Asal Kau Tahu

Aku sedang gila-gilanya membaca

Membaca apapun yang membuat kepalaku kaya

Membaca cerita mereka yang biasa sampai istimewa

Semuanya membuat hatiku memarak karena berbeda

Mengapa mereka bisa menulis seperti itu

Tanyaku terus dengan kagum

Aku juga ingin menulis

Aku ingin seperti mereka

Menorehkan setitik tinta dalam sejarah

Memberikan ruang untuk pojok imajinasimu

Bahkan ingin membuat ideologi baru

Asal kau tahu, akupun punya semangat itu!

Sempat ku berpikir dogma membuatnya tiada

Menciptakan batas tak boleh semena-mena

Tapi kini ku hanya ingin menulis

Menulis, agar semua energi ini sampai pada muaranya.

Jakarta, 8 Agustus 2024

Sambil menelaah kata-kata Pramoedya

Review Buku Perempuan di Titik Nol: Cerita yang Ternyata Terlalu Menyayat Hati

Akhirnya menyelesaikan buku ini di perjalanan KL-Jakarta

Saat mengulas buku, setidaknya ada tiga hal utama yang selalu ingin aku bagikan: ringkasan isi, hal-hal yang menurutku menarik dari bukunya, dan hal-hal yang jadi terpikir olehku karena terstimulus dari buku tersebut. Buku yang kali ini dibahas sebenarnya bisa dibilang buku “tipis”, terjemahan bahasa Indonesia-nya saja hanya 150 halaman, tapi kesan yang ditinggalkan sebegitu dalam sampai aku ingin membuat ulasan tersendiri.

Judul internasionalnya adalah ‘Woman at Point Zero’, aslinya ditulis dan dipublikasikan dalam bahasa Arab di tahun 1977 oleh Nawal el Saadawi. Di halaman belakang buku, dijelaskan bahwa Nawal adalah penulis/sastrawan Mesir yang juga dokter dan seorang feminis. Jujur, klaim ‘feminis’ awalnya membuatku agak kurang nyaman, dan jadi punya antisipasi sendiri isi bukunya akan seperti apa. Tapi latar belakangnya sebagai seorang dokter, membuatku penasaran juga, karena jarang-jarang aku tahu ada seorang dokter yang menjadi sastrawan. (Apa di Indonesia ada sastrawan besar yang juga seorang dokter?). Belakangan aku tahu bahwa Nawal ternyata memang besar di negara-negara Arab, terkenal dengan keberaniannya, mengangkat banyak isu penting, sampai pernah ditangkap dan dipenjara di bawah pemerintahan presiden Sadat. Dia juga perempuan cemerlang, sempat menjabat direktur di bidang kesehatan, dan bahkan banyak yang mendukung dia untuk mendapatkan hadiah nobel bidang literasi. Buku Perempuan di Titik Nol hanyalah satu dari puluhan buku yang dia tulis.

Buku ini setengah biografi dan setengah memoar, karena berdasarkan kisah nyata, yang diceritakan Nawal saat dia menemui pasien di penjara kelam Kairo bernama Firdaus. Dibuka dengan cerita awal mula Nawal mengetahui seorang narapidana wanita bernama Firdaus, yang beberapa hari lagi akan dihukum mati dengan cara digantung. Baik dia maupun pembaca, pasti langsung jadi penasaran, apa sebab musabab Firdaus bisa sampai dihukum mati, apa yang telah dia lakukan, dan mengapa dia jadi sosok manusia yang sangat dingin pada hidup, sampai-sampai ditawari grasi dari presiden pun dia tidak mau. Penjelasannya akhirnya dijabarkan dengan penggambaran perjalan hidup Firdaus dari kecil hingga dewasa. Membaca cerita hidup Firdaus, membuat aku syok, karena ternyata hidupnya semenyakitkan itu. Sejak kecil, dia diperkosa paman dan temannya, tanpa dia mengerti sebenarnya apa yang terjadi, karena dia belum paham konsep seksualitas. Orang-orang yang kelihatan ingin membantu, ternyata malah membuat hidupnya semakin hancur, termasuk pamannya yang dianggap berpendidikan. Yang membuat makin sedih adalah karena Firdaus adalah anak pintar di sekolah, dan dia awalnya ingin bercita-cita tinggi. Dia “dijual” dengan cara dinikahkan dengan pria tua yang memperlakukannya tak layak, hingga akhirnya dia pun sinis dengan konsep pernikahan. Pernikahan akhirnya baginya jadi tidak lebih dari cara laki-laki memanfaatkan perempuan dengan biaya rendah. Tanpa sengaja dia pun akhirnya menjadi pelacur, dan jadi pelacur dengan tarif tinggi jadi opsi yang menurutnya lebih baik seiring perjalanan hidup. Sulit untuk menyalahkan pendapatnya, jika mengetahui kejadian demi kejadian yang dia alami. Saya sampai tidak habis pikir, bahwa ada satu malam dia di jalanan yang padahal ingin menyelamatkan diri, tapi malah dibawa dan diperkosa polisi, kembali ke jalan, lalu diperkosa lagi dan lagi oleh laki-laki yang berbeda. Jadi sulit bagi saya untuk tidak men-generalisir kaum pria di Mesir pada zaman itu. Apa isi otak kalian memang hanya itu saja??!! Berani-beraninya kalian menyebut nama Tuhan dengan kelakuan kalian yang bejat!! Saking gelap hidupnya, saya juga sampai sempat berpikir, kematian jadi tidak terlihat lebih menakutkan jika dibanding harus menjalani hidup Firdaus. Seumur hidup dia seperti tidak pernah punya pilihan. Sampai akhirnya dia bisa memilih untuk tetap dihukum mati, setidaknya jadi memberikan dia rasa kekuatan bahwa akhirnya ada satu momen dia lah yang menentukan apa yang dia mau.

Salah satu kutipan buku

Aku tidak pernah baca buku yang jenisnya seperti ini, yang berbicara lugas tentang sisi kelam hidup perempuan. Buku ini jadi membuatku berpikir tentang banyak hal. Tentunya bahwa konsep seksualitas harus diajarkan sejak dini, apa saja area pribadi tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, apalagi lawan jenis, apa itu pemerkosaan, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal yang mengancam. Buku ini juga merupakan kritik sosial tentang ketimpangan ekonomi, penyalahgunaan wewenang, betapa lemahnya posisi perempuan di lingkungan Mesir zaman itu (hingga sekarang?), hingga berbagai pertanyaan terntang moralitas. Membaca ini jadi seperti membaca esai sosial, dan mungkin karena itulah Nawal sempat dicekal, karena tulisan-tulisannya dianggap terlalu provokatif.

Buku ini diterbitkan hampir 50 tahun yang lalu, tapi rasanya masih relevan hingga sekarang. Awalnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia pada tahun 1989 untuk sama-sama belajar sesama “negara dunia ketiga”, walau pada dasarnya mereka tidak suka dengan istilah tersebut. Sesama negara bekas jajahan yang sedang berkembang, tantangannnya akan kurang lebih mirip, termasuk dalam hal nilai pandangan pada perempuan. Tapi karena Mesir masih termasuk negara Arab, pada kelanjutannya, sepertinya kedua negara memiliki progres yang berbeda. Penjelasan tujuan diterbitkannya buku ini jadi menginspirasi aku juga, bahwa sebegitu kuatnya sebuah cerita. Tidak hanya untuk kita bisa merasakan empati terhadap tokoh yang diceritakan, tapi lebih dari itu, bahkan bisa jadi bahan pembelajaran kita tentang situasi sosial suatu negara, dan bagaimana situasi tersebut bisa bertransformasi seiring zaman. Aku jadi merasakan urgensi akan selalu hadirnya cerita-cerita baru dari setiap zaman, untuk bisa merepresentasikan periode tertentu. Di zaman modern, penyampaian lewat video mungkin dianggap lebih baik karena adanya tampilan visual, didukung oleh majunya teknologi ini itu, tapi aku yakin penulisan cerita teks tetap punya kekuatan tersendiri. Perasaan yang muncul akan berbeda dan penghayatan terhadap yang terjadi bisa terasa lebih syahdu (setidaknya itulah yang aku rasakan). Maka dari itu, setelah ini, semoga aku dan kamu juga jadi lebih bersemangat untuk menulis, menangkap fenomena, dan menyampaikan nilai-nilai yang bisa dipelajari kepada banyak orang, agar cerita kita bisa sekuat cerita tentang Firdaus. Semoga.

