Google Rule The World, You Have No Privacy

Haaaaalooooo…!! Hoba, hoba, hoba! Apa kabar semuanya? 😀
Lama gak ngeblog, gemes rasanya, banyak yang pengen di-share. Kebetulan kali ini lagi ada yang mentrigger untuk posting lagi, jadi mari kita cikidaw.
.
Google-lunar-x-prize-1

Private lunar rover. Courtesy Astrobotic Technology. Uh yeah, baby. We’re gonna colonize human to the moon.

Sesuai judulnya, sebenernya udah lama banget pengen nulis topik ini: Google Rule The World. Well, karena umumnya orang tau Google sebagai mesin pencari. Tapi kalo menilik jauh ke belakang bisnisnya, kok kayaknya gak abis-abis lini bisnis mereka, melingkupi hampir semua hajat di kehidupan kita, bahkan jauh di atas kehidupan standar manusia. Beberapa yang bisa disebutin diantaranya adalah, mereka punya project bikin moon rover robot untuk ke bulan (Google Lunar X Prize: lunar.xprize.org) yang bakal beneran berangkat ke bulan tahun 2015, mereka juga udah beliBoston Dynamics, institut robotik yang develop robot-robot humanoid (bostondynamics.com), merekabikin chips sendiri, mereka punya perusahaan kesehatan bernama Calico, mereka masuk ranah politik dengan develop constituteproject.org, yang ngasi fasilitas ke para penyusun konstitusi dengan cara mempesenjatai mereka berbagai tools, termasuk untuk para warga sipil biasa yang pengen membandingkan konstitusi antar negara di dunia, mereka punya perusahaan satelit, mereka produksi hardware kayak handphone Nexus, wearable-technology Google Glass, dll, segala macem yang kayaknya susah disebutin satu-satu, yaa apalagi kalo yang emang ngurusin urusan-urusan harian manusia, kayak online store dan termasuk wedding organizer (google.com/weddings/#/announce-the-news) #uhuk xP. Yaa singkatnya sih, sampe ada yang bilang, mereka tuh jadi kayak semacam “Tuhan Digital”. Fyuh~

Atlas_frontview_2013

Private lunar rover. Courtesy Astrobotic Technology. Uh yeah, baby. We’re gonna colonize human to the moon.

 

LS3-AlphaDog_web

Private lunar rover. Courtesy Astrobotic Technology. Uh yeah, baby. We’re gonna colonize human to the moon.

 

Can you guess what crossed my mind at the first time I saw all these stuffs?
“Oh God… what kind of future is coming…” X’)))

Ya, tapi balik lagi. Terlalu banyak yang bisa dibahas dari si salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia ini. Jadi apa sebenernya yang mentrigger Hani untuk nulis? Justru postingan salah satu teman  di facebook tentang apa yang sedang terjadi di sekitar daerah rumahnya. Doi posting foto ini nih, tadaaaa…

10177324_10152806945324776_2674914977283915287_n

haee :3

Mobil ini kebetulan sedang wara-wiri di daerah rumahnya di sekitar Perumahan Babakan Jeruk, Bandung. Untuk yang familiar, mungkin langsung ngeh ini mobil apa. Tapi untuk yang gak tau, ya bisa juga sih nebak dari tulisan yang ada di body mobil; “Ooohh.. ini toh Google Maps Sreet View…” (sambil ngangguk-ngangguk liat bola di atasnya). Lalu pertanyaan berikutnya, untuk apakah sebenarnya mobil ini??

Tebakan umum pertama yang keluar dari orang-orang yang liat adalah, mobil ini pasti sedang ngambil denah jalan, update peta untuk Google Maps, dan bikin versi lebih lengkapnya, karena sekarang udah bisa ditambah nampilin rumah-rumah yang dilewatin.  Sebagai orang awam juga, reaksinya ternyata bisa macem-macem, ada yang seneng karena rumahnya nongol masuk internet, ada yang nunggu kapan rumahnya dilewatin, ada yang khawatir takut pas lewat mereka lagi jemur sesuatu depan rumah, tapi ada juga yang kritis langsung antisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi.
1599465_10202878558473912_499786755709844530_o

Hasil yang bisa keluar dari pencarian melalui Google Maps.

