Yuk, nyoba sekolah di Australia Pake Beasiswa Ini!

image1

yea, my student card

So sorry to update it late, since you have only a day if you really want to join this scholarship program. Well, actually I posted it on my Path several weeks ago, which meant there were people in my private circle who knew it, while actually I expected many of my friends would apply.

Sooo.. here it is, ehm..

Jadii..
Buat temen-temen yang nanya kemarin Hani ikut program apa di Ostrali dan gimana cara dapetinnya, sebenernya udah sempet Hani ceritain sih di sini. Nah, good news-nya, buat yang pengen nyoba ikut program sejenis, kesempatannya lagi dibuka nih. Dan Hani pengen banget temen-temen pada daftar. Kenapa? Salah satu alesannya adalah karena beasiswa ini kesempatan dapetnya lebih gede (ya dibanding beasiswa2 Australia Award yang lain), karena yang dapet infonya cuma segelintir orang, sedangkan deadline-nya lumayan mepet, ehehe..

Ini masih termasuk program dari pemerintah Ostrali, tapi yang emang kalian gak bisa langsung daftar sendiri ke mereka, karena sistemnya harus lewat partner lembaga di negara yang bersangkutan. Dalam kesempatan kali ini, pihaknya adalah KPPA-RI (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak-Republik Indonesia) karena selain belajar soal bisnis, memang subjeknya agak berkenaan dengan perempuan dan dilaksanakannya pun oleh Gender Consortium-nya kampus di Adelaide. Eits! Tapi bukan berarti laki-laki gak bisa ikut loh! Justru, di-encourage untuk berpartisipasi, begitupun teman-teman difabel di seluruh Indonesia. Mereka mengharapkan kalian semua terlibat.

Dan berikut ini alasan-alasan lain menurut Hani kenapa program ini menarik:

1. Australia Award gitu lohh..
Buat scholarship hunter, pasti udah familiar dengan salah satu penyedia beasiswa prestise ini. Bukan cuma karena ini dikasihnya dari pihak pemerintah, tapi mereka juga terkenal loyal dalam ngasih fasilitas. Istilahnya, once u’ve become their awardee, they just want you to focus on your study, you dont have to worry about something elses. Living allowance-nya lebih dari cukup. Sekitar AU$2200/bulan.

2. Adelaide!
Awalnya Hani juga nganggep “duh, di Adelaide.. kenapa gak Melbourne atau Sydney aja sih? Tapi setelah nyampe, ternyata I prefer Adelaide a lot to those cities. Ntar bisa nyobain sendiri deh. Di samping itu juga, biaya hidup di Adelaide lebih murah, sedangkan uang beasiswa yang dikasih ke para awardee se-Ostrali itu sama besarnya. Jadi dapet uangnya sama, tapi kalian bisa spend lebih kecil, asik kan? Bisa banyak nabung deh. Dan lagian, walaupun tinggal di Adelaide, tetep bisa jalan-jalan ke state lain kok 8))

3. Durasi Program
Untuk program yang ini, bakalan berlangsung selama full 3 bulan. Kayaknya gak terlalu bentar, dan gak terlalu lama juga. Lumayan untuk bisa menghayati gimana rasanya hidup di Ostrali, tanpa ninggalin kerjaan di Indo terlalu lama. Diadainnya pun di bulan-bulan terbaiknya Ostrali; after winter.

4. Syarat gak ribet
Gak harus pake sertifikat IELTS, dan bikin visa nya pun dipermudah karena tipe khusus yang disupport pihak Ostrali-nya langsung.

5. Kredit Universitas!
Walaupun short-course, karena diadain di kampus, kalian bisa dapet kredit dari universitas yang bersangkutan. Dan itu bisa buat motong jatah SKS kalo kalian lanjut di jurusan yang masih linear.

