SEPATU UNTUK BAPAK

Saat masih tinggal di daerah Kebon Kacang, Jakarta, saya sering sekali ke mall Grand Indonesia karena jaraknya sangat dekat. Saking seringnya, saya sampai hapal layout gedung dan pertokoannya. Namun tiba-tiba ada yang aneh. Setiap terdorong mampir ke toko sepatu, saya selalu tertarik membeli, tapi bukan untuk saya sendiri, melainkan untuk Bapak. Entah kenapa yang teringat selalu Bapak. Begitu terus sampai akhirnya saya telepon orang tua saya di Bandung, dan bilang ke Bapak, “Pak, nanti aku ke Bandung, kita beli sepatu ya. Tiba-tiba aja pengen beliin”. “Siaapp”, kata Bapak. Ibu yang ada di situ mungkin agak cemburu, tapi juga maklum karena anaknya ini memang “anak Bapak” dan sangat moody, jadi saat mood-nya untuk membelikan Bapak, ya sudah, dibiarkan saja.

Tibalah waktu saya ke Bandung, dan saya ajak keluarga ke Trans Studio Mall, untuk belikan sepatu Bapak sekalian makan bersama. Saat di salah satu toko mall, saya bilang ke Bapak, “pokoknya pilih yang bagus dan enak, harganya harus di atas 1 juta”. Saya tidak ingin Bapak merasa segan, dan saya betul-betul ingin Bapak beli yang terbaik. Walaupun akhirnya kebablasan. Setelah pilih-pilih sepatu, Bapak jadi nunjuk baju-baju yang ada di toko, topi, kaos kaki, sambil seolah ngasih arahan “Ni… “. “Hahaha”, tawa saya dalam hati. Akhirnya kami keluar toko dengan tas berisi barang belanjaan, milik Bapak seorang.

Para penonton Bapak belanja

Ekspresi Bapak yang priceless

Semua tampak biasa saja, bukan? Sampai akhirnya belakangan saya sadar kenapa saya seperti itu. Kenapa saya ingin belikan Bapak, dan kenapa hanya Bapak.

Dulu, saat saya kecil, memori yang tertanam di kepala saya, Bapak-lah yang selalu menemani saya beli sepatu untuk sekolah. Pergi ke pasar Suci, pasar baru, atau pasar lain, selalu di pasar. Tidak ada memori di kepala saya beli sepatu di tempat bagus, apalagi beli sepatu bermerek. Sepatu saya, paling harganya Rp 25.000, produk abal-abal. Bapak bilang “sepatu itu sama aja, ujungnya sama-sama diinjek. Sepatu mahal itu cuma buat gaya, jadi untuk apa”. Itu yang saya akhirnya percaya dan yakini.

Hingga akhirnya saya dewasa, punya uang, saya jadi punya kesempatan untuk coba beli sepatu “bagus”, sepatu “mahal”. Dan ternyata rasanya memang beda, nyamannya beda, empuknya beda. “Kemana saja saya selama ini?”, itu yang saya rasakan. Waktu berlalu, ternyata sepertinya pengalaman itu membangkitkan memori lama. Saat lihat sepatu, secara alam bawah sadar ternyata saya ingat si Hani kecil, yang seandainya punya kesempatan, mungkin akan bilang ke Bapaknya waktu itu “nggak, Pak. ternyata sepatu mahal tu rasanya beda. Empuknya beda. Ini beda dengan sepatu murah yang Bapak bilang sama aja”. Ternyata si Hani kecil ingin membayar pengalaman itu. Si Hani kecil ingin bapaknya tahu apa bedanya sepatu bermerek, dan ingin bapaknya ikut merasakan langsung.

Menyadari itu, saya tertegun sendiri. Betapa dalamnya pengalaman masa kecil tertanam di diri kita, betapa besar dampaknya bagi psikologis kita, dan betapa kita tidak tahu kapan momen-momen emosional itu akan muncul ke permukaan saat kita dewasa. Mungkin karena itu, ada yang namanya “inner child”. Karena kenyataannya kita tidak seutuhnya tumbuh, kita tidak benar-benar adalah kita di momen sekarang, dan kita hanyalah kita saat kecil yang bersembunyi jauh di dalam kumpulan memori, seperti si Hani kecil dan pengalamannya membeli sepatu dengan Bapak, puluhan tahun yang lalu.

Hari ke-21 Ramadhan sehabis sholat shubuh,

Hani Rosidaini

Hal-hal yang Dipelajari dari Bekerja dengan Pemerintah

Poin-poin di bawah ini akan terdengar sangat biasa di telinga sebagian orang, terutama yang berlatar belakang kebijakan publik, tapi percayalah, untuk orang-orang yang clueless sama sekali tentang bekerja dengan pemerintah (seperti saya pada awalnya), hal-hal berikut bisa membantu, seandainya saja bisa diketahui lebih awal, agar bisa membantu proses kerja, koordinasi, dan komunikasi saat kita harus melakukan proyek bersama dengan pihak pemerintah. Iya, khususnya pemerintah Indonesia.

(Tidak ada urutan angka, karena bukan ditulis berdasarkan bobot poin)

