KUMPULAN KODE REFERRAL LENGKAP – Honey Money Hack

Hai, gaes!

Karena gw punya banyak banget kode referral yang bisa menguntungkan aku dan kamu, jadi gw bikin postingan ini untuk mengumpulkan semuanya di satu halaman terpusat. Berikut ini adalah kode-kode referral yang bisa kamu pake, beserta syarat welcome bonus-nya jika ada. INFO BAGUS: Kalau kamu menggunakan minimal dua saja kode dari gw, kamu berhak bergabung ke grup whatsapp Honey Money Hack, di mana gw akan lebih banyak share cara-cara maksimalin cuan dari berbagai penjuru. Tinggal DM gw di akun instagram @haniwww. Salam cuan!

KODE REFERRAL APLIKASI

Ajaib atau Ajaib Alpha: hani5971663184

Aladin Bank: 7JD6TE

Allo Bank: https://alloappmgm.onelink.me/xSrn/kryecymr

Alfagift: HANI1313

Amar Bank: HANIO001

Astra Pay: E2VJAFP

AttaPoll: ONWKK https://attapoll.app/join/onwkk

Atome Card:

Bale by BTN: RSYF5708

Bank Saqu: BFJ87Y (Syarat: Harus menambahkan dana di Saku Utama paling telat 1 hari setelah membuka akun minimal Rp100.000. Pertahankan dana minimum Rp100.000 tersebut selama 7 hari agar mendapatkan reward)

BIBIT: hani10 (Syarat: investasi minimal Rp1.000.000 untuk pembelian pertama agar mendapatkan reward)

Binance: GRO_14352_XGV80 (https://www.bmwweb.net/referral/earn-together/refertoearn2000usdc/claim?hl=en&ref=GRO_14352_XGV80&utm_medium=app_share_link)

Bizhare: HRPF5P9V

BLIBLI: BLIBLIHANIQDWC

blu BCA DIGITAL: HANIO6Y3D

BNI (rekening): HANIOK105090

BNI (Kartu Kredit) Referral: 113764 (Link: Bit.ly/BNIW12) Khusus kartu kredit BNI, untuk kesempatan di-approve yang lebih besar, setelah apply, infokan aku nama lengkap kalian dan tanggal lahir, supaya bisa dicek dan minta diprioritaskan.

Citilink (LinkMiles): hanirosidaini@yahoo.co.id

Crowdana: HANIO906 https://app.crowddana.id/Nh6g/referral

DANA: b7XcTo

Deliveree: ub072dd

DepositoBPR: HR5090

F&B ID APP: ZGVLGE (SyaratL Jajan pertama minimal Rp15.000 melalui aplikasi F&B APP)

FLIP: HFAO2766 https://flip.id/s/rhfao2766 (Syarat: Bertransaksi transfer beda bank atau top-up e-wallet minimal Rp100.000)

Gotrade: 592626 https://heygotrade.com/referral?code=592626

GROWIN (Mandiri Sekuritas): MDFA21 https://join.growin.id/register?ref=MDFA21

Heymax: https://heymax.ai/?referral_code=BC5EE559 (sebisa mungkin install Heymax-nya dimulai dari link ini. Kalau prosesnya benar, kamu akan langsung dapat 200 miles)

Imperial Club: HAN875959

Indodax: haniwww

Jago BANK: HAND1E9F (Syarat dapat reward Rp50.000: Top up Rp500.000 dan transaksi QRIS Jago Rp20.000. Top up dalam 7 hari pertama registrasi, dan jaga saldo rata-rata Rp.500.000 selama 30 hari)

Jakpat: haniwww

Jiwa+ (aplikasi Janji Jiwa): HANG8Z

KLOOK: XLES4 (Syarat dapat reward Rp75.000: menyelesaikan satu pesanan)

KROM Bank: HANI2921

Kris+: F541093 (Link: https://app.krisplus.com/tpJv5RHr3Wb)

LakuEmas Elite: HANI444118

LINE BANK: SBYLB5

Livin Mandiri: https://livin.page.link/?link=https://livin.page.link/referral?c%3DMGMKF5YM3X&apn=id.bmri.livin&isi=1555414743&ibi=id.bmri.livin

