TIPS AGAR PRODUKTIF (ala Hani)

Busy copy

aku tertohok xD

 

Kenapa ala Hani? Ya karena best practices ini berlaku dan efektif untuk aku, tapi belum tentu efektif untuk orang lain. Yang jelas kita hidup di era digital media dimana kita selalu dibombardir oleh informasi dan (lets say) tuntutan eksistensi, padahal semakin kita sadar, semakin kita mengerti bahwa definisi sibuk dan produktif itu sangat berbeda. Apapun role kita, pekerjaan kita, banyak dari kita yang terjebak dalam salah satu paradoks hidup, yaitu semakin banyak alat untuk mengefektifkan waktu, tapi kita malah merasa semakin tidak punya banyak waktu. Selain karena sekalangan orang memang memiliki kesulitan untuk menentukan prioritas. Padahal, merasa produktif dan mencapai sesuatu juga termasuk faktor penting yang menentukan untuk orang merasa senang dengan dirinya, dan mengurangi kegelisahan karena setidaknya dia tahu bahwa dia tetap mengalami progress.

So, langsung aja, ini dia beberapa tips-nya:

1. Jangan Bikin To-Do-List

“Hah? Serius, Han? Jangan bikin to-do-list?”.
“Iya. Jangan bikin to-do-list”.

Atau lebih tepatnya adalah JANGAN CUMA bikin to-do-list. To-do-list is good, dan merupakan langkah awal bahwa kita tahu persis apa aja yang harus dikerjakan secara detail. Tapi yang lebih penting lagi setelahnya adalah bikin SCHEDULING dari semua to-do-list itu. Kita pos-pos-kan setiap “task & goal” yang kita punya ke setiap hari yang ada dan tentukan kapan itu harus dikerjakan SAMPAI SELESAI. Unless your to-do-list will always be just a list. Kalo cuma liat list, kita hanya akan selalu ngerasa bahwa kerjaan kita super banyak (dan mungkin memang akan selalu begitu). Tapi kalo cuma diliatin atau dikerjain tanpa bikin goal dan scheduling, bisa jadi kita loncat-loncat dari task yang satu ke task yang lain, tanpa bener-bener fokus dan beresnya bisa entah kapan, yang akhirnya ngerasa selalu sibuk, tapi sibuk yang karena memang gak teratur. Terutamanya ya untuk pekerjaan-pekerjaan mandiri dimana gak ada orang lain yang selalu nagih kerjaan kecuali kita sadar bahwa ini harus dikerjakan sampai selesai. So, scheduling is a must!

2. Hindari Buka Email Pagi Hari

Kecuali kamu orang superrrrrrr penting yang harus selalu buka email kapanpun, bener-bener gak bisa nunda sama sekali, karena kalo telat buka email bisa hilang ratusan juta, hindari buka email pagi-pagi di awal kita memulai hari. Kenapa? Karena kita asumsikan aja kita udah punya to-do-list untuk hari itu dan apa aja yang harus selesai di akhir hari. Dengan buka email pagi-pagi, bisa jadi banyak yang akhirnya mengarahkan kita untuk mengerjakan yang lain-lain dulu, yang kadang urgensinya kurang, tapi akhirnya menyita waktu dan mendistraksi kita dari yang seharusnya dikerjakan dan sudah ditargetkan. Time waits for no one. Dan ini terkait juga dengan alasan atau tips berikutnya…

3. Pahami Jadwal Kemampuan Otak

Alasan lain kenapa aku gak menyarankan buka email pagi-pagi, adalah karena aku baca dan mengamini tentang jadwal kemampuan otak mayoritas orang. Yaitu bahwa di pagi hari otak kita bisa berada di tingkat optimal. Artinya, ini waktu yang bagus kalo kita mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang cukup sulit, butuh konsentrasi tinggi, dan pemikiran penuh. Otak kita sedang bisa untuk diajak bekerja keras, maka mulailah dengan yang paling susah. So, aku sih sayang banget kalo waktu yang bagus ini cuma dipake untuk sorting email atau pekerjaan yang bisa dikerjakan di sesi waktu yang lain.
Nah, ketika beranjak siang, kadang otaknya sudah agak mengendur. Biasanya sih aku nyari tempat beraktifitas dimana aku bisa berada di tengah orang-orang, merasakan dinamika orang lain mengerjakan kegiatan mereka, dan ikut sibuk bersamanya. Energi yang ada dari orang-orang bisa mendorong kita untuk tetap bergerak dan produktif.
Kalo udah agak malem, baru deh, otak kita memang relatif lebih rileks, jadi kita bisa mengerjakan hal-hal yang lebih santai. Mungkin masih bisa meeting, cek dan bales email (nah, ini waktunya), rancang schedule untuk hari-hari berikutnya, baca buku, sekilas buka social media, dan lain-lain sisa dari daftar kegiatan. Emang sih banyak juga dari kita yang “ON”-nya kalo udah larut malem. Pastikan aja gak terlalu sampe pagi, karena bayar hutang dari tidur minim biasanya malah jadi berkali lipat waktunya dan badan jadi gak terlalu fresh, yang akhirnya secara jangka panjang belum tentu bisa lebih produktif.
(Atau mungkin kalian punya karakteristik waktu fokus yang berbeda? Share with me!)

