How Study in Australia Transformed Me

I wouldn’t say ‘how Australia changed me’ because I feel like I’m still myself, but the way I act was shifted because of my experience studying in the country. I studied at Flinders Uni in Adelaide and the Uni of Sydney in Sydney, but this time is more about my experience at Flinders because I spent more time there. The program was under the consortium of the Business and Gender Study Department, therefore, I visited a lot of businesses and studied them not only from the business side but also from the gender perspective.

My lessons and takeaways from Australia are numerous, but if I have to choose the top 3, it would be:

1. Learn from your biases. It was funny or quite ironic, because I started learning about gender when I was having a huge bias towards it. At the time, I was having a business team where I was the only woman, and there was quite a resistance to adding more women to the team. During the process of learning, I encountered unpleasant events and was forced to think more. Later on, I just realised that I was biased, so I learned it the hard way. But then, it also made me think about the other (potential) biases I have. I think it’s crucial to notice your personal biases in order to make a better decision and interact with other people.

2. The courage to speak. Perhaps it’s not only in Australia, but also in other Western countries (?), which is very different compared to Asian countries (?). Affected by my surroundings, I felt like I was always encouraged to speak. Ask questions, state your opinions, and dare to argue. It improved my confidence and English speaking skills significantly (I couldn’t stop talking). Now, every time I feel like I need to speak a certain language fluently (and more importantly, eloquently), I know I need a supportive environment. If there’s none, I have to create one.

3. The retrospective method. When I was studying at Flinders, every time after we visited a business or attended a course, at the end of the day, we were asked to present three things: 1. key ideas, 2. what was new for us, and 3. how to implement. The first point (the key ideas) might be the same for all the students, because we heard the same thing. But for the second and the third, they must be different, because it depends on our personal experience and the relation between what we just learned and our work. For example: when we were visiting a winery, how to produce wine might be new knowledge for some students, but not for others. And then, some might think about implementing the business, but as for me, since wine is illegal in Islam, what I thought implementable was the concept of its sustainability. We always presented these three points to end the class, repeatedly, over and over again, until it became a norm. Now, every time after I read a book, attend a seminar, or talk with inspiring people, I try to use this method. I think and reflect, hmmm… (1) what are the key ideas? (2) which parts are new for me or the most interesting? and (3) how can I implement this knowledge or information? Shout out to Prof. Anuradha Mundkur and Cara Ellickson from Flinders, who introduced me to this method!

That’s what I can think of now. Perhaps I will share more in the future, which hopefully can be useful, at least for me, to organize my memory.

Jakarta, during the Friday prayer time, after attending a neuroscience masterclass the night before,

Hani

KUMPULAN KODE REFERRAL LENGKAP – Honey Money Hack

Hai, gaes!

Karena gw punya banyak banget kode referral yang bisa menguntungkan aku dan kamu, jadi gw bikin postingan ini untuk mengumpulkan semuanya di satu halaman terpusat. Berikut ini adalah kode-kode referral yang bisa kamu pake, beserta syarat welcome bonus-nya jika ada. INFO BAGUS: Kalau kamu menggunakan minimal dua saja kode dari gw, kamu berhak bergabung ke grup whatsapp Honey Money Hack, di mana gw akan lebih banyak share cara-cara maksimalin cuan dari berbagai penjuru. Tinggal DM gw di akun instagram @haniwww. Salam cuan!

KODE REFERRAL APLIKASI

Ajaib atau Ajaib Alpha: hani5971663184

Aladin Bank: 7JD6TE

Allo Bank: https://alloappmgm.onelink.me/xSrn/kryecymr

Alfagift: HANI1313

Amar Bank: HANIO001

Astra Pay: E2VJAFP

AttaPoll: ONWKK https://attapoll.app/join/onwkk

Atome Card:

Bale by BTN: RSYF5708

Bank Saqu: BFJ87Y (Syarat: Harus menambahkan dana di Saku Utama paling telat 1 hari setelah membuka akun minimal Rp100.000. Pertahankan dana minimum Rp100.000 tersebut selama 7 hari agar mendapatkan reward)

BIBIT: hani10 (Syarat: investasi minimal Rp1.000.000 untuk pembelian pertama agar mendapatkan reward)

Binance: GRO_14352_XGV80 (https://www.bmwweb.net/referral/earn-together/refertoearn2000usdc/claim?hl=en&ref=GRO_14352_XGV80&utm_medium=app_share_link)

Bizhare: HRPF5P9V

BLIBLI: BLIBLIHANIQDWC

blu BCA DIGITAL: HANIO6Y3D

BNI (rekening): HANIOK105090

BNI (Kartu Kredit) Referral: 113764 (Link: Bit.ly/BNIW12) Khusus kartu kredit BNI, untuk kesempatan di-approve yang lebih besar, setelah apply, infokan aku nama lengkap kalian dan tanggal lahir, supaya bisa dicek dan minta diprioritaskan.

Citilink (LinkMiles): hanirosidaini@yahoo.co.id

Crowdana: HANIO906 https://app.crowddana.id/Nh6g/referral

DANA: b7XcTo

Deliveree: ub072dd

DepositoBPR: HR5090

F&B ID APP: ZGVLGE (SyaratL Jajan pertama minimal Rp15.000 melalui aplikasi F&B APP)

FLIP: HFAO2766 https://flip.id/s/rhfao2766 (Syarat: Bertransaksi transfer beda bank atau top-up e-wallet minimal Rp100.000)

Gotrade: 592626 https://heygotrade.com/referral?code=592626

GROWIN (Mandiri Sekuritas): MDFA21 https://join.growin.id/register?ref=MDFA21

Heymax: https://heymax.ai/?referral_code=BC5EE559 (sebisa mungkin install Heymax-nya dimulai dari link ini. Kalau prosesnya benar, kamu akan langsung dapat 200 miles)

Imperial Club: HAN875959

Indodax: haniwww

Jago BANK: HAND1E9F (Syarat dapat reward Rp50.000: Top up Rp500.000 dan transaksi QRIS Jago Rp20.000. Top up dalam 7 hari pertama registrasi, dan jaga saldo rata-rata Rp.500.000 selama 30 hari)

Jakpat: haniwww

Jiwa+ (aplikasi Janji Jiwa): HANG8Z

KLOOK: XLES4 (Syarat dapat reward Rp75.000: menyelesaikan satu pesanan)

KROM Bank: HANI2921

Kris+: F541093 (Link: https://app.krisplus.com/tpJv5RHr3Wb)

LakuEmas Elite: HANI444118

LINE BANK: SBYLB5

Livin Mandiri: https://livin.page.link/?link=https://livin.page.link/referral?c%3DMGMKF5YM3X&apn=id.bmri.livin&isi=1555414743&ibi=id.bmri.livin

LUNO: CSRPA5 (Syarat dapat reward Rp20.000: deposit dan beli kripto Rp1.500.000 dari Luno’s Instant Buy, bukan Luno Exchange)

Mega Bank Kartu Kredit: MGMHAN7488 https://msmile.onelink.me/ZTtt/mgm (Jika aplikasi kartu kreditnya disetujui, akan dapat bonus Rp150.000 MPC Points)

MAP CLUB: HAQVINR

Mobee: 164184c0 (https://mobee.onelink.me/kGn9/6amq01sn)

Motion Bank: 01HANSY29 https://motionbank.page.link/jUAEjCsbt4586Nsn8

MyValue: HANIWWW

Nex Card/Bank: 8ct9v7rl

Paxel: haniwww

Pelago: https://pel.sg/Vh8HA0

Pegadaian Digital (TRING!): TRHANIF386 (https://tring.onelink.me/rIEN/2gqk5)

Pintu: hanirosidaini033

Pluang: HANI315276

RAYA Bank: HANIOKTSPO2F

Reku: @haniwww

Revolut: https://revolut.com/referral/?referral-code=haniq4dol!FEB1-25-AR-H1

Seabank: TWPDSD (Syarat dapat reward: nabung minimal Rp50.000 dan pertahankan selama 3 hari)