 

Jadi, pertimbangannya apa lagi dong, Han? Bagian yang gak enaknya, gitu?
Mmm..
Bisa dibilang selama Hani di Ostrali sih, gak terlalu ngalamin yang gak enak. Hidup teratur, masyarakat yang civilized, gak pernah ngalamin tindakan rasis juga (instead, ngerasa orang-orang Oz jauh lebih ramah), ngerasa aman, yang bahkan bisa jalan-jalan santai sendirian tengah malem. Dan mungkin karena emang banyak di kampus juga kali ya… Paling poin-poin ini yang silakan dipikirin konsekuensinya:

1.  Ninggalin keluarga dan kerjaan di Indo.
Dalam kasus Hani sih, sama yang barengan, Hani paling muda, satu-satunya yang kepala dua dan belum menikah. Jadi, beban ninggalin keluarga gak terlalu gimana banget. Tapi liat ibu-ibu yang lain, ninggalin suami dan anak itu pasti berat lah.. Apalagi yang anaknya masih kecil. Lalu, kalo kalian karyawan dan ambil cuti, mungkin bisa agak rileks juga. Tapi untuk temen-temen pengusaha yang mesti ninggalin bisnisnya, kerja remote itu tantangan. Karena Senin-Jumat dari pagi sampe sore bakal di kampus terus. Sedangkan pulangnya, pasti kalian pengen ngerjain macem-macem, dan weekend adalah saatnya jalan-jalan. Jadi manajemen waktunya harus bagus.

2.  Materinya banyak social studies
Gender perspective, people with disabilities, domestic violence, child-safe environment. Di samping “entrepreneurial spirit”, kalian harus siap juga nerima semua materi itu. Buat yang bidangnya emang disitu pasti asyik. Yang kalo di kasus Hani sih, yaa sometimes I felt so overwhelmed.. I prefer to drown myself in engineering journals or business cases. Human is such a very complicated creature, and at some points, I’m really tired of it V(.__.)

 

Nah.. lalu, gimana tips n trik-nya biar lolos, Han?
Satu yang utama deh; tell them how valuable and influencing you are. Yang barengan sama Hani kemaren, dari Indonesia ataupun Mongolia, itu pada ibu-ibu, dan cuma beberapa orang yang bahasa Inggrisnya bagus. Tapi, mereka semua orang-orang di posisi strategis. Banyak orang pemerintahan (yang artinya pembuat regulasi untuk masyarakat), direktur-direktur lembaga (yang jelas berarti punya pengaruh di lingkaran luas), pemilik-pemilik usaha, dan aktivis NGO. Jadi, pokoknya share aja gimana keberadaan kalian akan bisa ngubah orang-orang di sekeliling juga.

After program-nya nanti, kalian akan diminta bikin action plan dengan periode tertentu, yang gunanya membuktikan kesemuanya itu. Action plan tiap orang akan berbeda tergantung dari apa yang sudah dia pelajari dan ingin diterapkan di posisinya. Ya gitu aja sih… cari kesempatan yang banyak, belajar apapun yang dimau di luar materi kuliah, jalan-jalan, dan enjoy the memorable Australia 😀

Berikut adalah surat resmi dan form yang harus segera diisi: https://www.dropbox.com/sh/m6vk4kii340qo4g/AABwthCWY1modGaxeESxuxona?dl=0
Jika ada info terkait dan kesempatan-kesempatan lain yang akan datang, insya Allah akan Hani posting di blog ini. Jadi, jangan lupa subscribe ya! ❤

 

February 17th in a hurry writing,

Your Hani

Some of My Biz Field Visits in Adelaide and What We Can Learn From Them (Part I)

Okay. Some of you might have known that I got a fellowship from the Australian government in Flinders University, but probably wonder what exactly it is and how the program runs. Well… actually it all depends on its subject. And since my subjects are about business and social studies which are based in a university, so that the learning delivered through the combination of variety of guest lectures, intensive trainings, and field visits, academical and practical knowledge abridge, in order to have strong fundamental theoritically, yet we can implement them in effective ways.

