Ini hampir jam 2 pagi dan gw masih melek banget gara-gara minum kopi kemarin sore (sungguh keputusan yang salah). Karena bingung harus ngapain, energi berlebih, tapi males untuk olahraga jam segini, akhirnya gw putuskan untuk menyalurkan energi lewat menulis. Ngintip-ngintip kumpulan topik yang pengen ditulis dari lama, gw pilih topik ini, walaupun udah agak telat, karena sebenarnya unek-uneknya udah muncul dari sejak awal masa covid. Tapi mari lah kita bahas.
Di awal masa covid, banyak artikel seperti di atas bermunculan, dan gw jadi terpantik untuk beropini.
Intinya sih gw bingung aja sama feminis-feminis yang pengen disetarakan, tapi kalo ada kasus-kasus bagus yang dilakukan perempuan, mereka seperti over glorify itu. Kenapa harus disebutin bahwa dia adalah great woman leader? Kalo emang menuntut kesetaraan, kenapa gak bilang aja dia adalah great leader? Artinya dia setara dengan para leader lain, termasuk leader laki-laki, dan dia unggul diantara mereka. Bukan karena perempuan, tapi karena memang kapabilitasnya. Semua laki-laki ada yang hebat, ada yang nggak. Perempuan pun ya begitu, ada yang keren, tapi ada juga yang biasa aja.
Ngomongin perbedaan, perempuan dan laki-laki, buat gw analoginya sama kayak orang ngomongin suku, agama, dan atau perbedaan-perbedaan lain yang kita punya. Jadinya hanya akan membatasi dan mengkotak-kotakkan manusia. Ini jatuhnya sama aja kayak kalo ada presiden hebat yang kebetulan dia orang Jawa, maka orang akan bilang, “tuh kan, orang Jawa tuh hebat”. Padahal ya bukan semata karena presidennya itu adalah orang Jawa, tapi karena emang dia orangnya hebat aja. Kebetulan memang dia orang Jawa”. Dengan bilang orang Jawa hebat, hanya akan menimbulkan perasaan uneasy di sebagian orang non-Jawa. Padahal kita bisa aja menghargai presiden hebat dalam kacamata personal, bahwa ada kualitas dalam dirinya tanpa atribut embel-embel yang di-over glorify.
Pin yang gw dapet dari acara feminis di Adelaide, Australia
Sebagai orang yang dikasih beasiswa untuk belajar gender di Australia, dan dilatih untuk jadi feminis, opini gw di atas bikin gw khawatir kayaknya gw adalah feminis gagal. Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir gw. Tapi sampe saat ini sih, esensi yang gw dapet dari belajar gender adalah bahwa tiap karakter, termasuk perempuan dan laki-laki, memang butuh treatment yang berbeda, dan itu masih harus terus ditingkatkan. Tapi saat membicarakan kesetaraan, gw lebih memilih untuk jadi objektif tanpa glorifikasi identitas gender tersebut.
Semoga tulisan ini bisa diterima dengan hati terbuka.
Sori kalo judulnya provokatif. Tapi kenyataannya, gw pun baca buku ini karena jadi “korban provokasi” obrolan kaum urban. Bahkan dalam berbagai situasi percakapan, buku ini sering disebut. Lantas apa yang membuatnya spesial? berbicara tentang filosofi stoikisme, ini jelas bukan buku dasarnya, bukan juga buku pertama dalam bahasa Indonesia. Tapi saat gw baca buku ini, dia udah jadi mega best seller, dimana yang gw pegang sendiri udah cetakan ke-25. Uwow.
Begitu gw baca bagian pengantar, jujur, hook-nya menurut gw dapet banget. Om Piring (panggilan dari Henry Manampiring, sang penulisnya) langsung cerita “Saya menderita major depressive disorder’ atau simpelnya “saya didiagnosa depresi (oleh psikiater)”. So, buku ini bukan cuma tentang apa itu stoikisme, tapi lebih ke stoikisme dan relevansinya dengan kehidupan dia pribadi. Itu menurut gw cerdas dan jadi terasa tulus kenapa dia akhirnya nulis buku ini. Gw malah jadi belajar cara menulis buku dari sini. Kalo cuma ngomongin “stoikisme adalah.. bla bla bla”, om Piring bakal kalah dengan para pakar filosofi, karena dia sendiri bukan doktor di bidang itu. Text book tentang stoikisme pun sudah relatif banyak. Untuk orang-orang yang betul tertarik, akan mikir “ngapain gw baca buku ini? mending baca tulisan para filsuf Romawi atau Yunani langsung aja”. Untuk nulis buku teori, penulis harus saling adu kredibilitas. Tapi untuk nulis pengalaman pribadi, gak ada yang lebih kredibel dibanding orang itu sendiri. So, memadukan “text book” tentang prinsip-prinsip dasar stoikisme dengan perjalanan hidup adalah formula yang menarik, dan akhirnya gw jadi nerusin baca buku ini, alih-alih karena ingin jadi ahli Stoa, gw lebih pengen tahu gimana si Stoikisme merubah hidup dia.
Secara umum, efek dari buku ini ke pembaca akan tergantung dari latar belakang pembaca tersebut. Gw ngebanyangin, kalo gw belum pernah denger apa itu stoikisme sebelumnya, kayaknya impresi gw akan ngerasa buku ini sangat breakthrough dan life-changing. Tapi karena gw udah agak familiar dengan stoikisme dan konsepnya tentang berfokus pada yang bisa kita kontrol (atau yang di buku ini disebut ‘dikotomi kendali’), efeknya jadi gak terlalu se-wah itu. Tapi kalo dari tulisannya sih, kayaknya om Piring termasuk kategori orang yang pertama. Doi nulis ini di 2018 setelah nemu buku wajib filsuf Stoa di toko buku, artinya ini konsep yang baru dia temukan saat itu, dan jadinya terasa mencerahkan, sehingga dirasa harus dibagikan ulang. Tapi walau demikian, gw tetep belajar banyak kok dari buku ini.
Kelebihan buku ini adalah dia memberi contoh penerapan prinsip-prinsip Stoa dalam kehidupan sehari-hari, misal: dalam menghadapi hal (yang dianggap) buruk yang simpel seperti macet, haters, jatuh, ditolak, sampai menghadapi hal gelap seperti kematian. Ini menegaskan bahwa Stoikisme relevan di semua lini, tanpa pandang bulu, dan bahkan sampai sekarang, setelah lebih dari 2000 tahun konsep ini diperkenalkan.
Untuk melengkapi catatan pengalaman, om Piring juga bawa pasukannya dari berbagai latar belakang, ada yang psikiater psikosomatis, psikolog, (self-claim) Stoa, dan (non self-claim) praktisi Stoa. Ini memperkaya bukunya dengan berbagai perspektif lain, yang menurut gw efektif.
Ngomong-ngomong, alasan judul buku Filosofi Teras dipilih, ternyata ya memang literal, karena filosofi Stoa diajarkan di teras XD
Di luar dikotomi kendali, tetep banyak yang gw pelajari dari sini, karena om Piring menjelaskannya dengan lebih dalam. Beberapa poin yang gw highlight:
Konsep yang paling menarik perhatian gw: practice poverty. Katanya Stoa menganjurkan kita untuk latihan menderita secara rutin. Kenapa? Karena kesenangan apapun (kekayaan, ketenaran, makanan, sex, dll) jika dialami terus menerus, dia akan menjadi norma dan rasanya jadi biasa saja. Jadi para Stoa menganjurkan kita untuk sering-sering “turun level”. Misal: biasa makan enak, cobalah 4 hari seminggu makan makanan murah dan standar. Atau kalau biasa kemana-mana naik mobil, cobalah lebih rutin naik motor. Tujuannya, untuk merasakan kembali nikmat atas apa yang telah kita miliki, yang berdampak kita bisa lebih bahagia.