Shariacoin: 78433 (https://app.shariacoin.co.id/r/78433)

Shopback: rmZMLL

Shopeepay: ZBRV8HJ9N

SOCO app: haniwww https://sociolla.app.link/haniwww-referral

Starbucks (Rewards App): HANIR-443F0E-15DBCA (Syarat: bonus minuman dengan pembelian min.50ribu)

Superbank: LNXL1M

Surveyon: Ps330765

TanamDuit: HANIO00LE2K (https://app.tanamduit.com/invite/ddFT)

Tiktok: F64DPLP6SPYXG

Tomoro Coffee: I4HE2I

Treasury: trs-651205090d1633 (https://treasury.id/pages?redirect=Register&referralCode=trs-651205090d1633)

TREVO: IIIFLR

Ultra Voucher: L7Y8P4

Watsons ID: hw8V6HlIbg

Wondr by BNI: 1owo https://referral-wondr.bni.co.id/1owo

YUP: https://finture.id/active/mgm-b/JWv07mWvro5MCiTI5jbZis8Ys34bNMEz5pWX8I1DTMXgv4vCwV%2FedhNzmHHCRiZc

Thank you!

Saat Kawan Nigeria-ku di Jakarta

Namanya Favour, dari Abuja, Nigeria

Sebenarnya tidak hanya seorang kawan, karena Favour-pun adalah kolega di kantor, anggota tim di OO (nama kantor). Usianya paling muda, tapi karena latar belakangnya dari hukum, sesuai dengan bidang pekerjaan, dan dia memang pintar di bidangnya, membuat karirnya cukup melesat, sampai akhirnya sekarang berada di posisi Senior Country Manager untuk wilayah Afrika. Karena pekan kemarin ada kegiatan lokakarya di Jakarta, dia pun akhirnya datang ke kota ini, yang tidak kusangka ternyata adalah kota Asia pertamanya. Ternyata dia belum pernah ke benua Asia sama sekali sebelumnya. Yah, sama saja denganku yang belum juga kunjung ada kesempatan ke benua Afrika.

Di hari terakhir dia di Indonesia, setelah satu pekan lokakarya dan empat hari terakhir dia habiskan dengan berlibur ke Bali sendirian, akhirnya kami jalan berdua. Janjian di Grand Indonesia (GI), karena dia bersikeras ingin ke satu tempat di mall itu untuk menyantap satu makanan yang menurutnya nikmat sekali. Dia ingin makanan itu lagi sebelum pulang ke negaranya. Penasaran, akupun mengiyakan. Aku sampai penasaran makanan apa yang dia maksud. Terlebih karena dia menyebutkan nama tempatnya adalah Three Uncles, tempat di GI yang belum pernah aku datangi. Saat sudah sampai, aku biarkan dia pesan, dan ternyata, oh la la, ternyata dia pesan nasi goreng!! “Ooohhh nasi goreeeng”, kataku. “Ya ya”, katanya. Dari percakapan kami, sepertinya dia tidak tahu bahwa nasi goreng dan fried rice merujuk pada makanan yang sama. Tapi baiklah, ini jadi memberikanku referensi, bahwa orang asing memang suka dengan nasi goreng. Lain kali, kalau ada kawan asing lainku datang, kuajak saja ke tempat seperti ini.

Kami pun berbincang tentang banyak hal, baik personal maupun profesional. Menariknya, Favour memang tipe orang yang hidupnya sangat didekasikan untuk pekerjaan, seolah-olah pekerjaannya lah yang mendefinisikan dirinya. Hasilnya, saat rapat ataupun bicara santai seperti ini, tata bicaranya tetap formal, dan dia akui itu. Sesama orang lokal (di negara masing-masing) yang bekerja di lembaga internasional, kurang lebih kami memiliki kesamaan, maka kubagikan lah beberapa pandanganku juga tentang ini. Salah satunya adalah tentang dinamika bagaimana kami harus membawa diri saat menghadapi pemerintah setempat. Bahwa walaupun kami representatif dari kantor global yang berusaha menawarkan solusi, kami harus tetap punya kerendahan hati untuk menyampaikan bahwa pemerintah tersebut lah yang lebih mengerti tentang isu terkait negaranya, caranya adalah saat datang mengenalkan diri, kami tidak bilang “we are the experts”, tapi justru memilih diksi ” we are people with expertise”. Ternyata hal sepele seperti itu saja bisa jadi signifikan beda hasilnya.

Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami pun bersegera pergi, karena Favour sudah harus ke bandara. Tapi sebelum itu, dia ingin beli oleh-oleh kopi Indonesia, dan kuarahkan ke booth kopi Tanamera, karena itu kopi andalan suamiku juga sehari-hari. Karena uang rupiah dia kurang, kuminta saja uang itu, biar jadinya aku yang bayar ke kasir pakai QRIS. Melihat aku bayar, dia ternyata terkesan, karena di Indonesia bisa cukup scan barcode seperti itu. Aku sampaikan bahwa penggunaan QRIS sudah umum di negara ini, bahkan untuk sekadar beli jajanan di jalan. Sedikit banyak aku jadi bangga dengan kemajuan negara ini, walau aku tak sempat tanyakan balik apa di Nigeria sudah mulai mengadopsi teknologi yang sama. Selain kopi, kubelikanlah juga dia eskrim andalanku setiap ke GI, yaitu eskrim buah dari Paletas Way terbaik.

Pertemuan berakhir, kami pun berpelukan tanda perpisahan, berjanji akan bertemu lagi di bagian dunia yang lain. Semoga berikutnya aku yang giliran ke Afrika. Amin.

Saat kami di Oslo. Kawan wanitaku yang dari Afrika memang sering ganti gaya rambut.

Jakarta, 30 Agustus, 9 hari setelah jalan-jalan di GI

Haniwww

Gw Pengen Jadi Absurd (Lagi)

Love ini sekebon

Tadi malem gw seneeng banget, akhirnya buku yang sekian lama gw cari, ketemu judulnya apa di internet. Jadi sekian tahun lalu (sekitar belasan tahun) gw baca buku cerita anak bergambar di Gramedia, dan gw suka ceritanya. Tapi bukunya gak berujung dibeli, karena waktu itu gw masih berpikir harganya agak mahal. Tapi cerita di buku itu nempel banget di kepala gw, dan setahun belakangan keinget terus. Tapi karena gw gak tahu judulnya apa, jadi gak ketemu juga di Google. Sampe akhirnya semalem nanya ChatGPT, dan akhirnyaa, voila! Ketemuuu!! Judulnya adalah Monster Are Afraid of the Moon, karya Marjane Satrapi.

Ceritanya tentang anak yang takut gelap, karena bisa muncul monster. Bagian yang menariknya adalah saat dia lihat bulan bersinar sangat terang di langit, dia jadi kepikiran untuk ngambil gunting gede, lalu ngegunting bulan di langit itu supaya bisa dibawa ke kamar dia. Kamar dia jadi terang, tapi seluruh kota jadi gelap sampe kucing-kucing pada tabrakan. Gimana? Absurd, bukan? Tapi justru itu yang bikin gw suka!