4. Focus On Deeper Things

Menulis twit dan menulis blog (atau lebih ekstrimnya; menulis buku) itu sama-sama kegiatan menulis. Membaca artikel berita dan membaca buku juga sama-sama kegiatan membaca. Lalu apa bedanya? Dalam satu hari mungkin kita bisa baca belasan artikel berita tentang tema yang berbeda. Tapi dibanding menyelesaikan satu buku tebal, kira-kira efeknya bagaimana? Atau lebih merasa produktif mana kita antara saat menulis twit dan menulis buku?
Buat aku, jelas menulis tulisan panjang dan menyelesaikan satu buku jauh lebih produktif (selain bisa update akun Goodreads, hehe..), dan di antara semua itu yang membedakan adalah karena salah satunya membutuhkan deeper thinking dibanding yang lain. Dalam semua yang kita kerjakan, selalu ada hal-hal yang membutuhkan fokus lebih, kerja lebih, usaha lebih, dan juga waktu yang lebih lama. Proyek serius dan besar pasti membutuhkan perencanaan matang, kerja maksimal, disiplin tinggi, tahan banting, yang pasti dibarengi juga oleh deeper thinking. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah kita mulai juga begitu. Secara hasil, deeper things ini jauh lebih membuat kita merasa sudah accomplish sesuatu, lebih membuat kita naik level dibanding sebelumnya, karena memang ada proses lebih yang harus dilewati. Hasilnya, bisa membuat kita juga lebih produktif. So, focus on deeper things menurut aku powerful untuk yang bener-bener pengen ngerasa produktif secara komprehensif.

Nah.. gimana?

Sekian untuk kali ini. Semoga ada yang bisa dijadikan catatan. Sekali lagi, ini ala Hani. Tiap orang pasti beda-beda caranya, apa yang paling cocok untuk dikerjakan. Ada beberapa tips lain juga, tapi sayangnya diri sendiri aja susah untuk praktek, haha.. jadi… terima kasih sudah membaca blog ini. Setidaknya menulis postingan ini juga membuat aku merasa lebih produktif ^^

 

malam, Jakarta, 23 Juli 2016

di saat internet mati dan gak ada camilan sama sekali

 

Updated: Adding to the article above, I think I just agreed about an idea regarding this: VALUE OF TIME; we have to know how much we can value ourselves.
.
For example, we can simply divide how much money we expect to earn in a month with 30 days, and then divide with 24 hours, and with 60 minutes at last, until we get our value in each minute. It makes us more aware about how valuable our time is, and every time we get lazy, at least we know how much we waste. (Exclude for our personal and social life, especially time for our family, coz however they’re priceless, irreplaceable, and we need to socialize as well). Yet knowing our value of time is powerful!
.
I have ever met a successful business woman who knew exactly how much her time worth per hour. So when there was an agenda which not compensate that “value”, she prefer ask someone to replace her and she would do something more valuable instead. Very decisive. She would not say yes to any seminar that invited her to be a speaker, coz she knew that popularity aint her goal, but do the right things were. And she always achieve her target so far. I think this is also one of aspects about knowing ourselves. Or just like in business: YOU CANT MANAGE WHAT YOU CANT COUNT. Think about it..
.
So, lets give it a try. Count your value per each minute and put that in your head. Or.. would you share to me how you deal with time and targets?

Opini Tentang Makanan Halal

DSC_0408

Kemarin di Asakusa, Tokyo, mampir warung ramen ini, di jejeran toko-toko pinggir Asakusa Temple. Harganya emang 1000 yen-an. Makanya kita niatin juga aja mendukung industri makanan halal :3

 

Tiap liat tempat makan berlabel halal, gw selalu inget gw udah lama pengen nulis ini. Berawal saat tinggal di Adelaide, Australia, dan beberapa orang nanya, “makannya gimana tuh?”, “Ada yang jual makanan halal nggak, Han?”. Persepsi mayoritas orang adalah, tinggal di luar negeri itu artinya lebih susah untuk dapet makanan halal, terutamanya daging-dagingan, dibanding kalo tinggal di Indonesia. Dan itu bikin gw mikir, “iya kah?”.