Emosi adalah bagian dari rasio yang membentuk opini. Saat kita merasakan emosi negatif, itu karena opini kita menyatakan bahwa sesuatu itu buruk. Begitupun sebaliknya. Saat merasakan emosi positif, itu karena opini kita menyatakan bahwa sesuatu itu baik, Para Stoa akan melihat segala sesuatu sebagai netral, tidak baik dan tidak buruk. Ini akan ngasih diri kita kunci untuk mengendalikan emosi tersebut.
Jika opini berkaitan dengan masa kini, yang muncul adalah rasa senang atau rasa sesal. Tapi jika berkaitan dengan masa depan, maka yang keluar adalah perasaan iri atau takut. Walau yang ditakutkan tidak kejadian, merasa takut saja sebenarnya sudah ada “ongkosnya” (cost of worry), yaitu: energi pikiran, waktu dan uang, juga kesehatan tubuh.
Aplikasikan STAR; Stop – Think – Assess – Respond. Intinya, saat terjadi sesuatu, jangan dulu bereaksi. Stop dulu, pikirkan, pisahkan sesuatu itu dengan opini atau persepsi kita, baru ambil pilihan terbaiknya yang bijaksana.
Di buku sempat disinggung juga tentang CBT atau Cognitive Behavioral Threapy, dimana dinyatakan oleh pakarnya bahwa CBT mendukung filosofi Stoa, karena kognitif berpengaruh pada perilaku, begitupun sebaliknya, perilaku bisa mengubah pikiran. Untuk yang kepo tentang CBT, bisa nonton video Youtube aku berikut ini: (hehe, malah promo)
So, kembali ke pertanyaan di judul, apakah buku ini worth the hype? Karena isinya positif, gw sih bilang worth it 😀
Filsafat masih sering terasa jauh dari kalangan umum, dan buku ini bisa jadi pengantar anak muda ke dunia filsafat dengan santai sambil juga belajar cara hidup yang menenangkan internal diri. Selamat buat om Piring atas puluhan kali cetaknya. Aku sih yes.
Setelah menyelesaikan si buku hanya dalam 4 hari,
Hani Rosidaini
PS: Untuk yang tertarik bergabung klub Stoic Indonesia di Facebook, bisa cek link ini
Idul Fitri 2023 ini gw mudik ke rumah keluarga suami di Balikpapan. Tentunya gw bertemu ibu bapak mertua gw di rumah mereka, di daerah padat penduduk di perbukitan, tapi juga dekat ke pantai, hanya 5 menit naik sepeda motor. Di rumah itu, ada 1 mobil dan 3 motor, kesemuanya diparkir di luar rumah. Sebagai catatan, rumahnya pun tidak berpagar, jadi halaman rumah yang dimaksud termasuk juga jalan umum. Singkat cerita, saat malam tiba, gw perhatiin kok kendaraan-kendaraan itu dibiarin aja, gak digembok, gak dimasukin area rumah, atau apapun. Saat gw tanya ke bapak mertua, beliau bilang “ya biarin aja, orang aman kok. Lihat aja tuh motor-motor di bawah (nunjuk motor tetangga) juga ditaro gitu aja di pinggir jalan, gak apa-apa”.
Hal ini spontan mengingatkan gw ke statistik yang gw lihat beberapa hari sebelumnya, tentang “Seberapa percaya elo sama tetangga dan orang-orang di lingkungan lo?”
Norwegia ada di urutan pertama, dan itu gak aneh sama sekali. Saat gw ke Norway, gw sendiri syok ngeliat kulturnya yang sangat percaya sama orang lain. Rumah-rumah mereka juga gak berpagar. Jangankan rumah, saat gw ke tempat penginapan aja, itu tempatnya gak dikunci sama sekali, gak ada resepsionis atau penerima tamu, gw bisa langsung masuk, lalu ke kamar, dan bebas ngapain aja sesuka gw. Di tempat umum, masuk ke transportasi publik pun banyak yang gak ditutup. Misal: kereta yang bayarnya pake kartu. Biasanya, akan ada gerbang dimana kita harus tempelin kartu kita, baru bisa masuk. Tapi di Norway nggak. Gak nempelin pun tetep bisa masuk. Aneh kan? Saking percayanya mereka bahwa semua orang hidup dengan kesadaran akan norma-norma, bahwa orang-orang pasti tetep akan nempelin kartunya dengan bertanggungjawab. Ekstrimnya, saat gw harus berurusan sama polisi di Norway, walau gw melakukan kesalahan, tapi polisinya sendiri bilang bahwa mereka yakin gw gak berniat melakukan kesalahan itu dengan sengaja. Wow, I’m impressed.
Tapi itu Norway. Dan di statistik di atas, Indonesia juga termasuk yang nilai kepercayaannya atas tetangga itu lumayan lah, 61%. Gw langsung mikir, “wah, ini pasti surveynya gak di kota besar”. Di Jakarta, mana ada orang berani gak ngunci rumah? Mana percaya kita ngebiarin motor atau mobil ditaro gitu aja di jalan malem-malem? No way, man. Mungkin surveynya termasuk ke orang-orang di Balikpapan? Dan itu sangat mengusik prinsip gw atas apa itu tempat tinggal yang layak.
Sebagai referensi, saat gw menulis ini, gw sudah mengunjungi kota-kota di 17 negara di 4 benua. Kesimpulan dari pengalaman itu adalah bahwa memang tidak ada kota yang sempurna, semua pasti ada plus minusnya. Tapi, kita tetap bisa menentukan parameter apa yang kita pake untuk menentukan suatu kota itu layak tinggal atau nggak. Semakin berumur, parameter gw semakin mendasar, utamanya ada 3, yaitu:
Udara bersih
Ini hal wajib yang harus ada untuk suatu kota gw akui layak tinggal. Sebagai manusia, apa sih hal mendasar untuk kita? Bernafas. Dan kita butuh udara untuk bisa melakukan itu. Di Jakarta, sangat gw sadari bahwa ternyata hal mendasar kayak gini aja sulit. Udara kotor bikin gw males bernafas, tapi karena tetap harus bernafas, gw terpaksa menghirup udara yang tidak layak. So, udara bersih itu hakiki.
2. Air bersih
Air bersih yang gw maksud artinya bukan cuma kita sendiri yang punya akses ke air bersih, tapi air di sekitar kita juga bersih. Semua orang di lingkungan kita bersih. Kenapa? Karena hidup kita saling berkaitan. Percuma gw punya air bersih, tapi lingkungan banjir, sungai kotor, sedangkan gw masih sering beli pecel lele di warung pinggir jalan. So, sanitasinya bagus, itu baru layak. Kalo levelnya negara maju, udah bisa minum langsung dari air keran.
3. Rasa aman
Awalnya gw cuma punya syarat 2 di atas; air dan udara. Tapi saat gw pergi ke kota Medan pertama kali, dimana semua orang mewanti-wanti gw untuk selalu waspada, jangan keluarin hp di jalan, takut preman dan jambret dimana-mana, dll, sampe ada istilah “ini Medan, bung!”, gw jadi merasa sangat gak nyaman, kemana-mana ketakutan, dan itu gak enak banget. Ternyata, ngerasa aman itu mahal harganya, rasa takut dan khawatir itu ada biayanya. Tiga diantaranya adalah: energi pikiran (efek psikologis), waktu dan uang (jadi terpaksa naik gocar dibanding jalan kaki, misalnya), dan kesehatan tubuh (rasa panik dan takut pasti mempengaruhi fisik juga). Sejak saat itu, gw jadi menambahkan poin ‘rasa aman’ ke syarat suatu kota disebut layak tinggal.