Lecturing, training, field visit. Which one is my favorite? Oh yeah, definitely the outside class sessions!! Ehehe… We visited many respectable government offices and enterprises, but because I tend to always bring my business head, I want to share about the business side and parts that I think are interesting for me personally, my business, and my lovely hometown, Bandung =)

Because there are too many, I will divide the summary into several parts. And these are the first ones:

1. Adelaide City Council

img_2682

Located in the heart of the city, it’s very close to my apartment, and I always passed the office every time I go to Rundle Mall from Flinders Campus xD From my first weeks in Adelaide, I was amazed with their initiatives. You can find brochures about the City Council Programs in many places, including campuses, city library, etc. They run soo many programs, yet some of which attracted me are:

a. Digital Hub

Not everyone can operate a Macbook. Not everyone can optimize Windows either. Not everyone even knows how to use the e-library. Digital skill is one of the 21st century “must have” skills (I think). But even in Australia, there are still many people who do not acknowledged yet about how to use those electronics (and of course, especially aged people). For the younger generation, the level may be different. More advanced, perhaps. (Hey, look at me.. sometimes I’m also still face trouble with the Mac OS, zzz :|)

The point is… along the technology improvement, our people are also always need to be updated.. rite? And how the Adelaide Digital Hub do that?

They provide a free training for specified subjects, even one-on-one training with a trainer. And how did they get the trainers? They hire and open for volunteers (there are benefits for those who applied). Australian citizenship is not compulsory. Anyone can get involved, anyone can learn together. And they even eager to know what kind of training that we currently need. Remember… investing in people is investing in long-term business, too.

Bandung? I’m sure we can do this!

b. Adelaide Business Start-Up Grants

12144784_1638756136376928_4357546327155150290_n

meeting with some stakeholders in Tonsley

You know, I can feel that the City Council is really encouraging for people setting up a business in this city. And for this year, they run this grant program. If I want to open my business in Adelaide, they can grant me up to $30,000 and use the under-utilized public building here. Surely it has terms and conditions. That number may only cover no more than 50% of the total cost, and there are common rules that we have to follow. But hey, it’s tempting, isn’t it? And it can also help them to grow a sustainable economy and optimize the unused land.

One of my Indonesian fellows, mba Rizna, the owner of @bakpiapia from Yogyakarta has applied for this grant, had a meeting with their representative, and I really hope everything goes well, so we can observe more about the opportunity provided. The City Council told her that if this program succeeds, they plan to make it an annual program, yeay! \o/

For Bandung? Our mayor has launched the “Kredit Melati” for the SMEs. It is also a good sign of his will. Just hope it will persist and grow to help our society starting up a business.

And hey hey hey, wait! I just remember that we also have that “Little Bandung” store program. How about to make it in Adelaide? I guess I should talk with kang Emil after this. G to G must be a lot easier (?), moreover for this good partnership. Another “Little Bandung” store in South Australia, how cool is that? 😀

c. Sustainable City Incentives Scheme

IMG_1613 (111)

Solar PV is everywhere >,<

This one is what I’m really craving for, aaaakkk…!! ~~\o/ The City Council is really aware of environmental issues. They provide funding for residents, business, schools, community, and organizations that want to help to reduce carbon emission, conserve energy, water, and natural resources! D*mn cool!!

The incentives scheme can provide up to $5,000 for us installing solar PV, or energy storage, electric vehicle charging controller, building energy efficiency upgrade, changing out quartz halogen to LED, solar hot water system, rain water tanks, etc. THAT-JUST-COOL!

I’m not sure if it is possible to be implemented in Bandung, or even in any city in Indonesia. But yea… we can learn from this :’)

People-Planet-Profit. That’s all connected to make sustainable system.

d. The City Adelaide Prize

IMG_3306

around the city, we can see many design installations side by side with the heritage buildings

The Adelaide City Prize is an annual prize to encourage people to propose and nominate projects that activate and enliven the city. The projects can be of any scale and may include buildings, public art installations, landscape works and temporary contributions to public space that actively engage the community and enhance the city’s public spaces.

