KUMPULAN KODE REFERRAL LENGKAP – Honey Money Hack

Hai, gaes!

Karena gw punya banyak banget kode referral yang bisa menguntungkan aku dan kamu, jadi gw bikin postingan ini untuk mengumpulkan semuanya di satu halaman terpusat. Berikut ini adalah kode-kode referral yang bisa kamu pake, beserta syarat welcome bonus-nya jika ada. INFO BAGUS: Kalau kamu menggunakan minimal dua saja kode dari gw, kamu berhak bergabung ke grup whatsapp Honey Money Hack, di mana gw akan lebih banyak share cara-cara maksimalin cuan dari berbagai penjuru. Tinggal DM gw di akun instagram @haniwww. Salam cuan!

KODE REFERRAL APLIKASI

Ajaib atau Ajaib Alpha: hani5971663184

Aladin Bank: 7JD6TE

Allo Bank: https://alloappmgm.onelink.me/xSrn/kryecymr

Alfagift: HANI1313

Amar Bank: HANIO001

Astra Pay: E2VJAFP

AttaPoll: ONWKK https://attapoll.app/join/onwkk

Atome Card:

Bale by BTN: RSYF5708

Bank Saqu: BFJ87Y (Syarat: Harus menambahkan dana di Saku Utama paling telat 1 hari setelah membuka akun minimal Rp100.000. Pertahankan dana minimum Rp100.000 tersebut selama 7 hari agar mendapatkan reward)

BIBIT: hani10 (Syarat: investasi minimal Rp1.000.000 untuk pembelian pertama agar mendapatkan reward)

Binance: GRO_14352_XGV80 (https://www.bmwweb.net/referral/earn-together/refertoearn2000usdc/claim?hl=en&ref=GRO_14352_XGV80&utm_medium=app_share_link)

Bizhare: HRPF5P9V

BLIBLI: BLIBLIHANIQDWC

blu BCA DIGITAL: HANIO6Y3D

BNI (rekening): HANIOK105090

BNI (Kartu Kredit) Referral: 113764 (Link: Bit.ly/BNIW12) Khusus kartu kredit BNI, untuk kesempatan di-approve yang lebih besar, setelah apply, infokan aku nama lengkap kalian dan tanggal lahir, supaya bisa dicek dan minta diprioritaskan.

Citilink (LinkMiles): hanirosidaini@yahoo.co.id

Crowdana: HANIO906 https://app.crowddana.id/Nh6g/referral

DANA: b7XcTo

Deliveree: ub072dd

DepositoBPR: HR5090

F&B ID APP: ZGVLGE (SyaratL Jajan pertama minimal Rp15.000 melalui aplikasi F&B APP)

FLIP: HFAO2766 https://flip.id/s/rhfao2766 (Syarat: Bertransaksi transfer beda bank atau top-up e-wallet minimal Rp100.000)

Gotrade: 592626 https://heygotrade.com/referral?code=592626

GROWIN (Mandiri Sekuritas): MDFA21 https://join.growin.id/register?ref=MDFA21

Heymax: https://heymax.ai/?referral_code=BC5EE559 (sebisa mungkin install Heymax-nya dimulai dari link ini. Kalau prosesnya benar, kamu akan langsung dapat 200 miles)

Imperial Club: HAN875959

Indodax: haniwww

Jago BANK: HAND1E9F (Syarat dapat reward Rp50.000: Top up Rp500.000 dan transaksi QRIS Jago Rp20.000. Top up dalam 7 hari pertama registrasi, dan jaga saldo rata-rata Rp.500.000 selama 30 hari)

Jakpat: haniwww

Jiwa+ (aplikasi Janji Jiwa): HANG8Z

KLOOK: XLES4 (Syarat dapat reward Rp75.000: menyelesaikan satu pesanan)

KROM Bank: HANI2921

Kris+: F541093 (Link: https://app.krisplus.com/tpJv5RHr3Wb)

LakuEmas Elite: HANI444118

LINE BANK: SBYLB5

Livin Mandiri: https://livin.page.link/?link=https://livin.page.link/referral?c%3DMGMKF5YM3X&apn=id.bmri.livin&isi=1555414743&ibi=id.bmri.livin

LUNO: CSRPA5 (Syarat dapat reward Rp20.000: deposit dan beli kripto Rp1.500.000 dari Luno’s Instant Buy, bukan Luno Exchange)

Mega Bank Kartu Kredit: MGMHAN7488 https://msmile.onelink.me/ZTtt/mgm (Jika aplikasi kartu kreditnya disetujui, akan dapat bonus Rp150.000 MPC Points)

MAP CLUB: HAQVINR

Mobee: 164184c0 (https://mobee.onelink.me/kGn9/6amq01sn)

Motion Bank: 01HANSY29 https://motionbank.page.link/jUAEjCsbt4586Nsn8

MyValue: HANIWWW

Nex Card/Bank: 8ct9v7rl

Paxel: haniwww

Pelago: https://pel.sg/Vh8HA0

Pegadaian Digital (TRING!): TRHANIF386 (https://tring.onelink.me/rIEN/2gqk5)

Pintu: hanirosidaini033

Pluang: HANI315276

RAYA Bank: HANIOKTSPO2F

Reku: @haniwww

Revolut: https://revolut.com/referral/?referral-code=haniq4dol!FEB1-25-AR-H1

Seabank: TWPDSD (Syarat dapat reward: nabung minimal Rp50.000 dan pertahankan selama 3 hari)

Shariacoin: 78433 (https://app.shariacoin.co.id/r/78433)

Shopback: rmZMLL

Shopeepay: ZBRV8HJ9N

SOCO app: haniwww https://sociolla.app.link/haniwww-referral

Starbucks (Rewards App): HANIR-443F0E-15DBCA (Syarat: bonus minuman dengan pembelian min.50ribu)

Superbank: LNXL1M

Surveyon: Ps330765

TanamDuit: HANIO00LE2K (https://app.tanamduit.com/invite/ddFT)

Tiktok: F64DPLP6SPYXG

Tomoro Coffee: I4HE2I

Treasury: trs-651205090d1633 (https://treasury.id/pages?redirect=Register&referralCode=trs-651205090d1633)

TREVO: IIIFLR

Ultra Voucher: L7Y8P4

Watsons ID: hw8V6HlIbg

Wondr by BNI: 1owo https://referral-wondr.bni.co.id/1owo

YUP: https://finture.id/active/mgm-b/JWv07mWvro5MCiTI5jbZis8Ys34bNMEz5pWX8I1DTMXgv4vCwV%2FedhNzmHHCRiZc

Thank you!

Saat Kawan Nigeria-ku di Jakarta

Namanya Favour, dari Abuja, Nigeria

Sebenarnya tidak hanya seorang kawan, karena Favour-pun adalah kolega di kantor, anggota tim di OO (nama kantor). Usianya paling muda, tapi karena latar belakangnya dari hukum, sesuai dengan bidang pekerjaan, dan dia memang pintar di bidangnya, membuat karirnya cukup melesat, sampai akhirnya sekarang berada di posisi Senior Country Manager untuk wilayah Afrika. Karena pekan kemarin ada kegiatan lokakarya di Jakarta, dia pun akhirnya datang ke kota ini, yang tidak kusangka ternyata adalah kota Asia pertamanya. Ternyata dia belum pernah ke benua Asia sama sekali sebelumnya. Yah, sama saja denganku yang belum juga kunjung ada kesempatan ke benua Afrika.

Di hari terakhir dia di Indonesia, setelah satu pekan lokakarya dan empat hari terakhir dia habiskan dengan berlibur ke Bali sendirian, akhirnya kami jalan berdua. Janjian di Grand Indonesia (GI), karena dia bersikeras ingin ke satu tempat di mall itu untuk menyantap satu makanan yang menurutnya nikmat sekali. Dia ingin makanan itu lagi sebelum pulang ke negaranya. Penasaran, akupun mengiyakan. Aku sampai penasaran makanan apa yang dia maksud. Terlebih karena dia menyebutkan nama tempatnya adalah Three Uncles, tempat di GI yang belum pernah aku datangi. Saat sudah sampai, aku biarkan dia pesan, dan ternyata, oh la la, ternyata dia pesan nasi goreng!! “Ooohhh nasi goreeeng”, kataku. “Ya ya”, katanya. Dari percakapan kami, sepertinya dia tidak tahu bahwa nasi goreng dan fried rice merujuk pada makanan yang sama. Tapi baiklah, ini jadi memberikanku referensi, bahwa orang asing memang suka dengan nasi goreng. Lain kali, kalau ada kawan asing lainku datang, kuajak saja ke tempat seperti ini.

