Hal-hal yang Dipelajari dari Bekerja dengan Pemerintah

Poin-poin di bawah ini akan terdengar sangat biasa di telinga sebagian orang, terutama yang berlatar belakang kebijakan publik, tapi percayalah, untuk orang-orang yang clueless sama sekali tentang bekerja dengan pemerintah (seperti saya pada awalnya), hal-hal berikut bisa membantu, seandainya saja bisa diketahui lebih awal, agar bisa membantu proses kerja, koordinasi, dan komunikasi saat kita harus melakukan proyek bersama dengan pihak pemerintah. Iya, khususnya pemerintah Indonesia.

(Tidak ada urutan angka, karena bukan ditulis berdasarkan bobot poin)

  • Pemerintah “tidak bisa melakukan apapun” tanpa dasar hukum. Katakanlah di bidang pekerjaan saya, transparansi, anti korupsi, keterbukaan publik. Ada banyak praktik baik yang bisa diadopsi oleh pemerintah Indonesia, baik dari negara lain, maupun lembaga internasional yang memiliki banyak pengalaman dan mengumpulkan berbagai pembelajaran global. Tapi itu semua tidak serta merta bisa diadopsi jika di Indonesia sendiri belum ada dasar hukumnya. Maka dari itu, cara efektif bekerja dengan pemerintah adalah, pelajari semua dasar hukum yang ada, apa tujuan yang bisa menjadi prioritas, dan bantu pemerintah dalam mencapai itu. Jika perbaikan baru dirasa sangat penting, namun tidak ada dalam peraturan manapun, maka mulailah dengan dorong pembuatan kebijakan baru yang terkait itu. Intinya, tidak ada aksi tanpa dasar hukum. Sebaik apapun sesuatu, walaupun itu akan sangat bermanfaat bagi pemerintah, tetap saja tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada landasan tertulisnya.
  • Pelajari motif suatu negara, lembaga maupun individu, terutama tokoh kunci yang bekerja dengan kita. Teorinya adalah “What’s in it for me?”. “Untungnya buat gw apa dengerin atau ngikutin lo?”. Mungkin ini terdengar umum, tapi untuk saya ini menarik. Kenapa? Karena di sektor privat, ini rasanya jauh lebih mudah. Hanya ada satu bahasa universal di sektor privat, yaitu uang. Keuntungan moneter. Tapi jika di sektor publik, motifnya bisa jauh lebih bervariasi dan bisa sangat misterius. Bisa saja suatu negara, lembaga, atau tokoh publik menyatakan di media bahwa mereka mendukung aksi keterbukaan. Tapi kenyataannya? Tidak ada yang tahu. Apakah mendukung artinya berkomitmen? Apakah berkomitmen artinya beraksi? Apakah beraksi artinya gerak cepat? Apakah jika terjadi kelambatan progress, itu karena kendala eksternal, atau sengaja dihalau oleh pihak internal tertentu?. Saat seorang tokoh publik menyatakan dukungannya di media, apa dia benar-benar tulus menyatakan itu? Apa sebenarnya dia sedang mengejar sesuatu? Apa yang sedang disembunyikan? Apa ada tujuan lain yang bisa menjadi dampak dari dukungannya? Yang jelas, semakin awal kita tahu motif masing-masing yang terlibat, semakin bagus. Karena kita jadi bisa atur strategi dan bisa selalu menitikberatkan poin tersebut dalam setiap kesempatan berkomunikasi.

Gambar di atas adalah gambar stakeholder mapping yang paling umum. Kita harus mengelompokkan pemangku kebijakan berdasarkan pengaruh dan dukungannya. Kesulitan dalam menentukan motif pihak-pihak yang terlibat, menyebabkan kesulitan dalam menentukan masing-masing mereka sebenarnya ada di kuadran yang mana.

  • Ada sensitifitas terkait bagi pakai data. Dalam kaitannya dengan lembaga pemerintah, data adalah aset dan barang berharga, yang dianggap sensitif dan sayangnya juga melibatkan ego. Di satu sisi, kita bisa merasa gemas saat pemerintah enggan berbagi data yang mestinya milik publik, tapi di sisi lain, kita juga harus empati bahwa pemerintah merasa memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi negara dan masyarakatnya. Jangankan untuk informasi sensitif, kadang untuk informasi umum saja, ini sulit dilakukan. Padahal kalau orang bilang sih, “data-data itu udah bocor juga. Kita cuma berusaha minta baik-baik tapi ditolak”. Salah satu solusinya adalah kembali ke poin awal: pelajari segala dasar hukumnya. Cari celah yang mengharuskan pemerintah berbagi data, atau jika memang tidak ada, maka doronglah peraturan baru yang membuat pemerintah mau tidak mau harus mempublikasikan data yang diperlukan publik.
  • Tidak semua pihak terbuka dengan yang berbau asing. Sebagai orang yang bekerja untuk lembaga asing, awalnya saya tidak menyadari hal ini. Saya pikir, sebagai perwakilan dari lembaga internasional yang memiliki banyak praktik baik, di permukaan saya tampak sangat diterima dengan baik juga oleh pemerintah. Tapi ternyata, di belakang layar tidak selalu demikian. Pemerintah pasti punya pengalaman panjang bekerja dengan lembaga-lembaga asing, dan harus diakui, memang tidak semua lembaga asing bisa masuk ke Indonesia dan bekerja dengan pemerintah Indonesia dengan baik. Hal-hal seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan dan skepstisisme, walaupun, sebagai negara dengan adat timur, pemerintah tentu tetap harus selalu bersopan santun. Salah satu solusinya adalah berkawan baik dengan banyak lembaga lokal, sehingga bisa membentuk citra yang baik dan juga mendapatkan insight sebenarnya dari para pihak, karena mereka juga sudah jauh lebih lama beroperasi dan bekerja dengan pemerintah.
  • Kemampuan komunikasi dan advokasi sangatlah krusial. Ini sepertinya juga hal umum, tapi tetap saja untuk orang seperti saya cukup menantang. Kadang ingin rasanya fokus ke pekerjaan saja, bicarakan hal-hal penting terkait pekerjaan, lalu selesai. Tapi bekerja dengan manusia, terutama pemerintah, tetaplah butuh banyak kemampuan sosial, sehingga mahir kemampuan teknis saja tidaklah cukup. Bahkan mungkin bobot kemampuan advokasinya jauh lebih besar dibanding kemampuan teknis.
  • Bentuk aliansi dengan pihak-pihak yang ada di internal pemerintah. Tidak harus selalu tokoh besar atau tokoh kunci di suatu lembaga, tapi bisa juga dengan kroco-kroco, atau orang-orang yang ada di bawahnya. “Bukan orang penting” bukan berarti tidak penting. Setidaknya kita jadi bisa lebih banyak insight, setidaknya jadi ada yang bisa diajak bicara (penting! supaya tidak merasa sendirian), dan syukur-syukur ikut membantu kita mengerjakan pekerjaan dan mencapai tujuan bersama.