Tangkapan layar orang yang read aloud bukunya di Youtube

Kayaknya beberapa tahun terakhir gw terlalu banyak baca buku “serius” atau secara umum ya non-fiksi. Hidup di dunia normal yang semuanya berdasarkan logika dan harus rasional. Begitu gw balik baca fiksi lagi, terutama genre fantasi (dimulai dari kemarin gw baca The Ickabog-nya J.K Rowling), gw kayak diingetin lagi kenapa gw jauh lebih suka fantasi dari dulu. Yaitu karena isinya bisa tetap bermakna, ada bobot nilai, termasuk secara moral maupun perasaan, tapi dikemas dengan cerita yang lebih membebaskan pikiran. Gimana gak bebas? Gw tiba-tiba jadi beneran ngebayangin seandainya gw bisa ngegunting bulan juga dari langit. Gw ngebayangin seandainya gw ketemu mahluk kayak Ickabog yang bentuknya beda sendiri dengan semua mahluk yang ada selama ini. Gw bisa nge-push imajinasi gw sampe ke imajinasi orang lain yang juga gak terbatas, dan itu sangat refreshing. Ada momen di masa kecil gw, saat gw sangat rajin baca fantasi, dan itu juga jadi mendorong kreatifitas gw jadi pengen bikin macem-macem. Asli, gw yakin kebiasaan membaca fantasi itu akan berdampak bagi kreatifitas. Waktu SD, gw sampe bikin buku cerita fiksi bergambar (cerita sendiri, ngegambar sendiri) dan gw jual itu ke temen-temen di kelas. 200 perak! Gw inget betul harganya. Sayangnya gw lupa ceritanya apa, dan gak ada dokumentasi sama sekali. Tapi sungguh, gw rindu kreatifitas dan imajinasi Hani yang bebas ituuu!

Gw pengen bisa kembali nulis fiksi. Seandainya kalian bilang, “ya tinggal berimajinasi lagi aja, Han. Kalo mau absurd, ya tinggal bikin cerita aneh aja”. Oh, believe me, I’ve tried. Tapi coba deh, kalian juga ngebayangin, kalo logika dan rasionalitas dienyahkan, kalian kepikiran gak mau bikin cerita apa? Apakah gampang? Aku yakin tidak. Di titik ini, gw cukup yakin imajinasi itu gak cuma datang dari langit, tapi juga lahir dari kebiasaan dan latihan. Jadi sekarang ini, gw kalo lihat penulis fiksi yang bukunya berjejer di toko buku, gw bisa “waaah, gila sih. Ni orang isi kepalanya pasti banyak banget dunia yang ada di sana. Dunia yang gak terbatas, semuanya bisa beda-beda. Seru abis”.

Lalu semua hal di atas juga jadinya membawa gw ke satu pertanyaan, “Ada apa dengan gw? Kemana imajinasi gw pergi?”. Mungkin bisa ada banyak faktornya. Dan tiba-tiba semalem gw kepikiran, “apakah dogma agama adalah salah satu penyebabnya?”. Gara-garanya adalah karena gw abis nonton serial Joko Anwar’s Nightmares & DayDreams di Netflix. Di episode 4, ada cerita tentang sosok Wahyu, manusia biasa yang tiba-tiba jadi dianggap utusan Tuhan sama penduduk kampungnya, yang akhirnya didukung oleh adegan penutup dimana Wahyu tiba-tiba bisa terbang. Reaksi gw begitu nonton itu adalah “That’s not right. That’s musyrik”. Tapi lalu suami gw bilang, “jangan bahas agama di sini. Ini kan cerita superhero”. Hmm.. Bener juga. Kenapa gw anggep dunia fiksi itu harus sejalan dengan ajaran agama gw?

Episode favorit mas suamik

Di luar dari apa sebenarnya penyebab imajinasi gw sangat jauh berkurang, yaudahlah, sekarang gw lakuin aja dulu apa yang bisa dilakuin. Gw beli buku-buku yang kayaknya bisa ngelatih gw ngebayangin hal-hal yang absurd lagi, termasuk buku tentang mahluk favorit gw (baca: naga), buku kumpulan fiksi hasil karya murid-murid SD, dan buku lainnya dari si penulis buku yang gw sebut di atas: Marjane Satrapi. Semoga seiring waktu, imajinasi gw bisa kembali, dan gw bisa membuat cerita fantasi sambil menyampaikan hal-hal yang gw resahkan dari dunia ini. Dunia normal itu membosankan. Jadilah absurd! Kembalilah absurd! Jika sudah absurd, lanjutkan! Hidup absurd!

Sambil baca buku Captain Underpants di Sabtu siang Jakarta,

Hani

Adab pada Orang yang Kehilangan Anaknya

Kejadiannya beberapa bulan yang lalu. Di satu malam, saya syok karena mendapat kabar salah satu keponakan saya (putra dari sepupu) meninggal dunia. Usianya masih 4 tahun 10 bulan, persis 2 bulan lagi mencapai ulang tahun ke-5 andai saja dia tidak berpulang. Ya bagaimana tidak syok, baru kurang dari dua hari sebelumnya dia tiba-tiba masuk rumah sakit karena demam tinggi. “DBD, kayaknya”, kata orang-orang. Tapi dalam waktu sesingkat itu, tidak mungkin kami sekeluarga siap menerima kabar duka. Saat itu juga saya yang sedang di Jakarta langsung buru-buru naik travel menuju Bandung, sampai di Bandung hampir jam 1 pagi. Saat saya sampai, jenazah sudah dimandikan, dikafani, dan ditutup oleh kain motif batik warna cokelat. Saya jadi tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali, hanya mendengar bagaimana kondisinya dari orang-orang, termasuk tangan si anak yang mengepal sampai akhir hayatnya karena menahan sakit. Iya, dua hari terakhir itu dia selalu mengerang kesakitan, satu hal yang pasti membuat semua orang tidak tega untuk melihat dirasakan seorang anak kecil. Di sampingnya ada kedua orang tuanya yang kelihatan sangat hancur. Saya sampai tidak tega untuk menyapa dan menyampaikan apapun.

Esoknya si anak dibawa ke mesjid untuk disholati keluarga dan warga sekitar. Yang memimpin sholat ghoib itu bapak-bapak yang sepertinya salah satu pengurus mesjid. Setelahnya, saya lupa bapak-bapak itu ceramah apa. Yang jelas, setelah sebagian orang bubar, bapak itu menghampiri sepupu saya sambil bicara dalam bahasa Sunda “Turut berduka. Ya semoga segera diganti dengan (anak) yang baru”. Kalimat pertama masih oke, tapi kalimat kedua membuat saya tiba-tiba cukup kesal. “Anak yang baru? Terus kalau diganti, anak pertama tergantikan, gitu?” Oh iya, keponakan saya yang meninggal adalah putra pertama dan anak satu-satunya dari sepupu saya. Jadi seharusnya terbayang seberat apa kejadian ini bagi pihak orang tua. Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal, tapi saya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai detik itu, saya saja masih berpikir harus menyampaikan apa ke sepupu saya. Tidak harus mendoakan pengampunan dosa dan masuk surga, karena anak sekecil itu sudah terjamin surganya, beda dengan kita. Akhirnya saya cuma bisa peluk sambil bilang “Nanti insya Allah pasti ketemu lagi”.

Karena kejadian itu, saya jadi berpikir, sepertinya banyak orang tidak tahu adab menghadapi orang berduka, terlebih pada orang tua yang kehilangan anaknya. Saya pernah baca tulisan seorang kawan saat dia ditinggal meninggal ibunya. Dia agak terganggu dengan perkataan para pelayat seperti “Jangan sedih terus, ya. Yang kuat”. Apa rasionalisasi mereka untuk meng-invalidasi kesedihan keluarga yang ditinggalkan? Kenapa jangan sedih? Semua orang berhak untuk merasakan dan mengolah rasa mereka sendiri. Bahkan kalimat “Turut berduka cita” saja jika tidak disampaikan dengan tepat, bisa malah melukai perasaan, karena yang ditinggalkan bisa jadi merasa “Kalian tidak mengalami ini. Jadi kalian tidak akan mengerti rasanya. Jangan bilang turut berduka, karena yang kita rasakan itu tidak sama”. Sebegitu tricky-nya kalimat yang harus kita keluarkan di momen orang berduka.