Mungkin gw kelamaan tinggal di kota besar, jadi menganggap naro kendaraan di luar rumah adalah hal aneh. Dan saat gw ke Balikpapan (setidaknya di daerah tempat mertua gw), ternyata gw bisa menemukan 3 syarat tempat layak tinggal yang gw cari. Udara di sana masih (relatif) bersih, lingkungannya lumayan bersih, karena orang-orangnya lebih “civilized” (menurut riset), dan ternyata jadinya keamanan juga meningkat (walau tentu persentase tindak kriminal bukan 0%). Gw jadi zbl ke Balikpapan karena orang-orang di sana bisa merasakan itu, hidup dengan nyaman, gak kayak gw di Jakarta, yang gak punya kesemuanya. Semoga ini berlangsung dan berlanjut seterusnya.
Sambil capek-capek baru kembali ke ibukota,
Hani Rosidaini
PS: Kalo ada yang nanya, “yaudah Han, kenapa gak pindah ke Balikpapan aja? Sebenernya selain 3 syarat di atas, karena gw extrovert dan ADHD, memang ada kecenderungan bawaan gw hanya suka kota besar. Lebih tepatnya kota yang lebih metropolitan. Agak sulit memang. Begitulah.
Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya di postingan blog yang ini, saya baca buku ‘Driven to Distraction’ (yang orang bilang buku klasik tentang ADHD) untuk mengenal lebih jauh tentang “disorder” ini, yang ternyata jadi bisa sembari mengenali diri sendiri juga. Beberapa poin di buku ini yang saya highlight adalah:
Singkatnya, ADHD adalah sindrom neurologis yang bisa didefinisikan sebagai segitiga yang terdiri dari impulsifitas, kemampuan untuk lebih mudah terdistraksi, dan hiperaktif atau kelebihan energi.
ADHD bukanlah ketidakmampuan belajar atau disleksia, dan tidak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan. Faktanya, banyak orang ADHD justru sangat pintar.
Karena pikirannya yang bisa “terbang bebas”, salah satu hal positif yang bisa ada pada orang ADHD adalah kreatifitas, dalam melihat masalah, mencetuskan solusi, dan berpikir di luar kotak. Tapi sisi lainnya, bisa sangat tidak sabaran, dan mudah ambil kesimpulan.
Menyuruh orang ADHD untuk bekerja lebih keras, itu seperti menyuruh orang rabun untuk memaksa melihat dengan lebih memicingkan mata. It missed the biological point!
ADHD lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan. Belum diketahui apa penyebabnya, tapi bukti yang ada menyatakan faktor genetik adalah penyebab paling umum.
Salah satu komentar dari seorang dokter yang bernama Russell Barkley: Orang ADHD punya kemungkinan 40% lebih besar untuk bercerai, dan 30% kemungkinan lebih besar untuk jadi pengangguran.
Treatment yang bisa dilakukan untuk orang ADHD: Diagnosis – Edukasi – Strukturisasi diri – Coaching dan/atau psikoterapi – Pengobatan.
Kenapa diagnosis sudah dianggap suatu treatment? Karena beda dari kebanyakan disorder yang lain, seringkali membuat diagnosis saja sudah bisa memberikan efek terapetik pada orang ADHD. Seperti menemukan cahaya, orang ADHD yang awalnya tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sekian lama, akhirnya bisa menemukan jawaban tentang kondisi sebenarnya.
Strukturisasi diri yang dimaksud di atas adalah membuat struktur dalam hidup dengan menggunakan check list, reminder, schedule, dan ritual. Karena orang ADHD pikirannya mudah terdistraksi dan bercabang, maka itu harus dibuat agar lebih rapi, dengan cara simplifikasi jadwal. Misal: hari Senin adalah hari mencuci baju, hari Selasa hari melakukan B, hari Rabu khusus C.
Pengobatan pada ADHD bekerja dengan cara memperbaiki ketidakseimbangan kimia dari neurotransmitter yang ada di bagian otak orang ADD yang meregulasi tingkat atensi, kontrol impulsi dan mood.
Seringkali, orang ADHD kesulitan menyelesaikan pekerjaan adalah karena sudah kewalahan duluan membayangkan tugas besar yang ada di depan mata. Maka, salah satu cara mengatasinya adalah tidak membayangkan hasil akhir, tapi break down tugas menjadi hal-hal kecil yang bisa dilakukan saat itu juga. Hanya pikirkan yang bisa dilakukan menit itu.
Orang ADHD bisa bekerja dengan lebih baik saat berada dalam grup dan selalu mendapatkan dorongan. Akan sangat baik jika orang ADHD memiliki support group dan coach yang bisa memberikan feedback dan motivasi terus menerus untuk menjaga agar selalu on-track.
Metoda yang bisa digunakan oleh coach (yang dimaksud di poin atas): HOPE. Help (tanyakan apa yang bisa dibantu) – Obligation (tanya apa kewajiban yang ada sekarang) – Plan (tanya apa rencana untuk menjalankan kewajiban tersebut) – Encouragement (terus motivasi dan yakinkan bahwa dia bisa)
ADHD bisa bermacam-macam, bisa dibarengi oleh sindrom yang lain juga, seperti depresi, borderline personality, OCD, dll.
Jika sudah terdiagnosa ADHD, penting untuk lingkungan tahu, agar mereka mengerti, karena bagaimanapun pembawaan ADHD akan berpengaruh pada hubungan sosial.
Orang ADHD akan sangat suka kota-kota besar.
Masih banyak poin lainnya, tapi lebih lengkapnya silakan baca langsung bukunya. Untuk skor buku ini, saya kasih 9/10, karena dia tidak membosankan sama sekali. Malah saya yang sering terbawa emosinya karena membaca pengalaman orang-orang yang diceritakan di buku ini. Terima kasih, Edward & John!
Sambil menikmati malam ke-4 lailatul qodar,
Hani Rosidaini
PS: Akun/profil Goodreads saya ada di sini. Silakan add jika berkenan.
Saat masih tinggal di daerah Kebon Kacang, Jakarta, saya sering sekali ke mall Grand Indonesia karena jaraknya sangat dekat. Saking seringnya, saya sampai hapal layout gedung dan pertokoannya. Namun tiba-tiba ada yang aneh. Setiap terdorong mampir ke toko sepatu, saya selalu tertarik membeli, tapi bukan untuk saya sendiri, melainkan untuk Bapak. Entah kenapa yang teringat selalu Bapak. Begitu terus sampai akhirnya saya telepon orang tua saya di Bandung, dan bilang ke Bapak, “Pak, nanti aku ke Bandung, kita beli sepatu ya. Tiba-tiba aja pengen beliin”. “Siaapp”, kata Bapak. Ibu yang ada di situ mungkin agak cemburu, tapi juga maklum karena anaknya ini memang “anak Bapak” dan sangat moody, jadi saat mood-nya untuk membelikan Bapak, ya sudah, dibiarkan saja.