Sekian beberapa hal dari saya yang kebetulan terbersit saat menulis blog ini. Silakan tambahkan jika teman-teman memiliki pengalaman serupa. Terima kasih.

Sambil ngantuk-ngantuk di hari ke-16 Ramadhan 2023

Hani Rosidaini

I Want to Be a Standup Comedian

Yes, you read it right. I want to be a comic who makes jokes over anything and makes people laugh even though sometimes many of them feel offended.

Anyway, welcome to my daily rant. I’m practising a note a day to rebuild the writing muscles, and this is my first day, nyahahaa… Of all the topics I wish to share, this is the topic I choose first because I think I can finish writing this in one sitting.

So, why do I want to be a comic? Can you guess? No, definitely not because I think I’m funny. On the contrary, I feel I’m not funny at all. I’m serious most of the time unless I’m with people who can create the supportive nuance for me to make jokes. But there is someone who really inspires me to be a comic, the one and only: Adriano Qalbi.

As you might have known, Adri is a comic and a consistent podcaster with his “Podcast Awal Minggu”. Please check his content for those who don’t know him yet, and I bet you’ll be either his fan or his hater, nothing in between. He has some authenticity in his way of thinking and talking, and we have to admit that it’s not for everyone. By declaring himself as a comic, when he appears on your screen, you’ll anticipate funny stories and laughs, and it can be the case because Adri is also someone who can laugh easily. But the more you listen to him, the more you’ll realise that what he actually does is nagging about anything, complaining about all the things that happen in life, finding the antithesis of the most common perspectives, challenging the status quo and pushing out his argument (i hope i’m not exaggerating here, but you got my point, right?). But again, because he wraps all these with jokes, people see his nag differently, and that’s what I want. Not because I have so many things to complain about, but because many things in life bother me, and human actions are sometimes unbearable. As an extroverted person, I always feel the need to release my energy (sorry for using this excuse, but FYI, it’s true!), but I don’t know how to express it in a non-offensive way. The solution? Jokes! But for now, I know nothing about comedy besides knowing that it’s all about breaking the expectation. I’m sure humour can be learned because I learned some stuff from one of the conversations between Pandji and Adri in this video:

So, where should I start? Read, watch, practice, repeat. Timeline: unknown.

And if you’re curious about what in life bothers me, I’ll give you some little examples of what’s in my head:

  • Why do poor people choose to have more kids when they know that they can’t afford their living? Do we agree that most of them are considered less intelligent people?
  • Why do people put their partner’s name or their kid’s name in their profile bio? (e.g. Bio: love of @abangsayang or @Azka’s mother). Bio is to help other people to know you, your interest, your field, and how you identify yourself. If your identity depends on another person, what happens if that person is gone? Will you lose your identity? Or do you already think that you don’t have any other identity?
  • Graduating from a political school and working in politics doesn’t mean you have to talk about politics all the time. Don’t you read anything else outside your field? I found this kind of people boring. (It applies to any subject besides politics)
  • Another thing about so-called politicians or political practitioners is, that I don’t know how they can live their life, as anything they do will be considered political action, action with a motive and not a genuine attitude as a human being.
  • People who keep asking “when will you get married?” or “when do you want to have kids?” are people who are not entirely happy with their life, and seek a spark of joy from showing that they have something that the other person doesn’t. Not the kind of people I want to be surrounded with, absolutely. Or (if it’s a woman) it may be because the only talent she has is giving birth? Ha!

Do I sound offensive already? Sorry. Please be patient. I’ll learn comedy and come back funnier. Adios!

Between London and Jakarta,

After finishing the last meeting for today

Pikiran Random Pekan Ini #1: Dari Tentang Nadiem, Keuangan, Sampai Tahun Baru

Funny video about Nadiem’s English. This guy obviously has a big bank of vocabulary. Hint: “hubris”.

 

Hai! Apa kabar semuanya? 😀 Mulai pekan ini gw akan mencoba untuk mendokumentasikan pikiran-pikiran random gw. Pikiran yang penting gak penting sebenernya. Tapi menarik aja kalo nanti di masa depan gw bisa lihat lagi apa yang gw pikirkan di hari ini. Dan berikut adalah beberapa hal diantaranya:

 

THOUGHTS OF THE WEEK

1. Belakangan gw suka nonton video-videonya Kemendikbud dan termasuk di dalamnya tentang sosok sang menteri baru, Nadiem Makarim. Salah satu hal tentang dia adalah: dia udah gak pake media sosial sama sekali. Ditanya alasannya kenapa, salah satunya adalah karena dia pengen punya yang namanya “kedaulatan” (yang gw artikan bebas menjadi: kemerdekaan berpikir dan bertindak tanpa banyak terdistraksi noise). Gw pikir, “wah, kata yang menarik”. Sampe gw cari bahasa Inggris-nya apa, ternyata sovereignty, kata yang juga jarang dipake sehari-hari. Lalu semakin lama semakin gw hayati si “kedaulatan” itu gw jadi semakin pengen mengamini pernyataan tersebut, bahwa kita ternyata memang butuh yang namanya kedaulatan, dimulai dari kedaulatan untuk diri sendiri.