Beruntungnya gw tinggal di pusat kota Adelaide, yang tinggal jalan 5 menit langsung nyampe ke Adelaide Central Market. Ada toko gede yang udah bersertifikat halal, dan labelnya itu dipampang gede-gede di depan tokonya, gampang banget ditemuin. Selain daripada itu, penjual-penjual lainnya juga udah hafal kalo gw yang berkerudung ini mau beli produk mereka, “no halal”, “it’s not halal”, mereka kadang udah declare duluan tanpa harus gw nanya. Poinnya adalah, di negara barat kayak Australia, batas halal non halal itu juga mereka jelas, karena ada lembaga penjaminnya, semua harus ngikutin prosedur. Kalo sesuai syariat, ya baru bisa klaim halal.

Lalu gw ngebayangin Indonesia. Pernah suatu malam gw pengen makan baso di daerah Dago Atas, Bandung. Gw sendiri pernah makan di tempat itu, tapi kali ini gw lagi bareng temen gw. Lalu tiba-tiba aja temen gw bilang, “Jangan disitu, Han. Daging sama kuahnya gak halal”. Gw lupa apa karena cara motongnya yang bikin gak halal, atau emang tu penjual pake bahan yang nggak-nggak, yang jelas temen gw bilang gitu. “Loh, kok lw tau?”, kata gw. “Soalnya gw pernah nanya sama orang”. Wow. “I think if you didn’t tell me, I would never know”. Really. Mungkin juga penjualnya gak terlalu ambil pusing urusan halal non-halal ini, jadi gak ngerasa harus ngasih tau detil soal apa yang dia jual, sesuai ekspektasi orang atau nggak.

Nah… Berasa gak sih bedanya? Kadang kok gw ngerasa malah tinggal di luar negeri itu orang-orang justru bisa jadi lebih menjaga? Gampangnya karena bisa jadi lebih hitam putih. Ada labelnya berarti halal (dan itu beneran dijamin), gak ada ya berarti non-halal. Your choice. Fair enough. Sedangkan di Indo, itu sebenernya lebih banyak abu-abu. Kita aja yang bertendensi memukul rata semua yang dijual pasti halal, semua orang Indonesia pasti tau gimana caranya, jadi tiap kita mau makan dimanapun, kita udah gak harus nanya-nanya lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu? Semua orang pasti menomorsatukan kehalalan? Semua penjual kita? Yakin??

So, jawaban gw waktu ditanya makanan di Adelaide gimana, gw bilang baik-baik aja. Mau yang halal ya tinggal ke tempat-tempat yang ada labelnya (yang kadang gw juga lebih percaya sama sertifikasinya, gak ada KKN tinggal bayar doang langsung di-approve). Kalo emang kita concern sama hal ini, ya sebisa mungkin idealnya sih selalu mutawari’ (menjaga/berhati-hati), dimanapun bagaimanapun, gak generalisir yang belum tentu, dan berani bertanya untuk memastikan. Karena jelas gak semua orang punya waktu nyembelih sendiri juga sih, hihihi.. Peace v^,^

makanan-dan-minuman-halal-4-638

Sambil menikmati hari-hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini,

salam hangat dari kota Tokyo

 

NB: Syarat makanan halal itu sebenernya memang beragam, dari bagaimana mendapatkan rejekinya, mendapatkan makanannya, pemotongan, pengolahannya, ya begitulah. Dan disini konteksnya memang lebih secara umum =) Dan sejujurnya, kalo di luar, seenak-enaknya daging pun rasanya tetep aneh aja sih udah x’D

 

 

Jodoh: Partner Hidup Atau Imam?

tumblr_inline_o5djb9jSvh1qh7hsr_500

Assalamu’alaikum, guys! Attracted sama judulnya gak? X)) Dan jarang-jarang juga Hani ngeblog soal ginian kaann?

Cuma untuk kali ini Hani bener-bener pengen share aja. Karena bisa jadi ini salah satu turning point Hani juga dalam hidup, momen yang bikin mikir ulang, di tengah masa-masa pencarian dan perenungan.

Well.. sebenernya ada beberapa yang pengen Hani ceritain; soal ironisnya resiko jadi pengusaha perempuan (ceilah), dilematis pembentukan kepribadian secara keseluruhan dan terkait hubungannya dengan kehidupan pribadi (saat berurusan dengan para rojul). Tapi mari kita bahas yang ini aja. Salah satu manfaat berteman dengan orang shaleh dan semoga sama-sama bisa ambil hikmahnya.

——————————————————————————

Obrolan di tengah asrama hadist minggu lalu, ada temen-temen yang pengen bantuin Hani cari pasangan. Karena katanya “lw kayak terlalu sibuk, Han.. jadi gak ada waktu juga buat nyari. Gw bantuin deh ya”, kata Dessy, yang hasil comblangannya sudah menghasilkan beberapa pasangan menikah, termasuk diantaranya dua sahabat kami. Hani hargain niat baik, jadi oke lah… (dan kebetulan emang abis agak “broken” juga. #curcol).