Jakarta, 6 Agustus 2024,

dengan badan lemas setelah perjalanan satu pekan di negeri Jiran

Sejarah Mungkin Gak Menarik Sampe Akhirnya Ceritanya Nyambung Dengan Hidupmu

Gak sengaja kenalan sama negara Iran gara-gara buku ini

Di postingan blog sebelumnya, gw cerita soal buku anak yang gw suka karena ceritanya absurd. Gara-gara buku itu, gw jadi nyari buku-buku lain dari penulisnya, Marjane Satrapi, termasuk buku ini: Persepolis, yang awalnya gw gak tahu isinya tentang apa. Jujur, emang gw termasuk yang jarang ngepoin sinopsis sebelum baca satu buku, karena gw gak suka spoiler. Biasanya gw baca satu buku, itu karena penulisnya terkenal, gw suka karyanya yang lain, banyak diomongin orang, atau simply karena suka covernya aja. Isinya apa, biarkan itu jadi kejutan. Dan yang ini beneran jadi kejutan, karena ternyata si penulisnya orang cukup penting, keturunan dari kaisar lama, isinya tentang biografi dia, yang dia tulis dan gambar sendiri, nyeritain tentang revolusi Iran, dimana dia ngalamin saat Iran berubah jadi negara syiah, dan semua kekacauan yang terjadi selama periode itu. Surprising banget. Gw yang sebelumnya gak familiar sama Iran, jadi “terpaksa” berkenalan, ngikutin sejarahnya, dan anehnya gw suka. Padahal gw jarang suka sejarah. Bisa jadi yang ini karena ceritanya menarik, perspektifnya unik, gambarnya bagus, atau karena gw lagi suka aja sama Marji (panggilan Marjane Satrapi), dan pengen tahu hidupnya kayak apa sampe bisa bikin cerita anak absurd. Entah yang mana.

Isi buku ‘Perspepolis’. Gambarnya juga unik, full hitam putih, tanpa abu-abu sama sekali

Di tengah buku ini, saat cerita soal pemerintah Iran yang nangkep warganya yang pendukung komunisme, gw jadi nanya sama mas suamik, “kenapa sih orang-orang itu takut atau benci sama komunis?”. Pertanyaan yang menurut gw sederhana, tapi akhirnya mas cerita panjang lebar tentang berbagai ideologi yang ada di dunia ini, termasuk komunisme dan lain-lain, tentang perebutan kekuasaan, kenapa ada negara yang alergi terhadap ideologi tertentu, di saat negara lain biasa aja, sampai spesifik sejarah Iran yang dia tahu. Gw tiba-tiba jadi merasa terhubung dengan ceritanya. Mas suamik cerita udah hampir kayak sejarawan, karena se-passionate itu dia dengan sejarah, beda banget sama istrinya.

Dulu zaman sekolah, sejak SMP, mata pelajaran yang gw gak suka itu sejarah. Karena menurut gw membosankan, kebanyakan ngebahas periode perjuangan sebelum Indonesia merdeka, termasuk yang katanya dijajah Belanda 350 tahun (yang ternyata bohong). Padahal menurut gw saat itu, setiap hari adalah sejarah, masa lalu udah berlalu, yaudah lebih baik fokus aja jalani hari ini dan siapkan diri hadapi hari esok. Sampai barulah ketika dewasa, gw belajar ilmu data, dan gw melihat ternyata sejarah itu bisa dianalogikan seperti database (basis data), yang semakin kita banyak punya, maka bisa semakin bagus pula model prediksi yang kita bikin. Tiba-tiba gw jadi merasa sejarah itu penting. Tapi untuk ngikutin semua sejarah yang ada di muka bumi ini, tetep aja gw gak ngerasa ada urgensinya. Again, beda banget sama mas suamik yang semua sejarah dia lahap. Seringnya gw cuma cari tahu sejarah tertentu kalo itu lagi ada hubungannya sama gw, dan kadang datangnya dari hal-hal yang gak penting.

Contoh hal gak penting: Gw pengen jalan-jalan ke Cina, dan gw nanya mas suamik, gw harus ke kota apa kalo mau foto di tembok besar Cina. Dia lalu mengernyitkan dahi, dan jadi nanya ke gw, “kamu gak tahu ya tembok Cina segede apa?”. Gw menggeleng. Gw kirain tembok Cina itu ya beberapa kilometer, dari ujung gunung ke ujung gunung sebelahnya, dan jawaban itu bikin mas tepok jidat. Dia jadi cerita awal muasal tembok Cina dibangun, saat Cina ngelawan Mongolia, bahwa ternyata bangsa Mongol itu pernah jadi bangsa yang sangat kuat di dunia, pertarungannya seperti apa sampe tembok Cina dibangunnya seperti itu, dibangunnya gak ujung ke ujung, makanya tembok Cina gak semuanya terhubung, dibangun selama 2500 tahun, sampe akhirnya temboknya bisa sepanjang 21.196 km. Uwedaaann, panjang bangeeeet!! Dan istrinya nanya, tembok Cina di kota apa??? Tembok Cina ada di banyak kota, woyy! XD (walau memang yang biasa dikunjungi turis ada di spot-spot tertentu). Gw jadi sangat amazed, dan cerita mas jadi menstimulus pikiran gw ke banyak hal, seperti: Kok bisa bangsa yang dulunya superior (Mongol) sekarang jadi biasa aja? Negara mana lagi yang nasibnya kayak gitu? Apa yang bisa bikin satu bangsa jadi superior? Gimana caranya supaya negara kita bisa jadi superior di masa depan? Gw jadi kagum sama Cina dan gimana mereka bisa bangun satu hal dalam jangka panjang secara berkelanjutan (penting!). Kenapa Indonesia kok kayaknya susah punya rencana jangka panjang? Apa karena pemilu kita tiap 5 tahunan? Jadi apakah sebenarnya demokrasi dan bentuk negara republik itu bukan pilihan terbaik? Isi kepala gw jadi bercabang banyak. Keinginan gw ke tembok Cina juga jadi semakin tinggi, dan gw yakin pengalamannya akan jadi sangat berbeda karena gw udah lebih tahu tentang kenapa tembok ini keren dan layak jadi keajaiban dunia. Padahal awalnya cuma karena pertanyaan gak penting.

Panjangnya tembok Cina itu kayak jalan dari ujung barat ke ke ujung timur Pulau Jawa 17x

Contoh lain gw jadi ketarik belajar sejarah karena hal gak penting adalah saat gw kerja di NGO Inggris, yang isinya 90% orang Inggris. Suatu hari, waktu ada kasus penculikan jurnalis oleh Taliban, salah satu orang kantor gw ngetwit soal itu dan mention akun orang-orang kantor. Banyak yang di-mention, kecuali gw. Jelas itu jadi bikin gw bertanya-tanya, kenapa gw gak diajak ngobrol (di twit itu)? Lagi-lagi gw jadi nanya mas suamik, cerita Taliban itu seperti apa. Mas jadi ngejelasin awal muasal Taliban di Afganistan, yang asalnya didukung Amerika, karena Amerika gak suka Rusia berkuasa di situ, tapi akhirnya setelah Rusia pergi, Taliban jadi ambil alih kekuasaan dan ngelawan Amerika, hubungannya sama Al-qaeda seperti apa di zaman Osama bin Laden yang aslinya dari keluarga Arab kaya, sampe terjadi peristiwa WTC 9-11, yang bikin orang-orang pada sensi sama Islam, lalu dimanfaatkan pemerintah Amerika untuk invasi Iraq, lalu hubungannya dengan ISIS, yang ada di sebagian Iraq dan Syria, yang ternyata aneh beda sendiri gak jelas maunya apa dan gak beraliansi dengan siapapun, sampe kasus Taliban yang paling baru terjadi. Gw yang asalnya gak tertarik, awalnya cuma pengen mengerti ‘kenapa ya gw gak di-mention di twitter sama orang kantor gw?’, setelah dijelasin, jadi bikin gw berpikir ke hal-hal lain juga, seperti relasi keislaman dan kekuasaan, apakah pemimpin agama memang harus berkuasa, geopolitik negara-negara sekitar seperti apa, dan bagaimana sebaiknya sikap kita menghadapi itu semua. Gila, ternyata sejarah semenarik itu (kalo gw lagi tertarik).

