Perfection Is Imperfection In The AI (Generated-Content) World

Salah satu topik video Prof. Jiang yang menarik

Algoritma Youtube sekarang bisa merekomendasikan video apa saja yang dianggap akan menarik untuk kita berdasarkan histori kita menonton. Kemarin, Youtube di layar saya tiba-tiba memutar video komentar Profesor Jiang tentang perang Iran. Saya biarkan audionya berjalan sambil mengerjakan hal lain. Awalnya meyakinkan. Suaranya identik, natural, familiar. Tapi semakin lama saya mendengarkan, semakin terasa ada yang aneh: Oh, bahasa Inggrisnya terlalu sempurna! Saya langsung mengambil kendali, mengecek kanalnya. Benar saja: bukan kanal resmi Prof. Jiang. Saya lalu membuka kanal Predictive History untuk membandingkan. Di situlah terasa jelas perbedaannya. Prof. Jiang yang asli punya aksen khas orang non-native. Walau bahasa Inggris-nya lancar, tetap saja sering ada jeda yang acak dan pelafalannya tidak selalu sempurna. Sesekali ada kata-kata yang kadang kurang jelas terdengar. Intinya: dia punya aksen! Tapi justru itu yang meyakinkan saya bahwa video sebelumnya hanya hasil AI, karena Prof. Jiang yang asli tidak sesempurna itu.

Di momen itu, saya jadi berpikir, wah, beruntung sekali ternyata orang-orang yang memiliki aksen tertentu. Dengan banyaknya teknologi AI yang berpusat di Barat dan menggunakan bahasa Inggris, warga non-native pemilik aksen justru relatif diuntungkan dalam konteks ini. Sesuatu yang tidak umum membuat dirinya menjadi unik, yang bahkan teknologi AI kini masih belum bisa menyerupainya. Semakin pola kita tidak terbaca, semakin sulit kita dipalsukan oleh AI. Saya sendiri tidak bisa menebak di kata apa saja aksen Prof. Jiang akan muncul. Polanya acak. Jadi, di momen ini, saya menyimpulkan perfection = imperfection in the AI (generated-content) world. Inkonsistensi yang manusiawi adalah kunci.

Lantas, bagaimana kalau nanti AI sudah bisa menyerupai sampai ke detail-detail inkonsistensi manusia seperti tadi? Awalnya saya pikir solusinya adalah basis data. AI hanya bisa menyampaikan data yang sudah direkam. Selama ada data yang tidak kita publikasikan, AI peniru tetap tidak akan sempurna. Tapi setelah dipikir ulang, AI kan punya kemampuan prediksi juga, jadi sepertinya dia akan tetap bisa memprediksi data dan informasi yang belum kita sampaikan. So, akhirnya yang tersisa hanya satu: sumbernya. Authenticity is no longer in the signal, but in the source. Itu kesimpulan saya untuk saat ini.

Sambil menunggu AS-Iran gencatan senjata,

Hani

Leave a comment