Kami pun berbincang tentang banyak hal, baik personal maupun profesional. Menariknya, Favour memang tipe orang yang hidupnya sangat didekasikan untuk pekerjaan, seolah-olah pekerjaannya lah yang mendefinisikan dirinya. Hasilnya, saat rapat ataupun bicara santai seperti ini, tata bicaranya tetap formal, dan dia akui itu. Sesama orang lokal (di negara masing-masing) yang bekerja di lembaga internasional, kurang lebih kami memiliki kesamaan, maka kubagikan lah beberapa pandanganku juga tentang ini. Salah satunya adalah tentang dinamika bagaimana kami harus membawa diri saat menghadapi pemerintah setempat. Bahwa walaupun kami representatif dari kantor global yang berusaha menawarkan solusi, kami harus tetap punya kerendahan hati untuk menyampaikan bahwa pemerintah tersebut lah yang lebih mengerti tentang isu terkait negaranya, caranya adalah saat datang mengenalkan diri, kami tidak bilang “we are the experts”, tapi justru memilih diksi ” we are people with expertise”. Ternyata hal sepele seperti itu saja bisa jadi signifikan beda hasilnya.

Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami pun bersegera pergi, karena Favour sudah harus ke bandara. Tapi sebelum itu, dia ingin beli oleh-oleh kopi Indonesia, dan kuarahkan ke booth kopi Tanamera, karena itu kopi andalan suamiku juga sehari-hari. Karena uang rupiah dia kurang, kuminta saja uang itu, biar jadinya aku yang bayar ke kasir pakai QRIS. Melihat aku bayar, dia ternyata terkesan, karena di Indonesia bisa cukup scan barcode seperti itu. Aku sampaikan bahwa penggunaan QRIS sudah umum di negara ini, bahkan untuk sekadar beli jajanan di jalan. Sedikit banyak aku jadi bangga dengan kemajuan negara ini, walau aku tak sempat tanyakan balik apa di Nigeria sudah mulai mengadopsi teknologi yang sama. Selain kopi, kubelikanlah juga dia eskrim andalanku setiap ke GI, yaitu eskrim buah dari Paletas Way terbaik.

Pertemuan berakhir, kami pun berpelukan tanda perpisahan, berjanji akan bertemu lagi di bagian dunia yang lain. Semoga berikutnya aku yang giliran ke Afrika. Amin.

Saat kami di Oslo. Kawan wanitaku yang dari Afrika memang sering ganti gaya rambut.

Jakarta, 30 Agustus, 9 hari setelah jalan-jalan di GI

Haniwww

Renungan Pemilu: Bentuk Negara dan Anehnya Calon Pemimpin

Orang ini telah mengecewakanku. Tapi karenanya aku jadi berpikir ulang tentang banyak hal.

Pemilihan presiden 2024 sudah lewat. Proses dan hasilnya memuakkan, tapi itulah demokrasi. Benar kata orang: demokrasi itu layak jika masyarakatnya cukup terdidik secara merata. Di saat setiap orang punya satu suara, padahal mereka punya kapasitas berpikir yang jauh berbeda, apalagi didukung dengan ketimpangan ekonomi yang buruk, sehingga mudah digerakkan oleh gimik-gimik murahan, ya hasilnya seperti saat ini. Apalagi aku juga tahu salah satu cara mereka menggerakkan massa dengan menggunakan agama. Bikin sakit kepala. Walau ada juga yang bilang “yasudahlah.. menuju demokrasi yang ideal kan ada prosesnya.” Iya, tapi masalahnya aku hidup di masa ini. Dan intinya.. dari semua kejadian, aku jadi semakin bertanya-tanya, sebenarnya bentuk pemerintahan yang less-evil itu yang mana? diantara monarki, aristokrasi, timokrasi, oligarki, demokrasi, teokrasi, dan tirani?

Untuk menjawab itu, aku perlu banyak belajar dulu. Membaca banyak literatur dan catatan sejarah. Inginnya aku menulis nanti saja, kalau sudah ketemu jawabannya. Tapi menulis prosesnya pun sepertinya menarik, maka dari itu kutuliskan awalku di sini. Ada beberapa buku yang akan kubaca terkait ini:

Yang Social Contract sudah kubaca belasan tahun lalu, tapi sepertinya di saat aku tidak banyak tahu, jadi belum banyak mengerti. Why Nations Fail juga ada di rumah, milik suamiku, walaupun dia juga belum selesai membacanya. The Communist Manifesto sepertinya akan jadi buku pertama, karena aku sedang tertarik-tertariknya dengan Marxisme. Yang lain menyusul.

Aku yakin pasti sudah banyak juga tesis dan jurnal berisi perbandingan bentuk pemerintahan. Ujung-ujungnya pasti berkesimpulan “tidak ada bentuk yang sempurna”, karena kalau memang ada yang sempurna, pasti sudah berusaha diadopsi oleh banyak negara. Tapi aku ingin menemukan jawabanku sendiri, jadi kupilih untuk menempuh perjalanan membaca buku-buku klasik ini.

Sebuah pemikiran pun muncul: jika kembali ke agama (Islam), Allah dan Rasul menyuruh dan mencontohkan seperti apa? Dulu, khilafah seperti pemimpin untuk semua aspek kehidupan, mengurusi ibadah sampai perkara perut. Sekarang, pada prakteknya, pemimpin wilayah dan pemimpin agama seperti dua pihak yang berbeda. Urusan agama, diatur oleh pembesar di mesjid, sedangkan pemerintah hanya harus mengakomodir semua orang bisa beribadah, karena toh warganya pun saling berbeda kepercayaan. Pertanyaannya, apakah pemimpin agama merangkap pemimpin wilayah itu masih relevan? Dan jika memang tak mengapa dibedakan, apakah kepemimpinan wilayah kita samakan saja dengan kepemimpinan di perusahaan? Artinya bukan sesuatu yang harus kita hukumi secara agama?

Yang pasti, yang kutahu dan kuyakini, jadi pemimpin itu berat, tanggung jawabnya dunia akherat. Menengok ke kepemimpinan islam, cara memilih pemimpin adalah dengan bermusyawarah. Seperti pada saat Nabi Muhammad wafat, para ahli berdebat, dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Yang menarik, adabnya adalah, calon pemimpin itu tidak mengajukan diri, tapi diajukan orang-orang lain, berdasarkan kepribadian dan kemampuannya. Jika sudah terpilih, calon itu diminta berbesar hati untuk menerima amanah tersebut. Orang yang mengerti ilmu kepemimpinan, kubayangkan pasti akan merasa berat menerima posisi itu, mengingat pertanggungjawabannya langsung dengan Allah, dan betul-betul jadi bertanggungjawab terhadap semua orang yang berada di bawah otoritasnya. Taruhannya surga neraka. Lalu, bagaimana jika sampai harus memimpin 280 juta orang seperti di Indonesia? Memastikan semuanya bisa hidup dengan baik. Kalau mengerti betul maknanya, semestinya tidak ada yang mau jadi pemimpin. Akhirnya bagiku sekarang, melihat ada orang yang mengajukan diri jadi presiden Indonesia itu aneh, ngotot jadi gubernur atau walikota, itu aneh. Perspektifku melihatnya lebih seperti orang yang ingin kekuasaan alih-alih ingin mengabdi. Jika kau ingin mengabdi, mengabdilah apapun posisimu. Jika kau memang layak jadi pemimpin, pasti orang-orang akan mengajukanmu. Namun jika engkaulah yang merasa sangat percaya diri untuk mengambil kursi pemimpin, ada yang aneh dengan pemahamanmu. Atas dasar itu, untuk konteks Indonesia, apapun pemilunya di masa yang akan datang, sepertinya kriteria yang kucari hanya satu: aku mencari calon yang diajukan orang, dan dia terlihat paling segan untuk mengambil posisi. Bukan karena tak mampu, tapi karena dia tahu, itu bukan sesuatu yang layak dicita-citakan.