Dunia damai tetaplah yang kudambakan

Yah, begitulah kira-kira, semoga bisa menjelaskan judul dari tulisan ini. Gw yang asalnya gak suka sejarah, sekarang berpikir bahwa mempelajari sejarah adalah ‘the art of connecting the dots’. Setiap kejadian di dunia ini adalah titik-titik. Untuk orang yang gak suka sejarah, mungkin orang itu masih ngelihat sejarah sebagai titik-titik yang sporadis. Sampe akhirnya titik itu ketemu dengan titik kejadian pada dirinya, mau gak mau dia jadi berusaha menghubungkan titik itu supaya tersambung, setidaknya tersambung dengan titik-titik yang paling dekat. Bedanya dengan sejarawan, mereka sudah bisa menghubungkan banyak titik sampe yang kelihatannya jauh. So, se-ignorant apapun, gw yakin semua orang bisa jadi suka sejarah, kalo pas lagi ada hubungannya sama hidup dia, ada benang merah atau relatability dengan dirinya. Nemu relatibility-nya gimana? Nah, itu tergantung pengalaman hidup, dan bisa juga dari buku yang kamu baca, bahkan dari buku cerita anak random absurd yang gak sengaja ketemu XD

Sebagai penutup, atas semua pengetahuan yang jadi masuk ke kepala, aku ucapkan special thanks untuk suamiku, yang seperti ChatGPT untuk sejarah (dan bidang-bidang lain), yang bahkan lebih bagus jawabnya karena on point langsung ke bagian yang bikin diri ini kepo. Terima kasih AuliaGPT! (nama suami)

Sambil planning trip ke Cina,

Hani

Gw Pengen Jadi Absurd (Lagi)

Love ini sekebon

Tadi malem gw seneeng banget, akhirnya buku yang sekian lama gw cari, ketemu judulnya apa di internet. Jadi sekian tahun lalu (sekitar belasan tahun) gw baca buku cerita anak bergambar di Gramedia, dan gw suka ceritanya. Tapi bukunya gak berujung dibeli, karena waktu itu gw masih berpikir harganya agak mahal. Tapi cerita di buku itu nempel banget di kepala gw, dan setahun belakangan keinget terus. Tapi karena gw gak tahu judulnya apa, jadi gak ketemu juga di Google. Sampe akhirnya semalem nanya ChatGPT, dan akhirnyaa, voila! Ketemuuu!! Judulnya adalah Monster Are Afraid of the Moon, karya Marjane Satrapi.

Ceritanya tentang anak yang takut gelap, karena bisa muncul monster. Bagian yang menariknya adalah saat dia lihat bulan bersinar sangat terang di langit, dia jadi kepikiran untuk ngambil gunting gede, lalu ngegunting bulan di langit itu supaya bisa dibawa ke kamar dia. Kamar dia jadi terang, tapi seluruh kota jadi gelap sampe kucing-kucing pada tabrakan. Gimana? Absurd, bukan? Tapi justru itu yang bikin gw suka!

Tangkapan layar orang yang read aloud bukunya di Youtube

Kayaknya beberapa tahun terakhir gw terlalu banyak baca buku “serius” atau secara umum ya non-fiksi. Hidup di dunia normal yang semuanya berdasarkan logika dan harus rasional. Begitu gw balik baca fiksi lagi, terutama genre fantasi (dimulai dari kemarin gw baca The Ickabog-nya J.K Rowling), gw kayak diingetin lagi kenapa gw jauh lebih suka fantasi dari dulu. Yaitu karena isinya bisa tetap bermakna, ada bobot nilai, termasuk secara moral maupun perasaan, tapi dikemas dengan cerita yang lebih membebaskan pikiran. Gimana gak bebas? Gw tiba-tiba jadi beneran ngebayangin seandainya gw bisa ngegunting bulan juga dari langit. Gw ngebayangin seandainya gw ketemu mahluk kayak Ickabog yang bentuknya beda sendiri dengan semua mahluk yang ada selama ini. Gw bisa nge-push imajinasi gw sampe ke imajinasi orang lain yang juga gak terbatas, dan itu sangat refreshing. Ada momen di masa kecil gw, saat gw sangat rajin baca fantasi, dan itu juga jadi mendorong kreatifitas gw jadi pengen bikin macem-macem. Asli, gw yakin kebiasaan membaca fantasi itu akan berdampak bagi kreatifitas. Waktu SD, gw sampe bikin buku cerita fiksi bergambar (cerita sendiri, ngegambar sendiri) dan gw jual itu ke temen-temen di kelas. 200 perak! Gw inget betul harganya. Sayangnya gw lupa ceritanya apa, dan gak ada dokumentasi sama sekali. Tapi sungguh, gw rindu kreatifitas dan imajinasi Hani yang bebas ituuu!

Gw pengen bisa kembali nulis fiksi. Seandainya kalian bilang, “ya tinggal berimajinasi lagi aja, Han. Kalo mau absurd, ya tinggal bikin cerita aneh aja”. Oh, believe me, I’ve tried. Tapi coba deh, kalian juga ngebayangin, kalo logika dan rasionalitas dienyahkan, kalian kepikiran gak mau bikin cerita apa? Apakah gampang? Aku yakin tidak. Di titik ini, gw cukup yakin imajinasi itu gak cuma datang dari langit, tapi juga lahir dari kebiasaan dan latihan. Jadi sekarang ini, gw kalo lihat penulis fiksi yang bukunya berjejer di toko buku, gw bisa “waaah, gila sih. Ni orang isi kepalanya pasti banyak banget dunia yang ada di sana. Dunia yang gak terbatas, semuanya bisa beda-beda. Seru abis”.

Lalu semua hal di atas juga jadinya membawa gw ke satu pertanyaan, “Ada apa dengan gw? Kemana imajinasi gw pergi?”. Mungkin bisa ada banyak faktornya. Dan tiba-tiba semalem gw kepikiran, “apakah dogma agama adalah salah satu penyebabnya?”. Gara-garanya adalah karena gw abis nonton serial Joko Anwar’s Nightmares & DayDreams di Netflix. Di episode 4, ada cerita tentang sosok Wahyu, manusia biasa yang tiba-tiba jadi dianggap utusan Tuhan sama penduduk kampungnya, yang akhirnya didukung oleh adegan penutup dimana Wahyu tiba-tiba bisa terbang. Reaksi gw begitu nonton itu adalah “That’s not right. That’s musyrik”. Tapi lalu suami gw bilang, “jangan bahas agama di sini. Ini kan cerita superhero”. Hmm.. Bener juga. Kenapa gw anggep dunia fiksi itu harus sejalan dengan ajaran agama gw?

Episode favorit mas suamik

Di luar dari apa sebenarnya penyebab imajinasi gw sangat jauh berkurang, yaudahlah, sekarang gw lakuin aja dulu apa yang bisa dilakuin. Gw beli buku-buku yang kayaknya bisa ngelatih gw ngebayangin hal-hal yang absurd lagi, termasuk buku tentang mahluk favorit gw (baca: naga), buku kumpulan fiksi hasil karya murid-murid SD, dan buku lainnya dari si penulis buku yang gw sebut di atas: Marjane Satrapi. Semoga seiring waktu, imajinasi gw bisa kembali, dan gw bisa membuat cerita fantasi sambil menyampaikan hal-hal yang gw resahkan dari dunia ini. Dunia normal itu membosankan. Jadilah absurd! Kembalilah absurd! Jika sudah absurd, lanjutkan! Hidup absurd!

Sambil baca buku Captain Underpants di Sabtu siang Jakarta,

Hani

Adab pada Orang yang Kehilangan Anaknya

Kejadiannya beberapa bulan yang lalu. Di satu malam, saya syok karena mendapat kabar salah satu keponakan saya (putra dari sepupu) meninggal dunia. Usianya masih 4 tahun 10 bulan, persis 2 bulan lagi mencapai ulang tahun ke-5 andai saja dia tidak berpulang. Ya bagaimana tidak syok, baru kurang dari dua hari sebelumnya dia tiba-tiba masuk rumah sakit karena demam tinggi. “DBD, kayaknya”, kata orang-orang. Tapi dalam waktu sesingkat itu, tidak mungkin kami sekeluarga siap menerima kabar duka. Saat itu juga saya yang sedang di Jakarta langsung buru-buru naik travel menuju Bandung, sampai di Bandung hampir jam 1 pagi. Saat saya sampai, jenazah sudah dimandikan, dikafani, dan ditutup oleh kain motif batik warna cokelat. Saya jadi tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali, hanya mendengar bagaimana kondisinya dari orang-orang, termasuk tangan si anak yang mengepal sampai akhir hayatnya karena menahan sakit. Iya, dua hari terakhir itu dia selalu mengerang kesakitan, satu hal yang pasti membuat semua orang tidak tega untuk melihat dirasakan seorang anak kecil. Di sampingnya ada kedua orang tuanya yang kelihatan sangat hancur. Saya sampai tidak tega untuk menyapa dan menyampaikan apapun.

