Pikiran Random Pekan Ini #1: Dari Tentang Nadiem, Keuangan, Sampai Tahun Baru

Funny video about Nadiem’s English. This guy obviously has a big bank of vocabulary. Hint: “hubris”.

 

Hai! Apa kabar semuanya? 😀 Mulai pekan ini gw akan mencoba untuk mendokumentasikan pikiran-pikiran random gw. Pikiran yang penting gak penting sebenernya. Tapi menarik aja kalo nanti di masa depan gw bisa lihat lagi apa yang gw pikirkan di hari ini. Dan berikut adalah beberapa hal diantaranya:

 

THOUGHTS OF THE WEEK

1. Belakangan gw suka nonton video-videonya Kemendikbud dan termasuk di dalamnya tentang sosok sang menteri baru, Nadiem Makarim. Salah satu hal tentang dia adalah: dia udah gak pake media sosial sama sekali. Ditanya alasannya kenapa, salah satunya adalah karena dia pengen punya yang namanya “kedaulatan” (yang gw artikan bebas menjadi: kemerdekaan berpikir dan bertindak tanpa banyak terdistraksi noise). Gw pikir, “wah, kata yang menarik”. Sampe gw cari bahasa Inggris-nya apa, ternyata sovereignty, kata yang juga jarang dipake sehari-hari. Lalu semakin lama semakin gw hayati si “kedaulatan” itu gw jadi semakin pengen mengamini pernyataan tersebut, bahwa kita ternyata memang butuh yang namanya kedaulatan, dimulai dari kedaulatan untuk diri sendiri.

 

2. Dimulai dari kesadaran akan kedaulatan, gw sangat berusaha meminimalisir penggunaan media sosial gw. Tidak sepenuhnya bebas memang, karena toh gw juga bisa menghasilkan banyak hal dari media sosial, termasuk menghasilkan uang. Tapi yang jelas gw sangat membatasi. Pembatasan ini akhirnya membawa pemikiran lama gw sekian tahun yang lalu (sekitar 2011?), tentang twitter terutama pada saat itu. Biasanya, tiap kali gw punya pemikiran random, gw akan share itu di akun twitter gw, karena biasanya pemikiran random gw memang hal-hal sederhana yang gw kira tidak kompleks untuk diceritakan. Tapi di sisi lain, twitter nyatanya memang membawa dampak buruk bagi kemampuan literasi, terutama karena keberadaan batas karakter. Kita jadi dipaksa menuangkan pemikiran hanya dalam 500 karakter (bahkan di tahun itu hanya 140 karakter). Batasan ini akhirnya memaksa kita berpikir sepotong-sepotong, gak cuma dalam memproduksi twit, tapi juga dalam membaca twit orang lain. Ketidakbebasan dalam menyampaikan sesuatu inilah yang akhirnya mengancam kebiasaan kita dalam menelaah sesuatu yang jauh lebih kompleks. Dan itu bisa juga berbahaya untuk keberlangsungan hidup gw, dalam belajar, membaca paper ilmiah, ataupun memproduksi tulisan. Akhirnya, sekarang gw putuskan, kalau hanya pemikiran random, daripada ditulis di twitter (atau sekarang lebih banyak diposting di instagram story), gw akan lebih memilih menuliskannya di catatan sendiri, supaya gw lebih bisa berpikir secara komprehensif dan menuliskannya dengan lebih layak.

 

3. Mahasiswa A penasaran dengan mahasiswa B, karena si mahasiswa B ini tampak pintar sekali di kelas, rajin, cepat mengerti, selalu terlihat siap dengan materi yang diajarkan karena ternyata dia memang sudah baca-baca sebelumnya. Bahkan ajaibnya, kalaupun ada tugas dadakan di malam hari dan nyatanya sulit dikerjakan, paginya si B tetap bisa datang dengan membawa tugas yang sudah dia selesaikan, entah kapan itu waktunya. Belum lagi dia selalu datang tepat waktu di kelas apapun, tidak peduli banyak dosen yang sering datang terlambat, di kelas yang dosennya tidak pernah tidak terlambat pun, dia tetap memilih untuk datang bahkan sebelum jadwal belajar dimulai. Luar biasa. Tidak ada mata kuliah yang dia payah, termasuk mata kuliah yang dianggap sangat sulit untuk hampir semua mahasiswa. Kemampuan sosialnya pun baik. “Wah, benar-benar gifted anak ini”, pikir mahasiswa A. Suatu hari akhirnya si mahasiswa A bertanya pada mahasiswa B, “kamu tu strategi belajarnya kayak apa sih? Sebenernya belajarnya kapan?”, lalu si mahasiswa B menjawab, “ya.. biasanya begitu pulang ke rumah aja, dari isya sampe capek, sekitaran jam 11 malem, atau ya kadang jam 1 pagi, karena otak gw emang ON-nya malem”. “Hmm.. sebenernya gak spesial2 amat dong ya strategi belajarnya”, pikir si mahasiswa A dalam hati. Lalu si mahasiswa A nanya lagi, “tapi, apa belajarnya bener-bener tiap hari?”, si B jawab: “Ya iya lah, gw kan full time mahasiswa, bukan part-time”. Dhuarrr!! Ternyata itu dia, pikir si A, salah satu faktor mendasar yang sangat distingtif diantara mereka berdua. Si A yang sehari-harinya memang terpaksa harus kuliah sambil bekerja, memilih mindset bahwa pekerjaannya lah yang utama, sedangkan kuliah adalah sampingan, yang diharapkan mampu mendukung pekerjaannya. Hasilnya, setiap kuliah, yang penting belajar sesuatu dan lulus, tidak pernah terlalu muluk-muluk harus dapat nilai bagus. Tapi ternyata, efek lain dari mindset itu adalah, passion kita dalam menjalankan peran jadi sangat ekstrim berbeda. Saat kita fokus satu hal, semua waktu yang kita miliki bisa kita curahkan sepenuhnya dalam hal tersebut, dan dengan ditambah kecintaan, progress kita akan meningkat terus secara eksponensial. Bangun tidur, mikirin dan ngerjain itu, lagi istirahat mikirin itu, di waktu luang berusaha ningkatin itu, lama-lama ya jadi ada hal yang kita bisa sangat mastering. Saat ada tugas mendadak pun, berusaha mendorong diri untuk mengerjakan kewajiban, karena memang hidup untuk itu. Istimewanya, saat orang menunjukkan sikap tidak baik pun (selalu datang terlambat misalnya), dia bisa tetap kuat menentukan sikap dan nilainya sendiri, tidak mau sikap orang lain menentukan apalagi merubah sikap dia. Dia tetap full-time student tanpa excuse. Wow. Just wow. Ternyata fokus dan full-time mindset itu benar-benar ekstrim signifikansinya. Bahkan jika bekerja dan kuliah di bidang yang kelihatannya sejalan pun, jika mindset full-time/part-time nya berbeda, ada prioritas yang selalu akan mengalahkan yang lain, yang biasanya berakhir tidak manis, yaitu bahwa hasil keduanya tidak maksimal atau mencapai titik optimum.

