Obrolan Dengan Penjual Jagung

Aku suka berbicara dengan orang lain. Tapi aku paling suka berbicara dengan orang-orang yang tak punya motif dan pretensi. Tahu dari mana mereka tak punya itu? Ya, tahu saja. Mereka yang bahkan tak tahu tempat tinggalku atau dari mana aku berasal dan tidak saling follow di media sosial. Mereka yang tahu aku hanya dari saat kami bertemu. Salah satunya tukang jagung rebus di gang sebelah masjid besar di dekat apartemen tempat aku tinggal. Namanya saja aku tidak tahu. Tapi kami sering berbincang setiap kali aku membeli dagangannya setelah Maghrib kalau tidak hujan. Termasuk tadi malam.

jagungnya banyak yang muda, sesuai seleraku

Tanpa tedeng aling-aling, dia mengeluh, “Kenapa ya sekarang gak ada demo lagi?” Kata ‘lagi’ aku asumsikan merujuk pada demo besar beberapa bulan lalu, demo di hari Mens Rea Jakarta diadakan, demo bakar-bakaran yang entah apa hasilnya. Di hari demo itu, memang aku mempertanyakan kenapa dia tetap menjual jagung padahal kondisi Jakarta sedang mencekam. “Butuh uang,” katanya. Kalau diingat-ingat, iya sih, sejak hari itu, sepertinya tidak ada demo lagi yang sebesar itu. Menjawab pertanyaannya, kubilang “Kayaknya sekarang bakal susah untuk demo. Karena belum mulai aja, yang ngajakin pasti udah ditangkap duluan. Dianggap provokasi atau apalah”. “Padahal pemerintahnya kacau banget ya,” sahutnya. “Lebih ke inkompeten sih,” aku mengonfirmasi. Dari obrolan selanjutnya akhirnya terkuaklah bahwa dia sedang kesal karena BPJS (gratis)-nya dicabut. “Masih mending zaman Jokowi. Saya bisa pakai Kartu Indonesia Sehat (KIS), jadi gak bayar kalau sakit. Sekarang udah gak bisa.” “Loh, bukannya ada BPJS PBI (yang dibayarin pemerintah)?”, “Udah gak bisa, susah. Udah gak ada. Adanya MBG.” Huft, itu lagi. “Jadi sekarang bayar Rp35.000/bulan?” sambil mengangguk, dia jawab, “Iya. Makanya Prabowo mending diganti aja sama KDM.” Wow. Aku terhenyak sedikit. Tapi dari situ, aku jadi merasa dapat banyak insight:

  1. BPJS PBI sudah makin pilih-pilih?
  2. Bayar 35.000/bulan is a deal breaker
  3. Popularitas KDM setinggi itu (sambil aku mengingat bahwa tontonan orang tuaku pun di rumah didominasi video-video KDM)

Aku yang tak punya otoritas apa-apa hanya diam sambil berpikir. Yang bisa kulakukan hanya tetap membeli dagangannya, yang sebenarnya bukan hanya jagung rebus, tapi juga kacang rebus dan minuman susu jahe. Kubayar pakai QRIS sampai mesin barcode-nya berbunyi “Tring! Lima belas ribu rupiah, sudah diterima gopay”. Semestinya total belanjaanku Rp16.000, tapi si abang selalu kasih diskon karena katanya aku selalu beli susu jahe tanpa susu (kental manis). Aku berbalik pulang sambil mendoakan semoga abang penjual jagung dapat banyak rezeki dari arah mana saja, terlebih karena aku sama sekali tidak pernah melihat dia merokok.

Sambil makan jagung dan menunggu suami pulang,

Hani

Punya Aksen Bicara Ternyata Bagus di Zaman AI

Salah satu topik video Prof. Jiang yang menarik

Algoritma Youtube sekarang bisa merekomendasikan video apa saja yang dianggap akan menarik untuk kita berdasarkan histori kita menonton. Kemarin, Youtube di layar saya tiba-tiba memutar video komentar Profesor Jiang tentang perang Iran. Saya biarkan audionya berjalan sambil mengerjakan hal lain. Awalnya meyakinkan. Suaranya identik, natural, familiar. Tapi semakin lama saya mendengarkan, semakin terasa ada yang aneh: Oh, bahasa Inggrisnya terlalu sempurna! Saya langsung mengambil kendali layar, mengecek kanalnya. Benar saja: bukan kanal resmi Prof. Jiang. Saya lalu membuka kanal Predictive History untuk membandingkan. Di situlah terasa jelas perbedaannya. Prof. Jiang yang asli punya aksen khas orang non-native. Walau bahasa Inggris-nya lancar, tetap saja sering ada jeda yang acak dan pelafalannya tidak selalu sempurna. Sesekali ada kata-kata yang kadang kurang jelas terdengar. Intinya: dia punya aksen! Tapi justru itu yang meyakinkan saya bahwa video sebelumnya hanya hasil AI, karena Prof. Jiang yang asli tidak sesempurna itu.

Di momen itu, saya jadi berpikir, wah, beruntung sekali ternyata orang-orang yang memiliki aksen tertentu. Dengan banyaknya teknologi AI yang berpusat di Barat dan menggunakan bahasa Inggris, warga non-native pemilik aksen justru relatif diuntungkan dalam konteks ini. Sesuatu yang tidak umum membuat dirinya menjadi unik, yang bahkan teknologi AI kini masih belum bisa menyerupainya. Semakin pola kita tidak terbaca, semakin sulit kita dipalsukan oleh AI. Saya sendiri tidak bisa menebak di kata apa saja aksen Prof. Jiang akan muncul. Polanya acak. Jadi, di momen ini, saya menyimpulkan perfection = imperfection in the AI (generated-content) world. Inkonsistensi yang manusiawi adalah kunci.

Lantas, bagaimana kalau nanti AI sudah bisa menyerupai sampai ke detail-detail inkonsistensi manusia seperti tadi? Awalnya saya pikir solusinya adalah basis data. AI hanya bisa menyampaikan data yang sudah direkam. Selama ada data yang tidak kita publikasikan, AI peniru tetap tidak akan sempurna. Tapi setelah dipikir ulang, AI kan punya kemampuan prediksi juga, jadi sepertinya dia akan tetap bisa memprediksi data dan informasi yang belum kita sampaikan. Sekarang kesimpulan saya adalah: keaslian tetap tidak akan bisa diandalkan dari sinyal. Bukan dari suara, gaya bicara, bahkan bukan dari ketidaksempurnaan, karena semua itu pada akhirnya akan bisa ditiru. So, satu-satunya yang tersisa adalah: sumbernya. Bukan lagi “Apakah ini terdengar seperti dia?” melainkan “Apakah ini benar-benar berasal dari dia?”. Authenticity is no longer in the signal, but in the source. Itu kesimpulan saya untuk saat ini.

Sambil menunggu AS-Iran gencatan senjata,

Hani