Bicara tentang kehilangan anak, saya lantas jadi teringat bahwa ibu saya pun pernah mengalami hal serupa. Di tahun 1997 kakak saya no.3 meninggal karena sakit. Saya jadi cerita ke ibu tentang kalimat bapak-bapak mesjid itu yang saya rasa kurang berkenan, dan saya tanya ibu bagaimana rasanya ditinggal anak, saat ibu sebenarnya masih punya empat anak yang lain. Kata ibu, rasanya tetap tidak tergantikan (seperti yang saya duga). Saat itu ibu sampai stress dan harus bertemu psikolog (sesuatu yang saat itu belum lazim dilakukan, apalagi oleh keluarga kami) saking beratnya. Hancurnya sampai sekarang. Ibu tidak mau sedih, tapi ibu juga tidak mau kalau harus membicarakannya lagi. “Mending gak usah dibahas”, kata ibu. Raut wajahnya langsung berubah.

Kehilangan orang yang berarti pasti berat. Menghadapi orang yang mengalaminya, kita harus punya adab. Kalau tidak mengerti betul harus bicara apa, lebih baik diam saja. Jika memang punya itikad baik, saya pikir, yang penting kita hadir, menemani, agar yang kehilangan merasa setidaknya kita ada. Saya pun masih belajar. Semoga kita semua bisa belajar juga.

Dalam kenangan penuh kasih,

Muhammad Arvino (Mar 2019 – Jan 2024)

Ogah Jadi Tua dan Jelek

poor Zac Efron

Apa kalian pernah lihat meme di atas? Dia lewat di timeline gw, and I couldn’t help saying “DAMN, THAT’S SO TRUEEEE!!!!”. Itu kejadian di gw setahun lalu, tapi untungnya ngasih dampak positif setelahnya dan sampe sekarang.

Awalnya, gw bukan orang yang terlalu memperhatikan penampilan, termasuk mempermasalahkan berat badan, ke diri sendiri maupun ke orang lain. Apalagi dulu gw ngerasa gw termasuk orang yang susah gemuk. Makan seberapa pun, badan gw tetep kecil, hampir gak pernah ngelewatin 40 kg. Sampe akhirnya pandemi mengubah segalanya. Full WFH, gak pernah keluar rumah, gak bergerak, dan pesen makanan apapun, termasuk makanan berat dan makanan manis di tengah malam, ajaib tapi nyata, BB gw naik sampe 57 kilo! Karena pada dasarnya gw gak peduli, jadi gw stay cool aja. Walaupun suami udah sering ngatain “paha kamu kayak ular cobra”, tapi gw tetep berprinsip “ah, yang penting aku hepi. Gendut kurus yang penting hepi”. Tinggal gak usah ngaca aja.

Sampe akhirnya lewat lah di linimasa gw, foto-foto temen SMA. Dan kesan pertama gw lihat foto mereka adalah: “ebuset, tua bangeettt”. Kami seumuran, tapi yang cewek udah kayak ibu-ibu banget, dan yang cowok apalagi, babeh-babeh banget, yang (you know lah) didukung sama perut buncit yang udah gak bisa disembunyiin lagi saking gedenya. Gw shock. Apa jangan-jangan gw juga udah keliatan setua itu? Aaaaaa tidaaaak~ Gw yang pada dasarnya takut sama penuaan, dibikin makin menjadi-jadi lihat mereka. Tapi ada juga temen-temen yang masih looking good, setidaknya gak keliatan tua. Dan setelah gw perhatikan, kuncinya adalah: JANGAN GENDUT. Lemak bikin badan dan muka beleber, dan itu bikin efek tua luar biasa. Ah, gw kurang beruntung. Gw kalo menggendut, yang kena pertama adalah muka, lalu sekarang yang paling membesar adalah paha (kayaknya didukung oleh gw yang lebih banyak duduk), yang setelah semakin disadari, sebenernya gw udah ngerasa cukup terganggu sama paha ini, gara-gara paha dalemnya udah terlalu besar, yang bikin akhirnya tiap gw jalan, si paha kanan kiri selalu tabrakan dan gesekan. Berawal dari situ, akhirnya gw bertekad melakukan perubahan!

Kayak semesta mendukung, tiba-tiba gw dapet email dari Bank Jago tentang promo coba gratis di gym Fithub. Gw yang gak pernah nge-gym sama sekali sebelumnya, mencoba datang, dan akhirnya malah kena sama marketingnya, langsung jadi member 6 bulan plus pake PT (personal trainer) pula untuk make alat-alat. Huft~ Sungguh keputusan yang impulsif walau sekarang tetap gw syukuri (Pengalaman nge-gym di Fithub akan gw tulis di postingan yang lain). Gw juga jadi suka nonton channel Youtube-nya Ade Rai, belajar pentingnya latihan beban, peran penting otot, ngejalanin intermitten fasting, jaga makanan, dan lebih banyak bergerak.

Bareng PT gw yang pertama (sekarang udah ganti). Pengen upload foto gw pas lagi gendut-gendutnya, tapi gak pede.

Sudah setahun berlalu, saat tulisan ini dibuat, berat badan gw baru di angka 50,7 kg, belum turun ekstrim, tapi gw merasa jauh lebih baik. Di usia sekarang, gak bisa bohong, ternyata BB emang cepet naik, tapi susah turun. Effort harus lebih gede, tapi jaga aja jangan sampe gembrot, supaya gak keliatan jelek. So, kalo ditanya apa motivasi gw berolahraga? Nomor satunya adalah: gw gak pengen jelek. Sehat adalah motivasi berikutnya. Mungkin sebagian orang akan bilang gw shallow, karena lebih peduli tampilan luar, hal yang gak esensial dibanding hal-hal dari dalam. Tapi gw rasa tiap orang berhak punya motivasinya masing-masing. Kalo kalian punya motivasi lain lagi yang berbeda, gw akan tetep dukung. Asal jangan diem aja. Tipe bentuk badan dan wajah itu nasib, penuaan juga mutlak, tapi untuk jadi fit dan gak jelek-jelek amat itu pilihan. Choose wisely!

Jam 11 siang, 1 jam menuju breakfast gw

Hani Rosidaini

PS: Oiya. Stop normalisasi omongan orang yang kalo lihat bapak-bapak buncit, bilang itu tanda keluarganya bahagia. Bullsh*t. Malah jadi toxic positivity. Jadi gendut dan buncit adalah tanda lu gak terawat dan gak merawat diri. Teman yang baik akan ngingetin untuk workout, kecuali lu punya isu kesehatan tertentu.

Gw Butuh 15 Milyar!

Komik bikinan mas suamik yang gak sengaja gw lihat di Kindle Scribe-nya

Belakangan mas suamik makin sering bilang pengen berhenti kerja. Awalnya gw pikir enteng aja “mungkin lagi capek, nanti juga hilang sendiri”. Lagian, kerjaan apa sih yang gak bikin capek? Tapi makin lama, omongan terus menerus tentu bikin gw jadi kepikiran juga. Beberapa hal yang perlu dicatat;