 

4. Tahun baru. Tahun 2020. Tahun ini akan jadi tahun gw banyak berpikir tentang rencana keuangan. “Bukannya tiap tahun selalu begitu, Han?”. Beda, beda aja. Pertama, gw sudah menikah. Kedua, beban beberapa tahun belakangan ini sudah semakin berkurang. Intinya di tahun ini gw lebih punya keleluasan untuk berpikir dan bertindak. Beberapa tahun belakangan memang hidup gw banyak berubah, kalau digambarkan, seperti lagi mode tiarap. Kehidupan sosial gw pun tidak bagus, dalam artian gw jarang bersosialisasi. Yang dulu sering berkomunitas, sekian tahun ini, gw tidak aktif sama sekali. Jalan santai sendiri pun jarang. Kalau mau cari kambing hitam, gw selalu menyalahkan kondisi jalanan Jakarta yang gak ramah, udara sembab, dengan polusi yang parah. Ketemu temen aja sering ogah, bukan karena gak pengen, tapi karena segala kondisi bikin sangat enggan untuk keluar rumah. Tapi tahun ini akan beda. Karena setelah gw pikir-pikir, kehidupan sosial dan rencana keuangan ternyata ada hubungannya juga, ada derived feature-nya. Apakah itu? Saat beberapa orang ditanya, “apa sih resep jadi orang kaya?”, mereka bilang “salah satunya adalah sering bergaul dengan orang kaya”. Lingkungan akan sangat mempengaruhi. Saat kamu bergaul dengan orang kaya, kalopun gak langsung kecipratan kaya, minimal kamu akan bisa belajar cara berpikir mereka dan cara mereka bersikap atas sesuatu, kamu bisa dapet info tentang banyak kesempatan, dan mungkin ekspansi pergaulan ke orang-orang kaya yang lain. Secara matematis, pergaulan juga akumulatif toh? Nah, gimana cara untuk memulainya? Ya dengan memperluas terus lingkaran pertemanan. Gak harus langsung dimulai dengan lingkaran orang kaya, tapi bisa dengan selalu menambah kenalan baru. Kenalan baru itu akan membuat grafik sosial kita juga terus meningkat, tidak hanya soal materi, tapi juga wawasan dan keluwesan menempatkan diri di banyak kondisi. Ya, akhirnya gw rencana balik jadi super extrovert lagi. Apa poin aksinya? Yaitu dengan memaksa diri keluar rumah minimal seminggu sekali (di luar urusan pekerjaan) dan kenalan dengan minimal satu orang baru. Terlalu memaksakan diri? Ah, gapapa, namanya juga target. Yang jelas karena dikejar waktu dan gw butuh banyak insights untuk mengejar gol-gol gw, effort-nya juga harus lebih. New year, new me. This year, I mean it. (PS: Dan tapi bukan berarti kalo gw temenan sm lo jadi gak tulus ya. Gw tidak mengharapkan monetisasi langsung dari pertemanan dengan siapapun, yang gw maksud adalah upgrade diri gw dengan menambah terus pengaruh yang bisa gw jadikan input. Sama halnya kayak lo pengen semangat, lalu lo nyari inspirasi dengan menghadiri seminar atau meminta saran dari ahli. Gitu.)

 

APPS OF THE WEEK

f635823d2212f8f363a2fd102d1acfc0

Notion App

Karena terpengaruh Ali Abdaal, gw jadi nyobain aplikasi Notion dan berusaha jadiin ini “OS” gw dalam merapikan kegiatan dan ide sehari-hari atau apapun dalam hidup. Karena compatibily antar device-nya juga, aplikasi ini cukup memudahkan, dan seminggu nyobain ini, gw ngerasa cocok dan manfaatnya cukup berasa. Oke lah pokoknya. Worth to try. Rekomendasi Ali memang sering match sama gw, hehe..

 

VIDEO OF THE WEEK

Karena belum pernah dipromoin di blog, video pekan ini diambil dari video lama gw yang ternyata sudah ditonton lebih dari 5000x di Youtube. Gw janji pekan depan saya posting video baru.

 

Sekali lagi, selamat tahun baru! Semoga tahun ini bisa hidup lebih sehat dan rejeki makin menggunung. Amiin.

Jakarta, 3 Januari 2020,

sambil nonton video 30 orang sudah jadi korban banjir besar Jakarta dan berdoa semoga mereka semua husnul khotimah