“Wah, ketauan dong bentuk rumah kita ntar, bisa ngegampangin para maling?”, “Ini udah izin pemerintah belum ya, atau ada undang-undang-nya?”, “Emang warga sekota udah tanda tangan ngebolehin rumahnya di-shoot?”, begitulah sebagian orang yang kritis lalu peduli tentang privasinya. Sedangkan untuk sebagian yang lain: “Yaudah lah.. ini kan street view, domain public, dan juga for people good, lagian paling hanya ambil tampilan luar. Toh nantinya kita juga make layanannya”. Kira-kira begitu untuk kalangan yang pro dan agree by default. Menarik bukan?

Yang menarik adalah, seandainya saja, oh seandainya saja, kita bisa meluangkan waktu untuk mencari tau apa yang terjadi di sekitar kita, sebenarnya dengan mudah kita juga akan menemukan fakta-fakta yang menarik. Tapi mungkin rerata karakter orang kita memang ramah dan husnudzon (berprasangka baik), jadi yasudah…
Fyi, mobil ini sudah beroperasi dari sejak tahun 2007. Dan sebenarnya kalo cuma untuk bikin peta, mereka gak perlu ini. Apa untungnya ngambil tampilan depan rumah orang? Kenyataannya, privasi yang dilanggar bukan cuma soal itu, melainkan karena mobil ini juga sebenernya nyambi sebagai mobil spy, yang ngumpulin data wifi, email, dan password. Di Eropa dan kawasan lain, mobil ini sudah sangat dibatasi pergerakannya sejak 2010. Bahkan di Amerika aja, kasusnya pun masih diproses. Di tahun 2010, mereka didakwa karena mengakui memang mengcopy data-data password dan email. Perusahaan di California juga mengakui bahwa antena mobil itu men-scan jaringan wireless, termasuk wi-fi rumah, yang menghubungkan jutaan PC ke internet. Google mengintegrasikan lokasi, nama dan kode-kode identifikasi dari jutaan jaringan itu dan memasukkannya ke database mereka untuk kepentingan penjualan iklan. Jadi ya ampuun.. data-datanya itu loh.. Banyak negara yang concerned sama isu ini, sementara untuk di kita sendiri, well.. sepertinya mobil ini bisa terus menyadap dengan sedap. Bahkan kalo cari street view di negara-negara Asia Tenggara, untuk Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia aja (terakhir sih) belum ada, sedangkan untuk Indonesia ini paling lengkap. Seakan data-data pribadi kita yang mereka ambil dari smartphone kita belum cukup. Jadi, jangan heran kalo semua kebutuhan orang Indonesia nanti resepnya ada disana.
big2

Kalo settingan Android kamu ON, history kamu juga bisa diakses dan ketauan kemana aja selama ini, xixixi..

So, menurut kalian gimana? Ya memang sih, namanya juga perusahaan informasi. Dan mereka janjinya akan membenahi soal kebijakan privasi ini. (Gila ya, padahal revenue mereka udah sampe belasan trilyun dolar per tahun). Untuk yang pro dan tetap ngerasa santai, ya silakan, ini hanya memberi perspektif yang lain. Dan kalo untuk saya pribadi sih, bikin jadi pengen belajar lebih jauh aja soal si cyber security 😀

Baca komen orang-orang soal si perusahaan ini, jadi nemu kepanjangan yang cocok: GOOGLE = Grand Operation Over Gathering Largely Everything, ehe ehe ehe.. Sebagai penutup, Hani cuma pengen ngasi comic strip, salah satu favorit dari seri “SSHHH… IT HAPPENS!”-nya @ArieAre yang kayaknya agak relevan juga sama postingan kali ini:

Sekian postingan kali ini. Semoga kita akan ketemu di postingan berikutnya yang tidak terlalu lama! xD

PS: Tiba-tiba jadi kepikiran juga, istilah “Google” sama “doodle” tuh mana yang nongol duluan ya? Soalnya konsepnya sama;segala ada.