  1. Ini bukan artinya dia betul-betul gak mau kerja sama sekali, tapi dia pengen kerjaan yang gak ngasih tekanan sebegitunya. Preferensinya: cari proyekan riset yang kasual, atau sebenernya sih (yang gw pahami) dia pengen banget jadi pembelajar, penulis, belajar, lalu menulis, share ilmunya ke orang-orang, yang bisa juga lewat medium video. Concern-nya: kami (atau gw?) gak yakin dengan hasilnya (secara materil) dan sustainability-nya akan seperti apa.
  2. Selama ngantor di lembaga pemerintah, suami gw pun nyambi jadi dosen 1 hari/minggu. Jujur sih gw emang ngeliat dia sangat passionate di aktifitas ngajarnya itu. Setidaknya dilihat dari effort yang harus dia lakukan, yaitu ngelakuin perjalanan berjam-jam PP dari Sudirman Jakarta Pusat ke BSD Tangerang dalam satu hari, sambil ngajar dua kelas di tengah-tengahnya, dan seringnya sambil meeting dan kerja juga di perjalanan. Tapi dia gak pernah ngeluh soal kerjaan dia ngajar. Padahal ongkos transport-nya juga lumayan, 300 ribuan per hari PP karena pake taxi online, lebih dari jatah transport yang dikasih dari kampus. Jadi jelas dia ngajar bukan cuma untuk cari uang. Passion-nya untuk kerja di pemerintah ngabdi ke masyarakat kayaknya sama besar dengan passion-nya jadi akademisi. Tapi dari sisi tingkat kebahagiaan, kayaknya jadi akademisi less pressure, jadi bikin dia lebih hepi. So, apakah gw harus mendorong dia untuk ya udah full jadi akademisi aja? Concern-nya: istrinya ini masih belum rela dia menghasilkan uang lebih sedikit dari yang dihasilkan sekarang 😐 Dan gw pun gak yakin, apakah kalo jadi dosen tetap dia akan tetap sehepi sekarang? Mengingat kewajiban dosen yang numpuk, yang banyak dikeluhkan dosen-dosen se-Indonesia, yang katanya penuh kewajiban administratif. Setidaknya jadi dosen tidak tetap kayak sekarang tidak harus terlalu seperti itu.
  3. Karena kadang dia ngerasa yang dibutuhkan adalah break yang panjang, gw sarankan dia ambil cuti di kantor sekarang. Tapi cuti yang sesungguhnya, yaitu cut-off dari semua hal tentang pekerjaan, supaya otak bener-bener refresh dan recharge. Tapi dia bilang susah atau bahkan gak bisa. Hari libur aja masih ngurusin kerjaan. Yahh kalo yang ini gw gak tahu harus nyalahin siapa, dia atau kultur kerja di Indonesia. Pengalaman gw tinggal belajar di Ostrali dan kerja di lembaga Inggris, yang gw lihat dari orang-orang luar: mereka saatnya kerja, full konsentrasi kerja, main hp pun nggak, no distraction! Tapi saatnya libur ya libur, mau minta cuti pun tinggal nentuin tanggal karena toh jumlah hari jatah ‘leave’ adalah hak kita, dan saat ‘on-leave’ gak boleh diganggu dan bahkan gak ada orang kantor yang berani ganggu. Walaupun harus diakui, gw juga saat on leave tetep merhatiin chat dan email kantor sih. Walaupun setelah dipikir-pikir, semua itu kayaknya lebih ke mindset kita yang emang pengen tetep keep up, supaya bisa perform bagus. Gak diganggu orang kantor aja, kita yang tetep pengen update. Ya apalagi kalo di kultur Indonesia, dimana temen kantor tetep masih ada aja yang berani kontak. Kesimpulannya: mungkin memang harus stop kerja.

Memikirkan semua faktor, worst case scenario-nya adalah kami berdua gak kerja. Dilihat dari kondisi keuangan, kalo kami seterusnya harus ngandelin dari tabungan dan keuntungan investasi, mungkin masih bisa hidup, tapi pas-pasan di kota kecil atau kota “murah”. Kendalanya:

  1. Kami gak bisa cuma mikirin diri sendiri. Kalo “yang penting hidup” untuk kami berdua, mungkin bisa dari passive income aja. Tapi kenyataannya, kami masih harus support keluarga. Ngasih orang tua dan bayar kuliah adek-adek. Dan itu dari kedua sisi, dari sisi gw maupun suami. Mungkin orang bisa bilang “gak harus” kok jadi beban kami. Tapi kalo lo ngalamin sendiri jadi orang di keluarga yang dianggap “lebih lumayan” dari yang lain, lo pasti ngerti lah rasanya. Apalagi kalo dari keluarga elo itu gak sedikit yang kondisinya “masih perlu dibantu”. Rasa bahwa lo mestinya punya kemampuan lebih dan ingin bisa berkontribusi itu selalu ada. Makanya kadang gw “ngayal babu” pengen deh rasanya punya keluarga tuh berkecukupan semua. Kalo misal ada yang kaya raya pun gw gak akan minta kok. Tapi setidaknya udah gak harus saling mengkhawatirkan bisa hidup oke. Tinggal mikirin saling bersikap baik aja. Bisa gak siihh.. Ya Allah, please… Dan itu berlaku gak cuma di keluarga inti, tapi keluarga besar. Dan itu karena kondisinya kami cuma masih berdua, belum punya anak. Kalo udah punya anak, ya lebih-lebih lagi. Passive income kami kayaknya belum cukup.
  2. Ternyata nurunin standar hidup itu susah, cuy! Bahkan untuk orang kayak gw yang dulunya hidup susah. Pas udah naik level, dipaksa turun lagi, gak semudah itu juga turunnya. Kenyamanan yang udah diapet tetep pengen dipertahankan dan penolakan turun itu besar. Gw masih fine untuk gak naik, tapi gw sangat enggan untuk turun.
  3. I ENJOY TRAVELING too SOOO MUCHHH. Gw stress hidup di Jakarta, gw gak tahan sama polusi dan kondisi kotanya, tapi gw juga terlalu extrovert untuk hidup di kota kecil yang sepi. Jiwa gw juga bukan jiwa manusia yang cuma ingin menghabiskan hidup di satu tempat. Gw selalu ingin berpetualang dan datengin tempat-tempat baru di dunia ini. Rasanya hidup gw bukan cuma untuk makan tidur dan melewati hari begitu saja. Gw selalu ingin begerak, berjalan, dan mengalami banyak hal di banyak tempat.

Gw tahu semua ekspektasi gak bisa cuma dibebankan ke suami gw. Gw pun harus berusaha sendiri. Selama masih bisa kerja, gw harus kerja, harus ngehasilin duit sendiri. Suami gw menghidupi kebutuhan dasar gw. Tapi saat traveling sendiri, gw harus ngeluarin duit pribadi, begitu pun saat gw pengen ngasih ke keluarga gw. Dan karena itu semua masih pengen terus gw lakukan, gw jadi terus berpikir gw harus gimana. Kondisinya, gw juga ngerasain sih tertekannya saat kerja. Di titik ini, gw mendambakan hidup selow. Kalo kerja, pengen kerjaan yang selow. Kalo sekolah, sekolah yang selow dan gw bisa enjoy. Gw pengen selow sambil traveling keliling dunia. Dan itu bikin gw jadi berpikir: kalo gw pengen mewujudkan keinginan keliling dunia ini, tapi hasil dari passive income aja, berarti gw butuh aset berapa ya?

Tempat ter-selow di dunia yang pernah gw datengin: Svalbard

Berdasarkan pengalaman, 50 juta/bulan itu cukup. Berarti 600 juta/tahun. Kalo pake teori 4% rule (cuma ngambil 4% dari hasil investasi), berarti gw harus punya aset investasi minimal 15 milyar.