  • Pemerintah “tidak bisa melakukan apapun” tanpa dasar hukum. Katakanlah di bidang pekerjaan saya, transparansi, anti korupsi, keterbukaan publik. Ada banyak praktik baik yang bisa diadopsi oleh pemerintah Indonesia, baik dari negara lain, maupun lembaga internasional yang memiliki banyak pengalaman dan mengumpulkan berbagai pembelajaran global. Tapi itu semua tidak serta merta bisa diadopsi jika di Indonesia sendiri belum ada dasar hukumnya. Maka dari itu, cara efektif bekerja dengan pemerintah adalah, pelajari semua dasar hukum yang ada, apa tujuan yang bisa menjadi prioritas, dan bantu pemerintah dalam mencapai itu. Jika perbaikan baru dirasa sangat penting, namun tidak ada dalam peraturan manapun, maka mulailah dengan dorong pembuatan kebijakan baru yang terkait itu. Intinya, tidak ada aksi tanpa dasar hukum. Sebaik apapun sesuatu, walaupun itu akan sangat bermanfaat bagi pemerintah, tetap saja tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada landasan tertulisnya.
  • Pelajari motif suatu negara, lembaga maupun individu, terutama tokoh kunci yang bekerja dengan kita. Teorinya adalah “What’s in it for me?”. “Untungnya buat gw apa dengerin atau ngikutin lo?”. Mungkin ini terdengar umum, tapi untuk saya ini menarik. Kenapa? Karena di sektor privat, ini rasanya jauh lebih mudah. Hanya ada satu bahasa universal di sektor privat, yaitu uang. Keuntungan moneter. Tapi jika di sektor publik, motifnya bisa jauh lebih bervariasi dan bisa sangat misterius. Bisa saja suatu negara, lembaga, atau tokoh publik menyatakan di media bahwa mereka mendukung aksi keterbukaan. Tapi kenyataannya? Tidak ada yang tahu. Apakah mendukung artinya berkomitmen? Apakah berkomitmen artinya beraksi? Apakah beraksi artinya gerak cepat? Apakah jika terjadi kelambatan progress, itu karena kendala eksternal, atau sengaja dihalau oleh pihak internal tertentu?. Saat seorang tokoh publik menyatakan dukungannya di media, apa dia benar-benar tulus menyatakan itu? Apa sebenarnya dia sedang mengejar sesuatu? Apa yang sedang disembunyikan? Apa ada tujuan lain yang bisa menjadi dampak dari dukungannya? Yang jelas, semakin awal kita tahu motif masing-masing yang terlibat, semakin bagus. Karena kita jadi bisa atur strategi dan bisa selalu menitikberatkan poin tersebut dalam setiap kesempatan berkomunikasi.

Gambar di atas adalah gambar stakeholder mapping yang paling umum. Kita harus mengelompokkan pemangku kebijakan berdasarkan pengaruh dan dukungannya. Kesulitan dalam menentukan motif pihak-pihak yang terlibat, menyebabkan kesulitan dalam menentukan masing-masing mereka sebenarnya ada di kuadran yang mana.

  • Ada sensitifitas terkait bagi pakai data. Dalam kaitannya dengan lembaga pemerintah, data adalah aset dan barang berharga, yang dianggap sensitif dan sayangnya juga melibatkan ego. Di satu sisi, kita bisa merasa gemas saat pemerintah enggan berbagi data yang mestinya milik publik, tapi di sisi lain, kita juga harus empati bahwa pemerintah merasa memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi negara dan masyarakatnya. Jangankan untuk informasi sensitif, kadang untuk informasi umum saja, ini sulit dilakukan. Padahal kalau orang bilang sih, “data-data itu udah bocor juga. Kita cuma berusaha minta baik-baik tapi ditolak”. Salah satu solusinya adalah kembali ke poin awal: pelajari segala dasar hukumnya. Cari celah yang mengharuskan pemerintah berbagi data, atau jika memang tidak ada, maka doronglah peraturan baru yang membuat pemerintah mau tidak mau harus mempublikasikan data yang diperlukan publik.
  • Tidak semua pihak terbuka dengan yang berbau asing. Sebagai orang yang bekerja untuk lembaga asing, awalnya saya tidak menyadari hal ini. Saya pikir, sebagai perwakilan dari lembaga internasional yang memiliki banyak praktik baik, di permukaan saya tampak sangat diterima dengan baik juga oleh pemerintah. Tapi ternyata, di belakang layar tidak selalu demikian. Pemerintah pasti punya pengalaman panjang bekerja dengan lembaga-lembaga asing, dan harus diakui, memang tidak semua lembaga asing bisa masuk ke Indonesia dan bekerja dengan pemerintah Indonesia dengan baik. Hal-hal seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan dan skepstisisme, walaupun, sebagai negara dengan adat timur, pemerintah tentu tetap harus selalu bersopan santun. Salah satu solusinya adalah berkawan baik dengan banyak lembaga lokal, sehingga bisa membentuk citra yang baik dan juga mendapatkan insight sebenarnya dari para pihak, karena mereka juga sudah jauh lebih lama beroperasi dan bekerja dengan pemerintah.
  • Kemampuan komunikasi dan advokasi sangatlah krusial. Ini sepertinya juga hal umum, tapi tetap saja untuk orang seperti saya cukup menantang. Kadang ingin rasanya fokus ke pekerjaan saja, bicarakan hal-hal penting terkait pekerjaan, lalu selesai. Tapi bekerja dengan manusia, terutama pemerintah, tetaplah butuh banyak kemampuan sosial, sehingga mahir kemampuan teknis saja tidaklah cukup. Bahkan mungkin bobot kemampuan advokasinya jauh lebih besar dibanding kemampuan teknis.
  • Bentuk aliansi dengan pihak-pihak yang ada di internal pemerintah. Tidak harus selalu tokoh besar atau tokoh kunci di suatu lembaga, tapi bisa juga dengan kroco-kroco, atau orang-orang yang ada di bawahnya. “Bukan orang penting” bukan berarti tidak penting. Setidaknya kita jadi bisa lebih banyak insight, setidaknya jadi ada yang bisa diajak bicara (penting! supaya tidak merasa sendirian), dan syukur-syukur ikut membantu kita mengerjakan pekerjaan dan mencapai tujuan bersama.

Sekian beberapa hal dari saya yang kebetulan terbersit saat menulis blog ini. Silakan tambahkan jika teman-teman memiliki pengalaman serupa. Terima kasih.

Sambil ngantuk-ngantuk di hari ke-16 Ramadhan 2023

Hani Rosidaini

I Want to Be a Standup Comedian

Yes, you read it right. I want to be a comic who makes jokes over anything and makes people laugh even though sometimes many of them feel offended.

Anyway, welcome to my daily rant. I’m practising a note a day to rebuild the writing muscles, and this is my first day, nyahahaa… Of all the topics I wish to share, this is the topic I choose first because I think I can finish writing this in one sitting.

So, why do I want to be a comic? Can you guess? No, definitely not because I think I’m funny. On the contrary, I feel I’m not funny at all. I’m serious most of the time unless I’m with people who can create the supportive nuance for me to make jokes. But there is someone who really inspires me to be a comic, the one and only: Adriano Qalbi.