— ditulis di tengah malam menjelang pagi di kamar Jakarta, dalam kegalauan tentang asmara dan harga BBM yang baru naik jadi 8500/liter

Sumber referensi:
.
Disclosure: isi bahasan ini berawal dari postingan @ombenben di halaman facebook-nya: http://on.fb.me/1uxm4AS dan ini adalah hasil repost juga dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2014/11/google-rule-world-we-have-no-privacy.html untuk tujuan integrasi blog

Dinamika Absolut

Setelah melalui banyak peristiwa/kejadian, perubahan perasaan, sebab akibat, dan pemikiran, akhirnya gw sampai di titik ini. Titik dimana gw harus membuka diri bahwa segala sesuatunya adalah dinamis. Gak ada yang pasti, gak ada yang akan selalu sama. Statis itu bisa jadi semu. Cuma pintu dari pandangan yang belum terbuka, atau denial kita akan sesuatu.

Kali ini gw emang spesifik membicarakan hubungan antar manusia. Bagaimana orang baik gak akan selalu baik, bisa berubah gak sesuai dengan ekspektasi kita. Dan orang jahat juga bisa melakukan kebaikan, yang mungkin akan kita sangkal kalo kita emang udah ngasih cap buruk. Dan dalam konteks ini, gw punya kecenderungan yang kurang bagus. Dulu, kalo udah sebel sama orang, selalu keterusan. Apapun yang dia lakukan, bawaannya sebel aja terus, kesel, dan gak suka. Makanya kalo ada orang yang berselisih, gw gak mau ikutan. Contoh: si A sama B bermasalah. Karena emang secara objektif si B yang salah, gw bisa aja jadi ikut sebel sama si B. Tapi resikonya, pas si A sama si B baikan, bisa jadi gw sebelnya tetep. Gak banget kan? Makanya kalo urusan orang, emang bagusnya gak usah ikut jadi pikiran. Mind your own business,dude. (Jelas bukan berarti gak peduli. Tapi ala-ala psikiater aja, gak jadi urusan personal). Dannn… itu perlu latihan.

Balik lagi ke atas, semuanya dinamis. Berawal dari kekecewaan akan seorang teman, walaupun gw sangat berusaha untuk mengingat semua kebaikan dia, tapi selalu berujung pada kenyataan bahwa semua hal bisa berubah. Gak perlu kaget, heran, atau berharap berlebihan. Semua akan kembali pada penerimaan kita. Maka yang harus dibentuk adalah kesiapan menghadapi ketidakpastian. Begitupun sebaliknya. Gw harus menanamkan dalam-dalam di otak, bahwa orang yang pernah menyakiti gw, tidak secara otomatis pasti akan melakukan hal yang sama. Pikiran-pikiran negatif itu justru akan menghalangi gw untuk menerima kebaikan yang bisa dia kasih. Dan bisa sangat mengukung perasaan, terhantui oleh masa lalu.

Tetap positif, namun fleksibel. Setiap hari adalah hari yang baru. Bukan masalah, tapi fokus pada solusi. Semoga selalu bisa mengontrol diri.

Terbuka!

 

 

Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/09/resensi-buku-raditya-dika-marmut-merah.html untuk tujuan integrasi blog.

Hanya Jika Kau Mengerti

Jalan ini semakin bercabang
Senja datang membawa bimbang
Hey, jangan dulu gelap! Aku tak bawa penerang
Nanti aku berpegangan pada siapa?

Namun akhirnya awan gelap datang
Tak peduli aku yang sedang sendirian
Kulangkahkan kaki walau perlahan
Suara orang-orang berlari terdengar dari kejauhan

18/10/12
Kamar. Di malam aku mulai tidak suka Path

[Resensi Buku] Raditya Dika – Marmut Merah Jambu

8268852

Rate: 6.1/10

Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequited love – Charlie Brown

Telat banget.