Tibalah waktu saya ke Bandung, dan saya ajak keluarga ke Trans Studio Mall, untuk belikan sepatu Bapak sekalian makan bersama. Saat di salah satu toko mall, saya bilang ke Bapak, “pokoknya pilih yang bagus dan enak, harganya harus di atas 1 juta”. Saya tidak ingin Bapak merasa segan, dan saya betul-betul ingin Bapak beli yang terbaik. Walaupun akhirnya kebablasan. Setelah pilih-pilih sepatu, Bapak jadi nunjuk baju-baju yang ada di toko, topi, kaos kaki, sambil seolah ngasih arahan “Ni… “. “Hahaha”, tawa saya dalam hati. Akhirnya kami keluar toko dengan tas berisi barang belanjaan, milik Bapak seorang.
Para penonton Bapak belanja
Ekspresi Bapak yang priceless
Semua tampak biasa saja, bukan? Sampai akhirnya belakangan saya sadar kenapa saya seperti itu. Kenapa saya ingin belikan Bapak, dan kenapa hanya Bapak.
Dulu, saat saya kecil, memori yang tertanam di kepala saya, Bapak-lah yang selalu menemani saya beli sepatu untuk sekolah. Pergi ke pasar Suci, pasar baru, atau pasar lain, selalu di pasar. Tidak ada memori di kepala saya beli sepatu di tempat bagus, apalagi beli sepatu bermerek. Sepatu saya, paling harganya Rp 25.000, produk abal-abal. Bapak bilang “sepatu itu sama aja, ujungnya sama-sama diinjek. Sepatu mahal itu cuma buat gaya, jadi untuk apa”. Itu yang saya akhirnya percaya dan yakini.
Hingga akhirnya saya dewasa, punya uang, saya jadi punya kesempatan untuk coba beli sepatu “bagus”, sepatu “mahal”. Dan ternyata rasanya memang beda, nyamannya beda, empuknya beda. “Kemana saja saya selama ini?”, itu yang saya rasakan. Waktu berlalu, ternyata sepertinya pengalaman itu membangkitkan memori lama. Saat lihat sepatu, secara alam bawah sadar ternyata saya ingat si Hani kecil, yang seandainya punya kesempatan, mungkin akan bilang ke Bapaknya waktu itu “nggak, Pak. ternyata sepatu mahal tu rasanya beda. Empuknya beda. Ini beda dengan sepatu murah yang Bapak bilang sama aja”. Ternyata si Hani kecil ingin membayar pengalaman itu. Si Hani kecil ingin bapaknya tahu apa bedanya sepatu bermerek, dan ingin bapaknya ikut merasakan langsung.
Menyadari itu, saya tertegun sendiri. Betapa dalamnya pengalaman masa kecil tertanam di diri kita, betapa besar dampaknya bagi psikologis kita, dan betapa kita tidak tahu kapan momen-momen emosional itu akan muncul ke permukaan saat kita dewasa. Mungkin karena itu, ada yang namanya “inner child”. Karena kenyataannya kita tidak seutuhnya tumbuh, kita tidak benar-benar adalah kita di momen sekarang, dan kita hanyalah kita saat kecil yang bersembunyi jauh di dalam kumpulan memori, seperti si Hani kecil dan pengalamannya membeli sepatu dengan Bapak, puluhan tahun yang lalu.
Poin-poin di bawah ini akan terdengar sangat biasa di telinga sebagian orang, terutama yang berlatar belakang kebijakan publik, tapi percayalah, untuk orang-orang yang clueless sama sekali tentang bekerja dengan pemerintah (seperti saya pada awalnya), hal-hal berikut bisa membantu, seandainya saja bisa diketahui lebih awal, agar bisa membantu proses kerja, koordinasi, dan komunikasi saat kita harus melakukan proyek bersama dengan pihak pemerintah. Iya, khususnya pemerintah Indonesia.
(Tidak ada urutan angka, karena bukan ditulis berdasarkan bobot poin)
Pemerintah “tidak bisa melakukan apapun” tanpa dasar hukum. Katakanlah di bidang pekerjaan saya, transparansi, anti korupsi, keterbukaan publik. Ada banyak praktik baik yang bisa diadopsi oleh pemerintah Indonesia, baik dari negara lain, maupun lembaga internasional yang memiliki banyak pengalaman dan mengumpulkan berbagai pembelajaran global. Tapi itu semua tidak serta merta bisa diadopsi jika di Indonesia sendiri belum ada dasar hukumnya. Maka dari itu, cara efektif bekerja dengan pemerintah adalah, pelajari semua dasar hukum yang ada, apa tujuan yang bisa menjadi prioritas, dan bantu pemerintah dalam mencapai itu. Jika perbaikan baru dirasa sangat penting, namun tidak ada dalam peraturan manapun, maka mulailah dengan dorong pembuatan kebijakan baru yang terkait itu. Intinya, tidak ada aksi tanpa dasar hukum. Sebaik apapun sesuatu, walaupun itu akan sangat bermanfaat bagi pemerintah, tetap saja tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada landasan tertulisnya.
Pelajari motif suatu negara, lembaga maupun individu, terutama tokoh kunci yang bekerja dengan kita. Teorinya adalah “What’s in it for me?”. “Untungnya buat gw apa dengerin atau ngikutin lo?”. Mungkin ini terdengar umum, tapi untuk saya ini menarik. Kenapa? Karena di sektor privat, ini rasanya jauh lebih mudah. Hanya ada satu bahasa universal di sektor privat, yaitu uang. Keuntungan moneter. Tapi jika di sektor publik, motifnya bisa jauh lebih bervariasi dan bisa sangat misterius. Bisa saja suatu negara, lembaga, atau tokoh publik menyatakan di media bahwa mereka mendukung aksi keterbukaan. Tapi kenyataannya? Tidak ada yang tahu. Apakah mendukung artinya berkomitmen? Apakah berkomitmen artinya beraksi? Apakah beraksi artinya gerak cepat? Apakah jika terjadi kelambatan progress, itu karena kendala eksternal, atau sengaja dihalau oleh pihak internal tertentu?. Saat seorang tokoh publik menyatakan dukungannya di media, apa dia benar-benar tulus menyatakan itu? Apa sebenarnya dia sedang mengejar sesuatu? Apa yang sedang disembunyikan? Apa ada tujuan lain yang bisa menjadi dampak dari dukungannya? Yang jelas, semakin awal kita tahu motif masing-masing yang terlibat, semakin bagus. Karena kita jadi bisa atur strategi dan bisa selalu menitikberatkan poin tersebut dalam setiap kesempatan berkomunikasi.
Gambar di atas adalah gambar stakeholder mapping yang paling umum. Kita harus mengelompokkan pemangku kebijakan berdasarkan pengaruh dan dukungannya. Kesulitan dalam menentukan motif pihak-pihak yang terlibat, menyebabkan kesulitan dalam menentukan masing-masing mereka sebenarnya ada di kuadran yang mana.
Ada sensitifitas terkait bagi pakai data. Dalam kaitannya dengan lembaga pemerintah, data adalah aset dan barang berharga, yang dianggap sensitif dan sayangnya juga melibatkan ego. Di satu sisi, kita bisa merasa gemas saat pemerintah enggan berbagi data yang mestinya milik publik, tapi di sisi lain, kita juga harus empati bahwa pemerintah merasa memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi negara dan masyarakatnya. Jangankan untuk informasi sensitif, kadang untuk informasi umum saja, ini sulit dilakukan. Padahal kalau orang bilang sih, “data-data itu udah bocor juga. Kita cuma berusaha minta baik-baik tapi ditolak”. Salah satu solusinya adalah kembali ke poin awal: pelajari segala dasar hukumnya. Cari celah yang mengharuskan pemerintah berbagi data, atau jika memang tidak ada, maka doronglah peraturan baru yang membuat pemerintah mau tidak mau harus mempublikasikan data yang diperlukan publik.