Esoknya si anak dibawa ke mesjid untuk disholati keluarga dan warga sekitar. Yang memimpin sholat ghoib itu bapak-bapak yang sepertinya salah satu pengurus mesjid. Setelahnya, saya lupa bapak-bapak itu ceramah apa. Yang jelas, setelah sebagian orang bubar, bapak itu menghampiri sepupu saya sambil bicara dalam bahasa Sunda “Turut berduka. Ya semoga segera diganti dengan (anak) yang baru”. Kalimat pertama masih oke, tapi kalimat kedua membuat saya tiba-tiba cukup kesal. “Anak yang baru? Terus kalau diganti, anak pertama tergantikan, gitu?” Oh iya, keponakan saya yang meninggal adalah putra pertama dan anak satu-satunya dari sepupu saya. Jadi seharusnya terbayang seberat apa kejadian ini bagi pihak orang tua. Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal, tapi saya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai detik itu, saya saja masih berpikir harus menyampaikan apa ke sepupu saya. Tidak harus mendoakan pengampunan dosa dan masuk surga, karena anak sekecil itu sudah terjamin surganya, beda dengan kita. Akhirnya saya cuma bisa peluk sambil bilang “Nanti insya Allah pasti ketemu lagi”.

Karena kejadian itu, saya jadi berpikir, sepertinya banyak orang tidak tahu adab menghadapi orang berduka, terlebih pada orang tua yang kehilangan anaknya. Saya pernah baca tulisan seorang kawan saat dia ditinggal meninggal ibunya. Dia agak terganggu dengan perkataan para pelayat seperti “Jangan sedih terus, ya. Yang kuat”. Apa rasionalisasi mereka untuk meng-invalidasi kesedihan keluarga yang ditinggalkan? Kenapa jangan sedih? Semua orang berhak untuk merasakan dan mengolah rasa mereka sendiri. Bahkan kalimat “Turut berduka cita” saja jika tidak disampaikan dengan tepat, bisa malah melukai perasaan, karena yang ditinggalkan bisa jadi merasa “Kalian tidak mengalami ini. Jadi kalian tidak akan mengerti rasanya. Jangan bilang turut berduka, karena yang kita rasakan itu tidak sama”. Sebegitu tricky-nya kalimat yang harus kita keluarkan di momen orang berduka.

Bicara tentang kehilangan anak, saya lantas jadi teringat bahwa ibu saya pun pernah mengalami hal serupa. Di tahun 1997 kakak saya no.3 meninggal karena sakit. Saya jadi cerita ke ibu tentang kalimat bapak-bapak mesjid itu yang saya rasa kurang berkenan, dan saya tanya ibu bagaimana rasanya ditinggal anak, saat ibu sebenarnya masih punya empat anak yang lain. Kata ibu, rasanya tetap tidak tergantikan (seperti yang saya duga). Saat itu ibu sampai stress dan harus bertemu psikolog (sesuatu yang saat itu belum lazim dilakukan, apalagi oleh keluarga kami) saking beratnya. Hancurnya sampai sekarang. Ibu tidak mau sedih, tapi ibu juga tidak mau kalau harus membicarakannya lagi. “Mending gak usah dibahas”, kata ibu. Raut wajahnya langsung berubah.

Kehilangan orang yang berarti pasti berat. Menghadapi orang yang mengalaminya, kita harus punya adab. Kalau tidak mengerti betul harus bicara apa, lebih baik diam saja. Jika memang punya itikad baik, saya pikir, yang penting kita hadir, menemani, agar yang kehilangan merasa setidaknya kita ada. Saya pun masih belajar. Semoga kita semua bisa belajar juga.

Dalam kenangan penuh kasih,

Muhammad Arvino (Mar 2019 – Jan 2024)

Ogah Jadi Tua dan Jelek

poor Zac Efron

Apa kalian pernah lihat meme di atas? Dia lewat di timeline gw, and I couldn’t help saying “DAMN, THAT’S SO TRUEEEE!!!!”. Itu kejadian di gw setahun lalu, tapi untungnya ngasih dampak positif setelahnya dan sampe sekarang.

Awalnya, gw bukan orang yang terlalu memperhatikan penampilan, termasuk mempermasalahkan berat badan, ke diri sendiri maupun ke orang lain. Apalagi dulu gw ngerasa gw termasuk orang yang susah gemuk. Makan seberapa pun, badan gw tetep kecil, hampir gak pernah ngelewatin 40 kg. Sampe akhirnya pandemi mengubah segalanya. Full WFH, gak pernah keluar rumah, gak bergerak, dan pesen makanan apapun, termasuk makanan berat dan makanan manis di tengah malam, ajaib tapi nyata, BB gw naik sampe 57 kilo! Karena pada dasarnya gw gak peduli, jadi gw stay cool aja. Walaupun suami udah sering ngatain “paha kamu kayak ular cobra”, tapi gw tetep berprinsip “ah, yang penting aku hepi. Gendut kurus yang penting hepi”. Tinggal gak usah ngaca aja.

Sampe akhirnya lewat lah di linimasa gw, foto-foto temen SMA. Dan kesan pertama gw lihat foto mereka adalah: “ebuset, tua bangeettt”. Kami seumuran, tapi yang cewek udah kayak ibu-ibu banget, dan yang cowok apalagi, babeh-babeh banget, yang (you know lah) didukung sama perut buncit yang udah gak bisa disembunyiin lagi saking gedenya. Gw shock. Apa jangan-jangan gw juga udah keliatan setua itu? Aaaaaa tidaaaak~ Gw yang pada dasarnya takut sama penuaan, dibikin makin menjadi-jadi lihat mereka. Tapi ada juga temen-temen yang masih looking good, setidaknya gak keliatan tua. Dan setelah gw perhatikan, kuncinya adalah: JANGAN GENDUT. Lemak bikin badan dan muka beleber, dan itu bikin efek tua luar biasa. Ah, gw kurang beruntung. Gw kalo menggendut, yang kena pertama adalah muka, lalu sekarang yang paling membesar adalah paha (kayaknya didukung oleh gw yang lebih banyak duduk), yang setelah semakin disadari, sebenernya gw udah ngerasa cukup terganggu sama paha ini, gara-gara paha dalemnya udah terlalu besar, yang bikin akhirnya tiap gw jalan, si paha kanan kiri selalu tabrakan dan gesekan. Berawal dari situ, akhirnya gw bertekad melakukan perubahan!

Kayak semesta mendukung, tiba-tiba gw dapet email dari Bank Jago tentang promo coba gratis di gym Fithub. Gw yang gak pernah nge-gym sama sekali sebelumnya, mencoba datang, dan akhirnya malah kena sama marketingnya, langsung jadi member 6 bulan plus pake PT (personal trainer) pula untuk make alat-alat. Huft~ Sungguh keputusan yang impulsif walau sekarang tetap gw syukuri (Pengalaman nge-gym di Fithub akan gw tulis di postingan yang lain). Gw juga jadi suka nonton channel Youtube-nya Ade Rai, belajar pentingnya latihan beban, peran penting otot, ngejalanin intermitten fasting, jaga makanan, dan lebih banyak bergerak.

Bareng PT gw yang pertama (sekarang udah ganti). Pengen upload foto gw pas lagi gendut-gendutnya, tapi gak pede.

Sudah setahun berlalu, saat tulisan ini dibuat, berat badan gw baru di angka 50,7 kg, belum turun ekstrim, tapi gw merasa jauh lebih baik. Di usia sekarang, gak bisa bohong, ternyata BB emang cepet naik, tapi susah turun. Effort harus lebih gede, tapi jaga aja jangan sampe gembrot, supaya gak keliatan jelek. So, kalo ditanya apa motivasi gw berolahraga? Nomor satunya adalah: gw gak pengen jelek. Sehat adalah motivasi berikutnya. Mungkin sebagian orang akan bilang gw shallow, karena lebih peduli tampilan luar, hal yang gak esensial dibanding hal-hal dari dalam. Tapi gw rasa tiap orang berhak punya motivasinya masing-masing. Kalo kalian punya motivasi lain lagi yang berbeda, gw akan tetep dukung. Asal jangan diem aja. Tipe bentuk badan dan wajah itu nasib, penuaan juga mutlak, tapi untuk jadi fit dan gak jelek-jelek amat itu pilihan. Choose wisely!

Jam 11 siang, 1 jam menuju breakfast gw

Hani Rosidaini

PS: Oiya. Stop normalisasi omongan orang yang kalo lihat bapak-bapak buncit, bilang itu tanda keluarganya bahagia. Bullsh*t. Malah jadi toxic positivity. Jadi gendut dan buncit adalah tanda lu gak terawat dan gak merawat diri. Teman yang baik akan ngingetin untuk workout, kecuali lu punya isu kesehatan tertentu.

Gw Butuh 15 Milyar!