Yak, mungkin emang agak telat gw ngomongin buku ini. Terbit tahun 2010, dan gw baru baca di September 2012. Padahal bisa dibilang, gw termasuk pembaca setia blognya Radit dan ngikutin semua buku dia sebelumnya. (Mungkin emang baru jodoh aja kali)

Lebih tebel dari yang lain (218 halaman), dan covernya sendiri, secara pribadi gw suka. Udah berapa tahun ya berarti sejak gw baca bukunya yang terakhir, Babi Ngesot? 3 tahun? 4 tahun? Rasanya udah lama banget. Udah agak-agak lupa detail ceritanya kayak gimana. Tapi inget gambaran umum dan kesan yang tertinggal. Hidupnya, cara pandang dia, dan cara dia nyeritain lagi ke orang lain, semuanya absurd, tapi menyenangkan =)

So, pada saat gw baca si Marmut Merah Jambu ini, sedikit banyak kayaknya gw masih bisa ngebandingin dengan 4 bukunya yang lain, dan menurut gw, cerita-cerita di buku ini, emang lebih “dalem”. Radit keliatan menggali nilai-nilai dalam kisah hidupnya yang kebetulan di edisi kali ini memang bertema besar tentang ‘jatuh cinta’. Walaupun tetap dengan gaya khasnya yang absurd dan mancing orang untuk ketawa, tapi hasil eksplorasi tadi bikin cerita-cerita yang dia sampaikan itu jadi gak shallow. (PS: Saat baca, gw lagi agak mellow)

“Dalem” yang gw maksud terutama ada di chapter-chapter awal. Cerita tentang jatuh cinta diam-diam, kelakukan orang yang terlalu suka sama kakak kelasnya, sunatan karena gebetan, semuanya adalah pengalaman pribadi yang konyol, tapi diakhiri dengan kalimat penutup yang cukup JLEB di hati.

Sayangnya, ada chapter dimana bahannya udah dipake Radit di stand-up comedy. (Ya, silakan salahkan gw yang yang bacanya baru sekarang, tapi ya jelas jadinya gak surprising dan sangat expectable).

Tapi di luar bagian itu, kita juga jadi bisa tau proses lahirnya film ‘Kambing Jantan’ (yang gokil banget, pas ngobrol sama produser berselera pasar), resiko jadi penulis absurd yang punya fans-fans absurd juga (gw sampe penasaran kejadian ini emang nyata atau agak fiksi), dan yang paling gossipable, pastinya kisah cinta dengan seorang penyanyi nasional kita, yang walaupun semua orang udah tau siapa, tapi tetep aja namanya disamarkan menjadi Shero (wuidiii… “geretan.. jadinya geregetan..”). Hehe…

Dan akhirnya halaman per halaman pun ditutup manis dengan makna dari judul buku ini sendiri.

Gw rasa, sebagai personal, Radit pasti mengalami banyak perubahan. Kesan “lebih dewasa” mau gak mau gak bisa terelakkan. Semoga dalam konteks itu, dia gak terlalu punya kekhawatiran. Karena pembaca-pembacanya pun pasti sama-sama berkembang. Walaupun dengan seiring waktu semua orang memang akan jadi lebih bijak, toh sifat ngocolnya emang udah jadi karakter dan berakar. Intinya, kalo ntar dia bikin buku yang agak serius, gw sih oke-oke aja. (Lah, siapa gw? =)))

Note: Di buku ini, ada gombalan-gombalan ‘papa kamu’. Dan mengingat ini ditulis udah lama, apakah inilah awal muasalnya? Atau memang ada yang lebih dulu mencetusnya? (Yea,yea,, what kind of things that originally original in this such global world?) #JustCurious


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/09/resensi-buku-raditya-dika-marmut-merah.html untuk tujuan integrasi blog.