As you might have known, Adri is a comic and a consistent podcaster with his “Podcast Awal Minggu”. Please check his content for those who don’t know him yet, and I bet you’ll be either his fan or his hater, nothing in between. He has some authenticity in his way of thinking and talking, and we have to admit that it’s not for everyone. By declaring himself as a comic, when he appears on your screen, you’ll anticipate funny stories and laughs, and it can be the case because Adri is also someone who can laugh easily. But the more you listen to him, the more you’ll realise that what he actually does is nagging about anything, complaining about all the things that happen in life, finding the antithesis of the most common perspectives, challenging the status quo and pushing out his argument (i hope i’m not exaggerating here, but you got my point, right?). But again, because he wraps all these with jokes, people see his nag differently, and that’s what I want. Not because I have so many things to complain about, but because many things in life bother me, and human actions are sometimes unbearable. As an extroverted person, I always feel the need to release my energy (sorry for using this excuse, but FYI, it’s true!), but I don’t know how to express it in a non-offensive way. The solution? Jokes! But for now, I know nothing about comedy besides knowing that it’s all about breaking the expectation. I’m sure humour can be learned because I learned some stuff from one of the conversations between Pandji and Adri in this video:

So, where should I start? Read, watch, practice, repeat. Timeline: unknown.

And if you’re curious about what in life bothers me, I’ll give you some little examples of what’s in my head:

  • Why do poor people choose to have more kids when they know that they can’t afford their living? Do we agree that most of them are considered less intelligent people?
  • Why do people put their partner’s name or their kid’s name in their profile bio? (e.g. Bio: love of @abangsayang or @Azka’s mother). Bio is to help other people to know you, your interest, your field, and how you identify yourself. If your identity depends on another person, what happens if that person is gone? Will you lose your identity? Or do you already think that you don’t have any other identity?
  • Graduating from a political school and working in politics doesn’t mean you have to talk about politics all the time. Don’t you read anything else outside your field? I found this kind of people boring. (It applies to any subject besides politics)
  • Another thing about so-called politicians or political practitioners is, that I don’t know how they can live their life, as anything they do will be considered political action, action with a motive and not a genuine attitude as a human being.
  • People who keep asking “when will you get married?” or “when do you want to have kids?” are people who are not entirely happy with their life, and seek a spark of joy from showing that they have something that the other person doesn’t. Not the kind of people I want to be surrounded with, absolutely. Or (if it’s a woman) it may be because the only talent she has is giving birth? Ha!

Do I sound offensive already? Sorry. Please be patient. I’ll learn comedy and come back funnier. Adios!

Between London and Jakarta,

After finishing the last meeting for today

Pikiran Random Pekan Ini #1: Dari Tentang Nadiem, Keuangan, Sampai Tahun Baru

Funny video about Nadiem’s English. This guy obviously has a big bank of vocabulary. Hint: “hubris”.

 

Hai! Apa kabar semuanya? 😀 Mulai pekan ini gw akan mencoba untuk mendokumentasikan pikiran-pikiran random gw. Pikiran yang penting gak penting sebenernya. Tapi menarik aja kalo nanti di masa depan gw bisa lihat lagi apa yang gw pikirkan di hari ini. Dan berikut adalah beberapa hal diantaranya:

 

THOUGHTS OF THE WEEK

1. Belakangan gw suka nonton video-videonya Kemendikbud dan termasuk di dalamnya tentang sosok sang menteri baru, Nadiem Makarim. Salah satu hal tentang dia adalah: dia udah gak pake media sosial sama sekali. Ditanya alasannya kenapa, salah satunya adalah karena dia pengen punya yang namanya “kedaulatan” (yang gw artikan bebas menjadi: kemerdekaan berpikir dan bertindak tanpa banyak terdistraksi noise). Gw pikir, “wah, kata yang menarik”. Sampe gw cari bahasa Inggris-nya apa, ternyata sovereignty, kata yang juga jarang dipake sehari-hari. Lalu semakin lama semakin gw hayati si “kedaulatan” itu gw jadi semakin pengen mengamini pernyataan tersebut, bahwa kita ternyata memang butuh yang namanya kedaulatan, dimulai dari kedaulatan untuk diri sendiri.

 

2. Dimulai dari kesadaran akan kedaulatan, gw sangat berusaha meminimalisir penggunaan media sosial gw. Tidak sepenuhnya bebas memang, karena toh gw juga bisa menghasilkan banyak hal dari media sosial, termasuk menghasilkan uang. Tapi yang jelas gw sangat membatasi. Pembatasan ini akhirnya membawa pemikiran lama gw sekian tahun yang lalu (sekitar 2011?), tentang twitter terutama pada saat itu. Biasanya, tiap kali gw punya pemikiran random, gw akan share itu di akun twitter gw, karena biasanya pemikiran random gw memang hal-hal sederhana yang gw kira tidak kompleks untuk diceritakan. Tapi di sisi lain, twitter nyatanya memang membawa dampak buruk bagi kemampuan literasi, terutama karena keberadaan batas karakter. Kita jadi dipaksa menuangkan pemikiran hanya dalam 500 karakter (bahkan di tahun itu hanya 140 karakter). Batasan ini akhirnya memaksa kita berpikir sepotong-sepotong, gak cuma dalam memproduksi twit, tapi juga dalam membaca twit orang lain. Ketidakbebasan dalam menyampaikan sesuatu inilah yang akhirnya mengancam kebiasaan kita dalam menelaah sesuatu yang jauh lebih kompleks. Dan itu bisa juga berbahaya untuk keberlangsungan hidup gw, dalam belajar, membaca paper ilmiah, ataupun memproduksi tulisan. Akhirnya, sekarang gw putuskan, kalau hanya pemikiran random, daripada ditulis di twitter (atau sekarang lebih banyak diposting di instagram story), gw akan lebih memilih menuliskannya di catatan sendiri, supaya gw lebih bisa berpikir secara komprehensif dan menuliskannya dengan lebih layak.