Terus singkat cerita dia nanya.. “jadi, lw mau nyari partner hidup atau imam, Han?”

Hmmm…

Then you know what my answer was?

Partner hidup..

…yang paling krusial sih harus pinter (fyi: Hani lemah sama cowok pinter).. karena kebayangnya kalo kita pas udah tua nanti, mungkin yang kita lakukan juga cuma ngobrol-ngobrol di balkon (?). Terus kalo gak bisa ngomongin macem-macem, ntar ngobrol sama siapa?”. Gitu, Hani bilang. Dan manusia pun pada dasarnya ingin bahagia selama menjalani kehidupan toh?

Lalu Dessy tertahan sejenak dan kemudian minta izin meriwayatkan sesuatu, nasehat dari seorang guru ngaji juga… Hani menyilakan.

“Lw tau kan… Zaman dahulu kala, Allah menciptakan malaikat dan syetan. Semua tinggal di surga. Sampe akhirnya Allah menciptakan manusia dari tanah, dan tiba-tiba menyuruh syetan dan malaikat untuk tunduk sama manusia. Sebenernya malaikat pun bilang “aku terbuat dari cahaya, ya Allah”, tapi akhirnya malaikat tetap tunduk dan taat. Berbeda dengan syetan, “wah, aku kan terbuat dari api”, dan lalu tidak tunduk. Mereka sombong dan akhirnya tidak mau taat. Lalu mereka menggoda manusia dengan buah khuldi itu, yang akhirnya manusia “jatuh”.

Tapiii… tau nggak? Allah itu menghargai niat. Walaupun manusia melanggar, dia tergoda karena syetan bilang “buah ini akan membuat kamu kekal” dan sedangkan manusia memang ingin selalu di surga, pengen dapet rohmatnya Allah. Maka apa yang Allah lakukan? Allah menghukum manusia dan syetan. Dijatuhkanlah mereka dari surga, akhirnya ke dunia. Allah cuma lagi kayak “yaudah deh, nih gw keluarin dulu dari sini, ntar gimana kamu di dunia, itu yang akan nentuin kamu balik ke surga atau ikut syetan ke neraka”.
Then… do we realize?
Kita tahu ayatnya (dan memang harus beriman dulu), 1 hari di akhirat itu itungannya 1000 tahun di dunia. Kebayang gak? Dan seperti yang kita sama2 pelajari juga, bahwa umurnya umat Nabi Muhammad itu hanya 60/70 tahun. Bandingkan 60/70 tahun itu dengan 1000 tahun. Mungkin baru lah kita bisa sadar, ya ampun.. 70 tahun tu bahkan gak seberapa detiknya di akhirat loh. Masya Allah! Ternyata Allah tu bener-bener cuma lagi lemparin kita ke dunia sekejap sampe akhirnya Dia narik kita balik bawa ke akhirat lagi.“

Dan Hani baru sadar.

(Maka mungkin karena itulah “wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun” – Dan tidaklah semata-mata kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu.)

Ya ampun, cuma sekejap, gak seberapa detik sebenernya hidup kita tuh.

Maka akhirnya Dessy nanya lagi.. “jadi.. lw yakin Han, maunya nyari partner hidup?”

….

“imam”. #istigfar

————————————————————————————–

Sesungguhnya ada 4 hal yang dilihat ketika mencari pasangan; karena parasnya, harta, keturunan, atau karena agamanya. Tapi jikalau kalian memilih agamanya, niscaya kalian akan jadi orang yang beruntung.

Manusia akan selalu berubah, di kitab pun dibilang, hati manusia itu diciptakan memang gampang bolak/ik. yang cinta bisa jadi benci, lama-lama saling bosan, tergoda banyak hal, tapi selama dia punya iman dan niat untuk bertaqwa, insya Allah bisa selalu inget tujuan surganya dan jalanin hidup sesuai syariat.

– dan akhirnya Hani pun terharu & bersyukur punya temen kayak mereka

Nabi Muhammad tu dulu waktu diliatin surga dan neraka juga kan bercerita, penghuni surga itu kebanyakan orang miskin. Sedangkan penghuni neraka itu dominannya adalah perempuan. Lalu ada yang tanya, “kok bisa perempuan, Nabi? Apa mereka kufur terhadap Allah?”. Nabi pun menjawab, “bukan, bukan karena mereka kufur terhadap Allah, melainkan arena mereka kufur terhadap suaminya”. Dan bagaimana kufur terhadap suami itu? Adalah dengan meniadakan kebaikan yang telah diberi. Yang jelas surganya seorang perempuan ada di suaminya. And I’m really aware of it.