Kalo lo bertanya-tanya, hitungan 50 juta itu dari mana, ya itu dari hitungan kasar gw aja berdasarkan pengalaman gw traveling full selama 1,5 tahun, dari Indonesia sampe kutub utara. Kalo di-breakdown lagi, penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Gw gak pengen traveling ala backpacker susah. Gak harus fancy, tapi jangan terlalu budget. Apalagi gw cewek berkerudung, gw gak bisa ngemper dimana aja, dan gw juga gak mau makan minim nutrisi.
  2. Gw ngambil hitungan dari batas bawah tempat termahal. Kalo lo lagi traveling di wilayah Asia Tenggara, ya mungkin gak butuh 50 juta/bulan, tapi gw ngambil dari standar hidup minimal di kota-kota kayak London, New York, Tokyo, dll. Dengan 50 juta/bulan, bisa hidup oke. Kalo surplus, ya bisa diinvestasiin lagi duitnya.
  3. 50 juta/bulan itu termasuk alokasi budget untuk transportasi pesawat. Kalo mau tiap bulan pindah negara, biaya transportasi bisa tinggi. Apalagi kalo di tengah-tengahnya mesti pulang ke Indonesia dulu urus visa, pasti jadi mahal. Nasib punya passpor lemah, hufft~
  4. Traveling itu bukan cuma tentang diem di kamar. Pengeluaran terbesar saat traveling jelas adalah pesawat dan akomodasi. Mungkin lo mikir abis itu tinggal mikirin makan, lalu udah. Tapi masalahnya, lo pasti pengen eksperimen banyak hal, termasuk atraksi-atraksi di kota tersebut. Jadi harus diperhitungkan juga biayanya. Misal: pas di Dubai pengen skydiving. Itu 11 juta sendiri. Atau pas di Norwegia pengen ikut ekspedisi ke ghost town di Pyramiden. Itu 1 hari harus bayar 3 juta. Kalo selalu pengen jalan, ya pasti keluar uang terus.
  5. Traveling sendiri tanpa agen atau ikut tur itu sangat penuh risiko banyak pengeluaran tak terduga. Gw punya segudang cerita tentang ini. Intinya, uang yang keluar bisa jadi jauh lebih besar dari yang seharusnya. Makanya, untuk orang-orang yang dananya ngepas, gw sih malah lebih rekomendasiin ikut tur terorganisir aja. Walau kesannya backpacking bisa lebih hemat, tapi lo gak akan pernah tahu risiko yang ada di depan. Sedangkan kalo ikut tur, semua risiko akan ditanggung pihak travel. So, gw mikirin 50 juta, karena gw ngitung nominal uang yang aman untuk ngadepin banyak risiko.
  6. Selama traveling, gw masih tetep pengen support keluarga (ngasih orang tua dan adik-adik tadi). Untuk 50 juta, kayaknya gw masih punya keleluasaan untuk itu.

Kalo lo sampai titik ini masih juga mempertanyakan asal muasalnya angka 50 juta ini, gw cuma akan bilang, Tim Ferriss pernah ngomong di bukunya: punya target kecil atau besar, effort yang kita keluarin bisa jadi sama aja. Malahan punya target tinggi itu bisa bikin kita jadi lebih termotivasi dan secara psikologis, usaha kita jadi lebih maksimal. So, aim high!

Pertanyaan riil berikutnya: Gw bisa dapet 15 milyar dari manaaaa??? Saran dari temen-temen:

  1. Nyaleg. Kendala: gw gak bakat berpolitik. Lagian nyaleg harusnya bukan untuk cari duit, bukan? Huft~
  2. Crypto. Katanya lagi bagus. Kendala: gw anggap crypto sama kayak aset lainnya. Untuk dapet passive income, ya tetep harus ada active income-nya dulu dong. Nah itu dari mana?
  3. Jadi buzzer politik. Konon Tiktoker yang nge-buzz capres pada dapet bayaran spektakuler. Kendala: udah kelewat momennya.

Yang kepikiran di gw, ya berbisnis. Tapi bisnis apa?? Bisnis itu kayak traveling sendirian, kesannya menggiurkan, tapi risikonya bisa jadi jauh lebih gede. Bukan untung, malah selalu ada risiko jadi buntung. Lagian, harus bisnis yang casual aja. Karena kalo bisnisnya harus di-maintain terus, tujuan pengen selow malah jadi gak tercapai. Berarti harus bisnis yang casual, minim karyawan, lebih bagus lagi kalo bisa dikerjain sendiri, dan bisa dari mana aja. Tapi harus yang uangnya emang gede. Utopia sekali, bukan? Tapi gw sih yakin ada. Cuma belum nemu jalannya aja ini.

Ya Allah, aku cuma minta 15 milyar. Please. Beneran deh…

Ini bikin gw jadi mikir juga, kayaknya jadi manusia itu emang harus tahu kata ‘cukup’. Bersyukur ya harus. Tapi saat lo nyari duit, setidaknya lo harus tahu titik cukupnya dimana, supaya ada target yang jelas. Kalo bahasa anak sekarang, tentuin dah target ‘bebas finansial’ lo berapa. Pasti ada orang yang bilang “ah, manusia mah gak ada puasnya”. Tapii gw percaya saat lo bisa bebas finansial, banyak beban yang akan terangkat, lo akan lebih leluasa melakukan yang lo mau, dan hal-hal selanjutnya yang dilakukan bukan lagi terlalu termotivasi oleh uang, tapi lebih ke aktualitas diri aja.

Makanya salah satu hal yang gw sesali dan sarankan ke anak-anak baru lulus: “kalo bisa sih, setelah lulus gak usah langsung bisnis sendiri lah. Pengalaman minim, masih banyak yang harus lo pelajari. Kemungkinan sukses itu ada, tapi faktor X-nya terlalu banyak untuk lo kuasai. Apalagi kalo lo bukan dari keluarga kaya, gak ada yang bisa backup lo saat kondisi sulit. Amannya cari kerja aja di perusahaan super besar, yang ngasih gaji paling besar, hidup secukupnya, belajar investasi, investasiin sebanyak mungkin uang lo, kejar bebas finansial secepatnya, abis itu baru lo bebas. Mau berbisnis pun, langkah lo akan lebih ringan, dan lo berbisnis karena lo seneng aja ngejalaninnya”. Itu kalo berkaca ke pengalaman dan perspektif gw sih, sebagai orang yang dulu nyoba berbisnis tapi ra ono modal dan dari keluarga sulit.

Yah, begitulah. Sekian racauan gw kali ini. Kalo ada ide gw harus apa untuk dapet 15 milyar, atau ada yang mau nawarin gw sesuatu, silakan komen atau kontak gw lewat apapun. Sembari itu, gw akan coba lebih banyak bertemu orang baru, berkomunitas dan bersosialisasi supaya gak mentok. Doakan. Thanks.

Senin sore di A19AG, abis makan sapo tahu seafood

Hani Rosidaini

Dibayar Jadi Kelinci Percobaan Obat

Tenang, bukan gw yang jadi kelinci percobaannya. Walau gw juga ditawarin untuk ikutan, hahaha…

Jadi ceritanya… Sejak tinggal di Jakarta, gw jadi berkenalan dengan berbagai cara orang dapetin uang tambahan. Selain jadi endorser produk (influencer ala ala), entah gimana prosesnya, sejak sekian tahun lalu, gw juga kadang nyoba ikutan jadi responden survey riset, atau jadi peserta FGD produk yang biasa diadain oleh lembaga riset. Jadi misal nih, Rexona mau rilis produk baru, mereka akan minta para responden ini untuk nyoba produknya duluan selama masa yang ditentukan, lalu didata hasilnya bagaimana. Setelah selesai, kita dibayar sesuai perjanjian. Atau misal Traveloka, mau penelitian tentang pengguna mereka, gw diajak ikut FGD bareng pengguna-pengguna lainnya, diminta pendapat ini itu, lalu pulangnya kita dibayar. Bayarannya bervariasi. Tapi yang pernah gw ikutin sih, dari 300 ribu sampe ada yang di atas 1 juta (Walau biasanya yang di atas 1 juta sih, bukan riset yang sekali dateng, tapi riset untuk periode waktu tertentu). Banyak juga riset yang honornya di bawah 300 ribu, tapi yang kayak gitu gak pernah gw ambil. Awalnya sih gw dapet info-info itu dari grup yang suka share nyari endorser, tapi kemudian gw juga jadi join grup Whatsapp khusus orang-orang yang memang tertarik ikut riset berbayar. Long story short, setelah sekitar dua tahun gw gak pernah ikut riset, kemarin gw iseng ikutan lagi, riset produk pengharum ruangan, dan di kesempatan itu gw ketemu ibu-ibu yang penuh cerita :))