 

3. Mahasiswa A penasaran dengan mahasiswa B, karena si mahasiswa B ini tampak pintar sekali di kelas, rajin, cepat mengerti, selalu terlihat siap dengan materi yang diajarkan karena ternyata dia memang sudah baca-baca sebelumnya. Bahkan ajaibnya, kalaupun ada tugas dadakan di malam hari dan nyatanya sulit dikerjakan, paginya si B tetap bisa datang dengan membawa tugas yang sudah dia selesaikan, entah kapan itu waktunya. Belum lagi dia selalu datang tepat waktu di kelas apapun, tidak peduli banyak dosen yang sering datang terlambat, di kelas yang dosennya tidak pernah tidak terlambat pun, dia tetap memilih untuk datang bahkan sebelum jadwal belajar dimulai. Luar biasa. Tidak ada mata kuliah yang dia payah, termasuk mata kuliah yang dianggap sangat sulit untuk hampir semua mahasiswa. Kemampuan sosialnya pun baik. “Wah, benar-benar gifted anak ini”, pikir mahasiswa A. Suatu hari akhirnya si mahasiswa A bertanya pada mahasiswa B, “kamu tu strategi belajarnya kayak apa sih? Sebenernya belajarnya kapan?”, lalu si mahasiswa B menjawab, “ya.. biasanya begitu pulang ke rumah aja, dari isya sampe capek, sekitaran jam 11 malem, atau ya kadang jam 1 pagi, karena otak gw emang ON-nya malem”. “Hmm.. sebenernya gak spesial2 amat dong ya strategi belajarnya”, pikir si mahasiswa A dalam hati. Lalu si mahasiswa A nanya lagi, “tapi, apa belajarnya bener-bener tiap hari?”, si B jawab: “Ya iya lah, gw kan full time mahasiswa, bukan part-time”. Dhuarrr!! Ternyata itu dia, pikir si A, salah satu faktor mendasar yang sangat distingtif diantara mereka berdua. Si A yang sehari-harinya memang terpaksa harus kuliah sambil bekerja, memilih mindset bahwa pekerjaannya lah yang utama, sedangkan kuliah adalah sampingan, yang diharapkan mampu mendukung pekerjaannya. Hasilnya, setiap kuliah, yang penting belajar sesuatu dan lulus, tidak pernah terlalu muluk-muluk harus dapat nilai bagus. Tapi ternyata, efek lain dari mindset itu adalah, passion kita dalam menjalankan peran jadi sangat ekstrim berbeda. Saat kita fokus satu hal, semua waktu yang kita miliki bisa kita curahkan sepenuhnya dalam hal tersebut, dan dengan ditambah kecintaan, progress kita akan meningkat terus secara eksponensial. Bangun tidur, mikirin dan ngerjain itu, lagi istirahat mikirin itu, di waktu luang berusaha ningkatin itu, lama-lama ya jadi ada hal yang kita bisa sangat mastering. Saat ada tugas mendadak pun, berusaha mendorong diri untuk mengerjakan kewajiban, karena memang hidup untuk itu. Istimewanya, saat orang menunjukkan sikap tidak baik pun (selalu datang terlambat misalnya), dia bisa tetap kuat menentukan sikap dan nilainya sendiri, tidak mau sikap orang lain menentukan apalagi merubah sikap dia. Dia tetap full-time student tanpa excuse. Wow. Just wow. Ternyata fokus dan full-time mindset itu benar-benar ekstrim signifikansinya. Bahkan jika bekerja dan kuliah di bidang yang kelihatannya sejalan pun, jika mindset full-time/part-time nya berbeda, ada prioritas yang selalu akan mengalahkan yang lain, yang biasanya berakhir tidak manis, yaitu bahwa hasil keduanya tidak maksimal atau mencapai titik optimum.

 

4. Tahun baru. Tahun 2020. Tahun ini akan jadi tahun gw banyak berpikir tentang rencana keuangan. “Bukannya tiap tahun selalu begitu, Han?”. Beda, beda aja. Pertama, gw sudah menikah. Kedua, beban beberapa tahun belakangan ini sudah semakin berkurang. Intinya di tahun ini gw lebih punya keleluasan untuk berpikir dan bertindak. Beberapa tahun belakangan memang hidup gw banyak berubah, kalau digambarkan, seperti lagi mode tiarap. Kehidupan sosial gw pun tidak bagus, dalam artian gw jarang bersosialisasi. Yang dulu sering berkomunitas, sekian tahun ini, gw tidak aktif sama sekali. Jalan santai sendiri pun jarang. Kalau mau cari kambing hitam, gw selalu menyalahkan kondisi jalanan Jakarta yang gak ramah, udara sembab, dengan polusi yang parah. Ketemu temen aja sering ogah, bukan karena gak pengen, tapi karena segala kondisi bikin sangat enggan untuk keluar rumah. Tapi tahun ini akan beda. Karena setelah gw pikir-pikir, kehidupan sosial dan rencana keuangan ternyata ada hubungannya juga, ada derived feature-nya. Apakah itu? Saat beberapa orang ditanya, “apa sih resep jadi orang kaya?”, mereka bilang “salah satunya adalah sering bergaul dengan orang kaya”. Lingkungan akan sangat mempengaruhi. Saat kamu bergaul dengan orang kaya, kalopun gak langsung kecipratan kaya, minimal kamu akan bisa belajar cara berpikir mereka dan cara mereka bersikap atas sesuatu, kamu bisa dapet info tentang banyak kesempatan, dan mungkin ekspansi pergaulan ke orang-orang kaya yang lain. Secara matematis, pergaulan juga akumulatif toh? Nah, gimana cara untuk memulainya? Ya dengan memperluas terus lingkaran pertemanan. Gak harus langsung dimulai dengan lingkaran orang kaya, tapi bisa dengan selalu menambah kenalan baru. Kenalan baru itu akan membuat grafik sosial kita juga terus meningkat, tidak hanya soal materi, tapi juga wawasan dan keluwesan menempatkan diri di banyak kondisi. Ya, akhirnya gw rencana balik jadi super extrovert lagi. Apa poin aksinya? Yaitu dengan memaksa diri keluar rumah minimal seminggu sekali (di luar urusan pekerjaan) dan kenalan dengan minimal satu orang baru. Terlalu memaksakan diri? Ah, gapapa, namanya juga target. Yang jelas karena dikejar waktu dan gw butuh banyak insights untuk mengejar gol-gol gw, effort-nya juga harus lebih. New year, new me. This year, I mean it. (PS: Dan tapi bukan berarti kalo gw temenan sm lo jadi gak tulus ya. Gw tidak mengharapkan monetisasi langsung dari pertemanan dengan siapapun, yang gw maksud adalah upgrade diri gw dengan menambah terus pengaruh yang bisa gw jadikan input. Sama halnya kayak lo pengen semangat, lalu lo nyari inspirasi dengan menghadiri seminar atau meminta saran dari ahli. Gitu.)