LUNO: CSRPA5 (Syarat dapat reward Rp20.000: deposit dan beli kripto Rp1.500.000 dari Luno’s Instant Buy, bukan Luno Exchange)

Mega Bank Kartu Kredit: MGMHAN7488 https://msmile.onelink.me/ZTtt/mgm (Jika aplikasi kartu kreditnya disetujui, akan dapat bonus Rp150.000 MPC Points)

MAP CLUB: HAQVINR

Mobee: 164184c0 (https://mobee.onelink.me/kGn9/6amq01sn)

Motion Bank: 01HANSY29 https://motionbank.page.link/jUAEjCsbt4586Nsn8

MyValue: HANIWWW

Nex Card/Bank: 8ct9v7rl

Paxel: haniwww

Pelago: https://pel.sg/Vh8HA0

Pegadaian Digital (TRING!): TRHANIF386 (https://tring.onelink.me/rIEN/2gqk5)

Pintu: hanirosidaini033

Pluang: HANI315276

RAYA Bank: HANIOKTSPO2F

Reku: @haniwww

Revolut: https://revolut.com/referral/?referral-code=haniq4dol!FEB1-25-AR-H1

Seabank: TWPDSD (Syarat dapat reward: nabung minimal Rp50.000 dan pertahankan selama 3 hari)

Shariacoin: 78433 (https://app.shariacoin.co.id/r/78433)

Shopback: rmZMLL

Shopeepay: ZBRV8HJ9N

SOCO app: haniwww https://sociolla.app.link/haniwww-referral

Starbucks (Rewards App): HANIR-443F0E-15DBCA (Syarat: bonus minuman dengan pembelian min.50ribu)

Superbank: LNXL1M

Surveyon: Ps330765

TanamDuit: HANIO00LE2K (https://app.tanamduit.com/invite/ddFT)

Tiktok: F64DPLP6SPYXG

Tomoro Coffee: I4HE2I

Treasury: trs-651205090d1633 (https://treasury.id/pages?redirect=Register&referralCode=trs-651205090d1633)

TREVO: IIIFLR

Ultra Voucher: L7Y8P4

Watsons ID: hw8V6HlIbg

Wondr by BNI: 1owo https://referral-wondr.bni.co.id/1owo

YUP: https://finture.id/active/mgm-b/JWv07mWvro5MCiTI5jbZis8Ys34bNMEz5pWX8I1DTMXgv4vCwV%2FedhNzmHHCRiZc

Thank you!

Gw Butuh 15 Milyar!

Komik bikinan mas suamik yang gak sengaja gw lihat di Kindle Scribe-nya

Belakangan mas suamik makin sering bilang pengen berhenti kerja. Awalnya gw pikir enteng aja “mungkin lagi capek, nanti juga hilang sendiri”. Lagian, kerjaan apa sih yang gak bikin capek? Tapi makin lama, omongan terus menerus tentu bikin gw jadi kepikiran juga. Beberapa hal yang perlu dicatat;