Tidak semua pihak terbuka dengan yang berbau asing. Sebagai orang yang bekerja untuk lembaga asing, awalnya saya tidak menyadari hal ini. Saya pikir, sebagai perwakilan dari lembaga internasional yang memiliki banyak praktik baik, di permukaan saya tampak sangat diterima dengan baik juga oleh pemerintah. Tapi ternyata, di belakang layar tidak selalu demikian. Pemerintah pasti punya pengalaman panjang bekerja dengan lembaga-lembaga asing, dan harus diakui, memang tidak semua lembaga asing bisa masuk ke Indonesia dan bekerja dengan pemerintah Indonesia dengan baik. Hal-hal seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan dan skepstisisme, walaupun, sebagai negara dengan adat timur, pemerintah tentu tetap harus selalu bersopan santun. Salah satu solusinya adalah berkawan baik dengan banyak lembaga lokal, sehingga bisa membentuk citra yang baik dan juga mendapatkan insight sebenarnya dari para pihak, karena mereka juga sudah jauh lebih lama beroperasi dan bekerja dengan pemerintah.
Kemampuan komunikasi dan advokasi sangatlah krusial. Ini sepertinya juga hal umum, tapi tetap saja untuk orang seperti saya cukup menantang. Kadang ingin rasanya fokus ke pekerjaan saja, bicarakan hal-hal penting terkait pekerjaan, lalu selesai. Tapi bekerja dengan manusia, terutama pemerintah, tetaplah butuh banyak kemampuan sosial, sehingga mahir kemampuan teknis saja tidaklah cukup. Bahkan mungkin bobot kemampuan advokasinya jauh lebih besar dibanding kemampuan teknis.
Bentuk aliansi dengan pihak-pihak yang ada di internal pemerintah. Tidak harus selalu tokoh besar atau tokoh kunci di suatu lembaga, tapi bisa juga dengan kroco-kroco, atau orang-orang yang ada di bawahnya. “Bukan orang penting” bukan berarti tidak penting. Setidaknya kita jadi bisa lebih banyak insight, setidaknya jadi ada yang bisa diajak bicara (penting! supaya tidak merasa sendirian), dan syukur-syukur ikut membantu kita mengerjakan pekerjaan dan mencapai tujuan bersama.
Sekian beberapa hal dari saya yang kebetulan terbersit saat menulis blog ini. Silakan tambahkan jika teman-teman memiliki pengalaman serupa. Terima kasih.
Sambil ngantuk-ngantuk di hari ke-16 Ramadhan 2023
Yes, you read it right. I want to be a comic who makes jokes over anything and makes people laugh even though sometimes many of them feel offended.
Anyway, welcome to my daily rant. I’m practising a note a day to rebuild the writing muscles, and this is my first day, nyahahaa… Of all the topics I wish to share, this is the topic I choose first because I think I can finish writing this in one sitting.
So, why do I want to be a comic? Can you guess? No, definitely not because I think I’m funny. On the contrary, I feel I’m not funny at all. I’m serious most of the time unless I’m with people who can create the supportive nuance for me to make jokes. But there is someone who really inspires me to be a comic, the one and only: Adriano Qalbi.
As you might have known, Adri is a comic and a consistent podcaster with his “Podcast Awal Minggu”. Please check his content for those who don’t know him yet, and I bet you’ll be either his fan or his hater, nothing in between. He has some authenticity in his way of thinking and talking, and we have to admit that it’s not for everyone. By declaring himself as a comic, when he appears on your screen, you’ll anticipate funny stories and laughs, and it can be the case because Adri is also someone who can laugh easily. But the more you listen to him, the more you’ll realise that what he actually does is nagging about anything, complaining about all the things that happen in life, finding the antithesis of the most common perspectives, challenging the status quo and pushing out his argument (i hope i’m not exaggerating here, but you got my point, right?). But again, because he wraps all these with jokes, people see his nag differently, and that’s what I want. Not because I have so many things to complain about, but because many things in life bother me, and human actions are sometimes unbearable. As an extroverted person, I always feel the need to release my energy (sorry for using this excuse, but FYI, it’s true!), but I don’t know how to express it in a non-offensive way. The solution? Jokes! But for now, I know nothing about comedy besides knowing that it’s all about breaking the expectation. I’m sure humour can be learned because I learned some stuff from one of the conversations between Pandji and Adri in this video:
So, where should I start? Read, watch, practice, repeat. Timeline: unknown.
And if you’re curious about what in life bothers me, I’ll give you some little examples of what’s in my head:
Why do poor people choose to have more kids when they know that they can’t afford their living? Do we agree that most of them are considered less intelligent people?
Why do people put their partner’s name or their kid’s name in their profile bio? (e.g. Bio: love of @abangsayang or @Azka’s mother). Bio is to help other people to know you, your interest, your field, and how you identify yourself. If your identity depends on another person, what happens if that person is gone? Will you lose your identity? Or do you already think that you don’t have any other identity?
Graduating from a political school and working in politics doesn’t mean you have to talk about politics all the time. Don’t you read anything else outside your field? I found this kind of people boring. (It applies to any subject besides politics)
Another thing about so-called politicians or political practitioners is, that I don’t know how they can live their life, as anything they do will be considered political action, action with a motive and not a genuine attitude as a human being.
People who keep asking “when will you get married?” or “when do you want to have kids?” are people who are not entirely happy with their life, and seek a spark of joy from showing that they have something that the other person doesn’t. Not the kind of people I want to be surrounded with, absolutely. Or (if it’s a woman) it may be because the only talent she has is giving birth? Ha!
Do I sound offensive already? Sorry. Please be patient. I’ll learn comedy and come back funnier. Adios!
Funny video about Nadiem’s English. This guy obviously has a big bank of vocabulary. Hint: “hubris”.
Hai! Apa kabar semuanya? 😀 Mulai pekan ini gw akan mencoba untuk mendokumentasikan pikiran-pikiran random gw. Pikiran yang penting gak penting sebenernya. Tapi menarik aja kalo nanti di masa depan gw bisa lihat lagi apa yang gw pikirkan di hari ini. Dan berikut adalah beberapa hal diantaranya:
THOUGHTS OF THE WEEK
1. Belakangan gw suka nonton video-videonya Kemendikbud dan termasuk di dalamnya tentang sosok sang menteri baru, Nadiem Makarim. Salah satu hal tentang dia adalah: dia udah gak pake media sosial sama sekali. Ditanya alasannya kenapa, salah satunya adalah karena dia pengen punya yang namanya “kedaulatan” (yang gw artikan bebas menjadi: kemerdekaan berpikir dan bertindak tanpa banyak terdistraksi noise). Gw pikir, “wah, kata yang menarik”. Sampe gw cari bahasa Inggris-nya apa, ternyata sovereignty, kata yang juga jarang dipake sehari-hari. Lalu semakin lama semakin gw hayati si “kedaulatan” itu gw jadi semakin pengen mengamini pernyataan tersebut, bahwa kita ternyata memang butuh yang namanya kedaulatan, dimulai dari kedaulatan untuk diri sendiri.