 

2. Dimulai dari kesadaran akan kedaulatan, gw sangat berusaha meminimalisir penggunaan media sosial gw. Tidak sepenuhnya bebas memang, karena toh gw juga bisa menghasilkan banyak hal dari media sosial, termasuk menghasilkan uang. Tapi yang jelas gw sangat membatasi. Pembatasan ini akhirnya membawa pemikiran lama gw sekian tahun yang lalu (sekitar 2011?), tentang twitter terutama pada saat itu. Biasanya, tiap kali gw punya pemikiran random, gw akan share itu di akun twitter gw, karena biasanya pemikiran random gw memang hal-hal sederhana yang gw kira tidak kompleks untuk diceritakan. Tapi di sisi lain, twitter nyatanya memang membawa dampak buruk bagi kemampuan literasi, terutama karena keberadaan batas karakter. Kita jadi dipaksa menuangkan pemikiran hanya dalam 500 karakter (bahkan di tahun itu hanya 140 karakter). Batasan ini akhirnya memaksa kita berpikir sepotong-sepotong, gak cuma dalam memproduksi twit, tapi juga dalam membaca twit orang lain. Ketidakbebasan dalam menyampaikan sesuatu inilah yang akhirnya mengancam kebiasaan kita dalam menelaah sesuatu yang jauh lebih kompleks. Dan itu bisa juga berbahaya untuk keberlangsungan hidup gw, dalam belajar, membaca paper ilmiah, ataupun memproduksi tulisan. Akhirnya, sekarang gw putuskan, kalau hanya pemikiran random, daripada ditulis di twitter (atau sekarang lebih banyak diposting di instagram story), gw akan lebih memilih menuliskannya di catatan sendiri, supaya gw lebih bisa berpikir secara komprehensif dan menuliskannya dengan lebih layak.

 

3. Mahasiswa A penasaran dengan mahasiswa B, karena si mahasiswa B ini tampak pintar sekali di kelas, rajin, cepat mengerti, selalu terlihat siap dengan materi yang diajarkan karena ternyata dia memang sudah baca-baca sebelumnya. Bahkan ajaibnya, kalaupun ada tugas dadakan di malam hari dan nyatanya sulit dikerjakan, paginya si B tetap bisa datang dengan membawa tugas yang sudah dia selesaikan, entah kapan itu waktunya. Belum lagi dia selalu datang tepat waktu di kelas apapun, tidak peduli banyak dosen yang sering datang terlambat, di kelas yang dosennya tidak pernah tidak terlambat pun, dia tetap memilih untuk datang bahkan sebelum jadwal belajar dimulai. Luar biasa. Tidak ada mata kuliah yang dia payah, termasuk mata kuliah yang dianggap sangat sulit untuk hampir semua mahasiswa. Kemampuan sosialnya pun baik. “Wah, benar-benar gifted anak ini”, pikir mahasiswa A. Suatu hari akhirnya si mahasiswa A bertanya pada mahasiswa B, “kamu tu strategi belajarnya kayak apa sih? Sebenernya belajarnya kapan?”, lalu si mahasiswa B menjawab, “ya.. biasanya begitu pulang ke rumah aja, dari isya sampe capek, sekitaran jam 11 malem, atau ya kadang jam 1 pagi, karena otak gw emang ON-nya malem”. “Hmm.. sebenernya gak spesial2 amat dong ya strategi belajarnya”, pikir si mahasiswa A dalam hati. Lalu si mahasiswa A nanya lagi, “tapi, apa belajarnya bener-bener tiap hari?”, si B jawab: “Ya iya lah, gw kan full time mahasiswa, bukan part-time”. Dhuarrr!! Ternyata itu dia, pikir si A, salah satu faktor mendasar yang sangat distingtif diantara mereka berdua. Si A yang sehari-harinya memang terpaksa harus kuliah sambil bekerja, memilih mindset bahwa pekerjaannya lah yang utama, sedangkan kuliah adalah sampingan, yang diharapkan mampu mendukung pekerjaannya. Hasilnya, setiap kuliah, yang penting belajar sesuatu dan lulus, tidak pernah terlalu muluk-muluk harus dapat nilai bagus. Tapi ternyata, efek lain dari mindset itu adalah, passion kita dalam menjalankan peran jadi sangat ekstrim berbeda. Saat kita fokus satu hal, semua waktu yang kita miliki bisa kita curahkan sepenuhnya dalam hal tersebut, dan dengan ditambah kecintaan, progress kita akan meningkat terus secara eksponensial. Bangun tidur, mikirin dan ngerjain itu, lagi istirahat mikirin itu, di waktu luang berusaha ningkatin itu, lama-lama ya jadi ada hal yang kita bisa sangat mastering. Saat ada tugas mendadak pun, berusaha mendorong diri untuk mengerjakan kewajiban, karena memang hidup untuk itu. Istimewanya, saat orang menunjukkan sikap tidak baik pun (selalu datang terlambat misalnya), dia bisa tetap kuat menentukan sikap dan nilainya sendiri, tidak mau sikap orang lain menentukan apalagi merubah sikap dia. Dia tetap full-time student tanpa excuse. Wow. Just wow. Ternyata fokus dan full-time mindset itu benar-benar ekstrim signifikansinya. Bahkan jika bekerja dan kuliah di bidang yang kelihatannya sejalan pun, jika mindset full-time/part-time nya berbeda, ada prioritas yang selalu akan mengalahkan yang lain, yang biasanya berakhir tidak manis, yaitu bahwa hasil keduanya tidak maksimal atau mencapai titik optimum.