  1. Ini bukan artinya dia betul-betul gak mau kerja sama sekali, tapi dia pengen kerjaan yang gak ngasih tekanan sebegitunya. Preferensinya: cari proyekan riset yang kasual, atau sebenernya sih (yang gw pahami) dia pengen banget jadi pembelajar, penulis, belajar, lalu menulis, share ilmunya ke orang-orang, yang bisa juga lewat medium video. Concern-nya: kami (atau gw?) gak yakin dengan hasilnya (secara materil) dan sustainability-nya akan seperti apa.
  2. Selama ngantor di lembaga pemerintah, suami gw pun nyambi jadi dosen 1 hari/minggu. Jujur sih gw emang ngeliat dia sangat passionate di aktifitas ngajarnya itu. Setidaknya dilihat dari effort yang harus dia lakukan, yaitu ngelakuin perjalanan berjam-jam PP dari Sudirman Jakarta Pusat ke BSD Tangerang dalam satu hari, sambil ngajar dua kelas di tengah-tengahnya, dan seringnya sambil meeting dan kerja juga di perjalanan. Tapi dia gak pernah ngeluh soal kerjaan dia ngajar. Padahal ongkos transport-nya juga lumayan, 300 ribuan per hari PP karena pake taxi online, lebih dari jatah transport yang dikasih dari kampus. Jadi jelas dia ngajar bukan cuma untuk cari uang. Passion-nya untuk kerja di pemerintah ngabdi ke masyarakat kayaknya sama besar dengan passion-nya jadi akademisi. Tapi dari sisi tingkat kebahagiaan, kayaknya jadi akademisi less pressure, jadi bikin dia lebih hepi. So, apakah gw harus mendorong dia untuk ya udah full jadi akademisi aja? Concern-nya: istrinya ini masih belum rela dia menghasilkan uang lebih sedikit dari yang dihasilkan sekarang 😐 Dan gw pun gak yakin, apakah kalo jadi dosen tetap dia akan tetap sehepi sekarang? Mengingat kewajiban dosen yang numpuk, yang banyak dikeluhkan dosen-dosen se-Indonesia, yang katanya penuh kewajiban administratif. Setidaknya jadi dosen tidak tetap kayak sekarang tidak harus terlalu seperti itu.
  3. Karena kadang dia ngerasa yang dibutuhkan adalah break yang panjang, gw sarankan dia ambil cuti di kantor sekarang. Tapi cuti yang sesungguhnya, yaitu cut-off dari semua hal tentang pekerjaan, supaya otak bener-bener refresh dan recharge. Tapi dia bilang susah atau bahkan gak bisa. Hari libur aja masih ngurusin kerjaan. Yahh kalo yang ini gw gak tahu harus nyalahin siapa, dia atau kultur kerja di Indonesia. Pengalaman gw tinggal belajar di Ostrali dan kerja di lembaga Inggris, yang gw lihat dari orang-orang luar: mereka saatnya kerja, full konsentrasi kerja, main hp pun nggak, no distraction! Tapi saatnya libur ya libur, mau minta cuti pun tinggal nentuin tanggal karena toh jumlah hari jatah ‘leave’ adalah hak kita, dan saat ‘on-leave’ gak boleh diganggu dan bahkan gak ada orang kantor yang berani ganggu. Walaupun harus diakui, gw juga saat on leave tetep merhatiin chat dan email kantor sih. Walaupun setelah dipikir-pikir, semua itu kayaknya lebih ke mindset kita yang emang pengen tetep keep up, supaya bisa perform bagus. Gak diganggu orang kantor aja, kita yang tetep pengen update. Ya apalagi kalo di kultur Indonesia, dimana temen kantor tetep masih ada aja yang berani kontak. Kesimpulannya: mungkin memang harus stop kerja.

Memikirkan semua faktor, worst case scenario-nya adalah kami berdua gak kerja. Dilihat dari kondisi keuangan, kalo kami seterusnya harus ngandelin dari tabungan dan keuntungan investasi, mungkin masih bisa hidup, tapi pas-pasan di kota kecil atau kota “murah”. Kendalanya:

  1. Kami gak bisa cuma mikirin diri sendiri. Kalo “yang penting hidup” untuk kami berdua, mungkin bisa dari passive income aja. Tapi kenyataannya, kami masih harus support keluarga. Ngasih orang tua dan bayar kuliah adek-adek. Dan itu dari kedua sisi, dari sisi gw maupun suami. Mungkin orang bisa bilang “gak harus” kok jadi beban kami. Tapi kalo lo ngalamin sendiri jadi orang di keluarga yang dianggap “lebih lumayan” dari yang lain, lo pasti ngerti lah rasanya. Apalagi kalo dari keluarga elo itu gak sedikit yang kondisinya “masih perlu dibantu”. Rasa bahwa lo mestinya punya kemampuan lebih dan ingin bisa berkontribusi itu selalu ada. Makanya kadang gw “ngayal babu” pengen deh rasanya punya keluarga tuh berkecukupan semua. Kalo misal ada yang kaya raya pun gw gak akan minta kok. Tapi setidaknya udah gak harus saling mengkhawatirkan bisa hidup oke. Tinggal mikirin saling bersikap baik aja. Bisa gak siihh.. Ya Allah, please… Dan itu berlaku gak cuma di keluarga inti, tapi keluarga besar. Dan itu karena kondisinya kami cuma masih berdua, belum punya anak. Kalo udah punya anak, ya lebih-lebih lagi. Passive income kami kayaknya belum cukup.
  2. Ternyata nurunin standar hidup itu susah, cuy! Bahkan untuk orang kayak gw yang dulunya hidup susah. Pas udah naik level, dipaksa turun lagi, gak semudah itu juga turunnya. Kenyamanan yang udah diapet tetep pengen dipertahankan dan penolakan turun itu besar. Gw masih fine untuk gak naik, tapi gw sangat enggan untuk turun.
  3. I ENJOY TRAVELING too SOOO MUCHHH. Gw stress hidup di Jakarta, gw gak tahan sama polusi dan kondisi kotanya, tapi gw juga terlalu extrovert untuk hidup di kota kecil yang sepi. Jiwa gw juga bukan jiwa manusia yang cuma ingin menghabiskan hidup di satu tempat. Gw selalu ingin berpetualang dan datengin tempat-tempat baru di dunia ini. Rasanya hidup gw bukan cuma untuk makan tidur dan melewati hari begitu saja. Gw selalu ingin begerak, berjalan, dan mengalami banyak hal di banyak tempat.

Gw tahu semua ekspektasi gak bisa cuma dibebankan ke suami gw. Gw pun harus berusaha sendiri. Selama masih bisa kerja, gw harus kerja, harus ngehasilin duit sendiri. Suami gw menghidupi kebutuhan dasar gw. Tapi saat traveling sendiri, gw harus ngeluarin duit pribadi, begitu pun saat gw pengen ngasih ke keluarga gw. Dan karena itu semua masih pengen terus gw lakukan, gw jadi terus berpikir gw harus gimana. Kondisinya, gw juga ngerasain sih tertekannya saat kerja. Di titik ini, gw mendambakan hidup selow. Kalo kerja, pengen kerjaan yang selow. Kalo sekolah, sekolah yang selow dan gw bisa enjoy. Gw pengen selow sambil traveling keliling dunia. Dan itu bikin gw jadi berpikir: kalo gw pengen mewujudkan keinginan keliling dunia ini, tapi hasil dari passive income aja, berarti gw butuh aset berapa ya?

Tempat ter-selow di dunia yang pernah gw datengin: Svalbard

Berdasarkan pengalaman, 50 juta/bulan itu cukup. Berarti 600 juta/tahun. Kalo pake teori 4% rule (cuma ngambil 4% dari hasil investasi), berarti gw harus punya aset investasi minimal 15 milyar.