Jakarta, 12 Agustus 2024

dengan pemikiran yang bisa terus berubah

PS: Untuk Pak Jokowi, Anda sangat mengecewakan. Kau bukan lagi wajah rakyat, tapi hanya pengulangan dari sejarah yang tak pantas.

Asal Kau Tahu

Aku sedang gila-gilanya membaca

Membaca apapun yang membuat kepalaku kaya

Membaca cerita mereka yang biasa sampai istimewa

Semuanya membuat hatiku memarak karena berbeda

Mengapa mereka bisa menulis seperti itu

Tanyaku terus dengan kagum

Aku juga ingin menulis

Aku ingin seperti mereka

Menorehkan setitik tinta dalam sejarah

Memberikan ruang untuk pojok imajinasimu

Bahkan ingin membuat ideologi baru

Asal kau tahu, akupun punya semangat itu!

Sempat ku berpikir dogma membuatnya tiada

Menciptakan batas tak boleh semena-mena

Tapi kini ku hanya ingin menulis

Menulis, agar semua energi ini sampai pada muaranya.

Jakarta, 8 Agustus 2024

Sambil menelaah kata-kata Pramoedya

Review Buku Perempuan di Titik Nol: Cerita yang Ternyata Terlalu Menyayat Hati

Akhirnya menyelesaikan buku ini di perjalanan KL-Jakarta

Saat mengulas buku, setidaknya ada tiga hal utama yang selalu ingin aku bagikan: ringkasan isi, hal-hal yang menurutku menarik dari bukunya, dan hal-hal yang jadi terpikir olehku karena terstimulus dari buku tersebut. Buku yang kali ini dibahas sebenarnya bisa dibilang buku “tipis”, terjemahan bahasa Indonesia-nya saja hanya 150 halaman, tapi kesan yang ditinggalkan sebegitu dalam sampai aku ingin membuat ulasan tersendiri.

Judul internasionalnya adalah ‘Woman at Point Zero’, aslinya ditulis dan dipublikasikan dalam bahasa Arab di tahun 1977 oleh Nawal el Saadawi. Di halaman belakang buku, dijelaskan bahwa Nawal adalah penulis/sastrawan Mesir yang juga dokter dan seorang feminis. Jujur, klaim ‘feminis’ awalnya membuatku agak kurang nyaman, dan jadi punya antisipasi sendiri isi bukunya akan seperti apa. Tapi latar belakangnya sebagai seorang dokter, membuatku penasaran juga, karena jarang-jarang aku tahu ada seorang dokter yang menjadi sastrawan. (Apa di Indonesia ada sastrawan besar yang juga seorang dokter?). Belakangan aku tahu bahwa Nawal ternyata memang besar di negara-negara Arab, terkenal dengan keberaniannya, mengangkat banyak isu penting, sampai pernah ditangkap dan dipenjara di bawah pemerintahan presiden Sadat. Dia juga perempuan cemerlang, sempat menjabat direktur di bidang kesehatan, dan bahkan banyak yang mendukung dia untuk mendapatkan hadiah nobel bidang literasi. Buku Perempuan di Titik Nol hanyalah satu dari puluhan buku yang dia tulis.

Buku ini setengah biografi dan setengah memoar, karena berdasarkan kisah nyata, yang diceritakan Nawal saat dia menemui pasien di penjara kelam Kairo bernama Firdaus. Dibuka dengan cerita awal mula Nawal mengetahui seorang narapidana wanita bernama Firdaus, yang beberapa hari lagi akan dihukum mati dengan cara digantung. Baik dia maupun pembaca, pasti langsung jadi penasaran, apa sebab musabab Firdaus bisa sampai dihukum mati, apa yang telah dia lakukan, dan mengapa dia jadi sosok manusia yang sangat dingin pada hidup, sampai-sampai ditawari grasi dari presiden pun dia tidak mau. Penjelasannya akhirnya dijabarkan dengan penggambaran perjalan hidup Firdaus dari kecil hingga dewasa. Membaca cerita hidup Firdaus, membuat aku syok, karena ternyata hidupnya semenyakitkan itu. Sejak kecil, dia diperkosa paman dan temannya, tanpa dia mengerti sebenarnya apa yang terjadi, karena dia belum paham konsep seksualitas. Orang-orang yang kelihatan ingin membantu, ternyata malah membuat hidupnya semakin hancur, termasuk pamannya yang dianggap berpendidikan. Yang membuat makin sedih adalah karena Firdaus adalah anak pintar di sekolah, dan dia awalnya ingin bercita-cita tinggi. Dia “dijual” dengan cara dinikahkan dengan pria tua yang memperlakukannya tak layak, hingga akhirnya dia pun sinis dengan konsep pernikahan. Pernikahan akhirnya baginya jadi tidak lebih dari cara laki-laki memanfaatkan perempuan dengan biaya rendah. Tanpa sengaja dia pun akhirnya menjadi pelacur, dan jadi pelacur dengan tarif tinggi jadi opsi yang menurutnya lebih baik seiring perjalanan hidup. Sulit untuk menyalahkan pendapatnya, jika mengetahui kejadian demi kejadian yang dia alami. Saya sampai tidak habis pikir, bahwa ada satu malam dia di jalanan yang padahal ingin menyelamatkan diri, tapi malah dibawa dan diperkosa polisi, kembali ke jalan, lalu diperkosa lagi dan lagi oleh laki-laki yang berbeda. Jadi sulit bagi saya untuk tidak men-generalisir kaum pria di Mesir pada zaman itu. Apa isi otak kalian memang hanya itu saja??!! Berani-beraninya kalian menyebut nama Tuhan dengan kelakuan kalian yang bejat!! Saking gelap hidupnya, saya juga sampai sempat berpikir, kematian jadi tidak terlihat lebih menakutkan jika dibanding harus menjalani hidup Firdaus. Seumur hidup dia seperti tidak pernah punya pilihan. Sampai akhirnya dia bisa memilih untuk tetap dihukum mati, setidaknya jadi memberikan dia rasa kekuatan bahwa akhirnya ada satu momen dia lah yang menentukan apa yang dia mau.

Salah satu kutipan buku

Aku tidak pernah baca buku yang jenisnya seperti ini, yang berbicara lugas tentang sisi kelam hidup perempuan. Buku ini jadi membuatku berpikir tentang banyak hal. Tentunya bahwa konsep seksualitas harus diajarkan sejak dini, apa saja area pribadi tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, apalagi lawan jenis, apa itu pemerkosaan, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal yang mengancam. Buku ini juga merupakan kritik sosial tentang ketimpangan ekonomi, penyalahgunaan wewenang, betapa lemahnya posisi perempuan di lingkungan Mesir zaman itu (hingga sekarang?), hingga berbagai pertanyaan terntang moralitas. Membaca ini jadi seperti membaca esai sosial, dan mungkin karena itulah Nawal sempat dicekal, karena tulisan-tulisannya dianggap terlalu provokatif.

Buku ini diterbitkan hampir 50 tahun yang lalu, tapi rasanya masih relevan hingga sekarang. Awalnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia pada tahun 1989 untuk sama-sama belajar sesama “negara dunia ketiga”, walau pada dasarnya mereka tidak suka dengan istilah tersebut. Sesama negara bekas jajahan yang sedang berkembang, tantangannnya akan kurang lebih mirip, termasuk dalam hal nilai pandangan pada perempuan. Tapi karena Mesir masih termasuk negara Arab, pada kelanjutannya, sepertinya kedua negara memiliki progres yang berbeda. Penjelasan tujuan diterbitkannya buku ini jadi menginspirasi aku juga, bahwa sebegitu kuatnya sebuah cerita. Tidak hanya untuk kita bisa merasakan empati terhadap tokoh yang diceritakan, tapi lebih dari itu, bahkan bisa jadi bahan pembelajaran kita tentang situasi sosial suatu negara, dan bagaimana situasi tersebut bisa bertransformasi seiring zaman. Aku jadi merasakan urgensi akan selalu hadirnya cerita-cerita baru dari setiap zaman, untuk bisa merepresentasikan periode tertentu. Di zaman modern, penyampaian lewat video mungkin dianggap lebih baik karena adanya tampilan visual, didukung oleh majunya teknologi ini itu, tapi aku yakin penulisan cerita teks tetap punya kekuatan tersendiri. Perasaan yang muncul akan berbeda dan penghayatan terhadap yang terjadi bisa terasa lebih syahdu (setidaknya itulah yang aku rasakan). Maka dari itu, setelah ini, semoga aku dan kamu juga jadi lebih bersemangat untuk menulis, menangkap fenomena, dan menyampaikan nilai-nilai yang bisa dipelajari kepada banyak orang, agar cerita kita bisa sekuat cerita tentang Firdaus. Semoga.