Hal ini bikin Hani jadi inget juga sama seseorang yang suka manggil Hani feminazi kemaren-kemaren, gara-gara belajar gender equality di Ostrali dan beberapa yang berbau feminisme. Oh, you really get me wrong, then. I’m supporting women empowerment. But I’m a moslem, trying to be a good one, then I’ll obey anyone who deserve.

Sejak saat itu Hani jadi ngebayangin.. mungkin yang jadi suami Hani nanti juga bukan siapa-siapa secara dunia, gak ngerti bisnis, gak lebih banyak duit, gak ada apa-apanya di mata sekalangan orang.. tapi semoga yang bacaan qur’annya lebih tartil, hafalan surat, doa, dan dalil-dalil-nya lebih banyak, yang Hani ridho untuk taat, bisa saling surga mensurgakan. Itu aja.

Bener-bener cuma sekejap lah ternyata hidup kita ni…

tumblr_inline_o5dmbbNSFe1qh7hsr_500

NB: Jazaakumullohu khoiro buat Dessy, Mai, Agi, dan Wildan yang nemenin Hani malem itu. Selalu saling doain ya ❤

Teruntuk semua yang juga sedang dalam masa pencarian,

dari yang meluruskan lagi visi hidup,

Hani Rosidaini

 

Disclosure: ini adalah hasil repost dari hanirosidaini.tumblr.com/post/142522015966/jodoh-partner-hidup-atau-imam#notes untuk tujuan integrasi blog

 

Father

il_fullxfull.337517962

I’m kind of that girl, who has her father as her no.1 man on this planet. Eventho we rarely talking, because we’r also not that so expressive to state our feelings. He often keeps silent, yet I know he’s always watching me. Never force something, coz he knows that I’ll always have my own expectation. Mother phoned me, but I know it was my father who really wanna do it and asked her to do so. He’s the one who would be happier when I’m happy, and feel broken when I’m sad.

This Ramadhan brings those memories.. when he carried me on his back while going home from the mosque after i’tikaf. What old times.

Nothing as big as my love for you, dad. All I wanna do is to make you feel proud of me. 💞❤️💖 #FeelingEmosyenel

Update:

I can’t stop telling people that I love my dad so much. But weirdo, I can’t tell him directly so often instead. Maybe you’re also aware when you see my this blog’s title: Daddy’s Little Warrior. I dedicated to him. Well.. since I was a kid I realize that I wasn’t born a princess, and my parents never raised me to be one. Instead, they raised me to be “a warrior”, a person who can survive in any condition of life, and I’m thankful for that.

If only you know my father very well, we are so much alike, maybe not apparent physically, but in basic character and attitudes (unfortunately including all the bad habits). I always see him as a mirror, I see myself in him, and he’s in me, even for little things. When I am confused analyzing myself, I usually end up finding the answer in him, I almost always act, react, and think exactly like him. I’m just his other version. I know how he works so hard for his family and never complains to surrender his life to his loved ones. So this time, all I can say is.. “so will I, dad”. I’ll be ashamed if I give up on life just by remember you. Even when everything seems bleeding and depressing. I promise that I will always be.. your little warrior. *cross finger* #KeepSurvivingForDad #ThugLife

Jangan Telat Perpanjang Domain!

holding-a-dot-com1

hap!

Haaaaiii…!! 😀

Here is my another daily note. Something that might be very common for some people, but could be an information for others, so I choose to share it with you guys..

Jadiii… ceritanya kan aku ngelola beberapa domain yang aktif nih, entah itu untuk pribadi ataupun usaha. Untuk yang belum tau apa itu domain, bisa cek lebih lengkap disini, atau gampangnya sih; nama website,  kayak halo.com, halo.net, dll, dimana untuk pake domain itu, kalian harus sewa dalam jangka waktu tertentu, yang standarnya sih per tahun.

Nah, ternyata, ada salah satu domainku yang masuk masa expired seminggu lebih yang lalu. Emang sih, ada email pemberitahuan sebelumnya, tapi karena gak sempet, jadi ya belom ditanggepin. Terus, baru inget kemaren, dan pas login ke website penyedia domain-nya, ternyata kok jadi gak ada di daftar aku. Nanya langsung ke customer service, dan tadaaa… ternyata dia bilang domain aku jadi udah masuk “Queue to Deletion”. Ngek. Rrr… oke… jadi gimana tuh? Bla bla bla bla… intinya, kalo mau perpanjang sekarang, kita jadi harus bayar 10x lipat dari harganya. Dhuarrr! Hmmm… ngitung-ngitung, kalo yang standarnya 110rb/tahun jadi 1,1 juta dong? yang 200rb jadi 2 juta? dan kalo 400rb jadi 4 juta? Huweee…

“Well, okay.. is there another option, please?”
 