 

APPS OF THE WEEK

f635823d2212f8f363a2fd102d1acfc0

Notion App

Karena terpengaruh Ali Abdaal, gw jadi nyobain aplikasi Notion dan berusaha jadiin ini “OS” gw dalam merapikan kegiatan dan ide sehari-hari atau apapun dalam hidup. Karena compatibily antar device-nya juga, aplikasi ini cukup memudahkan, dan seminggu nyobain ini, gw ngerasa cocok dan manfaatnya cukup berasa. Oke lah pokoknya. Worth to try. Rekomendasi Ali memang sering match sama gw, hehe..

 

VIDEO OF THE WEEK

Karena belum pernah dipromoin di blog, video pekan ini diambil dari video lama gw yang ternyata sudah ditonton lebih dari 5000x di Youtube. Gw janji pekan depan saya posting video baru.

 

Sekali lagi, selamat tahun baru! Semoga tahun ini bisa hidup lebih sehat dan rejeki makin menggunung. Amiin.

Jakarta, 3 Januari 2020,

sambil nonton video 30 orang sudah jadi korban banjir besar Jakarta dan berdoa semoga mereka semua husnul khotimah

Belajar Bahagia Dari Isi Bensin

photo6305233267699329056

Kartu MyPertamina saya. Bukan pesan sponsor.

 

Pelajaran hidup itu nyatanya bisa datang dari hal-hal sederhana. Contohnya kemarin, saat saya hendak isi bensin di SPBU Pertamina. Karena tertarik dengan promo program ‘Berkah Energi’, dimana jika kita isi bensin dan bayar dengan menggunakan kartu MyPertamina kita bisa dapat poin dengan hadiah umroh, mobil, motor, dll, saya pun ambil kartu MyPertamina saya di dompet dan bilang ke petugas, “Saya mau bayar pakai kartu ini ya”. Selesai isi tanki bensin, petugas pun memproses kartu tersebut di mesinnya, saya masukkan PIN dan menunggu proses pembayarannya selesai. Tapi ternyata transaksi gagal. “Mungkin salah PIN, mba”, katanya. Maka akhirnya dicoba lagi, dan tetap gagal. Di kali ke-empat, dia bilang, “Boleh coba cek saldonya dulu, mba?”. “Wah, sembarangan. Masa kartu saya dianggap kurang saldo, haha.. “, pikir saya. Tapi ya sudah, kami coba lagi, dan tetap gagal juga. Akhirnya dia memutuskan restart mesin dan menemukan fakta bahwa mesinnya memang sedang tidak terkoneksi jaringan, jadi tampilannya tulisan error saja. Karena sudah menunggu dan ternyata hasilnya demikian, akhirnya dia minta, “Kalau cash aja gimana nih, mba?”. “Hmm… Asalnya saya bayar pakai ini karena mau ikut itu sih”, sambil menunjuk ke spanduk program ‘Berkah Energi’. “Iya mba, maaf. Tapi mesinnya kalau sudah begini memang jadinya tidak bisa transaksi apapun”. Sedikit banyak saya pun kesal karena ini bukan yang saya harapkan.

Sekelebat pikiran saya jadi tiba-tiba teringat obrolan dengan seorang kawan. Satu kali dia sempat menasehati saya, “Han, yang bikin kita kecewa itu sebenarnya bukan suatu hal, kondisi, atau orang lain, tapi adalah ekspektasi kita sendiri atas mereka. Tidak sesuai ekspektasi -> kecewa -> tidak hepi. Jadi bisa dibilang, kalau kita tidak ingin banyak kecewa, yang berujung pada tidak hepi, maka kuncinya adalah menjaga ekspektasi kita 0 (zero expectation)”. Walaupun menurut saya, ekspektasi itu tidak akan pernah bisa 0, tapi hanya bisa diminimalisir, sehingga saat itu saya bilang (yang akhirnya akan saya jadikan sebagai quote saya sendiri): Continue reading

David VS Goliath: Kekurangan Adalah Kelebihan Yang Buffering

photo6120654904965048342.jpg

 

Hi, long time no see. Kali ini adalah edisi iseng bett di tengah deadline ini itu. Hanya sebuah review buku. Silakan disimak saja :3

Ada yang udah baca Outliers? Atau Tipping Point? dari Malcolm Gladwell? Buku beken banget memang itu, tapi aku malah belum juga sih 😛 Bukunya Gladwell yang pertama kali aku baca akhirnya malah yang ini: David & Goliath, Underdogs, Misfits, And The Art of Battling Giants. Setengah bagian pertama exciting, setengah terakhir.. so so 😬 (tapi tetep #WorthToRead).

Yang ini pun sebenernya udah lama selesai dibaca, tapi poin-poin dari materinya masih sering aku pake untuk menyampaikan sesuatu ke orang. Dan mungkin ini juga bisa jadi insight lain untuk temen-temen. Apa itu? Ini dia:

 

1. Kisah David & Goliath.

Ini aslinya legenda sejuta umat, tapi (setelah ngobrol sana/i) ternyata banyak orang yang gak ngeh. Padahal kisah ini dasarnya ada di kitab-kitab suci juga, termasuk Alkitab ibrani dan Qur’an (kalo di Qur’an namanya jadi Daud & Talut). Ceritanya adalah tentang pertarungan Goliath, si raksasa yang pake full body armor dan terkenal kuat, melawan Daud dari kaum seberang, masih keliatan muda, badannya kecil, bahkan pas bertarung, ngangkat pedang pun dia gak mau, karena tahu itu bakal bikin dia kewalahan. Semua orang udah pesimis lah lihat Daud. Goliath juga jd nantangin “Maju sini lu!”, begitu kira2-kira :p

Nah, disinilah akhirnya kita diperkenalkan dengan konsep “Advantage of disadvantage & Disadvantage of advantage”. Kelebihan2-kelebihan dari Goliath, yaitu berbadan besar, pake peralatan logam banyak, dll, itu bisa jadi kelebihan, tapi juga bisa jadi kekurangan. Karena apa? Karena akhirnya itu malah bisa bikin dia jadi gak lincah bergerak, pandangan terbatas, dll. Makanya Goliath nantangin David maju. Bukan karena apa, tapi ya emang karena area serangan dia yang sebenarnya terbatas. Yang akhirnya itu dimanfaatkan oleh David. Ukuran dia yang kecil, malah bikin dia jadi lebih lincah. Dari awal David tahu, kalo bertarung biasa kayak di arena, jelas dia bakal kalah, makanya dia akhirnya lebih pilih pake strategi lempar batu dari jauh diketapel, yang akhirnya nancep di jidatnya Goliath, dan akhirnya bikin si raksasa ini tumbang. Setelah tumbang, akhirnya dihunus pedang, dan mati.