 

4. Tahun baru. Tahun 2020. Tahun ini akan jadi tahun gw banyak berpikir tentang rencana keuangan. “Bukannya tiap tahun selalu begitu, Han?”. Beda, beda aja. Pertama, gw sudah menikah. Kedua, beban beberapa tahun belakangan ini sudah semakin berkurang. Intinya di tahun ini gw lebih punya keleluasan untuk berpikir dan bertindak. Beberapa tahun belakangan memang hidup gw banyak berubah, kalau digambarkan, seperti lagi mode tiarap. Kehidupan sosial gw pun tidak bagus, dalam artian gw jarang bersosialisasi. Yang dulu sering berkomunitas, sekian tahun ini, gw tidak aktif sama sekali. Jalan santai sendiri pun jarang. Kalau mau cari kambing hitam, gw selalu menyalahkan kondisi jalanan Jakarta yang gak ramah, udara sembab, dengan polusi yang parah. Ketemu temen aja sering ogah, bukan karena gak pengen, tapi karena segala kondisi bikin sangat enggan untuk keluar rumah. Tapi tahun ini akan beda. Karena setelah gw pikir-pikir, kehidupan sosial dan rencana keuangan ternyata ada hubungannya juga, ada derived feature-nya. Apakah itu? Saat beberapa orang ditanya, “apa sih resep jadi orang kaya?”, mereka bilang “salah satunya adalah sering bergaul dengan orang kaya”. Lingkungan akan sangat mempengaruhi. Saat kamu bergaul dengan orang kaya, kalopun gak langsung kecipratan kaya, minimal kamu akan bisa belajar cara berpikir mereka dan cara mereka bersikap atas sesuatu, kamu bisa dapet info tentang banyak kesempatan, dan mungkin ekspansi pergaulan ke orang-orang kaya yang lain. Secara matematis, pergaulan juga akumulatif toh? Nah, gimana cara untuk memulainya? Ya dengan memperluas terus lingkaran pertemanan. Gak harus langsung dimulai dengan lingkaran orang kaya, tapi bisa dengan selalu menambah kenalan baru. Kenalan baru itu akan membuat grafik sosial kita juga terus meningkat, tidak hanya soal materi, tapi juga wawasan dan keluwesan menempatkan diri di banyak kondisi. Ya, akhirnya gw rencana balik jadi super extrovert lagi. Apa poin aksinya? Yaitu dengan memaksa diri keluar rumah minimal seminggu sekali (di luar urusan pekerjaan) dan kenalan dengan minimal satu orang baru. Terlalu memaksakan diri? Ah, gapapa, namanya juga target. Yang jelas karena dikejar waktu dan gw butuh banyak insights untuk mengejar gol-gol gw, effort-nya juga harus lebih. New year, new me. This year, I mean it. (PS: Dan tapi bukan berarti kalo gw temenan sm lo jadi gak tulus ya. Gw tidak mengharapkan monetisasi langsung dari pertemanan dengan siapapun, yang gw maksud adalah upgrade diri gw dengan menambah terus pengaruh yang bisa gw jadikan input. Sama halnya kayak lo pengen semangat, lalu lo nyari inspirasi dengan menghadiri seminar atau meminta saran dari ahli. Gitu.)

 

APPS OF THE WEEK

f635823d2212f8f363a2fd102d1acfc0

Notion App

Karena terpengaruh Ali Abdaal, gw jadi nyobain aplikasi Notion dan berusaha jadiin ini “OS” gw dalam merapikan kegiatan dan ide sehari-hari atau apapun dalam hidup. Karena compatibily antar device-nya juga, aplikasi ini cukup memudahkan, dan seminggu nyobain ini, gw ngerasa cocok dan manfaatnya cukup berasa. Oke lah pokoknya. Worth to try. Rekomendasi Ali memang sering match sama gw, hehe..

 

VIDEO OF THE WEEK

Karena belum pernah dipromoin di blog, video pekan ini diambil dari video lama gw yang ternyata sudah ditonton lebih dari 5000x di Youtube. Gw janji pekan depan saya posting video baru.

 

Sekali lagi, selamat tahun baru! Semoga tahun ini bisa hidup lebih sehat dan rejeki makin menggunung. Amiin.

Jakarta, 3 Januari 2020,

sambil nonton video 30 orang sudah jadi korban banjir besar Jakarta dan berdoa semoga mereka semua husnul khotimah

Probability Rate of Love

69796780_10214856261775686_3822159467647074304_n

Source: (instagram) Karya Adalah Doa

 

Today, Indonesia has a big lost. Our 3rd president has passed away, after been hospitalised for days. He was a real idol for anyone. He was a brilliant inventor, big tech initiator, a noble statesman, and inspirations across generations. And one of so many things that people adore: his love life. I guess each Indonesian knows how amazing he and his wife nurtured their loves toward each other, or “true love” that really one of a kind, they say.

Regarding this topic, I always imagine how someone can deeply in love with only one person for the whole life. Fact: most such couple come from the older generation. Another fact: they were born when tech was not as massive as today. So, is there a correlation?

 

HAS TECH USHERED IN A GOLDEN AGE OF LONG-DISTANCE DATING v2

Source: wired.com

 

Firstly, what kinda change exactly that tech brings to our life? For me: Choices/options. Or in statistic: bigger random sample. You’ll be part of global community, you can easily communicate with anybody, you can even update someone’s life without really talk to the person. I am sure many people haven’t decide to marry is also because they tend to think “I expect to find someone better out there”. As we know, paradox of choice; the more choices you have, the longer time you need to decide (and the less your happiness rate could be)”.

7fb4511a3bbbdd65a3c222ee5871f64c

The less the events, the less the result

 

So does in matter of love. Well, I might be wrong, but as I’m married, that’s one principal that I’m trying to apply “Hani, no more big random sample (probability rate changed), you have no choice now but to love your spouse wholeheartedly, he’s the only one you have to devote your feeling, and that’s it”. It changed the game.