Dan ya, ternyata ada opsi lain. Yaitu kita harus nunggu 70-90 hari sampe domain itu dihapus, terus kita beli baru lagi dengan harga normal. “Okay, that’s more make sense…” but hey, wait! Masalahnya, domain yang (terpaksa) gak aktif itu, hostingnya lumayan gede (hosting = tempat nyimpen data website, bayar juga, makin gede kapasitas, makin mahal). Dan hosting-annya itu emang kebetulan punya masa expired yang beda. So, kalo mesti nunggu 90 hari, itu artinya selama 3 bulan, hostingnya jadi nganggur, gak kepake sama sekali, dan jadi mubadzir. *sigh* Itupun setelah ditanyain lagi, ternyata sang customer service gak bisa mastiin tanggal “penghapusannya” itu kapan, cuma bisa ngasih range waktunya aja. Jadi kalo domain kalian “hot” banget, ya mesti wanti-wanti juga, takutnya pas udah kehapus, eh tiba-tiba udah keburu langsung disamber orang. *double sigh* (Berlebihan sih emang, tapi kan namanya juga “kalo”, muehehehe…)
Jadi, pilihan aku sekarang sih, perpanjang domain hari ini juga, atau ya relain aja hosting-nya jadi mubadzir, haha… Ya.. demikianlah. Udah dulu ya. Aku mau ngitung dan nimbang-nimbang dulu nih mending gimana. Ciaaooo~ X’D

– Bandung, di kamar sambil nikmatin cuaca yang bikin waktu istirahat makin nikmat B)) (the weather of this city is really a thing that i miss the most!)

DIsclosure: ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2015/02/jangan-telat-perpanjang-domain.html untuk tujuan integrasi blog

Scrum? Apaan tu?

AlbertEinstein

Langsung inget kalimatnya opa Einstein di atas begitu Yuricho Billy cerita soal pertanyaannya ke seorang Scrum Master tentang apa itu Scrum, gunanya apa, dan kenapa kita harus pake Scrum, yang mana jawabannya dirasa gak bikin ngerti sama sekali. Gak jelas.

Bikin gw juga jadi penasaran sebenernya Scrum itu apa, secara lagi lumayan happening, jadi mulai banyak workshop-nya juga, dan orang-orang (katanya) jadi ikutan make (entah karena mereka emang udah beneran ngerti atau biar keliatan up-to-date aja). Dan tantangannya adalah, setelah ntar gw pelajari, apakah gw bisa menjelaskan secara sederhana soal ini ke si Cocho dan bikin dia ngerti? Haha..

Baca, baca, baca, dan ha! Gak ada yang menarik ~,~

Oke, yang gw tangkep adalah.. Scrum ini sejenis salah satu metode manajemen gimana caranya handle suatu project (yang disini lebih bertendensi ke bidang IT development) untuk mengefektifkan cara kerja dan jadi jembatan antara keinginan project owner dan developer (karena project owner berorientasi waktu, harus on time sesuai perjanjian ke klien, sedangkan developer bukan robot yang skill-nya bisa ditekan kalo mau hasil bagus). Salah satu caranya adalah membagi masa pengerjaan project ke dalam beberapa termin, dimana tiap selesai satu termin, kita semua harus meeting dan review bareng, termasuk expose progress itu ke sang klien biar doi tau update-annya. Cuma jadi agak ribet disini karena pake banyak istilah, ya artifacts lah, backlog, sprint, increment, bla bla bla.. ^^

Sekilas langsung inget dan jadi mirip sama Lean Startup (ya nggak sih?). Cuma bedanya, Lean Startup fokus ke produk, sedangkan si Scrum lebih concern ke orang-orangnya juga. Inti objektifnya sama; efektifitas. Kenapa jadi beken? Jelas, karena konsep ini dateng dari pusat teknologi dunia dan terbukti berhasil di sana. But again.. gak semua yang sukses di luar bisa berhasil di Indonesia, dan sebenernya gak harus juga semua diadaptasi kemari. Ya.. lumayan sih buat jadi referensi, tapi kenyataannya, punya metode yang macem2 kadang justru lebih menarik, hehe.. atau lebih bagus ya kita bikin metode sendiri (kali-kali) terus dinamain dan bikin itu worldwide :))
Ada pendapat? =)
 
— tengah hari, di tengah kota-kota yang menunggu didatangi, saat bingung jadinya mau pake facebook social plugin atau nggak buat insert komen di blog
 
Sumber referensi:

http://www.scrumguides.org/scrum-guide.html#team-sm
View at Medium.com
http://scrum-indonesia.org/apa-itu-scrum

(Disclosure: postingan ini repost dari status saya di akun facebook pribadi. Yaa.. daripada ntar tenggelam ditelan waktu, mending saya posting di sini juga, biar sekalian ada update, hehe..)