Jakarta, 6 Agustus 2024,

dengan badan lemas setelah perjalanan satu pekan di negeri Jiran

Sejarah Mungkin Gak Menarik Sampe Akhirnya Ceritanya Nyambung Dengan Hidupmu

Gak sengaja kenalan sama negara Iran gara-gara buku ini

Di postingan blog sebelumnya, gw cerita soal buku anak yang gw suka karena ceritanya absurd. Gara-gara buku itu, gw jadi nyari buku-buku lain dari penulisnya, Marjane Satrapi, termasuk buku ini: Persepolis, yang awalnya gw gak tahu isinya tentang apa. Jujur, emang gw termasuk yang jarang ngepoin sinopsis sebelum baca satu buku, karena gw gak suka spoiler. Biasanya gw baca satu buku, itu karena penulisnya terkenal, gw suka karyanya yang lain, banyak diomongin orang, atau simply karena suka covernya aja. Isinya apa, biarkan itu jadi kejutan. Dan yang ini beneran jadi kejutan, karena ternyata si penulisnya orang cukup penting, keturunan dari kaisar lama, isinya tentang biografi dia, yang dia tulis dan gambar sendiri, nyeritain tentang revolusi Iran, dimana dia ngalamin saat Iran berubah jadi negara syiah, dan semua kekacauan yang terjadi selama periode itu. Surprising banget. Gw yang sebelumnya gak familiar sama Iran, jadi “terpaksa” berkenalan, ngikutin sejarahnya, dan anehnya gw suka. Padahal gw jarang suka sejarah. Bisa jadi yang ini karena ceritanya menarik, perspektifnya unik, gambarnya bagus, atau karena gw lagi suka aja sama Marji (panggilan Marjane Satrapi), dan pengen tahu hidupnya kayak apa sampe bisa bikin cerita anak absurd. Entah yang mana.

Isi buku ‘Perspepolis’. Gambarnya juga unik, full hitam putih, tanpa abu-abu sama sekali

Di tengah buku ini, saat cerita soal pemerintah Iran yang nangkep warganya yang pendukung komunisme, gw jadi nanya sama mas suamik, “kenapa sih orang-orang itu takut atau benci sama komunis?”. Pertanyaan yang menurut gw sederhana, tapi akhirnya mas cerita panjang lebar tentang berbagai ideologi yang ada di dunia ini, termasuk komunisme dan lain-lain, tentang perebutan kekuasaan, kenapa ada negara yang alergi terhadap ideologi tertentu, di saat negara lain biasa aja, sampai spesifik sejarah Iran yang dia tahu. Gw tiba-tiba jadi merasa terhubung dengan ceritanya. Mas suamik cerita udah hampir kayak sejarawan, karena se-passionate itu dia dengan sejarah, beda banget sama istrinya.

Dulu zaman sekolah, sejak SMP, mata pelajaran yang gw gak suka itu sejarah. Karena menurut gw membosankan, kebanyakan ngebahas periode perjuangan sebelum Indonesia merdeka, termasuk yang katanya dijajah Belanda 350 tahun (yang ternyata bohong). Padahal menurut gw saat itu, setiap hari adalah sejarah, masa lalu udah berlalu, yaudah lebih baik fokus aja jalani hari ini dan siapkan diri hadapi hari esok. Sampai barulah ketika dewasa, gw belajar ilmu data, dan gw melihat ternyata sejarah itu bisa dianalogikan seperti database (basis data), yang semakin kita banyak punya, maka bisa semakin bagus pula model prediksi yang kita bikin. Tiba-tiba gw jadi merasa sejarah itu penting. Tapi untuk ngikutin semua sejarah yang ada di muka bumi ini, tetep aja gw gak ngerasa ada urgensinya. Again, beda banget sama mas suamik yang semua sejarah dia lahap. Seringnya gw cuma cari tahu sejarah tertentu kalo itu lagi ada hubungannya sama gw, dan kadang datangnya dari hal-hal yang gak penting.

Contoh hal gak penting: Gw pengen jalan-jalan ke Cina, dan gw nanya mas suamik, gw harus ke kota apa kalo mau foto di tembok besar Cina. Dia lalu mengernyitkan dahi, dan jadi nanya ke gw, “kamu gak tahu ya tembok Cina segede apa?”. Gw menggeleng. Gw kirain tembok Cina itu ya beberapa kilometer, dari ujung gunung ke ujung gunung sebelahnya, dan jawaban itu bikin mas tepok jidat. Dia jadi cerita awal muasal tembok Cina dibangun, saat Cina ngelawan Mongolia, bahwa ternyata bangsa Mongol itu pernah jadi bangsa yang sangat kuat di dunia, pertarungannya seperti apa sampe tembok Cina dibangunnya seperti itu, dibangunnya gak ujung ke ujung, makanya tembok Cina gak semuanya terhubung, dibangun selama 2500 tahun, sampe akhirnya temboknya bisa sepanjang 21.196 km. Uwedaaann, panjang bangeeeet!! Dan istrinya nanya, tembok Cina di kota apa??? Tembok Cina ada di banyak kota, woyy! XD (walau memang yang biasa dikunjungi turis ada di spot-spot tertentu). Gw jadi sangat amazed, dan cerita mas jadi menstimulus pikiran gw ke banyak hal, seperti: Kok bisa bangsa yang dulunya superior (Mongol) sekarang jadi biasa aja? Negara mana lagi yang nasibnya kayak gitu? Apa yang bisa bikin satu bangsa jadi superior? Gimana caranya supaya negara kita bisa jadi superior di masa depan? Gw jadi kagum sama Cina dan gimana mereka bisa bangun satu hal dalam jangka panjang secara berkelanjutan (penting!). Kenapa Indonesia kok kayaknya susah punya rencana jangka panjang? Apa karena pemilu kita tiap 5 tahunan? Jadi apakah sebenarnya demokrasi dan bentuk negara republik itu bukan pilihan terbaik? Isi kepala gw jadi bercabang banyak. Keinginan gw ke tembok Cina juga jadi semakin tinggi, dan gw yakin pengalamannya akan jadi sangat berbeda karena gw udah lebih tahu tentang kenapa tembok ini keren dan layak jadi keajaiban dunia. Padahal awalnya cuma karena pertanyaan gak penting.

Panjangnya tembok Cina itu kayak jalan dari ujung barat ke ke ujung timur Pulau Jawa 17x

Contoh lain gw jadi ketarik belajar sejarah karena hal gak penting adalah saat gw kerja di NGO Inggris, yang isinya 90% orang Inggris. Suatu hari, waktu ada kasus penculikan jurnalis oleh Taliban, salah satu orang kantor gw ngetwit soal itu dan mention akun orang-orang kantor. Banyak yang di-mention, kecuali gw. Jelas itu jadi bikin gw bertanya-tanya, kenapa gw gak diajak ngobrol (di twit itu)? Lagi-lagi gw jadi nanya mas suamik, cerita Taliban itu seperti apa. Mas jadi ngejelasin awal muasal Taliban di Afganistan, yang asalnya didukung Amerika, karena Amerika gak suka Rusia berkuasa di situ, tapi akhirnya setelah Rusia pergi, Taliban jadi ambil alih kekuasaan dan ngelawan Amerika, hubungannya sama Al-qaeda seperti apa di zaman Osama bin Laden yang aslinya dari keluarga Arab kaya, sampe terjadi peristiwa WTC 9-11, yang bikin orang-orang pada sensi sama Islam, lalu dimanfaatkan pemerintah Amerika untuk invasi Iraq, lalu hubungannya dengan ISIS, yang ada di sebagian Iraq dan Syria, yang ternyata aneh beda sendiri gak jelas maunya apa dan gak beraliansi dengan siapapun, sampe kasus Taliban yang paling baru terjadi. Gw yang asalnya gak tertarik, awalnya cuma pengen mengerti ‘kenapa ya gw gak di-mention di twitter sama orang kantor gw?’, setelah dijelasin, jadi bikin gw berpikir ke hal-hal lain juga, seperti relasi keislaman dan kekuasaan, apakah pemimpin agama memang harus berkuasa, geopolitik negara-negara sekitar seperti apa, dan bagaimana sebaiknya sikap kita menghadapi itu semua. Gila, ternyata sejarah semenarik itu (kalo gw lagi tertarik).