Yea, thats what I think so far. In brief, if you want to be better in relationship: beware of tech, keep making your choices limited. But don’t trust me anyway. Good statistician always say:

“Correlation does not imply causation”.

Lastly, rest in peace, eyang Habibie. Now you can gather with your loved one in eternity ❤

 

Jakarta 2019,

in the mid-day while ordering Grabfood for lunch

 

10 Fakta Tentang Teknologi ‘Speech Processing’ Yang Orang Harus Tahu

Hai, apa kabar semuanya?

Pak Oskar "Bahasa Kita"

Bersama Direktur Bahasa Kita

Hari ini gw langsung pengen nulis apa yang baru kejadian beberapa jam yang lalu, hasil dari datang ke acara “sharing” yang kebetulan diisi oleh Bapak Ir. Oskar Riandi, M.Sc., yaitu direktur PT. Bahasa Kita. Gw sendiri sebelumnya udah beberapa kali denger tentang Bahasa Kita, dari temen yang kebetulan ikut ngerjain penelitian di situ, juga dari acara ID Big Data, dimana kebetulan mereka termasuk yang buka booth, tapi gw sendiri awalnya belum terlalu ngeh ini lembaga apa, full tempat riset kah, atau justru murni perusahaan. Dan akhirnya hari ini gw berkesempatan menyimak langsung dari bosnya, pembahasan tentang apa aja sih yang dikerjain Bahasa Kita, kenapa mereka sangat fokus di bidang itu, dan gimana potensi industrinya ke depan.

photo6075397597616515212

Pak Oskar dengan semangat menjelaskan bahwa suara = harta karun yang sangat berharga

Awalnya gw pikir, hmm.. dari namanya sih, “Bahasa Kita”, kayaknya mereka fokus ke bidang linguistik gitu kali ya. Temen gw sendiri penelitiannya adalah tentang NLP (Neuro Linguistic Programming – salah satu keilmuan terkait Deep Learning), ngerjain normalisasi kata-kata alay, tapi ternyata eh ternyataaa, yang mereka kerjain tu jauuh lebih banyak! Baik riset maupun produk untuk bisnis. Walaupun kalau gw lihat core-nya adalah tetep ke “bahasa”, tapi implementasinya luas sekali, bisa ke IoT smart home, drafting hasil meeting (dari omongan-omongan bisa langsung otomatis jadi notulensi), robotik, personal assistant, sistem perbankan, rumah sakit, dll. Bidang eksak banget, yang Pak Oskar sendiri mengakui, kalau mau “nyemplung” di bidang ini, matematikanya mesti kuat banget.

Screen Shot 2018-12-07 at 23.58.04

Notula, salah satu produk yang dikembangkan oleh Bahasa Kita

 

Sedikit tentang Pak Oskar, beliau ternyata adalah lulusan Jepang, dari S1 teknik elektro di Universitas Waseda (hasil mengikuti program Habibie kala itu), lalu S2 juga di Jepang, sudah punya paten di bidang pemrosesan bahasa, puluhan tahun di BPPT, sampai akhirnya memutuskan resign dari status PNS dan memilih untuk mengembangkan Bahasa Kita ini. Wah, pengalamannya di bidang riset jelas banyak banget! Sedikit menyinggung tentang keputusannya resign dari status PNS, beliau menjelaskan bahwa itu adalah pilihan hidup yang memang dipilih dengan tujuan agar risetnya lebih berkembang. Karena memang ada suatu masa dimana Indonesia belum berinvestasi cukup pada riset-riset yang dilakukan di dalam negeri.

Yang menarik dari latar belakangnya menurut gw adalah, begitu gw tahu beliau lulusan Jepang, buat gw semuanya jadi lebih makes sense 😀 Makes sense dalam artian kenapa beliau begitu keukeuh mengerjakan riset dan fokus pada pengembangan teknologi sendiri, tidak mau bergantung pada teknologi asing, memprioritaskan aset bangsa, konsep-konsep terkait kemandirian teknologi, dkk. Karena gw pun punya beberapa kawan lulusan Jepang dan memang mindset mereka sekeren itu: “If you need something, make your own!”, jiwa kreator yang mandiri. Sangat genuine dan berbeda jika dibandingkan dengan pola pikir kebanyakan orang kita zaman sekarang, yang lebih ke: “when you need something, if you have money, just buy laa..”. He he he..

So, balik ke bahasan presentasi, dari awalnya share tentang produk-produk dan prestasi Bahasa Kita, akhirnya Pak Oskar cerita tentang speech processing, yang ternyata menariiiikk banget. Dan berikut adalah poin-poin alasan kenapa kita sebaiknya mengenal teknologi si speech processing ini:

  1. Data di Amerika menunjukkan, disrupsi teknologi di masyarakat, yang bahkan jauh lebih cepat prosesnya dengan tingkat penetrasi smartphone adalah: Speech Processing. Dan ke depan, tren-nya akan terus semakin meningkat.
  2. Teknologi speech processing untuk bahasa-bahasa di Indonesia jelas jauh lebih kompleks karena kekayaan khasanah bahasa kita, termasuk fonem, logat/dialek, bahasa alay, bahasa tidak baku, dll. Maka sebisa mungkin data, aset, dan teknologinya kita yang memiliki dan kita juga yang mengembangkan.
  3. Agar teknologi speech processing ini berkembang, memang diperlukan lingkungan yang harus diciptakan. Dalam arti, teknologi ini tidak bisa berdiri sendiri. Misal, di Amerika, mereka sudah memakai personal assistant untuk membeli sesuatu di e-commerce atau berinteraksi lewat suara dengan alat-alat rumah tangga, dan industri-industri lain yang bisa ikut terkait. Sedangkan di Indonesia, kebanyakan personal assistant masih digunakan untuk “searching information” saja, misal: cari info cuaca lewat Siri di iPhone, dimana sebenarnya potensinya ke depan, kita bisa juga mengintegrasikannya dengan aplikasi gojek, beli sesuatu di tokopedia, membuat janji dengan pihak dokter di rumah sakit, mengotomasi resep dokter via suara tanpa harus menulis di kertas, dll.
  4. Suara adalah aset yang sangat bernilai, karena dia memiliki berbagai informasi di dalamnya, termasuk informasi jenis kelamin, usia, asal daerah, dsb. Bahkan bisa lebih akurat dibanding pengenalan wajah.
  5. Data yang ada pada suara (speech) ini dapat tertuang dalam voice biometrics, yang akurasinya sudah bisa sampai 99,9%, atau error rate di kisaran 0.03%.