Kocaknya dunia riset berbayar ini, ada kumpulan orang yang memang kerjaannya ikutan riset terus. Kemarin gw ketemu salah satunya. Katanya sih bisa 3x seminggu, sampe anak-anaknya juga disuruh ikut riset semua. Kalo dipikir-dipikir, ya lumayan sih. Anggap aja 1x riset minimal 300 ribu, satu minggu dapet 1 juta, satu bulan total 4 juta. Belum lagi kalo pas dapet riset yang honornya lebih gede. Ikutan riset doang, yang notabene gak banyak mikir, yang penting aktif ngomong, ngasih opini, dan durasinya pun relatif sebentar. Lumayan dooonggg… Walau ya gak semudah itu juga sih, karena biasanya tiap riset, perusahaan kan nyari responden baru, yang belum pernah ikut, dan sedangkan yang sering ikut itu udah agak ditandain, jadi mereka harus pake cara ini itu lah biar tetep bisa join, xixixi :B

Gw yang awalnya dateng, niat ikut riset doang lalu pulang, kemarin di waktu nunggu, jadi “terpaksa” nimbrung ibu-ibu yang lain ngobrol, karena kok kayaknya mereka seru banget. Ternyata mereka lagi bagi-bagi link grup riset supaya kesempatan mereka ikut lebih banyak lagi. “Networking is key”, ternyata. Karena kalo gak pinter-pinter nyari link, bisa bisa dapet tawaran ikut riset dari broker, bukan langsung dari lembaga yang ngadainnya. Konsekuensinya adalah, kalo ikut riset lewat broker, honor kita bakal dipotong, ada yang motongnya Rp.50.000, 10%, 20%, bahkan katanya ada yang lebih! Ajegilee…

Tapi, kok gw malah jadi cerita panjang lebar soal riset ya? Hahaha, maap.

Yaudah, singkat cerita, di tengah obrolan itu, ada salah satu ibu-ibu yang nawarin ikut jadi peserta percobaan obat juga untuk nambah pendapatan XD. “Anggep aja selingan ikutan riset”. Ebuset. Gw kayaknya pernah denger orang jadi kelinci percobaan obat tu dari obrolannya Ebel Cobra di Tonight Show. Gw kira itu kegiatan underground, tapi ternyata itu (kayaknya) legal dan memang dianggap menghasilkan. “Lumayan, buat nambah biaya anak masuk sekolah, mpok. Lu bukannya janda sekarang?”, kata si ibu itu ke ibu yang lain (yang kayaknya udah akrab, sampe hapal mpok yang itu udah jadi janda). “Emang berapa duitnye?”. “Yang pasti di atas sejuta. Kalo screening obat mah gak ada yang di bawah sejuta. Kemarin gw ikut yang obat darah tinggi, dapet 1,7, tapi nginep 2 hari, makan obat, terus diambil darah 16x di titik beda-beda”. Gw yang dengerinnya, langsung “dheg”. 16x???? “Tapi darah dikit doang kook”. Dan ternyata si ibu satu lagi berpikir hal yang sama kayak gw “ih, gw takut ntar kenapa-kenapa klo obat gitu”. “Udaah, gak apa-apaa… Gw udah 6x ikut, baek2 aja. Kalo kayak gitu mah udah gak usah dipikirin, fokus inget duitnya ajaa $$$”. Dalam hati gw “luar biasa semangat ibu-ibu cuan ini”.

Jadi katanya, prosesnya tu, sebelum ikut percobaan, kita harus tes kesehatan dulu (dicek orang Prodia, misalnya), dibayar 50 ribu, lalu pulang ke rumah. Begitu besoknya hasil kesehatan keluar, kalo profil cocok, prosesnya berlanjut, tapi kalo nggak, yaudah, berarti cuma dapet 50 ribu. Tapi anggep aja sekalian cek kesehatan gratis. Nah, kalo berlanjut, kita akan ditempatin di satu tempat (biasanya klinik) bareng peserta uji coba yang lain, dikasih makan minum, dikasih obatnya, ditunggu tidur sampe besok harinya, lalu tes urin, tes darah, gitu gitu lah. Ada yang cuma harus nginep 1 malem, tapi ada juga yang sampe 3 malem. Wow. Yang jelas biasanya total prosesnya gak selesai dalam 1 minggu. Jadi misal, kalopun minggu ini cuma nginep satu malam, minggu depannya harus dateng lagi untuk tes lanjutan, dievaluasi dampak obatnya gimana, efektif atau nggak, ada efek samping atau nggak. Setelah diceritain panjang lebar begitu, ada ibu-ibu yang keukeuh “ah, takut ah”, tapi ada juga yang malah jadi tertarik, terutama kalo obatnya memang sesuai dengan keluhan kesehatan dia. “Kebetulan banget gw punya darah tinggi. Awur-awuran, awur-awuran dah ni badan” :))) Warbiyasak.

Lalu ibu promotor tes obat ini ngeliat gw “lw mau ikut kagak? Lumayan tauk. Eh, tapi lu kerja gak?”. Gw jawab “saya kerja”. “Oh yaudah gak usah. Lu ikut riset-riset gini aja”. Fyuh~ “Mending ikut tes obat gini tauk, daripada jadi penonton (bayaran). Udah berjam-jam, siang sampe malem, dibayar cuma 50 ribu. Walau muka-muka kayak lu sih bisa ditaro di depan, dapetnya lebih gede, 80”, kata ibu itu ngomong ke muka gw :))) Buset lah, gw hari itu ditawarin jadi kelinci percobaan obat dan jadi penonton bayaran. Begitu pulang ke rumah, gw cerita sama suami, gw diketawain ngakak. “Mereka gak tahu bayaran kamu di kantor berapa. Tapi ya bagus lah, nambah perspektif dan nambah cerita”. Yaudah, akhirnya gw tulis juga lah di sini. Biar gak cuma suami, tapi kalian juga bisa ikut ngetawain pengalaman gw yang random kemarin.

Gimana? Apa kalian tertarik ikut uji coba obat? Dan apa menurut kalian gw cocok jadi penonton bayaran? Comment down below.

Salam cuan,

Haniwww

PS: Untuk survey berbayar yang online, pernah gw tulis di sini, tapi ini lebih recehan karena bisa sambil rebahan.

Gw Feminis Gagal

Hi, there.

Ini hampir jam 2 pagi dan gw masih melek banget gara-gara minum kopi kemarin sore (sungguh keputusan yang salah). Karena bingung harus ngapain, energi berlebih, tapi males untuk olahraga jam segini, akhirnya gw putuskan untuk menyalurkan energi lewat menulis. Ngintip-ngintip kumpulan topik yang pengen ditulis dari lama, gw pilih topik ini, walaupun udah agak telat, karena sebenarnya unek-uneknya udah muncul dari sejak awal masa covid. Tapi mari lah kita bahas.

Di awal masa covid, banyak artikel seperti di atas bermunculan, dan gw jadi terpantik untuk beropini.

Intinya sih gw bingung aja sama feminis-feminis yang pengen disetarakan, tapi kalo ada kasus-kasus bagus yang dilakukan perempuan, mereka seperti over glorify itu. Kenapa harus disebutin bahwa dia adalah great woman leader? Kalo emang menuntut kesetaraan, kenapa gak bilang aja dia adalah great leader? Artinya dia setara dengan para leader lain, termasuk leader laki-laki, dan dia unggul diantara mereka. Bukan karena perempuan, tapi karena memang kapabilitasnya. Semua laki-laki ada yang hebat, ada yang nggak. Perempuan pun ya begitu, ada yang keren, tapi ada juga yang biasa aja.

Ngomongin perbedaan, perempuan dan laki-laki, buat gw analoginya sama kayak orang ngomongin suku, agama, dan atau perbedaan-perbedaan lain yang kita punya. Jadinya hanya akan membatasi dan mengkotak-kotakkan manusia. Ini jatuhnya sama aja kayak kalo ada presiden hebat yang kebetulan dia orang Jawa, maka orang akan bilang, “tuh kan, orang Jawa tuh hebat”. Padahal ya bukan semata karena presidennya itu adalah orang Jawa, tapi karena emang dia orangnya hebat aja. Kebetulan memang dia orang Jawa”. Dengan bilang orang Jawa hebat, hanya akan menimbulkan perasaan uneasy di sebagian orang non-Jawa. Padahal kita bisa aja menghargai presiden hebat dalam kacamata personal, bahwa ada kualitas dalam dirinya tanpa atribut embel-embel yang di-over glorify.