Dunia damai tetaplah yang kudambakan

Yah, begitulah kira-kira, semoga bisa menjelaskan judul dari tulisan ini. Gw yang asalnya gak suka sejarah, sekarang berpikir bahwa mempelajari sejarah adalah ‘the art of connecting the dots’. Setiap kejadian di dunia ini adalah titik-titik. Untuk orang yang gak suka sejarah, mungkin orang itu masih ngelihat sejarah sebagai titik-titik yang sporadis. Sampe akhirnya titik itu ketemu dengan titik kejadian pada dirinya, mau gak mau dia jadi berusaha menghubungkan titik itu supaya tersambung, setidaknya tersambung dengan titik-titik yang paling dekat. Bedanya dengan sejarawan, mereka sudah bisa menghubungkan banyak titik sampe yang kelihatannya jauh. So, se-ignorant apapun, gw yakin semua orang bisa jadi suka sejarah, kalo pas lagi ada hubungannya sama hidup dia, ada benang merah atau relatability dengan dirinya. Nemu relatibility-nya gimana? Nah, itu tergantung pengalaman hidup, dan bisa juga dari buku yang kamu baca, bahkan dari buku cerita anak random absurd yang gak sengaja ketemu XD

Sebagai penutup, atas semua pengetahuan yang jadi masuk ke kepala, aku ucapkan special thanks untuk suamiku, yang seperti ChatGPT untuk sejarah (dan bidang-bidang lain), yang bahkan lebih bagus jawabnya karena on point langsung ke bagian yang bikin diri ini kepo. Terima kasih AuliaGPT! (nama suami)

Sambil planning trip ke Cina,

Hani

Gw Pengen Jadi Absurd (Lagi)

Love ini sekebon

Tadi malem gw seneeng banget, akhirnya buku yang sekian lama gw cari, ketemu judulnya apa di internet. Jadi sekian tahun lalu (sekitar belasan tahun) gw baca buku cerita anak bergambar di Gramedia, dan gw suka ceritanya. Tapi bukunya gak berujung dibeli, karena waktu itu gw masih berpikir harganya agak mahal. Tapi cerita di buku itu nempel banget di kepala gw, dan setahun belakangan keinget terus. Tapi karena gw gak tahu judulnya apa, jadi gak ketemu juga di Google. Sampe akhirnya semalem nanya ChatGPT, dan akhirnyaa, voila! Ketemuuu!! Judulnya adalah Monster Are Afraid of the Moon, karya Marjane Satrapi.

Ceritanya tentang anak yang takut gelap, karena bisa muncul monster. Bagian yang menariknya adalah saat dia lihat bulan bersinar sangat terang di langit, dia jadi kepikiran untuk ngambil gunting gede, lalu ngegunting bulan di langit itu supaya bisa dibawa ke kamar dia. Kamar dia jadi terang, tapi seluruh kota jadi gelap sampe kucing-kucing pada tabrakan. Gimana? Absurd, bukan? Tapi justru itu yang bikin gw suka!

Tangkapan layar orang yang read aloud bukunya di Youtube

Kayaknya beberapa tahun terakhir gw terlalu banyak baca buku “serius” atau secara umum ya non-fiksi. Hidup di dunia normal yang semuanya berdasarkan logika dan harus rasional. Begitu gw balik baca fiksi lagi, terutama genre fantasi (dimulai dari kemarin gw baca The Ickabog-nya J.K Rowling), gw kayak diingetin lagi kenapa gw jauh lebih suka fantasi dari dulu. Yaitu karena isinya bisa tetap bermakna, ada bobot nilai, termasuk secara moral maupun perasaan, tapi dikemas dengan cerita yang lebih membebaskan pikiran. Gimana gak bebas? Gw tiba-tiba jadi beneran ngebayangin seandainya gw bisa ngegunting bulan juga dari langit. Gw ngebayangin seandainya gw ketemu mahluk kayak Ickabog yang bentuknya beda sendiri dengan semua mahluk yang ada selama ini. Gw bisa nge-push imajinasi gw sampe ke imajinasi orang lain yang juga gak terbatas, dan itu sangat refreshing. Ada momen di masa kecil gw, saat gw sangat rajin baca fantasi, dan itu juga jadi mendorong kreatifitas gw jadi pengen bikin macem-macem. Asli, gw yakin kebiasaan membaca fantasi itu akan berdampak bagi kreatifitas. Waktu SD, gw sampe bikin buku cerita fiksi bergambar (cerita sendiri, ngegambar sendiri) dan gw jual itu ke temen-temen di kelas. 200 perak! Gw inget betul harganya. Sayangnya gw lupa ceritanya apa, dan gak ada dokumentasi sama sekali. Tapi sungguh, gw rindu kreatifitas dan imajinasi Hani yang bebas ituuu!

Gw pengen bisa kembali nulis fiksi. Seandainya kalian bilang, “ya tinggal berimajinasi lagi aja, Han. Kalo mau absurd, ya tinggal bikin cerita aneh aja”. Oh, believe me, I’ve tried. Tapi coba deh, kalian juga ngebayangin, kalo logika dan rasionalitas dienyahkan, kalian kepikiran gak mau bikin cerita apa? Apakah gampang? Aku yakin tidak. Di titik ini, gw cukup yakin imajinasi itu gak cuma datang dari langit, tapi juga lahir dari kebiasaan dan latihan. Jadi sekarang ini, gw kalo lihat penulis fiksi yang bukunya berjejer di toko buku, gw bisa “waaah, gila sih. Ni orang isi kepalanya pasti banyak banget dunia yang ada di sana. Dunia yang gak terbatas, semuanya bisa beda-beda. Seru abis”.

Lalu semua hal di atas juga jadinya membawa gw ke satu pertanyaan, “Ada apa dengan gw? Kemana imajinasi gw pergi?”. Mungkin bisa ada banyak faktornya. Dan tiba-tiba semalem gw kepikiran, “apakah dogma agama adalah salah satu penyebabnya?”. Gara-garanya adalah karena gw abis nonton serial Joko Anwar’s Nightmares & DayDreams di Netflix. Di episode 4, ada cerita tentang sosok Wahyu, manusia biasa yang tiba-tiba jadi dianggap utusan Tuhan sama penduduk kampungnya, yang akhirnya didukung oleh adegan penutup dimana Wahyu tiba-tiba bisa terbang. Reaksi gw begitu nonton itu adalah “That’s not right. That’s musyrik”. Tapi lalu suami gw bilang, “jangan bahas agama di sini. Ini kan cerita superhero”. Hmm.. Bener juga. Kenapa gw anggep dunia fiksi itu harus sejalan dengan ajaran agama gw?

Episode favorit mas suamik

Di luar dari apa sebenarnya penyebab imajinasi gw sangat jauh berkurang, yaudahlah, sekarang gw lakuin aja dulu apa yang bisa dilakuin. Gw beli buku-buku yang kayaknya bisa ngelatih gw ngebayangin hal-hal yang absurd lagi, termasuk buku tentang mahluk favorit gw (baca: naga), buku kumpulan fiksi hasil karya murid-murid SD, dan buku lainnya dari si penulis buku yang gw sebut di atas: Marjane Satrapi. Semoga seiring waktu, imajinasi gw bisa kembali, dan gw bisa membuat cerita fantasi sambil menyampaikan hal-hal yang gw resahkan dari dunia ini. Dunia normal itu membosankan. Jadilah absurd! Kembalilah absurd! Jika sudah absurd, lanjutkan! Hidup absurd!

