadi produk siap jual. Karena dikerjakan bersama, maka semua yang terlibat pun harus memegang value yang sama, ya itu tadi, agar menjaga supaya wilayah ini bisa tetap sebagaimana mestinya (keep sustainable).

20

“Hani was here”

 

Katanya sih, istimewanya wine produksi sini adalah, karena udah dikategorikan sebagai bio-dynamic wine, levelnya udah di atas wine organik, karena prosesnya dilakukan dengan alam (sumpah aku juga gak ngerti-ngerti amat sih, pokoknya anggep aja wine premium lah ya >,< #kali). Dan seperti sering disebut di film-film, makin lama wine disimpen, rasanya akan makin enak. Si mister sempet cerita dia bahkan punya wine dari edisi tahun kapan tau (dan si Hani makin gak ngerti).

25

Numpang mejeng doang di bar-nya.

 

Setelah para temen aku “minum-minum” di bar-nya, dan borong sekian botol (mumpung dikasih harga bagus juga), kami lanjut ke kebun dan hutan. Menarik, karena dikasi liat berbagai vegetasi khas Ostrali. Di hutan, pohonnya putiiiihh semua, jadi beneran kayak hutan hantu. Sepanjang batang sampe ranting, kulit kayunya emang warna putih, dan si mister pasang beberapa kamera di badan pohon. Katanya sih, untuk ngerekam dan motret fauna yang pada muncul dan sering lewat. Di hari itu, kami juga liat kangguru dan koala (ya walaupun sejak tinggal di sini liat kangguru udah kayak liat kucing di kampung sih). Tapi si mister justru paling tertarik motret burung-burungnya. Apalagi katanya, menurut penelitian, beberapa jenis burung kecil tertentu, akan punah dalam waktu 20 tahun karena cuaca di sini.

29

Mulai masuk hutannya.

32

Si mister ngejelasin ada apa aja di sini.

43

“pohon hantu”

38

trap camera

 

Di tengah perjalanan, kami juga diliatin area outdoor-nya yang biasa dia sewain untuk acara, pernikahan dan berbagai event (suasananya jadi ngingetin sama nikahannya Bella Swan sama si vampir di film Twilight!). Ini bisa jadi tambahan pendapatan juga, sebagai kompensasi kalo musim untuk bisnis utamanya lagi kurang bagus. Bagian dari rumah kediamannya juga sering dia sewain jadi guest house, untuk turis-turis dari berbagai negara. Apalagi yang lagi penelitian, atau banyaknya adalah orang-orang yang tertarik dengan berbagai spesies burung di sini, karena memang (katanya) banyak burung di sini yang gak akan ada di belahan dunia lain (jadi ngomongin burung lagi deh).

50

foto kunjungan

 

Mmmm… jadi kalo liat proses bisnisnya sih ya, mereka ni gak cuma jualan produk, tapi memang ahli di bidang eco-tourism, yang kuncinya adalah: great memory, gimana caranya menjual momen sama konsumen. Sekembalinya kami ke area rumah, gantian si nyonya yang cerita proses dari awal mereka bangun industri ini. Bahwasanya, produk itu memang gak harus selalu berupa fisik, tapi bisa juga berupa pengalaman berkesan. Contohnya ya tur kebun anggur mereka, orang jadi bisa metik langsung, nyentuh, dan ngalamin sendiri, bahkan bantu proses produksi yang sebenernya nguntungin pihak pemilik. Sangat personal, sangat berorientasi ke manusianya. Si nyonya bahkan pas cerita soal kehidupannya di Sumatra, dia sampe nangis juga, dan bikin kami semua terharu (walaupun di otak sadar aku mikir, “wah, emang bisa banget nih doi “nyentuh” konsumennya”).

52

Nyonya lagi cerita.

 

Selain itu, yang bikin aku tertarik adalah, karena mereka adalah suami istri yang menjalankan usaha bersama. Makanya aku juga jadi penasaran gimana caranya biar urusan rumah tangga sama kerjaan gak terlalu nyampur, apalagi jadi destruktif. Dan dia jawab sih, ya so far so good. Paling kalo ada “sesuatu” terjadi, mereka fokus kerjaan masing-masing aja, dimana dia lebih banyak ngerjain back office, ngurusin website, booking, itinerary, dll, sedangkan suaminya ngerjain yang “outside job”, hohoho ^_^

57

presentation time

64

Mbuh ngarane, mbuh rasane. Mending minum jus2 buah yang sehat aja.

 

Begitulah kira-kira.

Scrum? Apaan tu?

AlbertEinstein

Langsung inget kalimatnya opa Einstein di atas begitu Yuricho Billy cerita soal pertanyaannya ke seorang Scrum Master tentang apa itu Scrum, gunanya apa, dan kenapa kita harus pake Scrum, yang mana jawabannya dirasa gak bikin ngerti sama sekali. Gak jelas.