2. Dimulai dari kesadaran akan kedaulatan, gw sangat berusaha meminimalisir penggunaan media sosial gw. Tidak sepenuhnya bebas memang, karena toh gw juga bisa menghasilkan banyak hal dari media sosial, termasuk menghasilkan uang. Tapi yang jelas gw sangat membatasi. Pembatasan ini akhirnya membawa pemikiran lama gw sekian tahun yang lalu (sekitar 2011?), tentang twitter terutama pada saat itu. Biasanya, tiap kali gw punya pemikiran random, gw akan share itu di akun twitter gw, karena biasanya pemikiran random gw memang hal-hal sederhana yang gw kira tidak kompleks untuk diceritakan. Tapi di sisi lain, twitter nyatanya memang membawa dampak buruk bagi kemampuan literasi, terutama karena keberadaan batas karakter. Kita jadi dipaksa menuangkan pemikiran hanya dalam 500 karakter (bahkan di tahun itu hanya 140 karakter). Batasan ini akhirnya memaksa kita berpikir sepotong-sepotong, gak cuma dalam memproduksi twit, tapi juga dalam membaca twit orang lain. Ketidakbebasan dalam menyampaikan sesuatu inilah yang akhirnya mengancam kebiasaan kita dalam menelaah sesuatu yang jauh lebih kompleks. Dan itu bisa juga berbahaya untuk keberlangsungan hidup gw, dalam belajar, membaca paper ilmiah, ataupun memproduksi tulisan. Akhirnya, sekarang gw putuskan, kalau hanya pemikiran random, daripada ditulis di twitter (atau sekarang lebih banyak diposting di instagram story), gw akan lebih memilih menuliskannya di catatan sendiri, supaya gw lebih bisa berpikir secara komprehensif dan menuliskannya dengan lebih layak.
3. Mahasiswa A penasaran dengan mahasiswa B, karena si mahasiswa B ini tampak pintar sekali di kelas, rajin, cepat mengerti, selalu terlihat siap dengan materi yang diajarkan karena ternyata dia memang sudah baca-baca sebelumnya. Bahkan ajaibnya, kalaupun ada tugas dadakan di malam hari dan nyatanya sulit dikerjakan, paginya si B tetap bisa datang dengan membawa tugas yang sudah dia selesaikan, entah kapan itu waktunya. Belum lagi dia selalu datang tepat waktu di kelas apapun, tidak peduli banyak dosen yang sering datang terlambat, di kelas yang dosennya tidak pernah tidak terlambat pun, dia tetap memilih untuk datang bahkan sebelum jadwal belajar dimulai. Luar biasa. Tidak ada mata kuliah yang dia payah, termasuk mata kuliah yang dianggap sangat sulit untuk hampir semua mahasiswa. Kemampuan sosialnya pun baik. “Wah, benar-benar gifted anak ini”, pikir mahasiswa A. Suatu hari akhirnya si mahasiswa A bertanya pada mahasiswa B, “kamu tu strategi belajarnya kayak apa sih? Sebenernya belajarnya kapan?”, lalu si mahasiswa B menjawab, “ya.. biasanya begitu pulang ke rumah aja, dari isya sampe capek, sekitaran jam 11 malem, atau ya kadang jam 1 pagi, karena otak gw emang ON-nya malem”. “Hmm.. sebenernya gak spesial2 amat dong ya strategi belajarnya”, pikir si mahasiswa A dalam hati. Lalu si mahasiswa A nanya lagi, “tapi, apa belajarnya bener-bener tiap hari?”, si B jawab: “Ya iya lah, gw kan full time mahasiswa, bukan part-time”. Dhuarrr!! Ternyata itu dia, pikir si A, salah satu faktor mendasar yang sangat distingtif diantara mereka berdua. Si A yang sehari-harinya memang terpaksa harus kuliah sambil bekerja, memilih mindset bahwa pekerjaannya lah yang utama, sedangkan kuliah adalah sampingan, yang diharapkan mampu mendukung pekerjaannya. Hasilnya, setiap kuliah, yang penting belajar sesuatu dan lulus, tidak pernah terlalu muluk-muluk harus dapat nilai bagus. Tapi ternyata, efek lain dari mindset itu adalah, passion kita dalam menjalankan peran jadi sangat ekstrim berbeda. Saat kita fokus satu hal, semua waktu yang kita miliki bisa kita curahkan sepenuhnya dalam hal tersebut, dan dengan ditambah kecintaan, progress kita akan meningkat terus secara eksponensial. Bangun tidur, mikirin dan ngerjain itu, lagi istirahat mikirin itu, di waktu luang berusaha ningkatin itu, lama-lama ya jadi ada hal yang kita bisa sangat mastering. Saat ada tugas mendadak pun, berusaha mendorong diri untuk mengerjakan kewajiban, karena memang hidup untuk itu. Istimewanya, saat orang menunjukkan sikap tidak baik pun (selalu datang terlambat misalnya), dia bisa tetap kuat menentukan sikap dan nilainya sendiri, tidak mau sikap orang lain menentukan apalagi merubah sikap dia. Dia tetap full-time student tanpa excuse. Wow. Just wow. Ternyata fokus dan full-time mindset itu benar-benar ekstrim signifikansinya. Bahkan jika bekerja dan kuliah di bidang yang kelihatannya sejalan pun, jika mindset full-time/part-time nya berbeda, ada prioritas yang selalu akan mengalahkan yang lain, yang biasanya berakhir tidak manis, yaitu bahwa hasil keduanya tidak maksimal atau mencapai titik optimum.
4. Tahun baru. Tahun 2020. Tahun ini akan jadi tahun gw banyak berpikir tentang rencana keuangan. “Bukannya tiap tahun selalu begitu, Han?”. Beda, beda aja. Pertama, gw sudah menikah. Kedua, beban beberapa tahun belakangan ini sudah semakin berkurang. Intinya di tahun ini gw lebih punya keleluasan untuk berpikir dan bertindak. Beberapa tahun belakangan memang hidup gw banyak berubah, kalau digambarkan, seperti lagi mode tiarap. Kehidupan sosial gw pun tidak bagus, dalam artian gw jarang bersosialisasi. Yang dulu sering berkomunitas, sekian tahun ini, gw tidak aktif sama sekali. Jalan santai sendiri pun jarang. Kalau mau cari kambing hitam, gw selalu menyalahkan kondisi jalanan Jakarta yang gak ramah, udara sembab, dengan polusi yang parah. Ketemu temen aja sering ogah, bukan karena gak pengen, tapi karena segala kondisi bikin sangat enggan untuk keluar rumah. Tapi tahun ini akan beda. Karena setelah gw pikir-pikir, kehidupan sosial dan rencana keuangan ternyata ada hubungannya juga, ada derived feature-nya. Apakah itu? Saat beberapa orang ditanya, “apa sih resep jadi orang kaya?”, mereka bilang “salah satunya adalah sering bergaul dengan orang kaya”. Lingkungan akan sangat mempengaruhi. Saat kamu bergaul dengan orang kaya, kalopun gak langsung kecipratan kaya, minimal kamu akan bisa belajar cara berpikir mereka dan cara mereka bersikap atas sesuatu, kamu bisa dapet info tentang banyak kesempatan, dan mungkin ekspansi pergaulan ke orang-orang kaya yang lain. Secara matematis, pergaulan juga akumulatif toh? Nah, gimana cara untuk memulainya? Ya dengan memperluas terus lingkaran pertemanan. Gak harus langsung dimulai dengan lingkaran orang kaya, tapi bisa dengan selalu menambah kenalan baru. Kenalan baru itu akan membuat grafik sosial kita juga terus meningkat, tidak hanya soal materi, tapi juga wawasan dan keluwesan menempatkan diri di banyak kondisi. Ya, akhirnya gw rencana balik jadi super extrovert lagi. Apa poin aksinya? Yaitu dengan memaksa diri keluar rumah minimal seminggu sekali (di luar urusan pekerjaan) dan kenalan dengan minimal satu orang baru. Terlalu memaksakan diri? Ah, gapapa, namanya juga target. Yang jelas karena dikejar waktu dan gw butuh banyak insights untuk mengejar gol-gol gw, effort-nya juga harus lebih. New year, new me. This year, I mean it. (PS: Dan tapi bukan berarti kalo gw temenan sm lo jadi gak tulus ya. Gw tidak mengharapkan monetisasi langsung dari pertemanan dengan siapapun, yang gw maksud adalah upgrade diri gw dengan menambah terus pengaruh yang bisa gw jadikan input. Sama halnya kayak lo pengen semangat, lalu lo nyari inspirasi dengan menghadiri seminar atau meminta saran dari ahli. Gitu.)