 

6. Tidak seperti halnya sidik jari yang pasti identik berbeda, ciri suara dan wajah memang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, misalnya saudara kembar identik. Hal ini termasuk tantangan untuk para peneliti dan pengembang di bidang speech processing. Tapi bahkan untuk draft biometric pun, teknologi sekarang sudah bisa mengakomodir ratusan parameter, atau contohnya bisa mengidentifikasi suara sampai frekuensi 600, sehingga untuk beberapa kasus, pengenalan suara bahkan lebih akurat dari pengenalan wajah, kecuali jika dilakukan masking (contoh: menutup suara dengan mulut atau sapu tangan), atau memang ada bagian dari fisik yang berubah, seperti gigi rontok, hidung bengkok, paru-paru mengalami gangguan, dll, karena semua akan mempengaruhi. Hebatnya lagi teknologi sekarang, jika ada rekaman saat dua orang bicara sekaligus pun, mesin sudah bisa membedakan dan memisahkan mana yang diucapkan oleh orang 1, mana yang terucap dari orang 2.

pi233pluthom

Komputer untuk orang difabel. Sumber gambar: https://medicalxpress.com/news/2012-07-eyes-device-disabled.html

 

7. Pengembangan teknologi speech processing ini juga sangat memiliki manfaat sosial, terutama saat diimplementasikan untuk membantu para saudara kita yang difabel. Contoh: aplikasi yang ada bisa membantu orang-orang yang tidak memiliki tangan untuk tetap menggunakan komputer ber-sistem operasi Linux dengan cara berinteraksi melaui suara, bukan melulu UI (User Interface).

8. Seperti halnya dua sisi mata uang, setiap teknologi juga memiliki terang dan gelapnya sendiri. Teknik speech processing ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, tapi juga ada saja pihak yang menyalahgunakan ini sebagai alat untuk menipu, dll. Untuk potensi ke depan, beberapa hal yang bisa dijadikan ide proyek diantaranya adalah: fraud detection di perbankan, speech synthesizer, atau mungkin pengecekan KPI berdasarkan kegiatan mengajar dosen di kelas, bisa juga penyelidikan kasus korupsi.

 

9. Menoleh ke Google, mereka sudah sangat canggih dalam menciptakan mesin yang bisa berkomunikasi seperti halnya manusia. Contoh: Google Duplex, yang sudah bisa melakukan berbagai pekerjaan tanpa manusia harus melakukan banyak intervensi lagi, seperti membuat janji dengan dokter, padahal perlu penyesuaian jadwal yang alamiah terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi Google Duplex sudah bertingkah selayaknya manusia sungguhan.

Sumber: teknologi.id

Sumber: teknologi.id

 

10. Melihat pangsa pasar yang sangat tinggi di Indonesia, Google baru saja meluncurkan produk terbarunya di awal Desember tahun ini, dan dari semua lokasi di dunia, launching perdananya adalah di Jakarta!, yaitu peluncuran ponsel bernama Wiz Phone, yang dibanderol hanya seharga Rp.99.000 dan bisa dibeli di peritel Alfamart. Tidak seperti ponsel canggih tapi juga bukan ponsel abal-abal, kelebihan ponsel ini adalah fitur utamanya dimana pengguna bisa melakukan segala sesuatu via perintah suara saja tanpa harus banyak ketik di layar. Itulah sebabnya ponsel ini justru memang tidak bisa touch screen sama sekali. Tujuannya jelas untuk menciptakan demand di masyarakat akan ponsel berfitur khusus tersebut. Agar masyarakat mulai terbiasa dengan voice command, dan akhirnya poin tersebut menjadi lumrah dan bagian dari kehidupan kita yang tidak bisa dilepaskan. Pendapat tersebut diperkuat dengan harganya yang memang sangat terjangkau, tidak mahal sama sekali, sehingga jelas keuntungan bukan mereka harapkan dari margin hasil penjualan ponsel, tetapi melalui penciptaan pasar untuk tahapan bisnis mereka selanjutnya. Saat kebutuhan dan kebiasaan manusia sudah berubah, Google bisa saja menjual produk-produk mereka yang lain dimana speech processing tersebut sudah lebih canggih dan harganya jauh lebih mahal. Atau mereka juga bisa memanfaatkan data rekaman suara yang ada di seluruh ponsel tersebut, karena itu bisa menjadi sumber pengetahuan dan uang yang melimpah untuk mereka. Karena yang biasanya orang harus bayar jika ingin merekam suara seseorang, Google tanpa harus repot-repot tinggal mengumpulkan segala data yang terekam di alat buatan mereka.

Pada dasarnya kenapa gw anggap hal-hal di atas itu menarik, karena bahkan gw, yang termasuk orang muda yang tinggal di ibukota, gw belum termasuk pengguna mesin suara yang aktif. Gw jarang pake Siri ataupun Google Assistant. Tapi melihat fakta-fakta yang ada, kiranya kita semua sepakat bahwa teknologi pemrosesan suara ini sangat penting dan akan berperan besar, baik secara ekonomi maupun sosial. Maka dibutuhkan orang-orang yang memiliki minat dan bakat untuk terus berperan aktif dalam pengembangannya untuk di dalam negeri, agar aset kita tetap bisa menjadi milik kita. Terutama dengan mudahnya teknologi, apalagi jika dibandingkan dengan zaman dulu, dimana sekarang semua sudah serba dipermudah, tidak harus semua dimulai dari scratch, dengan bantuan berbagai sistem seperti Keras, Tensorflow, atau Pytorch, semestinya sudah tidak ada alasan untuk kita menganggap ini terlalu sulit. Yang penting nomor satu adalah tekad, kemauan keras, dan selalu ingin belajar.