Bikin gw juga jadi penasaran sebenernya Scrum itu apa, secara lagi lumayan happening, jadi mulai banyak workshop-nya juga, dan orang-orang (katanya) jadi ikutan make (entah karena mereka emang udah beneran ngerti atau biar keliatan up-to-date aja). Dan tantangannya adalah, setelah ntar gw pelajari, apakah gw bisa menjelaskan secara sederhana soal ini ke si Cocho dan bikin dia ngerti? Haha..

Baca, baca, baca, dan ha! Gak ada yang menarik ~,~

Oke, yang gw tangkep adalah.. Scrum ini sejenis salah satu metode manajemen gimana caranya handle suatu project (yang disini lebih bertendensi ke bidang IT development) untuk mengefektifkan cara kerja dan jadi jembatan antara keinginan project owner dan developer (karena project owner berorientasi waktu, harus on time sesuai perjanjian ke klien, sedangkan developer bukan robot yang skill-nya bisa ditekan kalo mau hasil bagus). Salah satu caranya adalah membagi masa pengerjaan project ke dalam beberapa termin, dimana tiap selesai satu termin, kita semua harus meeting dan review bareng, termasuk expose progress itu ke sang klien biar doi tau update-annya. Cuma jadi agak ribet disini karena pake banyak istilah, ya artifacts lah, backlog, sprint, increment, bla bla bla.. ^^

Sekilas langsung inget dan jadi mirip sama Lean Startup (ya nggak sih?). Cuma bedanya, Lean Startup fokus ke produk, sedangkan si Scrum lebih concern ke orang-orangnya juga. Inti objektifnya sama; efektifitas. Kenapa jadi beken? Jelas, karena konsep ini dateng dari pusat teknologi dunia dan terbukti berhasil di sana. But again.. gak semua yang sukses di luar bisa berhasil di Indonesia, dan sebenernya gak harus juga semua diadaptasi kemari. Ya.. lumayan sih buat jadi referensi, tapi kenyataannya, punya metode yang macem2 kadang justru lebih menarik, hehe.. atau lebih bagus ya kita bikin metode sendiri (kali-kali) terus dinamain dan bikin itu worldwide :))
Ada pendapat? =)
 
— tengah hari, di tengah kota-kota yang menunggu didatangi, saat bingung jadinya mau pake facebook social plugin atau nggak buat insert komen di blog
 
Sumber referensi:

http://www.scrumguides.org/scrum-guide.html#team-sm
View at Medium.com
http://scrum-indonesia.org/apa-itu-scrum

(Disclosure: postingan ini repost dari status saya di akun facebook pribadi. Yaa.. daripada ntar tenggelam ditelan waktu, mending saya posting di sini juga, biar sekalian ada update, hehe..)

Lean In – Part 2

Finished the first chapter of the book and found that every sentence was essential. Its impossible for me to re-write it all here, rite? So please, grab the book and read it by yourself. Its enlightning for both men and women. By economic base, Sheryl did the numeric approach, explained facts by using data but still by sharing more about her own experience as well. Throwed me back to my childhood when i was almost always be top of the class, and be the leader for all, while many other girls also did. It proved that we all have the chance to be number one, not restricted to specified genre. But where are they when they grew up? How many women take the executive positions now? This chapter showed a lot, even in the international business circle! Stereotype threat we could say. When being ambitious for women seems negative, when our biology demands that we have children while during the same time our career demands maximum time investment, when our surrounding warns that we cant be committed to both our families and careers, when barrier is all we see to aspire, lets start to ask ourselves: What Would We Do If We Weren’t Afraid?

A Coming Venture Capital for Social Entreprises From Indonesia

Image

Holla! An info again 😀

Me & Ngadu Ide team just get introduced to Timothy Francis by mas @DondiHananto n do some discussion. Tim is a representative of Village Capital (www.vilcap.com), a non-profit organization that based in New York, n he’s on mission here to be sure.

In brief, they intend to provide a venture capital for some social entreprises in Indonesia (yes, only the social one). The program itself is already run for several years and applied in several countries (you can check http://www.vilcap.com and see the winners profile there as reference). Anyway, I guess i dont have to mention any kinds of business that categorized as social entreprise here, since that term is also not clearly defined in this country. But the point is; a business that empower people and has social impact to the community.

Unfortunately, if what you have is only an idea, u’r not eligible to join, coz they require business that already run, has a revenue, n handled full time. But in contrary, if u hv anything that they need to see, it will be a good chance for u, coz they will select 15 teams all over Indonesia, get them all to the business incubator for 3-5 months, and the 2 winning teams will given funding until US$ 50,000 each.

Well, I cant directly tell u when this program will be started, coz Tim is still also look for some insights about our potentials in this field. But if u feel interested, u can ask me his email or skype and contact him directly to ask any questions about it (and he’s single btw).

Hmmm.. i think thats it for today. Its a quite exhausting day, and i’m not really please to see October to go too soon. And eventhough we’re not celebrate today, but since Tim has forced me to remember what day it is, so… Happy Halloween, people!