Pin yang gw dapet dari acara feminis di Adelaide, Australia

Sebagai orang yang dikasih beasiswa untuk belajar gender di Australia, dan dilatih untuk jadi feminis, opini gw di atas bikin gw khawatir kayaknya gw adalah feminis gagal. Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir gw. Tapi sampe saat ini sih, esensi yang gw dapet dari belajar gender adalah bahwa tiap karakter, termasuk perempuan dan laki-laki, memang butuh treatment yang berbeda, dan itu masih harus terus ditingkatkan. Tapi saat membicarakan kesetaraan, gw lebih memilih untuk jadi objektif tanpa glorifikasi identitas gender tersebut.

Semoga tulisan ini bisa diterima dengan hati terbuka.

Jam 02.21 pagi,

masih juga belum bisa tidur.

Kenapa Gw ZBL sama Balikpapan

Idul Fitri 2023 ini gw mudik ke rumah keluarga suami di Balikpapan. Tentunya gw bertemu ibu bapak mertua gw di rumah mereka, di daerah padat penduduk di perbukitan, tapi juga dekat ke pantai, hanya 5 menit naik sepeda motor. Di rumah itu, ada 1 mobil dan 3 motor, kesemuanya diparkir di luar rumah. Sebagai catatan, rumahnya pun tidak berpagar, jadi halaman rumah yang dimaksud termasuk juga jalan umum. Singkat cerita, saat malam tiba, gw perhatiin kok kendaraan-kendaraan itu dibiarin aja, gak digembok, gak dimasukin area rumah, atau apapun. Saat gw tanya ke bapak mertua, beliau bilang “ya biarin aja, orang aman kok. Lihat aja tuh motor-motor di bawah (nunjuk motor tetangga) juga ditaro gitu aja di pinggir jalan, gak apa-apa”.

Hal ini spontan mengingatkan gw ke statistik yang gw lihat beberapa hari sebelumnya, tentang “Seberapa percaya elo sama tetangga dan orang-orang di lingkungan lo?”

Norwegia ada di urutan pertama, dan itu gak aneh sama sekali. Saat gw ke Norway, gw sendiri syok ngeliat kulturnya yang sangat percaya sama orang lain. Rumah-rumah mereka juga gak berpagar. Jangankan rumah, saat gw ke tempat penginapan aja, itu tempatnya gak dikunci sama sekali, gak ada resepsionis atau penerima tamu, gw bisa langsung masuk, lalu ke kamar, dan bebas ngapain aja sesuka gw. Di tempat umum, masuk ke transportasi publik pun banyak yang gak ditutup. Misal: kereta yang bayarnya pake kartu. Biasanya, akan ada gerbang dimana kita harus tempelin kartu kita, baru bisa masuk. Tapi di Norway nggak. Gak nempelin pun tetep bisa masuk. Aneh kan? Saking percayanya mereka bahwa semua orang hidup dengan kesadaran akan norma-norma, bahwa orang-orang pasti tetep akan nempelin kartunya dengan bertanggungjawab. Ekstrimnya, saat gw harus berurusan sama polisi di Norway, walau gw melakukan kesalahan, tapi polisinya sendiri bilang bahwa mereka yakin gw gak berniat melakukan kesalahan itu dengan sengaja. Wow, I’m impressed.

Tapi itu Norway. Dan di statistik di atas, Indonesia juga termasuk yang nilai kepercayaannya atas tetangga itu lumayan lah, 61%. Gw langsung mikir, “wah, ini pasti surveynya gak di kota besar”. Di Jakarta, mana ada orang berani gak ngunci rumah? Mana percaya kita ngebiarin motor atau mobil ditaro gitu aja di jalan malem-malem? No way, man. Mungkin surveynya termasuk ke orang-orang di Balikpapan? Dan itu sangat mengusik prinsip gw atas apa itu tempat tinggal yang layak.

Sebagai referensi, saat gw menulis ini, gw sudah mengunjungi kota-kota di 17 negara di 4 benua. Kesimpulan dari pengalaman itu adalah bahwa memang tidak ada kota yang sempurna, semua pasti ada plus minusnya. Tapi, kita tetap bisa menentukan parameter apa yang kita pake untuk menentukan suatu kota itu layak tinggal atau nggak. Semakin berumur, parameter gw semakin mendasar, utamanya ada 3, yaitu:

  1. Udara bersih

Ini hal wajib yang harus ada untuk suatu kota gw akui layak tinggal. Sebagai manusia, apa sih hal mendasar untuk kita? Bernafas. Dan kita butuh udara untuk bisa melakukan itu. Di Jakarta, sangat gw sadari bahwa ternyata hal mendasar kayak gini aja sulit. Udara kotor bikin gw males bernafas, tapi karena tetap harus bernafas, gw terpaksa menghirup udara yang tidak layak. So, udara bersih itu hakiki.

2. Air bersih

Air bersih yang gw maksud artinya bukan cuma kita sendiri yang punya akses ke air bersih, tapi air di sekitar kita juga bersih. Semua orang di lingkungan kita bersih. Kenapa? Karena hidup kita saling berkaitan. Percuma gw punya air bersih, tapi lingkungan banjir, sungai kotor, sedangkan gw masih sering beli pecel lele di warung pinggir jalan. So, sanitasinya bagus, itu baru layak. Kalo levelnya negara maju, udah bisa minum langsung dari air keran.

3. Rasa aman

Awalnya gw cuma punya syarat 2 di atas; air dan udara. Tapi saat gw pergi ke kota Medan pertama kali, dimana semua orang mewanti-wanti gw untuk selalu waspada, jangan keluarin hp di jalan, takut preman dan jambret dimana-mana, dll, sampe ada istilah “ini Medan, bung!”, gw jadi merasa sangat gak nyaman, kemana-mana ketakutan, dan itu gak enak banget. Ternyata, ngerasa aman itu mahal harganya, rasa takut dan khawatir itu ada biayanya. Tiga diantaranya adalah: energi pikiran (efek psikologis), waktu dan uang (jadi terpaksa naik gocar dibanding jalan kaki, misalnya), dan kesehatan tubuh (rasa panik dan takut pasti mempengaruhi fisik juga). Sejak saat itu, gw jadi menambahkan poin ‘rasa aman’ ke syarat suatu kota disebut layak tinggal.

Mungkin gw kelamaan tinggal di kota besar, jadi menganggap naro kendaraan di luar rumah adalah hal aneh. Dan saat gw ke Balikpapan (setidaknya di daerah tempat mertua gw), ternyata gw bisa menemukan 3 syarat tempat layak tinggal yang gw cari. Udara di sana masih (relatif) bersih, lingkungannya lumayan bersih, karena orang-orangnya lebih “civilized” (menurut riset), dan ternyata jadinya keamanan juga meningkat (walau tentu persentase tindak kriminal bukan 0%). Gw jadi zbl ke Balikpapan karena orang-orang di sana bisa merasakan itu, hidup dengan nyaman, gak kayak gw di Jakarta, yang gak punya kesemuanya. Semoga ini berlangsung dan berlanjut seterusnya.

Sambil capek-capek baru kembali ke ibukota,

Hani Rosidaini

PS: Kalo ada yang nanya, “yaudah Han, kenapa gak pindah ke Balikpapan aja? Sebenernya selain 3 syarat di atas, karena gw extrovert dan ADHD, memang ada kecenderungan bawaan gw hanya suka kota besar. Lebih tepatnya kota yang lebih metropolitan. Agak sulit memang. Begitulah.