Nah.. konsep inilah yang akhirnya nancep juga di aku bahwa nyatanya semua hal itu bisa kita jadikan kelebihan, tergantung cara berpikir. Misal: kita punya UKM, mesti bersaing dengan perusahaan gede. Secara psikologis mungkin udah jiper duluan, tapi kalo dipikir-pikir, skala kita yang kecil juga punya keuntungan, yaitu jadi lebih fleksibel dan adaptif untuk berubah, dibanding perusahan besar yang punya birokrasi dan gak bisa begitu aja ambil satu keputusan. Contoh lain yang paling nyata: keadaan ekonomi. Mungkin untuk orang yang kondisi ekonominya lemah, itu dianggap sebuah kekurangan, tapi padahal bisa juga dijadikan kelebihan. Kelebihannya apa? Orang susah itu (relatif) lebih tahan banting dan menghargai sesuatu. Kalo orang kaya dari sononya? Begitu jadi orang susah, belum tentu mereka tahan, dan mereka pun jadi cenderung kurang menghargai uang atau fasilitas, karena ya dianggapnya biasa aja. Begitu. Jadi, apa kekuranganmu? Coba pikir lagi itu adalah kekurangan apa bisa jadi sebaliknya? ^^

 

2. Inverted U Curve (Kurva U terbalik).

C64IcTfVoAA72GS.jpg

Ini adalah konsep yang applicable juga dalam hidup, bahwa berbagai hal itu ada kurvanya, yang bentuknya seperti U terbalik (atau kalau di notasi matematik jadi kayak lambang irisan). Coba bayangkan kurva itu di kepala kalian, nah kalian pasti kan akan menemukan titik balik dari setiap kurva, dari yang asalnya naik jadi turun, atau kalo gampangnya kayak anti klimaks. Ini berlaku dalam banyak hal. Misal paling gampang: makan sate itu enak, tapi di satu titik, keenakan itu berubah jadi eneg. Atau, ngebesarin anak dalam keadaan berkecukupan itu enak, tapi di satu titik, ya si anak akan jadi keenakan dan kurang punya daya juang. Mislead yang banyak terjadi: nyekolahin anak di kelas eksklusif jumlah murid sedikit itu top, tapi padahal gak juga. Terlalu banyak murid di satu kelas memang gak bagus, fokus guru terlalu terpecah dan tiap anak jadi kurang maksimal, tapi murid sedikit juga bisa bikin kumpul ide terbatas dan interaksi diantara mereka kurang hidup. Jadi tantangannya untuk kita adalah: gimana cara menemukan titik keseimbangan dalam berbagai hal, agar hasilnya bisa tetep maksimal, dan yang penting gak ada yang serba terlalu.

Demikian kira-kira yang aku petik dari buku ini. Outliers sama Tipping Point-nya masih ada di book list, semoga bisa segera dibaca dan kita bandingkan 👌🤓

 

Jakarta, September 2018,

di tengah-tengah sedih juga karena kantor batalin trip ke Argentina tiba-tiba

Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding 😀

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 😀

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera 😀

A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

One Thing At A Time, Data Mining, and Kindle

IMG_5102

Ok, sorry for the photo

 

Guess what? I’m currently in the middle of my reading and choose to take a break just to write this post. I’m reading Data Mining – Practical Machine Learning Tools and Techniques (some people recommended this one, so I give it a try), written by the practitioners of WEKA, one of the powerful softwares to mine data, and I expect this book is really practical just like mentioned in its title. I spent several hours to reach half of this book (around 250 pages) and I think it’s pretty fast, because I was not skimming, but really reading it comprehensively. Why so? How could I do that?

Recently, I’m practicing to apply a method, that may be very common to all of you, but not everyone doing it: “One Thing At A Time” method. Started when a friend of mine telling me something about healthy eating behavior. She said that, if we have to choose between bathing and eating, what should be done first, it’s better for us to do bathing first and eating afterward. Why? Because when doing food digestion, our body needs to focus and not distracted by any other activities. She even said that, bad digestion can produce toxic. So when we eat, it’s not recommended to double the job by reading books, watching movies, checking social medias, stalking your ex-es, or so on. And I think it’s also relevant generally. People nowadays are crazily obsessed by multi-tasking, like we have to accomplish so many things at a time. The question is: is it really work? I personally think that it is a toxic (at least for me). Instead of being a benefit, it usually becomes a threat. When we’re doing jobs and keep moving from one to another, most likely we end up by not finishing them all well. Or worse, none of them is finished. Well, some people might say that they can deal with that, but me, even without distraction, my mind is often branched far off the topic, so it’s best to get rid of all unrelated stuff. And to make it more powerful, I even wrote the sentence in a big sheet of paper and put it on my wall: ONE THING AT A TIME. Whuff~

So, done with the method and back to the book. I finally chose to take a break because after finish half of it, I found that this book is veryyyyyyy…….. useless 😐 (I give the link below this post if you want to download the PDF and read it too). The authors waste my time by babbling about data mining application in different industries until page 90, which not necessary needed. And when they move into technical chapters, I found them not easy to understand, unless data mining is already in you (with that advanced statistics, complicated formula, and well programming skills), and you just read this book as a supplement. So, I think I will shift to another book: Mining of Massive Datasets, and decide whether this one is better or judge that these books are typical.

511pKebJTTL._SX258_BO1,204,203,200_

Lets see…

 

Talking about books, usually in weekdays I spend 1-2 hours for reading. But in the weekend like this, I can spend so many hours only for consuming words and extracting information from books, and now I’m starting to worry. Not because of the reading, but the medium. You know, of course I do love physical books. But since my reading is dominated by English books (which are not cheap to collect them all physically, and not all of them are provided in near places either), my books now are mostly in digital form, and I read them all through gadgets. We can imagine, even without reading books on a laptop, I spend my time staring at the screen for so long, for improving skills, coding, doing tasks, emailing, and other activities. And when I want to relax and doing what I love, which is reading, I still have to torture my eyes with shiny lights from LCD? Oh My….

So now I’m seriously considering about using Kindle. But because it is not officially sold in Indonesia, perhaps I have to find a way how to get it. Well, surely those local marketplaces are selling it, but, are there some issues to be concerned about? Or is it just okay to buy from the local seller with a higher price? Will there be any trouble with US credit card payment? Oh, please, for any of you who have experience, do share with me, I will be very appreciate it. Meanwhile, I’ll be using this laptop or smartphone and aching in tears when it takes too long. Huhuhu…

61shyF063PL._SL1000_

Craving for thisss!