Komik bikinan mas suamik yang gak sengaja gw lihat di Kindle Scribe-nya

Belakangan mas suamik makin sering bilang pengen berhenti kerja. Awalnya gw pikir enteng aja “mungkin lagi capek, nanti juga hilang sendiri”. Lagian, kerjaan apa sih yang gak bikin capek? Tapi makin lama, omongan terus menerus tentu bikin gw jadi kepikiran juga. Beberapa hal yang perlu dicatat;

  1. Ini bukan artinya dia betul-betul gak mau kerja sama sekali, tapi dia pengen kerjaan yang gak ngasih tekanan sebegitunya. Preferensinya: cari proyekan riset yang kasual, atau sebenernya sih (yang gw pahami) dia pengen banget jadi pembelajar, penulis, belajar, lalu menulis, share ilmunya ke orang-orang, yang bisa juga lewat medium video. Concern-nya: kami (atau gw?) gak yakin dengan hasilnya (secara materil) dan sustainability-nya akan seperti apa.
  2. Selama ngantor di lembaga pemerintah, suami gw pun nyambi jadi dosen 1 hari/minggu. Jujur sih gw emang ngeliat dia sangat passionate di aktifitas ngajarnya itu. Setidaknya dilihat dari effort yang harus dia lakukan, yaitu ngelakuin perjalanan berjam-jam PP dari Sudirman Jakarta Pusat ke BSD Tangerang dalam satu hari, sambil ngajar dua kelas di tengah-tengahnya, dan seringnya sambil meeting dan kerja juga di perjalanan. Tapi dia gak pernah ngeluh soal kerjaan dia ngajar. Padahal ongkos transport-nya juga lumayan, 300 ribuan per hari PP karena pake taxi online, lebih dari jatah transport yang dikasih dari kampus. Jadi jelas dia ngajar bukan cuma untuk cari uang. Passion-nya untuk kerja di pemerintah ngabdi ke masyarakat kayaknya sama besar dengan passion-nya jadi akademisi. Tapi dari sisi tingkat kebahagiaan, kayaknya jadi akademisi less pressure, jadi bikin dia lebih hepi. So, apakah gw harus mendorong dia untuk ya udah full jadi akademisi aja? Concern-nya: istrinya ini masih belum rela dia menghasilkan uang lebih sedikit dari yang dihasilkan sekarang 😐 Dan gw pun gak yakin, apakah kalo jadi dosen tetap dia akan tetap sehepi sekarang? Mengingat kewajiban dosen yang numpuk, yang banyak dikeluhkan dosen-dosen se-Indonesia, yang katanya penuh kewajiban administratif. Setidaknya jadi dosen tidak tetap kayak sekarang tidak harus terlalu seperti itu.
  3. Karena kadang dia ngerasa yang dibutuhkan adalah break yang panjang, gw sarankan dia ambil cuti di kantor sekarang. Tapi cuti yang sesungguhnya, yaitu cut-off dari semua hal tentang pekerjaan, supaya otak bener-bener refresh dan recharge. Tapi dia bilang susah atau bahkan gak bisa. Hari libur aja masih ngurusin kerjaan. Yahh kalo yang ini gw gak tahu harus nyalahin siapa, dia atau kultur kerja di Indonesia. Pengalaman gw tinggal belajar di Ostrali dan kerja di lembaga Inggris, yang gw lihat dari orang-orang luar: mereka saatnya kerja, full konsentrasi kerja, main hp pun nggak, no distraction! Tapi saatnya libur ya libur, mau minta cuti pun tinggal nentuin tanggal karena toh jumlah hari jatah ‘leave’ adalah hak kita, dan saat ‘on-leave’ gak boleh diganggu dan bahkan gak ada orang kantor yang berani ganggu. Walaupun harus diakui, gw juga saat on leave tetep merhatiin chat dan email kantor sih. Walaupun setelah dipikir-pikir, semua itu kayaknya lebih ke mindset kita yang emang pengen tetep keep up, supaya bisa perform bagus. Gak diganggu orang kantor aja, kita yang tetep pengen update. Ya apalagi kalo di kultur Indonesia, dimana temen kantor tetep masih ada aja yang berani kontak. Kesimpulannya: mungkin memang harus stop kerja.

Memikirkan semua faktor, worst case scenario-nya adalah kami berdua gak kerja. Dilihat dari kondisi keuangan, kalo kami seterusnya harus ngandelin dari tabungan dan keuntungan investasi, mungkin masih bisa hidup, tapi pas-pasan di kota kecil atau kota “murah”. Kendalanya:

  1. Kami gak bisa cuma mikirin diri sendiri. Kalo “yang penting hidup” untuk kami berdua, mungkin bisa dari passive income aja. Tapi kenyataannya, kami masih harus support keluarga. Ngasih orang tua dan bayar kuliah adek-adek. Dan itu dari kedua sisi, dari sisi gw maupun suami. Mungkin orang bisa bilang “gak harus” kok jadi beban kami. Tapi kalo lo ngalamin sendiri jadi orang di keluarga yang dianggap “lebih lumayan” dari yang lain, lo pasti ngerti lah rasanya. Apalagi kalo dari keluarga elo itu gak sedikit yang kondisinya “masih perlu dibantu”. Rasa bahwa lo mestinya punya kemampuan lebih dan ingin bisa berkontribusi itu selalu ada. Makanya kadang gw “ngayal babu” pengen deh rasanya punya keluarga tuh berkecukupan semua. Kalo misal ada yang kaya raya pun gw gak akan minta kok. Tapi setidaknya udah gak harus saling mengkhawatirkan bisa hidup oke. Tinggal mikirin saling bersikap baik aja. Bisa gak siihh.. Ya Allah, please… Dan itu berlaku gak cuma di keluarga inti, tapi keluarga besar. Dan itu karena kondisinya kami cuma masih berdua, belum punya anak. Kalo udah punya anak, ya lebih-lebih lagi. Passive income kami kayaknya belum cukup.
  2. Ternyata nurunin standar hidup itu susah, cuy! Bahkan untuk orang kayak gw yang dulunya hidup susah. Pas udah naik level, dipaksa turun lagi, gak semudah itu juga turunnya. Kenyamanan yang udah diapet tetep pengen dipertahankan dan penolakan turun itu besar. Gw masih fine untuk gak naik, tapi gw sangat enggan untuk turun.
  3. I ENJOY TRAVELING too SOOO MUCHHH. Gw stress hidup di Jakarta, gw gak tahan sama polusi dan kondisi kotanya, tapi gw juga terlalu extrovert untuk hidup di kota kecil yang sepi. Jiwa gw juga bukan jiwa manusia yang cuma ingin menghabiskan hidup di satu tempat. Gw selalu ingin berpetualang dan datengin tempat-tempat baru di dunia ini. Rasanya hidup gw bukan cuma untuk makan tidur dan melewati hari begitu saja. Gw selalu ingin begerak, berjalan, dan mengalami banyak hal di banyak tempat.

Gw tahu semua ekspektasi gak bisa cuma dibebankan ke suami gw. Gw pun harus berusaha sendiri. Selama masih bisa kerja, gw harus kerja, harus ngehasilin duit sendiri. Suami gw menghidupi kebutuhan dasar gw. Tapi saat traveling sendiri, gw harus ngeluarin duit pribadi, begitu pun saat gw pengen ngasih ke keluarga gw. Dan karena itu semua masih pengen terus gw lakukan, gw jadi terus berpikir gw harus gimana. Kondisinya, gw juga ngerasain sih tertekannya saat kerja. Di titik ini, gw mendambakan hidup selow. Kalo kerja, pengen kerjaan yang selow. Kalo sekolah, sekolah yang selow dan gw bisa enjoy. Gw pengen selow sambil traveling keliling dunia. Dan itu bikin gw jadi berpikir: kalo gw pengen mewujudkan keinginan keliling dunia ini, tapi hasil dari passive income aja, berarti gw butuh aset berapa ya?

Tempat ter-selow di dunia yang pernah gw datengin: Svalbard

Berdasarkan pengalaman, 50 juta/bulan itu cukup. Berarti 600 juta/tahun. Kalo pake teori 4% rule (cuma ngambil 4% dari hasil investasi), berarti gw harus punya aset investasi minimal 15 milyar.