Kalo lo bertanya-tanya, hitungan 50 juta itu dari mana, ya itu dari hitungan kasar gw aja berdasarkan pengalaman gw traveling full selama 1,5 tahun, dari Indonesia sampe kutub utara. Kalo di-breakdown lagi, penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Gw gak pengen traveling ala backpacker susah. Gak harus fancy, tapi jangan terlalu budget. Apalagi gw cewek berkerudung, gw gak bisa ngemper dimana aja, dan gw juga gak mau makan minim nutrisi.
  2. Gw ngambil hitungan dari batas bawah tempat termahal. Kalo lo lagi traveling di wilayah Asia Tenggara, ya mungkin gak butuh 50 juta/bulan, tapi gw ngambil dari standar hidup minimal di kota-kota kayak London, New York, Tokyo, dll. Dengan 50 juta/bulan, bisa hidup oke. Kalo surplus, ya bisa diinvestasiin lagi duitnya.
  3. 50 juta/bulan itu termasuk alokasi budget untuk transportasi pesawat. Kalo mau tiap bulan pindah negara, biaya transportasi bisa tinggi. Apalagi kalo di tengah-tengahnya mesti pulang ke Indonesia dulu urus visa, pasti jadi mahal. Nasib punya passpor lemah, hufft~
  4. Traveling itu bukan cuma tentang diem di kamar. Pengeluaran terbesar saat traveling jelas adalah pesawat dan akomodasi. Mungkin lo mikir abis itu tinggal mikirin makan, lalu udah. Tapi masalahnya, lo pasti pengen eksperimen banyak hal, termasuk atraksi-atraksi di kota tersebut. Jadi harus diperhitungkan juga biayanya. Misal: pas di Dubai pengen skydiving. Itu 11 juta sendiri. Atau pas di Norwegia pengen ikut ekspedisi ke ghost town di Pyramiden. Itu 1 hari harus bayar 3 juta. Kalo selalu pengen jalan, ya pasti keluar uang terus.
  5. Traveling sendiri tanpa agen atau ikut tur itu sangat penuh risiko banyak pengeluaran tak terduga. Gw punya segudang cerita tentang ini. Intinya, uang yang keluar bisa jadi jauh lebih besar dari yang seharusnya. Makanya, untuk orang-orang yang dananya ngepas, gw sih malah lebih rekomendasiin ikut tur terorganisir aja. Walau kesannya backpacking bisa lebih hemat, tapi lo gak akan pernah tahu risiko yang ada di depan. Sedangkan kalo ikut tur, semua risiko akan ditanggung pihak travel. So, gw mikirin 50 juta, karena gw ngitung nominal uang yang aman untuk ngadepin banyak risiko.
  6. Selama traveling, gw masih tetep pengen support keluarga (ngasih orang tua dan adik-adik tadi). Untuk 50 juta, kayaknya gw masih punya keleluasaan untuk itu.

Kalo lo sampai titik ini masih juga mempertanyakan asal muasalnya angka 50 juta ini, gw cuma akan bilang, Tim Ferriss pernah ngomong di bukunya: punya target kecil atau besar, effort yang kita keluarin bisa jadi sama aja. Malahan punya target tinggi itu bisa bikin kita jadi lebih termotivasi dan secara psikologis, usaha kita jadi lebih maksimal. So, aim high!

Pertanyaan riil berikutnya: Gw bisa dapet 15 milyar dari manaaaa??? Saran dari temen-temen:

  1. Nyaleg. Kendala: gw gak bakat berpolitik. Lagian nyaleg harusnya bukan untuk cari duit, bukan? Huft~
  2. Crypto. Katanya lagi bagus. Kendala: gw anggap crypto sama kayak aset lainnya. Untuk dapet passive income, ya tetep harus ada active income-nya dulu dong. Nah itu dari mana?
  3. Jadi buzzer politik. Konon Tiktoker yang nge-buzz capres pada dapet bayaran spektakuler. Kendala: udah kelewat momennya.

Yang kepikiran di gw, ya berbisnis. Tapi bisnis apa?? Bisnis itu kayak traveling sendirian, kesannya menggiurkan, tapi risikonya bisa jadi jauh lebih gede. Bukan untung, malah selalu ada risiko jadi buntung. Lagian, harus bisnis yang casual aja. Karena kalo bisnisnya harus di-maintain terus, tujuan pengen selow malah jadi gak tercapai. Berarti harus bisnis yang casual, minim karyawan, lebih bagus lagi kalo bisa dikerjain sendiri, dan bisa dari mana aja. Tapi harus yang uangnya emang gede. Utopia sekali, bukan? Tapi gw sih yakin ada. Cuma belum nemu jalannya aja ini.

Ya Allah, aku cuma minta 15 milyar. Please. Beneran deh…

Ini bikin gw jadi mikir juga, kayaknya jadi manusia itu emang harus tahu kata ‘cukup’. Bersyukur ya harus. Tapi saat lo nyari duit, setidaknya lo harus tahu titik cukupnya dimana, supaya ada target yang jelas. Kalo bahasa anak sekarang, tentuin dah target ‘bebas finansial’ lo berapa. Pasti ada orang yang bilang “ah, manusia mah gak ada puasnya”. Tapii gw percaya saat lo bisa bebas finansial, banyak beban yang akan terangkat, lo akan lebih leluasa melakukan yang lo mau, dan hal-hal selanjutnya yang dilakukan bukan lagi terlalu termotivasi oleh uang, tapi lebih ke aktualitas diri aja.