I think the keywords are “brainstorm ideas for urban design”. And Bandung? With our mayor who comes from architectural engineering background? It is more than just possible! X) We had this in the latest “Babakan Siliwangi Design Prize”. And maybe  we can develop more in wider cover range ^_^

The more livable a city, the more dynamic the sectors within.

 

Whuff! Even only from the City Council, I already write this long >,< Okay.. just 2 more for the rest of this part…

 

2. City of Prospect

12115779_1030317190333504_2049142128309324790_n

the bus that pick us up to the City of Prospect library

In brief, my first impression of this is… it’s like BCCF! (Bandung Creative City Forum), even though it’s not really similar. The City Prospect has established more than one century! It is also area based. There are some acres allocated to be part of the community. They build their own infrastructure, and the development covers several aspects of economy, technology, and social. The similarity comes from the idea that they help the local government to achieve their missions, related to city improvement, people involvement, (hobby based) community engagement, kind of that sort. Then I think, aha! We already have this. And I feel more grateful because in Bandung, we have a potential strength that not all cities in the world have; we are dominated by youth &/ productive-aged people. (And fyi, our population is twice as many as in Adelaide).

Collaborations across sectors are opened widely. And in Bandung, we are… people who love to collaborate =)

IMG_4157

City of Prospect Digital Hub. Interestingly, the word “PROSPECT” is ended by “CT”

S__8740965

with Matt Grant, the director of business and economic development of City of Prospect, who said that he has visited some co-working spaces in Bandung and met Yohan Totting, one friend of mine, too (Uwh yeah Yohan, who doesn’t know you? :)))

 

3. SASS Place

12038541_10205134736183622_8031622222160004528_n

Carly, the founding director

I have ever mentioned it in my Facebook post, but I want to re-write about this place. This is a co-working space which also became my exploration in making paper/policy brief in Flinders University, one that I presented in the symposium, observe the possibility how if we adopt the concept for women in SMMEs in Indonesia, to optimize their contribution in the country’s economy.

For those who not yet have an idea what kind of place it is, here is my brief explanation: SASS Place is a co-working space located in the city of Adelaide, with their tagline; A Hub For Female Change Makers. Sooo interesting! Why? In fact, I’m also interested in making a co-working space, but I’ve never thought that women could be the specific target market. During the visit, we shared a lot with the founder, including what I know about how it is going in Indonesia. Emerging business model which is still struggling to survive, and so does in Australia. But owh, really… the idea has attracted me. Women have special needs and concerns. In SASS, they even provide child care and space for breast feeding so that women who have kids or in pregnancy could feel accommodated. Women should support other women. And by that, their husbands (&/families) are also feel safer, because they know that their partners are working in a “less man” area :B

Women who are renting spaces here come from various industries. Then I wonder.. how if we adopt it in Indonesia? Who’s with me? 😀 (spoiler: some of institutions in Australia interested to be the donor)

Blog770px-sass-place-creche

the child-care space in the 1st level

12036952_10206602434493351_7251459769778500006_n

space in level 2

both+listings+(4)

glance of the main place

12049682_10206602435293371_8733655353637697470_n

one of the dedicated rooms

A women only co-working space. What an exciting idea. But along the process, I become consider about the current situation. There is also a chance to implement the gender perspective in the existing co-working spaces. Instead of making a new one, we can also persuade private sectors who already run the (mix) co-working spaces to make their spaces women friendly. This is in their own business interest as with the increasing number of women entrepreneurs in Indonesia, such spaces can become more profitable.