Kalo lo bertanya-tanya, hitungan 50 juta itu dari mana, ya itu dari hitungan kasar gw aja berdasarkan pengalaman gw traveling full selama 1,5 tahun, dari Indonesia sampe kutub utara. Kalo di-breakdown lagi, penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Gw gak pengen traveling ala backpacker susah. Gak harus fancy, tapi jangan terlalu budget. Apalagi gw cewek berkerudung, gw gak bisa ngemper dimana aja, dan gw juga gak mau makan minim nutrisi.
  2. Gw ngambil hitungan dari batas bawah tempat termahal. Kalo lo lagi traveling di wilayah Asia Tenggara, ya mungkin gak butuh 50 juta/bulan, tapi gw ngambil dari standar hidup minimal di kota-kota kayak London, New York, Tokyo, dll. Dengan 50 juta/bulan, bisa hidup oke. Kalo surplus, ya bisa diinvestasiin lagi duitnya.
  3. 50 juta/bulan itu termasuk alokasi budget untuk transportasi pesawat. Kalo mau tiap bulan pindah negara, biaya transportasi bisa tinggi. Apalagi kalo di tengah-tengahnya mesti pulang ke Indonesia dulu urus visa, pasti jadi mahal. Nasib punya passpor lemah, hufft~
  4. Traveling itu bukan cuma tentang diem di kamar. Pengeluaran terbesar saat traveling jelas adalah pesawat dan akomodasi. Mungkin lo mikir abis itu tinggal mikirin makan, lalu udah. Tapi masalahnya, lo pasti pengen eksperimen banyak hal, termasuk atraksi-atraksi di kota tersebut. Jadi harus diperhitungkan juga biayanya. Misal: pas di Dubai pengen skydiving. Itu 11 juta sendiri. Atau pas di Norwegia pengen ikut ekspedisi ke ghost town di Pyramiden. Itu 1 hari harus bayar 3 juta. Kalo selalu pengen jalan, ya pasti keluar uang terus.
  5. Traveling sendiri tanpa agen atau ikut tur itu sangat penuh risiko banyak pengeluaran tak terduga. Gw punya segudang cerita tentang ini. Intinya, uang yang keluar bisa jadi jauh lebih besar dari yang seharusnya. Makanya, untuk orang-orang yang dananya ngepas, gw sih malah lebih rekomendasiin ikut tur terorganisir aja. Walau kesannya backpacking bisa lebih hemat, tapi lo gak akan pernah tahu risiko yang ada di depan. Sedangkan kalo ikut tur, semua risiko akan ditanggung pihak travel. So, gw mikirin 50 juta, karena gw ngitung nominal uang yang aman untuk ngadepin banyak risiko.
  6. Selama traveling, gw masih tetep pengen support keluarga (ngasih orang tua dan adik-adik tadi). Untuk 50 juta, kayaknya gw masih punya keleluasaan untuk itu.

Kalo lo sampai titik ini masih juga mempertanyakan asal muasalnya angka 50 juta ini, gw cuma akan bilang, Tim Ferriss pernah ngomong di bukunya: punya target kecil atau besar, effort yang kita keluarin bisa jadi sama aja. Malahan punya target tinggi itu bisa bikin kita jadi lebih termotivasi dan secara psikologis, usaha kita jadi lebih maksimal. So, aim high!

Pertanyaan riil berikutnya: Gw bisa dapet 15 milyar dari manaaaa??? Saran dari temen-temen:

  1. Nyaleg. Kendala: gw gak bakat berpolitik. Lagian nyaleg harusnya bukan untuk cari duit, bukan? Huft~
  2. Crypto. Katanya lagi bagus. Kendala: gw anggap crypto sama kayak aset lainnya. Untuk dapet passive income, ya tetep harus ada active income-nya dulu dong. Nah itu dari mana?
  3. Jadi buzzer politik. Konon Tiktoker yang nge-buzz capres pada dapet bayaran spektakuler. Kendala: udah kelewat momennya.

Yang kepikiran di gw, ya berbisnis. Tapi bisnis apa?? Bisnis itu kayak traveling sendirian, kesannya menggiurkan, tapi risikonya bisa jadi jauh lebih gede. Bukan untung, malah selalu ada risiko jadi buntung. Lagian, harus bisnis yang casual aja. Karena kalo bisnisnya harus di-maintain terus, tujuan pengen selow malah jadi gak tercapai. Berarti harus bisnis yang casual, minim karyawan, lebih bagus lagi kalo bisa dikerjain sendiri, dan bisa dari mana aja. Tapi harus yang uangnya emang gede. Utopia sekali, bukan? Tapi gw sih yakin ada. Cuma belum nemu jalannya aja ini.

Ya Allah, aku cuma minta 15 milyar. Please. Beneran deh…

Ini bikin gw jadi mikir juga, kayaknya jadi manusia itu emang harus tahu kata ‘cukup’. Bersyukur ya harus. Tapi saat lo nyari duit, setidaknya lo harus tahu titik cukupnya dimana, supaya ada target yang jelas. Kalo bahasa anak sekarang, tentuin dah target ‘bebas finansial’ lo berapa. Pasti ada orang yang bilang “ah, manusia mah gak ada puasnya”. Tapii gw percaya saat lo bisa bebas finansial, banyak beban yang akan terangkat, lo akan lebih leluasa melakukan yang lo mau, dan hal-hal selanjutnya yang dilakukan bukan lagi terlalu termotivasi oleh uang, tapi lebih ke aktualitas diri aja.

Makanya salah satu hal yang gw sesali dan sarankan ke anak-anak baru lulus: “kalo bisa sih, setelah lulus gak usah langsung bisnis sendiri lah. Pengalaman minim, masih banyak yang harus lo pelajari. Kemungkinan sukses itu ada, tapi faktor X-nya terlalu banyak untuk lo kuasai. Apalagi kalo lo bukan dari keluarga kaya, gak ada yang bisa backup lo saat kondisi sulit. Amannya cari kerja aja di perusahaan super besar, yang ngasih gaji paling besar, hidup secukupnya, belajar investasi, investasiin sebanyak mungkin uang lo, kejar bebas finansial secepatnya, abis itu baru lo bebas. Mau berbisnis pun, langkah lo akan lebih ringan, dan lo berbisnis karena lo seneng aja ngejalaninnya”. Itu kalo berkaca ke pengalaman dan perspektif gw sih, sebagai orang yang dulu nyoba berbisnis tapi ra ono modal dan dari keluarga sulit.

Yah, begitulah. Sekian racauan gw kali ini. Kalo ada ide gw harus apa untuk dapet 15 milyar, atau ada yang mau nawarin gw sesuatu, silakan komen atau kontak gw lewat apapun. Sembari itu, gw akan coba lebih banyak bertemu orang baru, berkomunitas dan bersosialisasi supaya gak mentok. Doakan. Thanks.

Senin sore di A19AG, abis makan sapo tahu seafood

Hani Rosidaini

Dibayar Jadi Kelinci Percobaan Obat

Tenang, bukan gw yang jadi kelinci percobaannya. Walau gw juga ditawarin untuk ikutan, hahaha…

Jadi ceritanya… Sejak tinggal di Jakarta, gw jadi berkenalan dengan berbagai cara orang dapetin uang tambahan. Selain jadi endorser produk (influencer ala ala), entah gimana prosesnya, sejak sekian tahun lalu, gw juga kadang nyoba ikutan jadi responden survey riset, atau jadi peserta FGD produk yang biasa diadain oleh lembaga riset. Jadi misal nih, Rexona mau rilis produk baru, mereka akan minta para responden ini untuk nyoba produknya duluan selama masa yang ditentukan, lalu didata hasilnya bagaimana. Setelah selesai, kita dibayar sesuai perjanjian. Atau misal Traveloka, mau penelitian tentang pengguna mereka, gw diajak ikut FGD bareng pengguna-pengguna lainnya, diminta pendapat ini itu, lalu pulangnya kita dibayar. Bayarannya bervariasi. Tapi yang pernah gw ikutin sih, dari 300 ribu sampe ada yang di atas 1 juta (Walau biasanya yang di atas 1 juta sih, bukan riset yang sekali dateng, tapi riset untuk periode waktu tertentu). Banyak juga riset yang honornya di bawah 300 ribu, tapi yang kayak gitu gak pernah gw ambil. Awalnya sih gw dapet info-info itu dari grup yang suka share nyari endorser, tapi kemudian gw juga jadi join grup Whatsapp khusus orang-orang yang memang tertarik ikut riset berbayar. Long story short, setelah sekitar dua tahun gw gak pernah ikut riset, kemarin gw iseng ikutan lagi, riset produk pengharum ruangan, dan di kesempatan itu gw ketemu ibu-ibu yang penuh cerita :))

Kocaknya dunia riset berbayar ini, ada kumpulan orang yang memang kerjaannya ikutan riset terus. Kemarin gw ketemu salah satunya. Katanya sih bisa 3x seminggu, sampe anak-anaknya juga disuruh ikut riset semua. Kalo dipikir-dipikir, ya lumayan sih. Anggap aja 1x riset minimal 300 ribu, satu minggu dapet 1 juta, satu bulan total 4 juta. Belum lagi kalo pas dapet riset yang honornya lebih gede. Ikutan riset doang, yang notabene gak banyak mikir, yang penting aktif ngomong, ngasih opini, dan durasinya pun relatif sebentar. Lumayan dooonggg… Walau ya gak semudah itu juga sih, karena biasanya tiap riset, perusahaan kan nyari responden baru, yang belum pernah ikut, dan sedangkan yang sering ikut itu udah agak ditandain, jadi mereka harus pake cara ini itu lah biar tetep bisa join, xixixi :B

Gw yang awalnya dateng, niat ikut riset doang lalu pulang, kemarin di waktu nunggu, jadi “terpaksa” nimbrung ibu-ibu yang lain ngobrol, karena kok kayaknya mereka seru banget. Ternyata mereka lagi bagi-bagi link grup riset supaya kesempatan mereka ikut lebih banyak lagi. “Networking is key”, ternyata. Karena kalo gak pinter-pinter nyari link, bisa bisa dapet tawaran ikut riset dari broker, bukan langsung dari lembaga yang ngadainnya. Konsekuensinya adalah, kalo ikut riset lewat broker, honor kita bakal dipotong, ada yang motongnya Rp.50.000, 10%, 20%, bahkan katanya ada yang lebih! Ajegilee…

Tapi, kok gw malah jadi cerita panjang lebar soal riset ya? Hahaha, maap.