How to Deal With Difficult Conversation

tumblr_inline_nhljmhtxr81qh7hsr

Have you ever feel stuck in a conversation, while you still want to keep on talking, discussing something, but anything gets harder to handle and just be worse instead? I have a lot, either with “friend”, colleagues, or family. The problem with “friend”, sometimes you just want to continue the hard times because you still want to be connected, you keep on trying hoping it could attract good reactions and approach with nice impression. But your partner might not reciprocate by as you wish. And it’s hard, I know. I know exactly so I can feel you xP

With colleagues, the factors could be varied. Even sometimes for tiny things. But for this case, I didnt allowed feelings involved, so it safe. With family, owh, it’s even harder. I have brother and mother who didnt always agree with me, and yea, we argued. (My father? Well, you dont have to worry about him. I always be his little princess. And since he usually prefer to stay quiet, I perceive that he’s always on my side. My #1 man on this planet).

So,

I faced many difficult conversations with humans. Eventho I declared myself as an extrovert, love to meet people, read a lot, and feel that I never limit and create boundary on specified topics. But the difficulty is also belongs to me. So when there is a psychology people give advices to me about how to deal with it, my curiousity level is on maximum. I often believe on science and on psychology. Not merely because it learned in school, but my tendency is they taking patterns. I’m sure every single thing in this galaxy has a pattern. People need time and consistency to catch and map it, something that not everyone could afford. (if my time is really unlimited, perhaps i want to learn much more than I did, urgh).

Here are the advices that I got:

1) First, we need to calm. If we Hulk Out, it’s little more than a screaming match and nothing gets accomplished.

2) Dont make statements. Ask questions. The other person will interpret it as a veiled form of fighting back.

3) Treat them like a child. No, it doesnt mean be condescending. But we wouldn’t try to rationalize with a screaming child. And we wouldn’t get angry with them for yelling.

4) Ask “what would you like me to do?”

5) Speak slowly. Anything that slows the situation down is good for us.

6) Start sentences with “I’d like…” not “You are…”

7) Let them have the last word. Needing to have the last word is like quitting at mile 26 of the marathon. We’ve done everything right up until now. Do not let our ego screw up everything at the last minute.

Those are the things that we (me and you all) can try. Good communicator has always good position in society.

Last but not least, there is one thing that I wish I could posses: sense of humour. Uh yeah, it such an expensive gift. Everytime I see it on a man, I always think perhaps it was innate. But really, be a humorous is such a bless for those who use it well. Let me know if there is people who sell it, hahaha…

By now, after all this time, would you have a good conversation with me? :3

Korupsi Itu Gak Logis

UANG KORUPSI gray

Assalamu’alaikuum.. hehe..

Ini adalah bener-bener postingan kilat, maksain diri untuk nulis, walaupun cepet-cepet dan pendek. Adalah hasil ngobrol-ngobrol sama seorang dosen psikologi yang juga belajar ilmu filsafat dan agama. Sebenernya simpel sih bahasannya. Tapi entah kenapa pengen aja diposting di blog. Yaa.. anggep aja biar gak lupa.

Ngomongin soal korupsi, apalagi di Indonesia, kayaknya emang gak bakal abis-abis. Saat tulisan ini diposting, nominal minimal tindak korupsi yang diusut adalah 1 milyar. Artinya, kalo ada seseorang yang melewati batas itu, sudah layaklah dia ditangkep KPK dan disebut koruptor, tukang makan duit orang, duit rakyat. Lalu gimana dengan besaran uang yang jauh lebih kecil? Kenyataannya, kita semua rentan terhadap perilaku itu, entah miskin atau kaya, dengan berbagai macam penyebab. Gak ada hubungannya sama agama, karena terbukti yang sekarang pada ketangkep, juga justru orang-orang yang keliatannya cukup religius. Lantas, apa yang salah?

Secara simpel, kenalan saya dosen ini berpendapat, “ada logika dalam Islam yang orang-orang itu lupa, Han” | ??? . Lalu dia menjelaskan:

1. Untuk setiap muslim, kita semua seharusnya tau dan sudah meyakini, bahwa rejeki orang itu sudah ada jatahnya masing-masing. Yang artinya apa? Rejeki kita itu sungguh-sungguh sudah ada takarannya, dan tugas kita hanyalah menjemputnya. Kalo kita korupsi, tapi memang belom rejeki, toh korupsinya belom tentu berhasil juga toh? Karena memang apa yang akan kita dapat itu sudah ditentukan. Lalu untuk apa kita menjemput rejeki kita dengan cara yang dimurkai Allah dan dibenci manusia?
2. Orang yang korupsi sebenarnya dia bukan mengambil harta orang lain. Karena ada istilah “rejeki itu gak akan ketuker”. Apa yang dia dapat adalah rejeki dia sendiri, hanya mungkin dengan mempercepat yang belum saatnya. Jadi, sebenarnya, untuk apa???