To point this objective, my group, made a recommendation to The Ministry of Women Empowerment and Child Protection in Indonesia. They can play a vital role in establishing guidelines for the private sectors on what constitutes a women friendly work space. And actually they can also help the women entrepreneurs through their channels for funding, marketing, and other supports. What do you think? 😀

Whuff! There are still visits I want to share. But I think it is enough for this time. I will continue with the next posts. But before I end up this part, don’t forget to leave a comment below. Any ideas and advises are appreciated :*

 

Who wish  you for always having a great day,

 

Hani Rosidaini

 

 

Belajar Soal Bisnis Wine

71

Mister dan nyonya pemilik tempat.

 

Beberapa hari yang lalu aku dan temen sekelas di Flinders Uni kunjungan lapangan seputar bisnis ke salah satu winery, kebun anggur dan tempat pembuatan wine di Adelaide, namanya Sinclairs Gully. Lumayan jauh dari city, entah berapa lama di jalan, yang jelas rasanya di bis aku sampe bisa ngobrol lama dan liat berbagai tempat. Kebetulan tuannya adalah sepasang suami istri yang juga jalanin eco-tourism di Sumatra Utara, Indonesia (makanya mungkin agak relate kalo ketemu orang Indo). Untuk yang suka wine, pasti seneng banget main ke sini, nyobain berbagai macam wine. Tapi walaupun aku gak minum, tetep banyak yang bisa dipelajari dari bisnisnya kok. Ya selain karena memang “dipaksa” harus bisa begitu sih, haha.. karena setiap habis kunjungan, kami selalu harus bikin summary, nemuin key ideas-nya, apa yang bisa diimplementasikan di bidang masing-masing, didiskusiin di kelompok, dan lalu dipresentasiin di depan semua orang.

This slideshow requires JavaScript.

Menurut empunya, wilayah ini adalah milik keluarga yang luasnya mencapai 26 acre (atau sekitar 12 hektar?). Tapi walaupun bersifat pribadi, dalam pengelolaannya mereka tetap diawasi oleh pihak kementrian, sudah dimintakan izin, dan mereka berjanji bahwa ini akan tetap bisa jadi cagar alam atau wisata lindung. Komunitas di sekitarnya pun diberdayakan dalam menjalankan usaha, dari pemetikan anggur, pengolahan, dan pembotolan higga bisa jadi produk siap jual. Karena dikerjakan bersama, maka semua yang terlibat pun harus memegang value yang sama, ya itu tadi, agar menjaga supaya wilayah ini bisa tetap sebagaimana mestinya (keep sustainable).

20

“Hani was here”

 

Katanya sih, istimewanya wine produksi sini adalah, karena udah dikategorikan sebagai bio-dynamic wine, levelnya udah di atas wine organik, karena prosesnya dilakukan dengan alam (sumpah aku juga gak ngerti-ngerti amat sih, pokoknya anggep aja wine premium lah ya >,< #kali). Dan seperti sering disebut di film-film, makin lama wine disimpen, rasanya akan makin enak. Si mister sempet cerita dia bahkan punya wine dari edisi tahun kapan tau (dan si Hani makin gak ngerti).

25

Numpang mejeng doang di bar-nya.

 

Setelah para temen aku “minum-minum” di bar-nya, dan borong sekian botol (mumpung dikasih harga bagus juga), kami lanjut ke kebun dan hutan. Menarik, karena dikasi liat berbagai vegetasi khas Ostrali. Di hutan, pohonnya putiiiihh semua, jadi beneran kayak hutan hantu. Sepanjang batang sampe ranting, kulit kayunya emang warna putih, dan si mister pasang beberapa kamera di badan pohon. Katanya sih, untuk ngerekam dan motret fauna yang pada muncul dan sering lewat. Di hari itu, kami juga liat kangguru dan koala (ya walaupun sejak tinggal di sini liat kangguru udah kayak liat kucing di kampung sih). Tapi si mister justru paling tertarik motret burung-burungnya. Apalagi katanya, menurut penelitian, beberapa jenis burung kecil tertentu, akan punah dalam waktu 20 tahun karena cuaca di sini.

29

Mulai masuk hutannya.

32

Si mister ngejelasin ada apa aja di sini.