APPS OF THE WEEK
Notion App
Karena terpengaruh Ali Abdaal, gw jadi nyobain aplikasi Notion dan berusaha jadiin ini “OS” gw dalam merapikan kegiatan dan ide sehari-hari atau apapun dalam hidup. Karena compatibily antar device-nya juga, aplikasi ini cukup memudahkan, dan seminggu nyobain ini, gw ngerasa cocok dan manfaatnya cukup berasa. Oke lah pokoknya. Worth to try. Rekomendasi Ali memang sering match sama gw, hehe..
VIDEO OF THE WEEK
Karena belum pernah dipromoin di blog, video pekan ini diambil dari video lama gw yang ternyata sudah ditonton lebih dari 5000x di Youtube. Gw janji pekan depan saya posting video baru.
Sekali lagi, selamat tahun baru! Semoga tahun ini bisa hidup lebih sehat dan rejeki makin menggunung. Amiin.
Jakarta, 3 Januari 2020,
sambil nonton video 30 orang sudah jadi korban banjir besar Jakarta dan berdoa semoga mereka semua husnul khotimah
Today, Indonesia has a big lost. Our 3rd president has passed away, after been hospitalised for days. He was a real idol for anyone. He was a brilliant inventor, big tech initiator, a noble statesman, and inspirations across generations. And one of so many things that people adore: his love life. I guess each Indonesian knows how amazing he and his wife nurtured their loves toward each other, or “true love” that really one of a kind, they say.
Regarding this topic, I always imagine how someone can deeply in love with only one person for the whole life. Fact: most such couple come from the older generation. Another fact: they were born when tech was not as massive as today. So, is there a correlation?
Source: wired.com
Firstly, what kinda change exactly that tech brings to our life? For me: Choices/options. Or in statistic: bigger random sample. You’ll be part of global community, you can easily communicate with anybody, you can even update someone’s life without really talk to the person. I am sure many people haven’t decide to marry is also because they tend to think “I expect to find someone better out there”. As we know, paradox of choice; the more choices you have, the longer time you need to decide (and the less your happiness rate could be)”.
The less the events, the less the result
So does in matter of love. Well, I might be wrong, but as I’m married, that’s one principal that I’m trying to apply “Hani, no more big random sample (probability rate changed), you have no choice now but to love your spouse wholeheartedly, he’s the only one you have to devote your feeling, and that’s it”. It changed the game.
Yea, thats what I think so far. In brief, if you want to be better in relationship: beware of tech, keep making your choices limited. But don’t trust me anyway. Good statistician always say:
“Correlation does not imply causation”.
Lastly, rest in peace, eyang Habibie. Now you can gather with your loved one in eternity ❤
Hari ini gw langsung pengen nulis apa yang baru kejadian beberapa jam yang lalu, hasil dari datang ke acara “sharing” yang kebetulan diisi oleh Bapak Ir. Oskar Riandi, M.Sc., yaitu direktur PT. Bahasa Kita. Gw sendiri sebelumnya udah beberapa kali denger tentang Bahasa Kita, dari temen yang kebetulan ikut ngerjain penelitian di situ, juga dari acara ID Big Data, dimana kebetulan mereka termasuk yang buka booth, tapi gw sendiri awalnya belum terlalu ngeh ini lembaga apa, full tempat riset kah, atau justru murni perusahaan. Dan akhirnya hari ini gw berkesempatan menyimak langsung dari bosnya, pembahasan tentang apa aja sih yang dikerjain Bahasa Kita, kenapa mereka sangat fokus di bidang itu, dan gimana potensi industrinya ke depan.
Pak Oskar dengan semangat menjelaskan bahwa suara = harta karun yang sangat berharga
Awalnya gw pikir, hmm.. dari namanya sih, “Bahasa Kita”, kayaknya mereka fokus ke bidang linguistik gitu kali ya. Temen gw sendiri penelitiannya adalah tentang NLP (Neuro Linguistic Programming – salah satu keilmuan terkait Deep Learning), ngerjain normalisasi kata-kata alay, tapi ternyata eh ternyataaa, yang mereka kerjain tu jauuh lebih banyak! Baik riset maupun produk untuk bisnis. Walaupun kalau gw lihat core-nya adalah tetep ke “bahasa”, tapi implementasinya luas sekali, bisa ke IoT smart home, drafting hasil meeting (dari omongan-omongan bisa langsung otomatis jadi notulensi), robotik, personal assistant, sistem perbankan, rumah sakit, dll. Bidang eksak banget, yang Pak Oskar sendiri mengakui, kalau mau “nyemplung” di bidang ini, matematikanya mesti kuat banget.
Notula, salah satu produk yang dikembangkan oleh Bahasa Kita
Sedikit tentang Pak Oskar, beliau ternyata adalah lulusan Jepang, dari S1 teknik elektro di Universitas Waseda (hasil mengikuti program Habibie kala itu), lalu S2 juga di Jepang, sudah punya paten di bidang pemrosesan bahasa, puluhan tahun di BPPT, sampai akhirnya memutuskan resign dari status PNS dan memilih untuk mengembangkan Bahasa Kita ini. Wah, pengalamannya di bidang riset jelas banyak banget! Sedikit menyinggung tentang keputusannya resign dari status PNS, beliau menjelaskan bahwa itu adalah pilihan hidup yang memang dipilih dengan tujuan agar risetnya lebih berkembang. Karena memang ada suatu masa dimana Indonesia belum berinvestasi cukup pada riset-riset yang dilakukan di dalam negeri.
Yang menarik dari latar belakangnya menurut gw adalah, begitu gw tahu beliau lulusan Jepang, buat gw semuanya jadi lebih makes sense 😀 Makes sense dalam artian kenapa beliau begitu keukeuh mengerjakan riset dan fokus pada pengembangan teknologi sendiri, tidak mau bergantung pada teknologi asing, memprioritaskan aset bangsa, konsep-konsep terkait kemandirian teknologi, dkk. Karena gw pun punya beberapa kawan lulusan Jepang dan memang mindset mereka sekeren itu: “If you need something, make your own!”, jiwa kreator yang mandiri. Sangat genuine dan berbeda jika dibandingkan dengan pola pikir kebanyakan orang kita zaman sekarang, yang lebih ke: “when you need something, if you have money, just buy laa..”. He he he..
So, balik ke bahasan presentasi, dari awalnya share tentang produk-produk dan prestasi Bahasa Kita, akhirnya Pak Oskar cerita tentang speech processing, yang ternyata menariiiikk banget. Dan berikut adalah poin-poin alasan kenapa kita sebaiknya mengenal teknologi si speech processing ini:
Data di Amerika menunjukkan, disrupsi teknologi di masyarakat, yang bahkan jauh lebih cepat prosesnya dengan tingkat penetrasi smartphone adalah: Speech Processing. Dan ke depan, tren-nya akan terus semakin meningkat.