Sambil baca buku Captain Underpants di Sabtu siang Jakarta,

Hani

Adab pada Orang yang Kehilangan Anaknya

Kejadiannya beberapa bulan yang lalu. Di satu malam, saya syok karena mendapat kabar salah satu keponakan saya (putra dari sepupu) meninggal dunia. Usianya masih 4 tahun 10 bulan, persis 2 bulan lagi mencapai ulang tahun ke-5 andai saja dia tidak berpulang. Ya bagaimana tidak syok, baru kurang dari dua hari sebelumnya dia tiba-tiba masuk rumah sakit karena demam tinggi. “DBD, kayaknya”, kata orang-orang. Tapi dalam waktu sesingkat itu, tidak mungkin kami sekeluarga siap menerima kabar duka. Saat itu juga saya yang sedang di Jakarta langsung buru-buru naik travel menuju Bandung, sampai di Bandung hampir jam 1 pagi. Saat saya sampai, jenazah sudah dimandikan, dikafani, dan ditutup oleh kain motif batik warna cokelat. Saya jadi tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali, hanya mendengar bagaimana kondisinya dari orang-orang, termasuk tangan si anak yang mengepal sampai akhir hayatnya karena menahan sakit. Iya, dua hari terakhir itu dia selalu mengerang kesakitan, satu hal yang pasti membuat semua orang tidak tega untuk melihat dirasakan seorang anak kecil. Di sampingnya ada kedua orang tuanya yang kelihatan sangat hancur. Saya sampai tidak tega untuk menyapa dan menyampaikan apapun.

Esoknya si anak dibawa ke mesjid untuk disholati keluarga dan warga sekitar. Yang memimpin sholat ghoib itu bapak-bapak yang sepertinya salah satu pengurus mesjid. Setelahnya, saya lupa bapak-bapak itu ceramah apa. Yang jelas, setelah sebagian orang bubar, bapak itu menghampiri sepupu saya sambil bicara dalam bahasa Sunda “Turut berduka. Ya semoga segera diganti dengan (anak) yang baru”. Kalimat pertama masih oke, tapi kalimat kedua membuat saya tiba-tiba cukup kesal. “Anak yang baru? Terus kalau diganti, anak pertama tergantikan, gitu?” Oh iya, keponakan saya yang meninggal adalah putra pertama dan anak satu-satunya dari sepupu saya. Jadi seharusnya terbayang seberat apa kejadian ini bagi pihak orang tua. Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal, tapi saya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai detik itu, saya saja masih berpikir harus menyampaikan apa ke sepupu saya. Tidak harus mendoakan pengampunan dosa dan masuk surga, karena anak sekecil itu sudah terjamin surganya, beda dengan kita. Akhirnya saya cuma bisa peluk sambil bilang “Nanti insya Allah pasti ketemu lagi”.

Karena kejadian itu, saya jadi berpikir, sepertinya banyak orang tidak tahu adab menghadapi orang berduka, terlebih pada orang tua yang kehilangan anaknya. Saya pernah baca tulisan seorang kawan saat dia ditinggal meninggal ibunya. Dia agak terganggu dengan perkataan para pelayat seperti “Jangan sedih terus, ya. Yang kuat”. Apa rasionalisasi mereka untuk meng-invalidasi kesedihan keluarga yang ditinggalkan? Kenapa jangan sedih? Semua orang berhak untuk merasakan dan mengolah rasa mereka sendiri. Bahkan kalimat “Turut berduka cita” saja jika tidak disampaikan dengan tepat, bisa malah melukai perasaan, karena yang ditinggalkan bisa jadi merasa “Kalian tidak mengalami ini. Jadi kalian tidak akan mengerti rasanya. Jangan bilang turut berduka, karena yang kita rasakan itu tidak sama”. Sebegitu tricky-nya kalimat yang harus kita keluarkan di momen orang berduka.

Bicara tentang kehilangan anak, saya lantas jadi teringat bahwa ibu saya pun pernah mengalami hal serupa. Di tahun 1997 kakak saya no.3 meninggal karena sakit. Saya jadi cerita ke ibu tentang kalimat bapak-bapak mesjid itu yang saya rasa kurang berkenan, dan saya tanya ibu bagaimana rasanya ditinggal anak, saat ibu sebenarnya masih punya empat anak yang lain. Kata ibu, rasanya tetap tidak tergantikan (seperti yang saya duga). Saat itu ibu sampai stress dan harus bertemu psikolog (sesuatu yang saat itu belum lazim dilakukan, apalagi oleh keluarga kami) saking beratnya. Hancurnya sampai sekarang. Ibu tidak mau sedih, tapi ibu juga tidak mau kalau harus membicarakannya lagi. “Mending gak usah dibahas”, kata ibu. Raut wajahnya langsung berubah.

Kehilangan orang yang berarti pasti berat. Menghadapi orang yang mengalaminya, kita harus punya adab. Kalau tidak mengerti betul harus bicara apa, lebih baik diam saja. Jika memang punya itikad baik, saya pikir, yang penting kita hadir, menemani, agar yang kehilangan merasa setidaknya kita ada. Saya pun masih belajar. Semoga kita semua bisa belajar juga.

Dalam kenangan penuh kasih,

Muhammad Arvino (Mar 2019 – Jan 2024)

Ogah Jadi Tua dan Jelek

poor Zac Efron

Apa kalian pernah lihat meme di atas? Dia lewat di timeline gw, and I couldn’t help saying “DAMN, THAT’S SO TRUEEEE!!!!”. Itu kejadian di gw setahun lalu, tapi untungnya ngasih dampak positif setelahnya dan sampe sekarang.

Awalnya, gw bukan orang yang terlalu memperhatikan penampilan, termasuk mempermasalahkan berat badan, ke diri sendiri maupun ke orang lain. Apalagi dulu gw ngerasa gw termasuk orang yang susah gemuk. Makan seberapa pun, badan gw tetep kecil, hampir gak pernah ngelewatin 40 kg. Sampe akhirnya pandemi mengubah segalanya. Full WFH, gak pernah keluar rumah, gak bergerak, dan pesen makanan apapun, termasuk makanan berat dan makanan manis di tengah malam, ajaib tapi nyata, BB gw naik sampe 57 kilo! Karena pada dasarnya gw gak peduli, jadi gw stay cool aja. Walaupun suami udah sering ngatain “paha kamu kayak ular cobra”, tapi gw tetep berprinsip “ah, yang penting aku hepi. Gendut kurus yang penting hepi”. Tinggal gak usah ngaca aja.

Sampe akhirnya lewat lah di linimasa gw, foto-foto temen SMA. Dan kesan pertama gw lihat foto mereka adalah: “ebuset, tua bangeettt”. Kami seumuran, tapi yang cewek udah kayak ibu-ibu banget, dan yang cowok apalagi, babeh-babeh banget, yang (you know lah) didukung sama perut buncit yang udah gak bisa disembunyiin lagi saking gedenya. Gw shock. Apa jangan-jangan gw juga udah keliatan setua itu? Aaaaaa tidaaaak~ Gw yang pada dasarnya takut sama penuaan, dibikin makin menjadi-jadi lihat mereka. Tapi ada juga temen-temen yang masih looking good, setidaknya gak keliatan tua. Dan setelah gw perhatikan, kuncinya adalah: JANGAN GENDUT. Lemak bikin badan dan muka beleber, dan itu bikin efek tua luar biasa. Ah, gw kurang beruntung. Gw kalo menggendut, yang kena pertama adalah muka, lalu sekarang yang paling membesar adalah paha (kayaknya didukung oleh gw yang lebih banyak duduk), yang setelah semakin disadari, sebenernya gw udah ngerasa cukup terganggu sama paha ini, gara-gara paha dalemnya udah terlalu besar, yang bikin akhirnya tiap gw jalan, si paha kanan kiri selalu tabrakan dan gesekan. Berawal dari situ, akhirnya gw bertekad melakukan perubahan!

Kayak semesta mendukung, tiba-tiba gw dapet email dari Bank Jago tentang promo coba gratis di gym Fithub. Gw yang gak pernah nge-gym sama sekali sebelumnya, mencoba datang, dan akhirnya malah kena sama marketingnya, langsung jadi member 6 bulan plus pake PT (personal trainer) pula untuk make alat-alat. Huft~ Sungguh keputusan yang impulsif walau sekarang tetap gw syukuri (Pengalaman nge-gym di Fithub akan gw tulis di postingan yang lain). Gw juga jadi suka nonton channel Youtube-nya Ade Rai, belajar pentingnya latihan beban, peran penting otot, ngejalanin intermitten fasting, jaga makanan, dan lebih banyak bergerak.

Bareng PT gw yang pertama (sekarang udah ganti). Pengen upload foto gw pas lagi gendut-gendutnya, tapi gak pede.

