Sebagai Pecinta Buku, Ini Alasan Saya Tidak Suka Buku Motivasi

Two things I love the most: books & traveling (Photo: circa 2012)

Latar belakang: Saya ingin jadi pintar, makanya saya suka merhatiin orang pintar. Pola tingkah mereka, cara mereka berpikir, dan apa yang bisa ditiru. Dan salah satu orang yang pintar menurut saya adalah suami saya sendiri, jadi saya suka merhatiin kenapa kok kayaknya dia selalu bisa lebih pintar dari saya. Ada setidaknya dua poin yang saya dapatkan dari berinteraksi dengan dia:

1. Kadang gap antara kita dengan orang yang lebih pintar bukan ada di jumlah informasi yang dimiliki, tapi beda di kemampuan kita untuk menghubungkan antar informasi tersebut. Ini sering kali terjadi selama percakapan saya dan suami. Saat dia menjelaskan sesuatu, dia bisa menghubungkan informasi A ke B, lalu ke C, kemudian ke D, yang setelah saya telaah, semua titik informasi A-D itu bukanlah informasi baru untuk saya, tapi di kepala saya ya mereka semua tidak saling terhubung. Tapi saat dia yang menjelaskan, jadi terasa lebih komprehensif karena dia bisa menghubungkan berbagai informasi tersebut menjadi satu kesimpulan yang menjawab isu yang sedang didiskusikan. Selain titik informasi, cara membuat penghubung antara informasi pun sangatlah penting, agar jadi bentuk abstraksi yang masuk akal. Karena walau titik informasinya valid, tapi kalau penghubungnya tidak rasional, itulah yang dinamakan cocokologi. Di momen itu, saya jadi berpikir: “Wah, gila! How could I acquire that skill? To connect the dots!” Kalau suami, kayaknya ada faktor gifted juga, selain memang bacaan dia yang jauh lebih banyak. Tapi untuk membantu orang-orang kayak saya, sebenarnya ada metodologi yang bisa dipelajari, yaitu metodologi “knowledge management” seperti Zettelkasten, yang diciptakan oleh sosiolog Jerman, dan menjadi rujukan orang juga tentang bagaimana membangun “the second brain”. Ini membawa kita ke poin berikutnya, yaitu…

Rasanya beda otak saya dan suami seperti di gambar ini

2. Ilmu itu sifatnya tidak linier, tapi eksponensial. Misal: suami baca suatu buku yang saya gak baca. Dari luar, mungkin orang akan berpikir bahwa beda/gap antara saya dan dia adalah 1 buku tersebut. X-Y=1. Tapi kenyataannya, apa benar begitu? Tentu tidak. Karena dari 1 buku itu saja, apa pun informasi yang dia dapatkan, dia bisa langsung menghubungkan itu dengan informasi-informasi yang sebelumnya sudah ada di otak dia, lalu dia bisa membentuk pengetahuan baru dari situ. Seberapa banyak pengetahuan baru yang dia hasilkan, tergantung dari seberapa banyak informasi yang sebelumnya sudah ada, dan seberapa canggih dia menghubungkan antar informasi tersebut. Seperti bola salju, tapi faktor eksponennya tidak bisa dihitung pasti untuk semua orang. Jadi, walau beda jumlah buku yang dibaca mungkin cuma satu, tapi X-Y bisa sama dengan 100, atau bahkan X-Y=10.000, X-1=Y^4 atau X-1=Y^10, sesignifikan itu. Setelah menghasilkan pengetahuan baru, lalu ditambah dengan basis moral yang dimiliki, barulah dia sebagai manusia bisa melakukan suatu action sesuai dengan preferensinya.

Nah.. Apakah kamu lihat polanya? Dari awal satu informasi muncul di otak sampai akhirnya jadi satu action, idealnya itu melalui proses berpikir yang lalu digabungkan dengan kompas moral kita. Dan itu kayaknya menjawab pertanyaan kenapa saya, semakin bertambah umur, semakin tidak suka dengan buku motivasi, yaitu karena buku-buku motivasi atau semacamnya seperti men-skip proses berpikir kita. Thought process-nya manaaaa?? Saya ingat saya jadi lebih bersemangat hidup justru setelah membaca cerita Firdaus di buku Perempuan di Titik Nol, karena dari situ otak saya memproses titik-titik informasi yang masuk melalui kisahnya, lalu menghubungkan dengan informasi pengalaman saya sendiri. Motivasi apa yang didapatkan orang lain mungkin akan berbeda, tergantung pengalaman masing-masing. Tapi kita tergerak karena sudah melalui proses berpikir; itulah seni dari kemampuan otak kita. Bukan serta-merta suatu buku menyampaikan kalimat “hadapilah kerasnya hidup, karena akan ada titik terang di ujung sana”, seperti langsung loncat ke kesimpulan. Jadi, tidak harus buku motivasi yang berisi kata-kata indah penyemangat hidup, tapi juga buku-buku yang polanya langsung loncat ke kesimpulan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan, wah saya yang skip deh. Sungguhlah itu seperti buku-buku yang hanya cocok untuk orang yang malas berpikir.