Teknologi speech processing untuk bahasa-bahasa di Indonesia jelas jauh lebih kompleks karena kekayaan khasanah bahasa kita, termasuk fonem, logat/dialek, bahasa alay, bahasa tidak baku, dll. Maka sebisa mungkin data, aset, dan teknologinya kita yang memiliki dan kita juga yang mengembangkan.
Agar teknologi speech processing ini berkembang, memang diperlukan lingkungan yang harus diciptakan. Dalam arti, teknologi ini tidak bisa berdiri sendiri. Misal, di Amerika, mereka sudah memakai personal assistant untuk membeli sesuatu di e-commerce atau berinteraksi lewat suara dengan alat-alat rumah tangga, dan industri-industri lain yang bisa ikut terkait. Sedangkan di Indonesia, kebanyakan personal assistant masih digunakan untuk “searching information” saja, misal: cari info cuaca lewat Siri di iPhone, dimana sebenarnya potensinya ke depan, kita bisa juga mengintegrasikannya dengan aplikasi gojek, beli sesuatu di tokopedia, membuat janji dengan pihak dokter di rumah sakit, mengotomasi resep dokter via suara tanpa harus menulis di kertas, dll.
Suara adalah aset yang sangat bernilai, karena dia memiliki berbagai informasi di dalamnya, termasuk informasi jenis kelamin, usia, asal daerah, dsb. Bahkan bisa lebih akurat dibanding pengenalan wajah.
Data yang ada pada suara (speech) ini dapat tertuang dalam voice biometrics, yang akurasinya sudah bisa sampai 99,9%, atau error rate di kisaran 0.03%.
6. Tidak seperti halnya sidik jari yang pasti identik berbeda, ciri suara dan wajah memang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, misalnya saudara kembar identik. Hal ini termasuk tantangan untuk para peneliti dan pengembang di bidang speech processing. Tapi bahkan untuk draft biometric pun, teknologi sekarang sudah bisa mengakomodir ratusan parameter, atau contohnya bisa mengidentifikasi suara sampai frekuensi 600, sehingga untuk beberapa kasus, pengenalan suara bahkan lebih akurat dari pengenalan wajah, kecuali jika dilakukan masking (contoh: menutup suara dengan mulut atau sapu tangan), atau memang ada bagian dari fisik yang berubah, seperti gigi rontok, hidung bengkok, paru-paru mengalami gangguan, dll, karena semua akan mempengaruhi. Hebatnya lagi teknologi sekarang, jika ada rekaman saat dua orang bicara sekaligus pun, mesin sudah bisa membedakan dan memisahkan mana yang diucapkan oleh orang 1, mana yang terucap dari orang 2.
7. Pengembangan teknologi speech processing ini juga sangat memiliki manfaat sosial, terutama saat diimplementasikan untuk membantu para saudara kita yang difabel. Contoh: aplikasi yang ada bisa membantu orang-orang yang tidak memiliki tangan untuk tetap menggunakan komputer ber-sistem operasi Linux dengan cara berinteraksi melaui suara, bukan melulu UI (User Interface).
8. Seperti halnya dua sisi mata uang, setiap teknologi juga memiliki terang dan gelapnya sendiri. Teknik speech processing ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, tapi juga ada saja pihak yang menyalahgunakan ini sebagai alat untuk menipu, dll. Untuk potensi ke depan, beberapa hal yang bisa dijadikan ide proyek diantaranya adalah: fraud detection di perbankan, speech synthesizer, atau mungkin pengecekan KPI berdasarkan kegiatan mengajar dosen di kelas, bisa juga penyelidikan kasus korupsi.
9. Menoleh ke Google, mereka sudah sangat canggih dalam menciptakan mesin yang bisa berkomunikasi seperti halnya manusia. Contoh: Google Duplex, yang sudah bisa melakukan berbagai pekerjaan tanpa manusia harus melakukan banyak intervensi lagi, seperti membuat janji dengan dokter, padahal perlu penyesuaian jadwal yang alamiah terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi Google Duplex sudah bertingkah selayaknya manusia sungguhan.
Sumber: teknologi.id
10. Melihat pangsa pasar yang sangat tinggi di Indonesia, Google baru saja meluncurkan produk terbarunya di awal Desember tahun ini, dan dari semua lokasi di dunia, launching perdananya adalah di Jakarta!, yaitu peluncuran ponsel bernama Wiz Phone, yang dibanderol hanya seharga Rp.99.000 dan bisa dibeli di peritel Alfamart. Tidak seperti ponsel canggih tapi juga bukan ponsel abal-abal, kelebihan ponsel ini adalah fitur utamanya dimana pengguna bisa melakukan segala sesuatu via perintah suara saja tanpa harus banyak ketik di layar. Itulah sebabnya ponsel ini justru memang tidak bisa touch screen sama sekali. Tujuannya jelas untuk menciptakan demand di masyarakat akan ponsel berfitur khusus tersebut. Agar masyarakat mulai terbiasa dengan voice command, dan akhirnya poin tersebut menjadi lumrah dan bagian dari kehidupan kita yang tidak bisa dilepaskan. Pendapat tersebut diperkuat dengan harganya yang memang sangat terjangkau, tidak mahal sama sekali, sehingga jelas keuntungan bukan mereka harapkan dari margin hasil penjualan ponsel, tetapi melalui penciptaan pasar untuk tahapan bisnis mereka selanjutnya. Saat kebutuhan dan kebiasaan manusia sudah berubah, Google bisa saja menjual produk-produk mereka yang lain dimana speech processing tersebut sudah lebih canggih dan harganya jauh lebih mahal. Atau mereka juga bisa memanfaatkan data rekaman suara yang ada di seluruh ponsel tersebut, karena itu bisa menjadi sumber pengetahuan dan uang yang melimpah untuk mereka. Karena yang biasanya orang harus bayar jika ingin merekam suara seseorang, Google tanpa harus repot-repot tinggal mengumpulkan segala data yang terekam di alat buatan mereka.
Pada dasarnya kenapa gw anggap hal-hal di atas itu menarik, karena bahkan gw, yang termasuk orang muda yang tinggal di ibukota, gw belum termasuk pengguna mesin suara yang aktif. Gw jarang pake Siri ataupun Google Assistant. Tapi melihat fakta-fakta yang ada, kiranya kita semua sepakat bahwa teknologi pemrosesan suara ini sangat penting dan akan berperan besar, baik secara ekonomi maupun sosial. Maka dibutuhkan orang-orang yang memiliki minat dan bakat untuk terus berperan aktif dalam pengembangannya untuk di dalam negeri, agar aset kita tetap bisa menjadi milik kita. Terutama dengan mudahnya teknologi, apalagi jika dibandingkan dengan zaman dulu, dimana sekarang semua sudah serba dipermudah, tidak harus semua dimulai dari scratch, dengan bantuan berbagai sistem seperti Keras, Tensorflow, atau Pytorch, semestinya sudah tidak ada alasan untuk kita menganggap ini terlalu sulit. Yang penting nomor satu adalah tekad, kemauan keras, dan selalu ingin belajar.
Salam dari Jakarta Selatan yang sedang mendekati tengah malam,
Mohon doanya semoga gw (yang ngetik ini sambil terkantuk-kantuk) juga segera bisa punya paten di bidang data
NB: Di luar bahasan di atas, gw jadi penasaran, kenapa ya orang di Jepang lebih getol dalam bikin paten? Secara konsisten mereka termasuk penghasil paten terbanyak di dunia. Dan itu berpengaruh ke orang-orang non-Jepang yang sempat tinggal, bekerja, atau mengenyam pendidikan di sana.