Sudah setahun berlalu, saat tulisan ini dibuat, berat badan gw baru di angka 50,7 kg, belum turun ekstrim, tapi gw merasa jauh lebih baik. Di usia sekarang, gak bisa bohong, ternyata BB emang cepet naik, tapi susah turun. Effort harus lebih gede, tapi jaga aja jangan sampe gembrot, supaya gak keliatan jelek. So, kalo ditanya apa motivasi gw berolahraga? Nomor satunya adalah: gw gak pengen jelek. Sehat adalah motivasi berikutnya. Mungkin sebagian orang akan bilang gw shallow, karena lebih peduli tampilan luar, hal yang gak esensial dibanding hal-hal dari dalam. Tapi gw rasa tiap orang berhak punya motivasinya masing-masing. Kalo kalian punya motivasi lain lagi yang berbeda, gw akan tetep dukung. Asal jangan diem aja. Tipe bentuk badan dan wajah itu nasib, penuaan juga mutlak, tapi untuk jadi fit dan gak jelek-jelek amat itu pilihan. Choose wisely!

Jam 11 siang, 1 jam menuju breakfast gw

Hani Rosidaini

PS: Oiya. Stop normalisasi omongan orang yang kalo lihat bapak-bapak buncit, bilang itu tanda keluarganya bahagia. Bullsh*t. Malah jadi toxic positivity. Jadi gendut dan buncit adalah tanda lu gak terawat dan gak merawat diri. Teman yang baik akan ngingetin untuk workout, kecuali lu punya isu kesehatan tertentu.

Gw Butuh 15 Milyar!

Komik bikinan mas suamik yang gak sengaja gw lihat di Kindle Scribe-nya

Belakangan mas suamik makin sering bilang pengen berhenti kerja. Awalnya gw pikir enteng aja “mungkin lagi capek, nanti juga hilang sendiri”. Lagian, kerjaan apa sih yang gak bikin capek? Tapi makin lama, omongan terus menerus tentu bikin gw jadi kepikiran juga. Beberapa hal yang perlu dicatat;

  1. Ini bukan artinya dia betul-betul gak mau kerja sama sekali, tapi dia pengen kerjaan yang gak ngasih tekanan sebegitunya. Preferensinya: cari proyekan riset yang kasual, atau sebenernya sih (yang gw pahami) dia pengen banget jadi pembelajar, penulis, belajar, lalu menulis, share ilmunya ke orang-orang, yang bisa juga lewat medium video. Concern-nya: kami (atau gw?) gak yakin dengan hasilnya (secara materil) dan sustainability-nya akan seperti apa.
  2. Selama ngantor di lembaga pemerintah, suami gw pun nyambi jadi dosen 1 hari/minggu. Jujur sih gw emang ngeliat dia sangat passionate di aktifitas ngajarnya itu. Setidaknya dilihat dari effort yang harus dia lakukan, yaitu ngelakuin perjalanan berjam-jam PP dari Sudirman Jakarta Pusat ke BSD Tangerang dalam satu hari, sambil ngajar dua kelas di tengah-tengahnya, dan seringnya sambil meeting dan kerja juga di perjalanan. Tapi dia gak pernah ngeluh soal kerjaan dia ngajar. Padahal ongkos transport-nya juga lumayan, 300 ribuan per hari PP karena pake taxi online, lebih dari jatah transport yang dikasih dari kampus. Jadi jelas dia ngajar bukan cuma untuk cari uang. Passion-nya untuk kerja di pemerintah ngabdi ke masyarakat kayaknya sama besar dengan passion-nya jadi akademisi. Tapi dari sisi tingkat kebahagiaan, kayaknya jadi akademisi less pressure, jadi bikin dia lebih hepi. So, apakah gw harus mendorong dia untuk ya udah full jadi akademisi aja? Concern-nya: istrinya ini masih belum rela dia menghasilkan uang lebih sedikit dari yang dihasilkan sekarang 😐 Dan gw pun gak yakin, apakah kalo jadi dosen tetap dia akan tetap sehepi sekarang? Mengingat kewajiban dosen yang numpuk, yang banyak dikeluhkan dosen-dosen se-Indonesia, yang katanya penuh kewajiban administratif. Setidaknya jadi dosen tidak tetap kayak sekarang tidak harus terlalu seperti itu.
  3. Karena kadang dia ngerasa yang dibutuhkan adalah break yang panjang, gw sarankan dia ambil cuti di kantor sekarang. Tapi cuti yang sesungguhnya, yaitu cut-off dari semua hal tentang pekerjaan, supaya otak bener-bener refresh dan recharge. Tapi dia bilang susah atau bahkan gak bisa. Hari libur aja masih ngurusin kerjaan. Yahh kalo yang ini gw gak tahu harus nyalahin siapa, dia atau kultur kerja di Indonesia. Pengalaman gw tinggal belajar di Ostrali dan kerja di lembaga Inggris, yang gw lihat dari orang-orang luar: mereka saatnya kerja, full konsentrasi kerja, main hp pun nggak, no distraction! Tapi saatnya libur ya libur, mau minta cuti pun tinggal nentuin tanggal karena toh jumlah hari jatah ‘leave’ adalah hak kita, dan saat ‘on-leave’ gak boleh diganggu dan bahkan gak ada orang kantor yang berani ganggu. Walaupun harus diakui, gw juga saat on leave tetep merhatiin chat dan email kantor sih. Walaupun setelah dipikir-pikir, semua itu kayaknya lebih ke mindset kita yang emang pengen tetep keep up, supaya bisa perform bagus. Gak diganggu orang kantor aja, kita yang tetep pengen update. Ya apalagi kalo di kultur Indonesia, dimana temen kantor tetep masih ada aja yang berani kontak. Kesimpulannya: mungkin memang harus stop kerja.

Memikirkan semua faktor, worst case scenario-nya adalah kami berdua gak kerja. Dilihat dari kondisi keuangan, kalo kami seterusnya harus ngandelin dari tabungan dan keuntungan investasi, mungkin masih bisa hidup, tapi pas-pasan di kota kecil atau kota “murah”. Kendalanya:

  1. Kami gak bisa cuma mikirin diri sendiri. Kalo “yang penting hidup” untuk kami berdua, mungkin bisa dari passive income aja. Tapi kenyataannya, kami masih harus support keluarga. Ngasih orang tua dan bayar kuliah adek-adek. Dan itu dari kedua sisi, dari sisi gw maupun suami. Mungkin orang bisa bilang “gak harus” kok jadi beban kami. Tapi kalo lo ngalamin sendiri jadi orang di keluarga yang dianggap “lebih lumayan” dari yang lain, lo pasti ngerti lah rasanya. Apalagi kalo dari keluarga elo itu gak sedikit yang kondisinya “masih perlu dibantu”. Rasa bahwa lo mestinya punya kemampuan lebih dan ingin bisa berkontribusi itu selalu ada. Makanya kadang gw “ngayal babu” pengen deh rasanya punya keluarga tuh berkecukupan semua. Kalo misal ada yang kaya raya pun gw gak akan minta kok. Tapi setidaknya udah gak harus saling mengkhawatirkan bisa hidup oke. Tinggal mikirin saling bersikap baik aja. Bisa gak siihh.. Ya Allah, please… Dan itu berlaku gak cuma di keluarga inti, tapi keluarga besar. Dan itu karena kondisinya kami cuma masih berdua, belum punya anak. Kalo udah punya anak, ya lebih-lebih lagi. Passive income kami kayaknya belum cukup.
  2. Ternyata nurunin standar hidup itu susah, cuy! Bahkan untuk orang kayak gw yang dulunya hidup susah. Pas udah naik level, dipaksa turun lagi, gak semudah itu juga turunnya. Kenyamanan yang udah diapet tetep pengen dipertahankan dan penolakan turun itu besar. Gw masih fine untuk gak naik, tapi gw sangat enggan untuk turun.
  3. I ENJOY TRAVELING too SOOO MUCHHH. Gw stress hidup di Jakarta, gw gak tahan sama polusi dan kondisi kotanya, tapi gw juga terlalu extrovert untuk hidup di kota kecil yang sepi. Jiwa gw juga bukan jiwa manusia yang cuma ingin menghabiskan hidup di satu tempat. Gw selalu ingin berpetualang dan datengin tempat-tempat baru di dunia ini. Rasanya hidup gw bukan cuma untuk makan tidur dan melewati hari begitu saja. Gw selalu ingin begerak, berjalan, dan mengalami banyak hal di banyak tempat.