43

“pohon hantu”

38

trap camera

 

Di tengah perjalanan, kami juga diliatin area outdoor-nya yang biasa dia sewain untuk acara, pernikahan dan berbagai event (suasananya jadi ngingetin sama nikahannya Bella Swan sama si vampir di film Twilight!). Ini bisa jadi tambahan pendapatan juga, sebagai kompensasi kalo musim untuk bisnis utamanya lagi kurang bagus. Bagian dari rumah kediamannya juga sering dia sewain jadi guest house, untuk turis-turis dari berbagai negara. Apalagi yang lagi penelitian, atau banyaknya adalah orang-orang yang tertarik dengan berbagai spesies burung di sini, karena memang (katanya) banyak burung di sini yang gak akan ada di belahan dunia lain (jadi ngomongin burung lagi deh).

50

foto kunjungan

 

Mmmm… jadi kalo liat proses bisnisnya sih ya, mereka ni gak cuma jualan produk, tapi memang ahli di bidang eco-tourism, yang kuncinya adalah: great memory, gimana caranya menjual momen sama konsumen. Sekembalinya kami ke area rumah, gantian si nyonya yang cerita proses dari awal mereka bangun industri ini. Bahwasanya, produk itu memang gak harus selalu berupa fisik, tapi bisa juga berupa pengalaman berkesan. Contohnya ya tur kebun anggur mereka, orang jadi bisa metik langsung, nyentuh, dan ngalamin sendiri, bahkan bantu proses produksi yang sebenernya nguntungin pihak pemilik. Sangat personal, sangat berorientasi ke manusianya. Si nyonya bahkan pas cerita soal kehidupannya di Sumatra, dia sampe nangis juga, dan bikin kami semua terharu (walaupun di otak sadar aku mikir, “wah, emang bisa banget nih doi “nyentuh” konsumennya”).

52

Nyonya lagi cerita.

 

Selain itu, yang bikin aku tertarik adalah, karena mereka adalah suami istri yang menjalankan usaha bersama. Makanya aku juga jadi penasaran gimana caranya biar urusan rumah tangga sama kerjaan gak terlalu nyampur, apalagi jadi destruktif. Dan dia jawab sih, ya so far so good. Paling kalo ada “sesuatu” terjadi, mereka fokus kerjaan masing-masing aja, dimana dia lebih banyak ngerjain back office, ngurusin website, booking, itinerary, dll, sedangkan suaminya ngerjain yang “outside job”, hohoho ^_^

57

presentation time

64

Mbuh ngarane, mbuh rasane. Mending minum jus2 buah yang sehat aja.

 

Begitulah kira-kira.

Australia Journey: The Beginning

71e02-img_2595

yang lain naik Singapore Airlines, aku Qantas.. rapopo

Awal tulisan ini dibuat di atas pesawat, dalam 7 jam perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju Sydney, sebelum nanti terbang lagi 2 jam ke Adelaide, ibu kota dari state Australia Selatan (*). Durasi yang cukup lama akhirnya maksa Hani untuk bisa diem, sejenak istirahatin badan, dan lepasin pikiran dari riuh kehidupan. Ternyata baru berasa badan capeeek banget, whuff~ Sekian hari terakhir bolak/ik ke luar kota, aktifitas full, banyak pikiran, packing ekspress, sampe akhirnya ternyata tetep berangkat, rasanya… campur aduk gak keruan.