Sekian renungan saya tentang buku motivasi. Tapi kalau kamu masih suka baca buku sejenis itu, ya gak apa-apa juga, daripada gak baca buku sama sekali.

Salam semangat hidup,

Hani

Nyari Jati Diri Kok Lama Banget

Traveling tetaplah cara belajar paling menyenangkan buat gw. Di Tsitsikamma National Park ini lagi belajar tentang bagaimana negara Afsel mengelola pariwisatanya.

Saat usia 20-an gw inget ada yang pernah bilang sama gw bahwa hidup manusia bisa dikategorikan per-dekade. Usia belasan anggaplah masih usia berkembang, belum dihitung dewasa. Saat menginjak usia 20-an, saatnya eksplorasi segala hal, coba apapun, “habisin jatah gagalmu”, katanya. Intinya di usia 20-an, orang ditantang untuk tidak takut mencoba, karena itu memang waktunya. Nah, di usia 30-an, mestinya udah punya gambaran apa yang mau difokuskan, waktunya leveraging, lebih bagus lagi kalau bisa akselerasi, sudah punya identitas yang jelas. Begitu menginjak 40, udah bukan lagi waktunya mencari-cari, tapi saatnya menikmati, seharusnya semua sudah stabil, ya pekerjaan, ya karir, keuangan, semuanya sudah terarah. Bahkan kalau Adriano Qalbi sering bilang: “kenapa life begins at 40? ya karena kalau umur 40 hidup lu gak jelas, seterusnya lu beneran gak akan kemana-mana”. Waw. Usia kritis sekali bukan?

Nah, masalahnya sekarang, gak kerasa gw udah di usia 30-an menuju 40, dan surprise surprise! Gw ngerasa kok gw masih belum menemukan jati diri ya? Cukup mengejutkan buat gw bahwa pencarian jati diri bisa seberliku dan sekompleks ini. Dari sisi personal, gw masih terus mempelajari diri sendiri dan bagaimana relasi dengan mahluk sekitar yang gak mudah, dan dari sisi profesional, lebih kompleks lagi, karena gw sangat generalist, interests gw banyak, dan bidang gw bisa lumayan berubah-ubah. Rencana hidup selalu terlalu dinamis, tapi karena kalau terencana pun, hidup selalu menunjukkan kejutannya. Orang-orang yang kenal gw di usia 20-an, pasti tahu kalau di periode itu gw orang bisnis banget, topiknya duit duit duit, coba wiraswasta ini itu. Sedangkan orang yang kenal gw saat usia 30-an, pasti tahunya gw orang open data, ngomongin anti korupsi, integrasi data, kebijakan data, dan hal-hal terkait itu. Lantas, gw ini sebenernya mau jadi apa? Kemarin anti korupsi, sekarang interest gw nambah lagi ke AI policy, yang ternyata butuh learning curve baru lagi. Sering gw mumet sendiri, “mestinya gw ini gimana sih?”.

Setelah sekian lama gw bergumul dengan kebingungan ini, pada akhirnya, gw berusaha berdamai. Gw lupa kemarin gw dapat inspirasi dari mana, tapi intinya: gak apa-apa terus mencari, selama kamu masih terus berproses, dalam artian masih terus belajar, gak berhenti di satu titik dan nyaman tanpa perkembangan apapun. Gw emang bingung, tapi toh gw masih terus belajar hal-hal baru, skill gw nambah, terus baca buku, pengetahuan gw juga nambah. Jangan takut dengan kebingungan, tapi takutlah kalau kamu tidak sama sekali berkembang #azheg. Mungkin ini klise, tapi semoga bisa beresonansi dengan kamu kalau kamu juga sama seperti aku, masih terus mencari di usia yang mungkin menurut orang lain sudah tidak ideal. Kalau orang bijak bilang: “semua orang punya timeline-nya masing-masing”. Ingat, yang penting: TERUSLAH BELAJAR!

Salam #LifeLongLearning,

Hani