Bahasan simpel kan? Tapi entah kenapa saya kagum aja sama beliau pada saat ngomong begitu. Mungkin karena memang tipe orang yang bisa mensinkronkan ajaran agama dengan logika yang bisa diterima orang lain.

Intinya sih, kesimpulan semua ini, dalam Islam, korupsi itu bukan cuma haram, tapi juga sebenarnya gak logis. Titik.

 

Di dalam ruang yang atapnya gemuruh bunyi hujan,
Terima kasih untuk Pak Hakam,

Jakarta,
2014

 

Update:

komen-1

Repost dari fb sebelum ada yang komen sama di sini.

 

Disclosure: ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2014/12/korupsi-itu-gak-logis.html untuk tujuan integrasi blog

Sheryl Sandberg – Lean In (Part 3)

In the 2nd chapter: Sit at The Table, Sheryl slapped me with her blatant truth about psychological tendencies that woman have. Something that might seems obvious, but we often reluctant to admit (like the institutional obstacles are not enough -.-“)

As woman, we rarely think about deserving achievement, position, or even compliment. We often give lower scores to ourselves about anything, while men do the reverse. Eventhough we’re good at something, we usually haunted by insecurity that we’re not good enough, there’s still a lack of something, and so on. When somebody congratulates us for a good news that they heard, we feel that we already being fraudelent and fooled them. When a plan gone aint as we wish, we always search the bad side and drop into a great degree (compared to men, who even can take that so easily). And know what? To complete all those messy feelings, these mental problems for women could take very serious impact for a long time. Oh, well~

And yea.. anyway, I got a new term from this chapter, that is: Impostor syndrome – phenomenon of capable people being plagued by self-doubt. Coz, for example, even when a woman was offered an executive position in a company, while everybody thinks that she is the fittest person for it, she herself might think hundred times more than man to receive and say “yes, I’m ready”. Hufft~

I think everybody should know this. Be a woman and a leader is not easy. We really need to adjust our intellectual and emotional capacity. Me myself is gonna practice more each day.. to think slightly like a man.. just feel good about achievement, regardless to its imperfection.. give higher scores to myself and feel deserve about many great things.. to not so desperate when bad luck comes… courage to take risks and make any opportunities fit for us… enjoy the life, coz the ups and downs are unavoidable. Just let it flow, Hani.. just let it flow.. not go with the flow, but GROW with the flow.. coz your happiness is all depend on you.
Wish me tons of lucks. Cheers!

Lean In – Sheryl Sandberg (Part 1)

lean-In-1

I was considering about which book I should read first, Steve Jobs autobiography or this Sheryl Sandberg’s, then my choice goes to this one, because its page aint even reach 31% of the competitor, haha… 217 over 716.

Actually I just read the foreword of this “Lean In”, but be in love in an instant. Sheryl is such a role model for any women who want to pursue career in technology industry, moreover in this global world. She is one of the men behind Google’s success, started from it was still a startup company in early 2000, and how she through many barriers to reach the top (until become the COO of Facebook) is something that could encourage and empower women, even when we have a family and responsible to our child. I like the part when she said “I do not believe that there is one definition of success or happiness. Not all women want career, not all women want children. Not all women want both”. And it is really true. I saw many of my married women friends are fully being a housewifes, not passionate to make a career, yet they’re (seem) happy. But for women who have potential and high expectations of making goals in life, and also ambitious to make progress for the better world, take a role in top position could give us strong and powerful voice to speak out about our needs and concerns.

Women face too many complex challenges, not to mention our own internal obstacles. As a moslem, I’m not fully support the feminist manifesto or equality in any aspects, but as an individual (who also want to achieve many things in life), by reignite the revolution, I hope more people will understand about our desire, so that could help us to ease the burden that we-have-manage-all-aspects-at-home-while-other-activities-are-only-choices.

I hope my future husband read this book (hehe..) and become please to share more things, include to do more at home (be a real partner) then we can compromise the gap, while support each other, so we can be not only happy as a family, but also happy as a person 🙂

Read all my books review here >>

NB: Hey, i just knew something! If we want to make a comment in reading progress of Goodreads, we’re just allowed to write in no more than 420 characters! While when I’m just read 10 first pages of a book, I can even review (as you see above) multiple times of the limit. So I think post it on blog is a good option.

Anyway… The more I know about Sheryl, the more I adore. From workplace to home, college to world most respected company, anything. And the TIME magazine cover below is one of the most powerful pictures of her, so I print it and use it as a wall poster in my room. What do you think? 😀

sheryl-sandberg-time-magazine-cover

And readers, if you are also a women who lean in, you can join to LeanIn.org , a non-profit organization that Sheryl founded to empower all women to achieve their ambitions. Lets struggling together! *cheers* 😀