 

Salam dari Jakarta Selatan yang sedang mendekati tengah malam,

Mohon doanya semoga gw (yang ngetik ini sambil terkantuk-kantuk) juga segera bisa punya paten di bidang data

 

NB: Di luar bahasan di atas, gw jadi penasaran, kenapa ya orang di Jepang lebih getol dalam bikin paten? Secara konsisten mereka termasuk penghasil paten terbanyak di dunia. Dan itu berpengaruh ke orang-orang non-Jepang yang sempat tinggal, bekerja, atau mengenyam pendidikan di sana. 

Belajar Bahagia Dari Isi Bensin

photo6305233267699329056

Kartu MyPertamina saya. Bukan pesan sponsor.

 

Pelajaran hidup itu nyatanya bisa datang dari hal-hal sederhana. Contohnya kemarin, saat saya hendak isi bensin di SPBU Pertamina. Karena tertarik dengan promo program ‘Berkah Energi’, dimana jika kita isi bensin dan bayar dengan menggunakan kartu MyPertamina kita bisa dapat poin dengan hadiah umroh, mobil, motor, dll, saya pun ambil kartu MyPertamina saya di dompet dan bilang ke petugas, “Saya mau bayar pakai kartu ini ya”. Selesai isi tanki bensin, petugas pun memproses kartu tersebut di mesinnya, saya masukkan PIN dan menunggu proses pembayarannya selesai. Tapi ternyata transaksi gagal. “Mungkin salah PIN, mba”, katanya. Maka akhirnya dicoba lagi, dan tetap gagal. Di kali ke-empat, dia bilang, “Boleh coba cek saldonya dulu, mba?”. “Wah, sembarangan. Masa kartu saya dianggap kurang saldo, haha.. “, pikir saya. Tapi ya sudah, kami coba lagi, dan tetap gagal juga. Akhirnya dia memutuskan restart mesin dan menemukan fakta bahwa mesinnya memang sedang tidak terkoneksi jaringan, jadi tampilannya tulisan error saja. Karena sudah menunggu dan ternyata hasilnya demikian, akhirnya dia minta, “Kalau cash aja gimana nih, mba?”. “Hmm… Asalnya saya bayar pakai ini karena mau ikut itu sih”, sambil menunjuk ke spanduk program ‘Berkah Energi’. “Iya mba, maaf. Tapi mesinnya kalau sudah begini memang jadinya tidak bisa transaksi apapun”. Sedikit banyak saya pun kesal karena ini bukan yang saya harapkan.

Sekelebat pikiran saya jadi tiba-tiba teringat obrolan dengan seorang kawan. Satu kali dia sempat menasehati saya, “Han, yang bikin kita kecewa itu sebenarnya bukan suatu hal, kondisi, atau orang lain, tapi adalah ekspektasi kita sendiri atas mereka. Tidak sesuai ekspektasi -> kecewa -> tidak hepi. Jadi bisa dibilang, kalau kita tidak ingin banyak kecewa, yang berujung pada tidak hepi, maka kuncinya adalah menjaga ekspektasi kita 0 (zero expectation)”. Walaupun menurut saya, ekspektasi itu tidak akan pernah bisa 0, tapi hanya bisa diminimalisir, sehingga saat itu saya bilang (yang akhirnya akan saya jadikan sebagai quote saya sendiri): Continue reading

Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding 😀

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 😀

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera 😀

A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googling lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated master’s. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience — consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cek kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihat disini (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber: micromasters.mit.edu

Hal-Hal Random Tentang Bisnis #1: Pandangan & Saran Praktis

img_6957

Pas int’l symposium di Flinders Univ, presentasiin policy brief yang disusun dari 3 bulan. Temanya soal gender, tapi karena otak bisnis, jadi tetep aja ngambil judul dari sektor ekonominya

 

Bad, bad, bad, bad, bad habit. I suppose to do something else, do my job, finish task, and set projection, but instead, I’m writing this blog. Karena eh karena, tidak lain tidak bukan, si Hani kalo otaknya lagi kepenuhan, mau gak mau perlahan harus dikeluarin, dan nulis itu biasanya bikin aku ngerasa bisa agak ngerapihin yang semerawut lalu lalang di kepala. Makanya jangan heran kalo si Hani kemana-mana pasti bawa buku kecil sama pena. Semua yang sekelebat di pikiran pasti harus langsung ditulis, dan ni otak kayak gak pernah berhenti kerja. Mikirrr terus.. Bahkan sejujurnya kadang dalam tidur pun rasanya masih tetep mikir. Absurd memang, ya begitulah. Makanya mari kita segera selesaikan saja tulisan ini.

Sesuai judulnya, ini adalah daftar hal-hal random seputar menjalankan usaha. Bukan tulisan komprehensif, apalagi bahasan mendalam tentang topik tertentu. Anggap aja lagi ngintip isi kepala Hani, walau gak semuanya bisa dibagi di sini. Yang umum-umum aja ya…