 

 

In the mid-day, when all my eyes want to see are green leafs and prairie,

hope that I will never have to use reading glasses in my whole life

 

 

Download PDF:

Data Mining: Practical Machine Learning Tools and Techniques – Ian H. Witten & Eibe Frank

Mining of Massive Datasets – Anand Rajaraman & Jeffrey David Ullman

Hal-Hal Random Tentang Tokyo Yang Kamu Harus Tahu (Dan Cara Ke Jepang Gratis!)

tokyo_6492

Hello, Japan!

Haha..
Kalo kalian kerap kali baca blog aku, pasti nyadar bahwa banyak tulisan aku yang judulnya “Hal-Hal Random”: Hal-hal random tentang Adelaide, hal-hal random tentang bisnis, tentang kehidupan sehari-hari, yang bahkan ada sekuelnya, berseri dari #1 sampe ke #sekian. Karena kenyataannya, emang aku suka merhatiin hal-hal yang kayaknya sepele, tapi karena banyak, jadi pengen dikompilasiin aja dan ditulis biar gak lupa (selain otaknya juga emang suka random). Dan sekarang adalah gilirannya ngomongin hal-hal random tentang Tokyo, ibukota Jepang! 😀

Jepang sendiri aslinya adalah salah satu negara impian aku dari kecil, selain Inggris (yang sampe sekarang masih belom kesampean dikunjungin, hiks). Ya you know lah.. karena kita banyak nonton anime dan baca komik Jepang, yang bikin ni negara rasanya udah akraaabb banget. Negara yang maju keren secara teknologi, tapi tetep mengakar dan lestari budayanya, beuuhhh, Jepang banget! Segala aktivitas dan wisatanya pun bahkan kita kayak udah hafal gitu, ya ikebana lah, origami lah, tradisi minum teh, sampe budaya mandi bareng di onsen, hihi…

Kelihatannya sihh, segala aktivitas itu kayaknya akan sangat jauh lebih nikmat lagi kalo sedang wisata ke Jepang, atau emang beneran punya kesempatan tinggal lama di sana. Sedangkan aku, yang ke Jepang untuk urusan kerjaan, bagian terbaiknya adalah, ngamatin gimana orang-orang di negara ini. Dan well, default kepribadian mereka tetap akan bikin kita ngerasa wow sama Nippon.

 

1. Berbisnis dengan Jepang

dsc_0281

Di MONO, salah satu pusat teknologi.di Tokyo

Bahasan tentang poin ini akan sangat panjang, makanya akan aku tulis di postingan berikutnya, lengkap dengan gimana cara aku bisa bantu kalian yang ingin mengembangkan bisnis ke negeri sakura. Tapi yang jelas, dalam berbisnis, orang Jepang memang sangat based on trust, personal attachment or reference, akan lebih bagus kalo kita punya mutual relation sama mereka. Mungkin pernah sekolah di Jepang, kenal sama pihak Jepang, punya hubungan baik dengan sosok tertentu, itu bisa di-share untuk menimbulkan kepercayaan. Kalo itu bisa diwujudkan, apalagi nihongo kita lumayan, mereka akan sangat kooperatif, dan loyalitas orang Jepang itu sangat tinggi. Sekali kerjasama dengan kita, mereka akan stay ke kita. Dan dari segi bisnis, ini sangat bagus, karena masyarakatnya juga termasuk big spender, asal kita mawas aja, jangan sampe melenceng, atau mungkin mengecewakan, karena standar mereka tinggi dan toleransi sama kesalahannya agak minim, hehe.. Jadi harus lebih serius dan presisi.

 

2. Gak ada tempat sampah!

img_2801
Gila, percaya gak sih, dari bandara sampe hotel aku di Hamamatsucho, aku hampir gak liat tempat sampah sama sekali. Susahnya minta ampun. Tapi orang-orang gak pada nyampah, men! Semuanya tetep bersih aja gitu. Pas aku tanyain sama orang setempat, ada yang bilang sih mereka sempet parno sama kejadian bom yang pernah ditaro di tempat sampah, yang hasilnya yaudah, sampah diurus sendiri aja sampe kalo ada tukang sampah dateng. Whatt??! Tapi tetep bersihhh.

 

3. Budaya ngantrinya, juara dunia!

13510838_10157143132600078_2722866177227354191_n

Panjang betull

Ini pas mereka ngantri di elevator stasiun sampe sepanjang itu. Kalo liat sendiri, pasti bikin ngerasa “HOW AMAZING JAPAAN!!”. Karena menurut aku, ngantri itu bukan cuma sekedar menunjukkan aktivitas, tapi juga refleksi kualitas para manusianya yang kompleks. Emejing! *bow

 

4. Doyan amat sama karaoke

img_2795

Salah satu jalanan yang ada gedung2 Big Echo yang warna merah itu loh.

Di satu baris jalan aja, aku bisa nemuin lebih dari satu gedung BIG ECHO tempat orang karaoke. Doyan amat yak. Agak relatif murah juga kayaknya tarifnya buat mereka. Satu gedung aja buat aku kegedean o.O

 

5. Same Guys Anywhere

dsc_0306
Sering berada di tengah para pekerja kantoran Tokyo, aku malah semakin ngerasa mereka semua keliatan sama. Kenapa? Karena pakaiannya agak default, rapih necis celana kain dan kemeja plus jas item, itu aja udah seragaman. Biar gak ribet kali ya. Kayak Mark Zuckerberg atau Steve Jobs yang bajunya itu-itu aja.

 

6. Vending Machine

13483065_10206808139297654_3351217060216193635_o

Beberapa ratus yen per botol.

Yah.. terbukti, seperti yang orang-orang bilang, Japan is the country of vending machines. Tiap berapa meter selalu ada vending machine, dan yang dijual macem-macem banget, dari cemilan sampe daleman, semua ada. Tinggal siapin duitnya aja deh udah.

 

7. Ukuran rumah dan toilet.

dsc_0362

“JAPAN”. Gambarimashou!