Gw tahu semua ekspektasi gak bisa cuma dibebankan ke suami gw. Gw pun harus berusaha sendiri. Selama masih bisa kerja, gw harus kerja, harus ngehasilin duit sendiri. Suami gw menghidupi kebutuhan dasar gw. Tapi saat traveling sendiri, gw harus ngeluarin duit pribadi, begitu pun saat gw pengen ngasih ke keluarga gw. Dan karena itu semua masih pengen terus gw lakukan, gw jadi terus berpikir gw harus gimana. Kondisinya, gw juga ngerasain sih tertekannya saat kerja. Di titik ini, gw mendambakan hidup selow. Kalo kerja, pengen kerjaan yang selow. Kalo sekolah, sekolah yang selow dan gw bisa enjoy. Gw pengen selow sambil traveling keliling dunia. Dan itu bikin gw jadi berpikir: kalo gw pengen mewujudkan keinginan keliling dunia ini, tapi hasil dari passive income aja, berarti gw butuh aset berapa ya?

Tempat ter-selow di dunia yang pernah gw datengin: Svalbard

Berdasarkan pengalaman, 50 juta/bulan itu cukup. Berarti 600 juta/tahun. Kalo pake teori 4% rule (cuma ngambil 4% dari hasil investasi), berarti gw harus punya aset investasi minimal 15 milyar.

Kalo lo bertanya-tanya, hitungan 50 juta itu dari mana, ya itu dari hitungan kasar gw aja berdasarkan pengalaman gw traveling full selama 1,5 tahun, dari Indonesia sampe kutub utara. Kalo di-breakdown lagi, penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Gw gak pengen traveling ala backpacker susah. Gak harus fancy, tapi jangan terlalu budget. Apalagi gw cewek berkerudung, gw gak bisa ngemper dimana aja, dan gw juga gak mau makan minim nutrisi.
  2. Gw ngambil hitungan dari batas bawah tempat termahal. Kalo lo lagi traveling di wilayah Asia Tenggara, ya mungkin gak butuh 50 juta/bulan, tapi gw ngambil dari standar hidup minimal di kota-kota kayak London, New York, Tokyo, dll. Dengan 50 juta/bulan, bisa hidup oke. Kalo surplus, ya bisa diinvestasiin lagi duitnya.
  3. 50 juta/bulan itu termasuk alokasi budget untuk transportasi pesawat. Kalo mau tiap bulan pindah negara, biaya transportasi bisa tinggi. Apalagi kalo di tengah-tengahnya mesti pulang ke Indonesia dulu urus visa, pasti jadi mahal. Nasib punya passpor lemah, hufft~
  4. Traveling itu bukan cuma tentang diem di kamar. Pengeluaran terbesar saat traveling jelas adalah pesawat dan akomodasi. Mungkin lo mikir abis itu tinggal mikirin makan, lalu udah. Tapi masalahnya, lo pasti pengen eksperimen banyak hal, termasuk atraksi-atraksi di kota tersebut. Jadi harus diperhitungkan juga biayanya. Misal: pas di Dubai pengen skydiving. Itu 11 juta sendiri. Atau pas di Norwegia pengen ikut ekspedisi ke ghost town di Pyramiden. Itu 1 hari harus bayar 3 juta. Kalo selalu pengen jalan, ya pasti keluar uang terus.
  5. Traveling sendiri tanpa agen atau ikut tur itu sangat penuh risiko banyak pengeluaran tak terduga. Gw punya segudang cerita tentang ini. Intinya, uang yang keluar bisa jadi jauh lebih besar dari yang seharusnya. Makanya, untuk orang-orang yang dananya ngepas, gw sih malah lebih rekomendasiin ikut tur terorganisir aja. Walau kesannya backpacking bisa lebih hemat, tapi lo gak akan pernah tahu risiko yang ada di depan. Sedangkan kalo ikut tur, semua risiko akan ditanggung pihak travel. So, gw mikirin 50 juta, karena gw ngitung nominal uang yang aman untuk ngadepin banyak risiko.
  6. Selama traveling, gw masih tetep pengen support keluarga (ngasih orang tua dan adik-adik tadi). Untuk 50 juta, kayaknya gw masih punya keleluasaan untuk itu.

Kalo lo sampai titik ini masih juga mempertanyakan asal muasalnya angka 50 juta ini, gw cuma akan bilang, Tim Ferriss pernah ngomong di bukunya: punya target kecil atau besar, effort yang kita keluarin bisa jadi sama aja. Malahan punya target tinggi itu bisa bikin kita jadi lebih termotivasi dan secara psikologis, usaha kita jadi lebih maksimal. So, aim high!

Pertanyaan riil berikutnya: Gw bisa dapet 15 milyar dari manaaaa??? Saran dari temen-temen:

  1. Nyaleg. Kendala: gw gak bakat berpolitik. Lagian nyaleg harusnya bukan untuk cari duit, bukan? Huft~
  2. Crypto. Katanya lagi bagus. Kendala: gw anggap crypto sama kayak aset lainnya. Untuk dapet passive income, ya tetep harus ada active income-nya dulu dong. Nah itu dari mana?
  3. Jadi buzzer politik. Konon Tiktoker yang nge-buzz capres pada dapet bayaran spektakuler. Kendala: udah kelewat momennya.

Yang kepikiran di gw, ya berbisnis. Tapi bisnis apa?? Bisnis itu kayak traveling sendirian, kesannya menggiurkan, tapi risikonya bisa jadi jauh lebih gede. Bukan untung, malah selalu ada risiko jadi buntung. Lagian, harus bisnis yang casual aja. Karena kalo bisnisnya harus di-maintain terus, tujuan pengen selow malah jadi gak tercapai. Berarti harus bisnis yang casual, minim karyawan, lebih bagus lagi kalo bisa dikerjain sendiri, dan bisa dari mana aja. Tapi harus yang uangnya emang gede. Utopia sekali, bukan? Tapi gw sih yakin ada. Cuma belum nemu jalannya aja ini.

Ya Allah, aku cuma minta 15 milyar. Please. Beneran deh…

Ini bikin gw jadi mikir juga, kayaknya jadi manusia itu emang harus tahu kata ‘cukup’. Bersyukur ya harus. Tapi saat lo nyari duit, setidaknya lo harus tahu titik cukupnya dimana, supaya ada target yang jelas. Kalo bahasa anak sekarang, tentuin dah target ‘bebas finansial’ lo berapa. Pasti ada orang yang bilang “ah, manusia mah gak ada puasnya”. Tapii gw percaya saat lo bisa bebas finansial, banyak beban yang akan terangkat, lo akan lebih leluasa melakukan yang lo mau, dan hal-hal selanjutnya yang dilakukan bukan lagi terlalu termotivasi oleh uang, tapi lebih ke aktualitas diri aja.

Makanya salah satu hal yang gw sesali dan sarankan ke anak-anak baru lulus: “kalo bisa sih, setelah lulus gak usah langsung bisnis sendiri lah. Pengalaman minim, masih banyak yang harus lo pelajari. Kemungkinan sukses itu ada, tapi faktor X-nya terlalu banyak untuk lo kuasai. Apalagi kalo lo bukan dari keluarga kaya, gak ada yang bisa backup lo saat kondisi sulit. Amannya cari kerja aja di perusahaan super besar, yang ngasih gaji paling besar, hidup secukupnya, belajar investasi, investasiin sebanyak mungkin uang lo, kejar bebas finansial secepatnya, abis itu baru lo bebas. Mau berbisnis pun, langkah lo akan lebih ringan, dan lo berbisnis karena lo seneng aja ngejalaninnya”. Itu kalo berkaca ke pengalaman dan perspektif gw sih, sebagai orang yang dulu nyoba berbisnis tapi ra ono modal dan dari keluarga sulit.

Yah, begitulah. Sekian racauan gw kali ini. Kalo ada ide gw harus apa untuk dapet 15 milyar, atau ada yang mau nawarin gw sesuatu, silakan komen atau kontak gw lewat apapun. Sembari itu, gw akan coba lebih banyak bertemu orang baru, berkomunitas dan bersosialisasi supaya gak mentok. Doakan. Thanks.

Senin sore di A19AG, abis makan sapo tahu seafood

Hani Rosidaini