  1. Saat setup usaha baru, kita tetep harus punya projection plan yang jelas. Contohnya: target berapa user yang pengen didapet dalam 1 bulan, 1 tahun, atau target omset di hitungan output. Intinya, sesuatu yang MEASURABLE.
  2. Fail to plan = plan to fail. Clear.
  3. People don’t give up on the job. Most of them give up on the boss. And I experienced it myself, I gave up on (whatsocalled) a boss, so I left. Learn from that, keep employees’s trust and respect is one of our main jobs.
  4. Sepengen-pengennya kita akrab sama karyawan, kalo mau dapet respek, memang harus bikin barrier. Dulu, aku termasuk yang pengen selalu (sok) asik sama orang, sama siapapun, karena rasanya termasuk mahluk inklusif yang pengen baik sama siapa aja. Tapi dalam urusan kerja, ternyata bikin “batasan” itu emang perlu. Kalo rasa segan udah pudar, tingkah laku juga bisa jadi lebih santai, cenderung lebih seenaknya.
  5. Referensi bank yang cocok untuk startup: Bank Permata dan CIMB. Personal advice.
  6. E-money itu ternyata menarik untuk dipelajari dan ditelisik. Jadi ceritanya, katanya sih berdasarkan kartu e-toll aja (yang mana pengguna punya deposit dana di kartunya), itu total floating money-nya bisa rata-rata Rp.1,7 trilyun/bulan. Uang nganggur semua. PER BULAN. Dan kebayang lah, sistem e-wallet juga kayak apa. Kalo kartunya rusak atau ilang, ya ilang juga lah saldo kita (padahal kan uang benerannya di bank masih ada). Dan dari sisi bank ybs yang nyimpen si dana, setelah 1 tahun mereka punya otoritas untuk make capital itu, suka-suka mereka. Dan ada bank yang make dana tersebut jadi anggaran micro-lending nya mereka. Micro but huge. So, with the right technology system, you can do many things.
  7. E-commerce dan online shop makin banyak, tapi pertumbuhan payment gateway belum terlalu signifikan dan krusial. Dan ternyata masalah utamanya masih ada di customer behavior. Orang yang belanja online, rerata closing-nya masih lewat chat. Mereka hanya akan make, contohnya: paypal, doku, ipaymu, hanya kalo dipaksa. Misalnya Air Asia, yang dulu maksa customer-nya harus pake kartu kredit kalo mau dapet tiket promo online. Akhirnya ya mau gak mau, yang gak punya kartu kredit pun bahkan ngebela-belain mesti pinjem punya temennya.
  8. Tiba-tiba keinget omongannya om Wiwit dulu, direkturnya C59. Suatu waktu beliau pernah bilang pas ngisi workshop: “Kalian jangan ngaku pinter deh kalo belum jago nyari duit!”. Hmm, buat yang sensian, gak usah ngerasa offended dulu ya. Bukan berarti semua harus dinilai sama uang. Tapi menurut aku sih ini makes sense. Intinya, pinter paripurna itu adalah yang bukan cuma jago teori atau jago ngomong, tapi juga jago praktek. Dan ini bisa diliat dari output, yang salah satunya adalah materi. Buat penyemangat aja. Jadi kalo kalian ngerasa pinter, ya harus semangat buat buktiin.
  9. Se-awam-awamnya pemilik bisnis soal ekonomi atau akuntansi, ngerti dasar keuangan itu penting. Nyatet dan ngatur arus masuk/keluar, misahin dana pribadi dengan usaha, baca dan pahami data keuangan buat bikin tindakan selanjutnya.
  10. Working capital = Current assets – Current liabilities.
  11. In balance sheet, Assets = Liabilities + Net Worth.
  12. Se-gaptek2nya CEO tech-startup, minimal harus ngerti dasar teknologi soal bisnisnya, dan kemampuan lain yang yang akan sangat berguna adalah story telling, jago cerita soal apa yang dikerjain, apalagi kalo bisa disalurkan lewat tulisan juga.
  13. Produk bagus, marketing jelek, gak sukses. Tapi produk jelek, marketing-nya bagus, bisa sukses.
  14. Jangan beli barang gaya hidup secara kredit untuk urusan pribadi (bukan perusahaan). Tunda kesenangan kecil demi dapet kesenangan yang lebih besar nanti.
  15. Even sama temen, kalo soal bisnis semuanya tetep harus item di atas putih. Termasuk kalo kerjasama. Bukan gak ngerhargain pertemanan, tapi justru sebaliknya. Ini harus dilakukan buat antisipasi resiko biar hubungan tetap terjaga. Kalo udah soal duit, semua sering runyam.
  16. Dengan segala ketidakpastian tentang terlalu banyak hal, sering aku berpendapat bahwa, yang berani maju bisnis sendiri itu pribadinya mentally 70% proven, gak perlu ditanya lagi
  17. Dan kadang juga berpikir kalo orang-orang kayaknya harus pernah nyoba jalanin usaha sendiri walau entah bagaimana. Ini ngaruh ke empati. Aku sering ngeliat orang yang gak puas sama suatu produk, contoh: pernah punya pengalaman buruk sama sesuatu, terus banyak yang sering mencak-mencak ngamuk gak keruan dan kadang nyebarin berita yang bertendensi menjatuhkan. If you’re a businessman, you’ll know that every thing needs process and maintain a business is not easy at all, no joke. Dan seiring tumbuhnya usaha kita, kayak semakin kecil toleran yang bisa dikasih sama masyarakat. Ini bukan membenarkan kesalahan ya, tapi tentang empati dan tidak terlalu judgemental aja.
  18. Manage usaha dengan baik secara remote dari jarak jauh itu too good to be true, susahnya bukan main, kecuali udah bener-bener well-established dan anggota tim kerjanya pada bagus. Jadi, kalo belum rapih banget, emang mending jangan sering ditinggal-tinggal. Heu..
  19. Muslim yang baik itu hidupnya memang sederhana, tapi bukan berarti berpenghasilan sederhana juga. Kita HARUS bisa kaya raya, niati agar bisa berbuat baik lebih banyak.
  20. If you’re self-employed or have full authority of time, have an “office” and “office hour” is still compulsory, to create the working rhythm, mindset, and discipline.

Nah.. kayaknya segitu dulu deh untuk edisi kali ini. Gak kerasa udah 20 nomor aja. Masih banyak, jadi aku pastiin ini akan ada lanjutannya. Sampai jumpa nanti pas Hani lagi absurd berikutnya ya!

 

Siang bolong depan laptop di meja kantor,

buru-buru balik ngerjain kerjaan lagi