
Seminggu yang lalu aku nonton film Palestine 36 di CGV Grand Indonesia, bercerita tentang awal sejarah Palestina yang dizalimi oleh Zionis. Sesuai judul, ada dialog di film itu yang memaksaku untuk lama berpikir setelahnya, yang sayangnya, karena tidak dicatat, sekarang aku jadi lupa kalimat persisnya apa :’D Ditanya ke ChatGPT pun, dia tidak tahu. Tapi kira-kira begini adegannya:
[Anak kecil perempuan sedang dinasehati neneknya di tengah kondisi desanya yang sudah banyak diteror zionis]
Grandma: “I will teach you how to use it (a weapon). But you must know you have something more powerful than the entire British empire.”
The girl: “What is it?”
Grandma: “You come from a people who fight. They may take our land, but they cannot take who we are.”
Dan kurasa, dari kalimat-kalimat neneknya itu, akhirnya tertanamlah pengertian di benak si anak bahwa dia sungguh harus jadi kuat dan terus pantang menyerah, karena dia keturunan pejuang. Bisa jadi itu pulalah yang tertanam secara kolektif di jiwa rakyat Palestina, sehingga sampai sekarang mereka masih berani melindungi tanah mereka. Kita akan lebih punya semangat juang pada saat kita tahu siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Mungkin ini juga bukan pertama kali aku atau kamu melihat adegan atau mendengar kalimat seperti itu. Tapi entah mengapa, di momen itu, interaksi si anak perempuan dan neneknya membuatku jadi berhenti sejenak untuk berpikir ulang tentang banyak hal.
- Aku jadi berefleksi ke diriku sendiri. Fun fact: di beberapa momen terendahku, yang bisa mengembalikan semangatku adalah setiap kali aku bilang ke diriku: “Hani, inget, kamu tu anak bapak!” Mungkin kalian sadar dari nama blogku atau beberapa tulisan di blog ini bahwa bapakku adalah manusia yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak merasa dibesarkan untuk jadi daddy’s little princess, tapi daddy’s little warrior, yang akhirnya kujadikan identitas blog ini. Bapakku seorang pekerja keras, banting tulang, tidak banyak bicara, tapi perjuangan dan berbagai pengorbanan dalam hidupnya bisa kusaksikan sendiri. Sehingga cukup hanya dengan mengingat bahwa aku adalah anak beliau, anak dari seseorang yang tidak mudah patah, itu sudah bisa memberikanku lecutan untuk tidak menyerah pada hidup, mengingatkanku lagi siapa aku dan dari mana aku berasal. Sepowerful itu. Selalu kusampaikan juga hal tersebut di depan keluarga besar, yang hasilnya, mereka tahu semangatku seperti apa, bahkan termasuk saat aku cedera lutut parah sampai meniskus (bantalan sendi) robek dan kondisi kakiku jadi “tidak normal” sampai sekarang, respon ibuku jadi seperti ini:
“Tidak ada anak Bapak cengeng.” Hmmm… Tapi aku jadi lanjut berpikir, “Kenapa ya itu mempan di aku?”, karena aku yakin motivasi seperti itu belum tentu mempan di orang lain. Sejauh ini, teori sementaraku adalah: kekuatan diri = pengenalan identitas + attachment/kemelekatan.
2. Di saat yang sama, ini bulan Ramadan, dan aku berinteraksi dengan anak-anak muda yang beragama Islam tapi tidak berpuasa, hanya karena malas, tidak ada uzur apa pun. Itu jadi bahan renunganku juga. Jangan-jangan mereka lemah seperti itu karena tidak mengenal diri mereka dan dari mana mereka berasal. Tidak ada kekuatan karena tidak ada identitas dan tidak ada attachment. Sebenarnya, mengujinya bisa dimulai dengan memberi mereka pertanyaan pendek: “Apa kamu tahu awal mengapa kamu diciptakan Tuhan?” Karena Allah sudah berfirman: ‘Tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (kepada-Ku)” (Q.S. Adz-Dzariyat, 56). Default setting-nya manusia seharusnya hanya untuk beribadah. Kalau kamu tidak beribadah, itu artinya kamu sedang mengingkari identitasmu sendiri yang paling sejati sebagai hamba Tuhan. Ibadah bisa jadi terasa lebih ringan kalau kita ingat siapa kita di muka bumi ini. Lagi-lagi penanaman identitas.
3. Dalam konteks yang lebih besar, mau tidak mau, film Palestina 36 juga memaksaku untuk berpikir tentang umat Islam bahwa kita harus kuat dan pintar agar bisa berdaya, tidak mudah dizalimi dan terus berkembang. Dengan menggunakan rumus yang sama, mungkin umat Islam bisa lebih kuat jika lebih mengenali identitasnya dan memiliki ikatan dengan agama dan sesama umat. Selain dalam hal perang, kita harus ingat bahwa kita adalah umat yang dulu memimpin dalam ilmu pengetahuan, yang seharusnya itu digaungkan terus sehingga kita lebih punya semangat untuk meneruskan nilai-nilai itu.
4. Kalau dalam konteks rakyat Indonesia, identitas apa ya yang harus ditanamkan? Bahwa kita juga adalah bangsa pejuang? Sepertinya rakyat Indonesia tidak kekurangan attachment terhadap negaranya, tapi semakin aku berpikir dan mengingat, semakin aku sulit menangkap identitas apa ya yang selama ini ditanamkan secara kolektif. Kisah-kisah penjajahan dulu sepertinya malah membuat Indonesia punya mental “terjajah”, melihat kaum kulit putih lebih istimewa dan pintar, sehingga sering kali merasa bahwa adanya orang-orang asing di pucuk kepemimpinan itu biasa saja. Apa identitas kita? Bahwa kita bangsa besar? Besar dalam hal apa? Jumlah penduduk? Besar di sumber daya alam yang semakin lama semakin hancur itu? Sepertinya yang paling kuat adalah identitas Pancasila, konsep “berbeda tapi satu”. Terbukti ada banyak suku, ras, dan agama, tapi negara ini masih berdiri. Tapi apa itu cukup? Dan kira-kira identitas mana ya yang membuat kita jadi bangsa koruptor? Mungkin kita harus meredefinisikan lagi itu semua, kembali ke akar-akar yang baik, lalu memperkuat identitas itu sehingga kita secara kolektif bisa menjadi negara yang lebih kuat.
Akhirnya, semua kembali tentang pengenalan identitas. Yang menariknya, setiap orang punya banyak identitas yang menempel pada dirinya. Identitas mana yang kamu pilih akan menentukan karakter dan motivasimu dalam hidup. Sejauh ini, aku sendiri memilih untuk merangkul semua identitas yang aku miliki, bahwa aku adalah hamba Tuhan yang wajib beribadah, aku juga anak bapakku yang kuat, aku adalah orang Islam yang harus pintar dan berdaya, dan aku selamanya adalah orang Indonesia. Walau banyak negeri kudatangi, dan mungkin suatu hari nanti aku bisa saja berganti kewarganegaraan, tidak akan bisa menghilangkan identitas dari mana aku berasal. Identitas adalah kekuatan, tapi akan selalu butuh proses untuk mempelajari kesemuanya.
Long live Palestine,
Hani