Selain emang harga tanah mahal (banget), kayaknya mindset mereka juga emang fokus ke fungsionalitas. Rumah gak usah gede-gede amat, mending compact dan jelas efektif. Tapi yang pastinya, teknologi harus terdepan doongg.. termasuk di toilet! Untuk transportasi, moda pribadi lebih banyak yang milih pake sepeda, karena katanya yang naik mobil itu orang kampung ^^

dsc_0201

Hadiahnya kopi aja.

Nyambung ke soal fungsionalitas ruang, kalo ngasih oleh-oleh ke orang Jepang juga jadinya mending jangan barang-barang yang bakal makan tempat, kayak hiasan meja, hiasan dinding, kipas batik, wayang, atau apa lah. Mending kasih yang beneran berguna atau bisa dikonsumsi aja, kayak kopi Indonesia misalnya 🙂

 

8. Temuin hal-hal yang asalnya cuma diliat di Youtube!

Aku gak inget tahun kapan aku nonton video soal sistem underground bike parking di Jepang, yang menurut aku keren banget. Dan pada saat hal-hal kayak gitu beneran ditemuin, rasanya kok senengg banget gitu loh. “Eh, ini kan yang waktu itu aku tonton! Haha XD”.

 

9. Tokyo gitu lowhh!!

13528191_10206818373153494_6826805267364467797_o

Little Liberty

Bener kata temen aku, bahkan liat orang lalu lalang di Jepang pun rasanya udah sesuatu. Apalagi di Tokyo. Itu persimpangannya aja Shibuya kan sampe beken banget gitu XD padahal cuma tempat orang nyebrang, yang aslinya sih gak selalu rame banget juga. Dan khusus soal enaknya di Tokyo adalah, banyak banget spot yang terkenalnya, jadi keliling kota pun kita udah bisa eksplor banyak. Di Shibuya ada patung Hatchiko. Terus bisa liat Gundam, ke kuil Asakusa, belanja di Ginza, jalan-jalan ke Harajuku, liat SkyTree, Tokyo Tower, foto di patung Liberty-nya Odaiba, main ke Akihabara, terus nongkrong di Cafe AKB48, ah banyak deh.

dsc_0547

Oi! Oi! Oi!

 

10. Sewa Wifi

Ini beneran hal random aja. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Tokyo, itu di bandara banyak yang nyewain alat hotspot wifi, jauh lebih murah dibanding ganti kartu SIM sana, apalagi kalo kita gak sendiri, jatohnya lebih hemat untuk ramean. Tapiii.. transaksi harus pake kartu kredit, gak bisa cash sama sekali. So please prepare your credit card.

 

11. Yang Bisa Pake CC

Jadi inget soal kartu kredit, di Tokyo akan lebih aman deh emang pokoknya kalo punya CC. Kalo tiba-tiba handphone rusak pun, kalian bisa sewa smartphone di salah satu tokonya Softbank, dan lagi-lagi sewanya harus pake CC. Balikin hapenya sih bahkan bisa ntar aja ngasih orang mereka di bandara pas kita mau pulang Indo.

 

12. Hape Jepang

dsc_0529

Pas di toko hape sekon.

Bahas soal smartphone, kayaknya setiap aku di dalem kereta di Tokyo, aku juga perhatiin hape orang-orang mayoritas pada pake iPhone (dikit yang pake hape asli Jepang). Gak mau pada pake produk Korea karena urusan histori kali ya? v^_^

 

13. Basic Japanese will be useful

DSC_0118.JPG

With my Japanese friends from tech startup every2nd, like airbnb for toilets. Yes, toilet!

Nah ini nih, sejujurnya kalo mau survive lama di sini sih, bisa bahasa Jepang itu kayaknya penting lah. Karena keinget pertama kali aku ke Jepang. Jadi ceritanya.. aku kan lagi naik kereta, terus ada pengumuman was wes wos, lalu di stasiun berikutnya temen aku tiba-tiba bilang kami harus turun dan ganti kereta, padahal yang aku tahu kami belum nyampe. Lalu temen aku ngasih tau, “Han, pengumuman tadi tu ngabarin kalo kereta ini akan ganti jalur. Jadi kita harus pindah ke kereta yang lain”. So, can you imagine me?? I was like, “Whatt??…. Dude, seriously, if you don’t tell me, I will never know”. Belum lagi kalo lagi nyari makan, dan tempat makanannya tertutup gitu, gak keliatan dia di dalem jualan apa. Sedangkan di luar cuma ada kumpulan tulisan Jepang yang kita ngeliatnya cuma kayak cacing goyang-goyang. Tiap kalo udah begitu, pasti ujung-ujungnya cuma beli onigiri dkk di convenience store :))

dsc_0418

Asakusa Temple + Tokyo Skytree Tower in a frame.

 

Ahh.. tapi pokoknya Jepang selalu ngangenin banget deh! Dan aku pengeennn banget untuk yang berikutnya aku bisa murni liburan gituu, tapi yang disponsorin juga, haha >,< #ngarep. Dann.. pokoknya jelas harus ngunjungin kota-kota yang lain! Osaka, Kyoto, Kobe, Shizuoka, Sapporo, semuwah! Masa aku cuma di Tokyo sama Yokohama doang 😐

Apalagi sekarang aku udah dapet info dan familiar sama HIS Travel Indonesia, ekspert travel yang holistik banget servis-nya, dari booking flight + hotel, ngurusin activities, bisa atur sewa mobil juga, dan bisa bantu sewa wifi! (penting deh ni pokoknya, apalagi buat yang gak megang CC). Pengeenn banget bisa ke Jepang pas festival musim semi, nikmatin indahnya semerbak bunga sakura, beuuhhh!!! Semoga HAnavi mau ngajakin aku :”D

amazing-sakura-01

#HISAmazingSakura

Dan anywayyy.. katanya sihhh.. mereka sekarang lagi ngadain lomba blog untuk yang mau dapetin paket wisata persis pas musim sakura itu loohh! Wow >,< Pas lagi mahal-mahalnya tuh. Tinggal cek ke link ini dan ikutin langkah per langkah yang ada disitu. Ikutan ahh XD

Pokoknya, aku yakin Jepang akan selalu jadi tempat yang sangat berkesan untuk siapapun. Dann didoain semoga yang baca blog ini semua punya kesempatan juga untuk ngerasain sendiri main ke sana. Ganbattee!! \^,^/

 

Malem hari sambil dengerin lagu Utada Hikaru,

jadi inget pastry-nya Jepang yang enak banget juga

 

Baca juga: Opini Tentang Makanan Halal