Yaudah, singkat cerita, di tengah obrolan itu, ada salah satu ibu-ibu yang nawarin ikut jadi peserta percobaan obat juga untuk nambah pendapatan XD. “Anggep aja selingan ikutan riset”. Ebuset. Gw kayaknya pernah denger orang jadi kelinci percobaan obat tu dari obrolannya Ebel Cobra di Tonight Show. Gw kira itu kegiatan underground, tapi ternyata itu (kayaknya) legal dan memang dianggap menghasilkan. “Lumayan, buat nambah biaya anak masuk sekolah, mpok. Lu bukannya janda sekarang?”, kata si ibu itu ke ibu yang lain (yang kayaknya udah akrab, sampe hapal mpok yang itu udah jadi janda). “Emang berapa duitnye?”. “Yang pasti di atas sejuta. Kalo screening obat mah gak ada yang di bawah sejuta. Kemarin gw ikut yang obat darah tinggi, dapet 1,7, tapi nginep 2 hari, makan obat, terus diambil darah 16x di titik beda-beda”. Gw yang dengerinnya, langsung “dheg”. 16x???? “Tapi darah dikit doang kook”. Dan ternyata si ibu satu lagi berpikir hal yang sama kayak gw “ih, gw takut ntar kenapa-kenapa klo obat gitu”. “Udaah, gak apa-apaa… Gw udah 6x ikut, baek2 aja. Kalo kayak gitu mah udah gak usah dipikirin, fokus inget duitnya ajaa $$$”. Dalam hati gw “luar biasa semangat ibu-ibu cuan ini”.

Jadi katanya, prosesnya tu, sebelum ikut percobaan, kita harus tes kesehatan dulu (dicek orang Prodia, misalnya), dibayar 50 ribu, lalu pulang ke rumah. Begitu besoknya hasil kesehatan keluar, kalo profil cocok, prosesnya berlanjut, tapi kalo nggak, yaudah, berarti cuma dapet 50 ribu. Tapi anggep aja sekalian cek kesehatan gratis. Nah, kalo berlanjut, kita akan ditempatin di satu tempat (biasanya klinik) bareng peserta uji coba yang lain, dikasih makan minum, dikasih obatnya, ditunggu tidur sampe besok harinya, lalu tes urin, tes darah, gitu gitu lah. Ada yang cuma harus nginep 1 malem, tapi ada juga yang sampe 3 malem. Wow. Yang jelas biasanya total prosesnya gak selesai dalam 1 minggu. Jadi misal, kalopun minggu ini cuma nginep satu malam, minggu depannya harus dateng lagi untuk tes lanjutan, dievaluasi dampak obatnya gimana, efektif atau nggak, ada efek samping atau nggak. Setelah diceritain panjang lebar begitu, ada ibu-ibu yang keukeuh “ah, takut ah”, tapi ada juga yang malah jadi tertarik, terutama kalo obatnya memang sesuai dengan keluhan kesehatan dia. “Kebetulan banget gw punya darah tinggi. Awur-awuran, awur-awuran dah ni badan” :))) Warbiyasak.

Lalu ibu promotor tes obat ini ngeliat gw “lw mau ikut kagak? Lumayan tauk. Eh, tapi lu kerja gak?”. Gw jawab “saya kerja”. “Oh yaudah gak usah. Lu ikut riset-riset gini aja”. Fyuh~ “Mending ikut tes obat gini tauk, daripada jadi penonton (bayaran). Udah berjam-jam, siang sampe malem, dibayar cuma 50 ribu. Walau muka-muka kayak lu sih bisa ditaro di depan, dapetnya lebih gede, 80”, kata ibu itu ngomong ke muka gw :))) Buset lah, gw hari itu ditawarin jadi kelinci percobaan obat dan jadi penonton bayaran. Begitu pulang ke rumah, gw cerita sama suami, gw diketawain ngakak. “Mereka gak tahu bayaran kamu di kantor berapa. Tapi ya bagus lah, nambah perspektif dan nambah cerita”. Yaudah, akhirnya gw tulis juga lah di sini. Biar gak cuma suami, tapi kalian juga bisa ikut ngetawain pengalaman gw yang random kemarin.

Gimana? Apa kalian tertarik ikut uji coba obat? Dan apa menurut kalian gw cocok jadi penonton bayaran? Comment down below.

Salam cuan,

Haniwww

PS: Untuk survey berbayar yang online, pernah gw tulis di sini, tapi ini lebih recehan karena bisa sambil rebahan.

Gw Feminis Gagal

Hi, there.

Ini hampir jam 2 pagi dan gw masih melek banget gara-gara minum kopi kemarin sore (sungguh keputusan yang salah). Karena bingung harus ngapain, energi berlebih, tapi males untuk olahraga jam segini, akhirnya gw putuskan untuk menyalurkan energi lewat menulis. Ngintip-ngintip kumpulan topik yang pengen ditulis dari lama, gw pilih topik ini, walaupun udah agak telat, karena sebenarnya unek-uneknya udah muncul dari sejak awal masa covid. Tapi mari lah kita bahas.

Di awal masa covid, banyak artikel seperti di atas bermunculan, dan gw jadi terpantik untuk beropini.

Intinya sih gw bingung aja sama feminis-feminis yang pengen disetarakan, tapi kalo ada kasus-kasus bagus yang dilakukan perempuan, mereka seperti over glorify itu. Kenapa harus disebutin bahwa dia adalah great woman leader? Kalo emang menuntut kesetaraan, kenapa gak bilang aja dia adalah great leader? Artinya dia setara dengan para leader lain, termasuk leader laki-laki, dan dia unggul diantara mereka. Bukan karena perempuan, tapi karena memang kapabilitasnya. Semua laki-laki ada yang hebat, ada yang nggak. Perempuan pun ya begitu, ada yang keren, tapi ada juga yang biasa aja.

Ngomongin perbedaan, perempuan dan laki-laki, buat gw analoginya sama kayak orang ngomongin suku, agama, dan atau perbedaan-perbedaan lain yang kita punya. Jadinya hanya akan membatasi dan mengkotak-kotakkan manusia. Ini jatuhnya sama aja kayak kalo ada presiden hebat yang kebetulan dia orang Jawa, maka orang akan bilang, “tuh kan, orang Jawa tuh hebat”. Padahal ya bukan semata karena presidennya itu adalah orang Jawa, tapi karena emang dia orangnya hebat aja. Kebetulan memang dia orang Jawa”. Dengan bilang orang Jawa hebat, hanya akan menimbulkan perasaan uneasy di sebagian orang non-Jawa. Padahal kita bisa aja menghargai presiden hebat dalam kacamata personal, bahwa ada kualitas dalam dirinya tanpa atribut embel-embel yang di-over glorify.

Pin yang gw dapet dari acara feminis di Adelaide, Australia

Sebagai orang yang dikasih beasiswa untuk belajar gender di Australia, dan dilatih untuk jadi feminis, opini gw di atas bikin gw khawatir kayaknya gw adalah feminis gagal. Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir gw. Tapi sampe saat ini sih, esensi yang gw dapet dari belajar gender adalah bahwa tiap karakter, termasuk perempuan dan laki-laki, memang butuh treatment yang berbeda, dan itu masih harus terus ditingkatkan. Tapi saat membicarakan kesetaraan, gw lebih memilih untuk jadi objektif tanpa glorifikasi identitas gender tersebut.

Semoga tulisan ini bisa diterima dengan hati terbuka.

Jam 02.21 pagi,

masih juga belum bisa tidur.