[Resensi Buku] Keep Your Lights On dan Project Baru

9574718

Rate: 5,7/10

Dari covernya saja, pasti orang2 sudah bisa menebak isi buku ini. Membahas tentang ide, yang erat kaitannya dengan kontes BIA (Black Innovation Award). Digagas langsung oleh salah satu jurinya, yaitu Yoris Sebastian, dengan tujuan menjangkau pelosok2 daerah yang gak bisa disinggahi workshop pra-kompetisi.
Untuk yang memang berniat ikut, mungkin buku ini bisa dijadikan tambahan motivasi + sedikit pegangan, menjelaskan  proses seleksi, dan melihatnya dari sisi para dewan juri (mayoritas juri, selain Yoris). Tapi untuk orang umum pun, buku ini disertai pembahasan koseptual tentang ide dan inovasi, contoh2 produk yang bisa ikut menstimulasi, dan juga menyinggung tentang HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Saya membaca buku ini sebanyak dua kali. Untuk yang pertama, entah kenapa saya agak jengah, karena merasa ada terlalu banyak repetisi, terutama di bagian pendefinisian inovasi, bahwa ‘inovasi adalah sesuatu yang tidak harus selalu baru, tapi bisa saja hanya pengembangan dari yang sudah ada’. Kalimat itu diulang terus menerus entah sampai berapa kali, dengan format yang sedikit berbeda, tapi jadinya tetap membosankan. Namun anehnya, saya tidak merasa demikian lagi pada saat baca ulang.

484517_10151044551344477_521399732_n

si project baru

Mungkin ini dikarenakan oleh isi buku yang adalah gabungan dari berbagai testimoni orang-orang yang pernah jadi juri (Nicholas Saputra, Sigi Wimala, Agni Pratista,dll).
Maka itulah alasan saya untuk meresensi buku ini (padahal bacanya sih udah lama).
Pasalnya, saya sedang bergabung dengan projek pembuatan buku, bertema volunteering, yang berisi 24 kisah dari 24 volunteer. Dengan satu benang merah, namun ditulis oleh sebegitu banyak orang, apalagi dengan ketidak pastian proses editing (karena lewat self-publishing), bukan tidak mungkin di dalamnya akan banyak sekali repetisi definisi. “Volunteering adalah…”, “volunteer artinya…”. Walaupun kalimatnya bisa saja direka-reka berdasar masing2 penulis, namun secara konteks tetaplah sama. Ya… semoga saja ini bisa dihindari. Tentu dengan koordinasi dari sejak awal. Terutama buku yang bagus rasanya bukanlah yang bersifat menggurui, tapi lebih seperti berbagi, maka makna yang didapat setiap orang pasti akan berbeda, tergantung penerimaan dan pengalaman pribadi masing2 pembaca.
Doakan saja ya! 😀

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Dapet langsung dari mas Yoris.

Kembali ke buku BIA. Setelah menamatkannya hingga halaman terakhir (cuma 168 siih :p), jadi telintas beberapa hal juga di benak saya.
Yang pertama, saya jadi penasaran, apakah sudah ada atau belum produk BIA yang diproduksi masal, karena dari beberapa contoh yang dimuat, rasanya semua masih kurang familiar. Saya juga jadi penasaran tentang label ‘Best Seller’ yang ada di buku. Jujur aja, saya hanya ngasi rate 5.7, justru karena label tersebut. Ekspektasi tinggi, tapi ternyata tidak terlalu mind-blowing. Katanya sih ini buku seri kedua. Seri pertamanya sudah terbit jauh lebih dulu dan best seller juga. Berarti atau mungkin karena mayoritas materinya sudah tersedot di edisi pertama, jadi yang kedua ini sebagai tambahan saja? Ohh.. harus dibuktikan.

Selain itu, saya juga jadi berangan-angan loh tentang produk apa yang pengen saya liat di masa depan. Dan salah satunya adalah… alat yang bisa ngeliat bagian dalam tubuh dengan mudah. Mata kita bisa liat langsung setiap luka, goresan, atau apapun yang ada di permukaan kulit. Saya pengen itu bisa terjadi juga dengan setiap organ dalam tubuh saya. Langsung tau kalo2 ada yang gak beres dengan jantung, paru-paru, hati, dan itu semua jadi jauh lebih mudah dari sekarang, sesederhana kita bisa liat memar di betis.
Ide awalnya sih jelas karena penasaran sama kesehatan diri sendiri yang sebenernya. Tapi kalo disuru full medical check-up yang kayak masuk mesin scanning, kayaknya, ya gitu deeh :))


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/08/resensi-buku-dan-project-baru.html untuk tujuan integrasi blog.