Makanya salah satu hal yang gw sesali dan sarankan ke anak-anak baru lulus: “kalo bisa sih, setelah lulus gak usah langsung bisnis sendiri lah. Pengalaman minim, masih banyak yang harus lo pelajari. Kemungkinan sukses itu ada, tapi faktor X-nya terlalu banyak untuk lo kuasai. Apalagi kalo lo bukan dari keluarga kaya, gak ada yang bisa backup lo saat kondisi sulit. Amannya cari kerja aja di perusahaan super besar, yang ngasih gaji paling besar, hidup secukupnya, belajar investasi, investasiin sebanyak mungkin uang lo, kejar bebas finansial secepatnya, abis itu baru lo bebas. Mau berbisnis pun, langkah lo akan lebih ringan, dan lo berbisnis karena lo seneng aja ngejalaninnya”. Itu kalo berkaca ke pengalaman dan perspektif gw sih, sebagai orang yang dulu nyoba berbisnis tapi ra ono modal dan dari keluarga sulit.

Yah, begitulah. Sekian racauan gw kali ini. Kalo ada ide gw harus apa untuk dapet 15 milyar, atau ada yang mau nawarin gw sesuatu, silakan komen atau kontak gw lewat apapun. Sembari itu, gw akan coba lebih banyak bertemu orang baru, berkomunitas dan bersosialisasi supaya gak mentok. Doakan. Thanks.

Senin sore di A19AG, abis makan sapo tahu seafood

Hani Rosidaini

A Year-End Note: About Living

img_2375

My midnight doodle a long long time ago. But still relevant to depict my wired brain.

I start writing this exactly on new year’s eve, with firework explosions as the back sound and friends around me. Still don’t know what to write, yet I want to jot down something to remark tonight. I still don’t get why people outside love to celebrate the new year, besides we have to change the almanac and the way we mention the date we live in. Many movies must be screened on TV now, and many festive moments people are sharing on social media. But for me, I have nothing special in these minutes toward year-end.

So let me do reveal one thing for you;
Perhaps I’m still the same me, like I used to, like I always am. Oftentimes I think that I’m a kinda person who lives with “Peter Pan syndrome” (I name it myself) in life, like a kid who never wanna grow up, and just wanna stuck at a certain age. Maybe that is what makes me not so excited about welcoming a new year and feel bitter instead. For me, getting older means entering life with more demands, and I’m not really okay with that.

But I want to understand people. Maybe they feel joy for the new hopes of their plans, or simply for the free fireworks show and public entertainment. There must be some days we can treat differently anyway. Otherwise, humans just live the same boring days over and over again.

Fortunately, I leave 2016 not so desperately. At least, there are still remarkable things that happened throughout the year: I won a competition, traveled, had business trips abroad, and got a scholarship to a cool university. Even though if we look deeper, those things were all unexpected, or were not something I planned for. On contrary, for the things that I’ve planned, I got so different results. I’ve been facing uncountable problems in business, academic matters, basic habits, and personal life. And most of them got me frustrated, even until now. Coz even when you have only good deeds on people, conflicts are somehow inevitable. And yea, I’m still single (if you do care). Some men indeed approach me, but just like in a drama, I always fall to someone that I can’t have. I remember at the last time my heart was broken (not long ago), I asked a friend, “Am I not good enough?”.. and my friend answered, “No, Hani. It’s not about being bad or good enough. It’s about compatibility. If he can’t accept you, it simply because he doesn’t think that you’re compatible for him”. And that made any sense. But ahh.. let’s get rid of this topic. I can never do anything about it, so helpless. Just promise me you will pray for me, okay? To find someone “compatible”? Meanwhile, I’ll be just dating books, as usual.

However, in the end, I know that there are still things to be grateful for, especially related to the family. I still have my supportive parents and that’s even more than just “something”. If they’re still fine, then I should be just fine, others can follow. For many times I’m not really conscious of what I’m feeling and what I’m worried about. The single thing I know is, I’m still living.

While trying to regain my focus,

In the place where I always spend NYE since years ago… a mosque