Review Buku ‘Good Economics for Hard Times’; Saat Dua Nobelis Membuat Buku Bersama

Akhirnya gw baca buku ini. Sebenernya udah ada di library Kindle gw dari lama, gara-gara yang nulisnya dua nobelis terkenal MIT: Esther & Abhijit. Tapi akhirnya baru gw bener-bener baca, karena gw mau ngambil kelas mereka di MIT Micromasters, yang kebetulan topiknya diambil dari buku ini, dan bahkan jadi salah satu course baru di program Micromasters berjudul sama: Good Economics for Hard Times.

Jujur, buku ini adalah “buku ekonomi” pertama gw, jadi gw gak punya preseden sebelumnya dan ekspektasi isinya akan seperti apa. Untungnya, ternyata isinya gak teknis sama sekali, gak ada persamaan-persamaan matematika, cuma ada beberapa grafik sederhana yang mudah dipahami. Topiknya membahas isu-isu global yang dianggap sangat penting (setidaknya oleh sang penulis), seperti: polarisasi yang semakin parah, migrasi, perdagangan, diskriminasi, pertumbuhan (growth), pendidikan, krisis iklim, dan aturan pajak. Secara umum, buku ini jadi ngasih gw gambaran gimana cara seorang ekonom berpikir dan melihat sesuatu, yang akhirnya bikin gw juga jadi punya framework baru. Di buku ini, penulis mencoba menjabarkan masalah-masalah di atas dengan penjelasan yang lebih detil dan caveat yang dirasa harus diketahui, dibanding hanya membuat statement yang kategorikal, seperti: imigrasi itu baik, atau free trade itu pilihan yang lebih bijaksana.

Banyak poin-poin yang menarik untuk orang non-ekonomi kayak gw, seperti:

  • Migrasi. Umumnya ekonom menganggap bahwa migrasi itu baik, tapi kenapa sih banyak orang umum khawatir dengan isu ini? Ternyata ya karena banyak orang bicara berdasarkan persepsi. Kekhawatiran mereka didasarkan pada teori supply & demand; semakin banyak imigran, upah penduduk asli (native) akan menurun. Padahal kenyataannya, teori supply & demand tidak berlaku di konteks imigrasi. Berdasarkan data sebenarnya, migrasi meningkatkan demand for labor sekaligus meningkatkan supply dari labor itu. Jadi teori supply demand bukan deskripsi yg tepat untuk menggambarkan bagaimana migrasi bekerja.
  • Masih dalam konteks migrasi, native sebenarnya tidak perlu khawatir, karena mereka bisa mengambil pekerjaan yang berbeda dengan para imigran. Misalnya, pekerjaan-pekerjaan yang lebih butuh banyak kemampuan komunikasi. Keuntungan lain dari kedatangan imigran adalah, perempuan-perempuan native juga jadi lebih bisa bekerja di luar rumah, karena imigran bisa bantu bekerja di child care, dll. Native pun bisa melakukan restrukturisasi pegawai dan biaya pegawai pada bisnisnya, dibanding mengadopsi teknologi (memperlambat proses mekanisasi).
  • Tanpa hambatan eksternal, sebenarnya tantangan internal pun kuat di para imigran. Atau bahasa lainnya: sebenarnya mereka sendiri pun sudah punya banyak barrier utk migrasi. Tidak semua orang punya niat dan keberanian untuk pergi meninggalkan kampung halaman. Jangankan pindah negara, pindah dari desa ke kota saja tidak semua orang mau, bahkan walaupun di desanya dia kekurangan.

  • Perdagangan internasional. Jika dilakukan dengan tepat, sebenarnya keuntungan yang didapat oleh negara-negara yang lebih kecil dan miskin, bisa lebih besar daripada negara-negara kayak seperti USA.

  • Diskriminasi. Dalam banyak kasus, sering diperkuat oleh diri sendiri. Contohnya: orang akan bersikap berbeda pada saat mereka diingatkan tentang identitas kelompok mereka, yang menyebabkan mereka lebih ragu lagi pada dirinya sendiri. Saat sebuah kelompok dikatakan bahwa mereka adalah kelompok A yang berkarakter kurang baik, kelompok tersebut jadi menganggap bahwa mereka memang punya kekurangan.
  • Diskriminasi dalam konteks perpecahan atau segregasi, obatnya adalah familiarity. Jadikan kelompok tertentu menjadi lebih familiar di kelompok lainnya, sehingga mereka punya lebih sedikit atau tidak ada resistensi terhadap kelompok berbeda.

  • Growth. Topik growth adalah topik yang panjang, menarik, dan gw sendiri jadi belajar banyak. Intinya adalah, para ekonom bisa memprediksi bagaimana negara-negara bisa berkembang (growth-nya positif), tapi mereka sulit untuk memprediksi bagaimana saat mencapai titik tertentu, growth itu bisa terus positif. Di sini gw jadi berkenalan dengan dua ekonom terkenal dunia, yaitu Solow dan Romer, dan membandingkan teori keduanya. Modelnya Solow menggambarkan bagaimana GDP, growth, capital & labor akan menemukan titik seimbangnya, dan model Romer mengenalkan tentang diminishing return. Salah satu narasi utama Romer: gagasan bahwa keterampilan dibangun di atas satu sama lain dan menyatukan orang-orang terampil di satu tempat bisa membuat perbedaan.
  • Baik di model Solow maupun Romer, driver dari long-run growth adalah inovasi teknologi. Tapi kendalanya, ini tidak bisa diadopsi begitu saja oleh negara-negara yang miskin.
  • Saat membandingkan growth, kita bisa mengambil contoh negara kaya VS negara miskin, seperti Amerika dan India. Di USA, inovasi didominasi oleh perusahaan besar yang punya kapital, sehingga menyebabkan perusahaan kecil mati. Sedangkan di India, perusahaan besar growth-nya gak tinggi, tapi jadinya perusahaan kecil juga gak mati.
  • Perusahaan keluarga yang dijalankan penerus keluarga alih-alih memilih orang luar yang berkompetensi, growth nya kecil.
  • Di sini gw juga jadi belajar bahwa ada yang namanya causality problem. Bukan hanya ‘correlation does not mean causation‘, tapi kita harus memisahkan cause & effect. Katakanlah dalam konteks growth dan pendidikan. Tidak serta merta kita bisa menyimpulkan bahwa pendidikan menyebabkan growth, karena bisa jadi sebaliknya, growth yang tinggi (positif), menyebabkan pemerintah punya budget untuk melakukan perubahan-perubahan dan mengadakan lebih banyak pembangunan sehingga pendidikan pun menjadi lebih baik.

  • Pemanasan global. Cost terbesar dari isu ini akan ada pada dan dialami oleh negara-negara miskin (karena berbagai faktor termasuk lokasi dan kondisi cuaca), walaupun sebenarnya di sini berlaku 50:10 rule: 10% populasi dunia (polutan tertinggi) berkontribusi pada 50% emisi CO2, sedangkan 50% polutan berkontribusi pada 10% emisi.
  • Sebuah penelitian menemukan bahwa kenaikan suhu 1 derajat C pada tahun tertentu mengurangi pendapatan per kapita sebesar 1,4%, tetapi itu hanya di negara-negara miskin. Konsekuensinya tidak hanya pada pendapatan, tapi juga pada kesehatan.
  • Penduduk di negara miskin, pada saat terjadi kenaikan suhu, katakanlah mereka jadi harus memakai mesin pendingin (AC). Tapi ini akan menimbulkan dilema, karena gas HFC dari AC itu lebih berbahaya dari CO2. Akhirnya mereka harus memilih: ingin menyelamatkan manusia hari ini (dari kepanasan) atau menyelamatkan manusia di masa depan (dari bumi yang semakin panas).

  • Di buku ini, gw juga jadi diperkenalkan bahwa di dunia ada yang namanya robot tax, yaitu pajak yang diterapkan ke mesin/robot (mekanisasi), kecuali jika produktifitasnya memang sangat tinggi. Hal ini juga direkomendasikan oleh Bill Gates, dan Korea Selatan menjadi negara pertama yang mengaplikasikannya.
  • Ada yang namanya ‘Horss and Sparrow theory’ (teori kuda dan burung pipit), yaitu: manfaat pertumbuhan akan datang dengan mengorbankan beberapa ketidaksetaraan. Idenya adalah bahwa yang kaya akan diuntungkan terlebih dahulu, tetapi yang miskin pada akhirnya akan diuntungkan.

Mengingat bahwa penulis buku ini adalah dua orang pemenang nobel, menurut gw, buku ini sangat enjoyable, tulisannya ngalir, bacanya kayak dengerin orang lagi cerita, dan gak banyak jargon kayak orang-orang yang lagi mau show off bahwa mereka intelek. So, skor 8 dari 10. Terima kasih, Esther dan Abhijit. Doakan saya lulus course kalian dengan nilai super bagus! Amin.

Di kamar,

Sambil nyelesein PR dari materi-materi DEDP >,<