Sejatinya ada 9 orang Indonesia yang harus terbang. Tapi 8 orang lain sudah tiba di Ostrali satu minggu yang lalu. Hani terpaksa mohon penundaan karena masih banyak yang belum bisa ditinggal di Indonesia. Maka dibanding mereka yang berangkat rombongan, Hani harus pergi sendirian.
Lalu untuk apa kami ke Ostrali? Mungkin dapet jawabannya bisa sambil nemenin Hani disini, flashback, kontemplasi sambil berbagi.. boleh?
Intinya ini adalah dalam rangka program beasiswa non-degree dari Australia Award untuk belajar di Flinders University dengan subjek Women’s Leadership in Business and Economic Growth, masih di bawah fakultas International Studies.  Untuk Hani sendiri bisa dibilang ini beasiswa yang “dapet tanpa bener-bener apply”, karena tetiba ditawari, dan untuk beasiswa kategori ini, memang sistem rekrutnya adalah berdasarkan rekomendasi, dari partner-partner-nya Flinders, atau DFAT (bagian dari pemerintah Australia) selaku pemilik dana. Banyak nama yang diajukan, lalu penyaringan dilakukan oleh DFAT, dibantu oleh para partner tadi. Dalam kasus Hani, yang merekomendasikan adalah KPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Indonesia. Kenapa bisa diajukan? Nanti coba sambil flashback sebenernya apa yang bawa Hani kemari. Tapi yang jelas, jadi durasi programnya memang beberapa bulan, dan tapi juga walaupun non-degree, kami tetap dapat kredit dari universitas, sekitar 4,5 kredit, atau bisa potong 25% dari total SKS jika kami mau melanjutkan studi di Flinders di jurusan yang masih linier.
3a81c-1506530_10203529948144924_2659235658928760471_n

Australia is waiting

9 orang dari kami ini dapat rekomendasi dengan cara yang berbeda-beda. Untuk Hani sendiri, kalo ditarik benang, mungkin awalnya adalah sejak menang Top 10 di Indonesia Womenpreneur, yang kebetulan didukung KPPA, diselenggarakan oleh INDOSAT dan Fimela.com. Sejak saat itu memang jadi ngasih domino effect. Tiba-tiba dikirim jadi delegasi APEC WEF (Women And The Economy Forum) 2013, berangkat dengan rombongan bu menteri (yang pada saat itu masih Ibu Linda Gumelar), dirut INDOSAT Pak Alexander Rusli, dll, yang mana disana kami bertemu para pemimpin dunia, terutamanya yang perempuan, para pembawa perubahan dari tingkat regional hingga internasional, sambil juga bertemu pimpinan Oreedo, perusahaan induk INDOSAT di Qataar. Hani jadi yang paling muda saat itu. Lalu kemudian oleh Pak Alex dijadikan duta Indosat Inspera (Inspirasi Perempuan Indonesia), selain diundang juga untuk afternoon tea dengan Kimora Lee (former American super model) di Nusa Dua, sembari jadi tamu acara berbagi dengan para pengusaha wanita di Bali, dan masih banyak lagi. Namun diantara semua, terutamanya adalah sejak saat itu nama kami jadi ada di record mereka. Maka pada saat ada tawaran datang, jadi ikut direkomendasikan, dan saat itu Hani hanya diminta isi data diri, membuat resume, dan jawab beberapa pertanyaan yang Australia Award ajukan. So, kedengerannya agak effortless ya? Well… mungkin juga. Tapi mungkin juga proses menuju titik itu-nya yang justru lebih nguras effort =]

e6516-kolase

flashback

Kembali lagi tentang beasiswanya, ada beberapa keuntungan dari AAS (Australia Award Scholarship) yang jenis ini. Di luar sistem penyaringannya, selain sudah mencakup segala biaya, pendidikan dan transport, beasiswa ini tidak meminta sertifikat kemampuan bahasa Inggris. Jadi untuk Hani yang IELTS-nya sudah expired, gak perlu ambil tes lagi. Pengurusan student visa pun bisa dibantu. Bahkan kalo mereka sudah turun tangan, dalam hitungan jam saja bisa langsung jadi, hehe…. (baca cerita disini). Bahkan visa-nya pun asik, diperbolehkan kerja sekian jam per minggu, dan jika sudah menikah, sebenarnya boleh bawa pasangan atau dependant child <18 tahun. Selain itu, mungkin karena sebenarnya target fellow-nya adalah professional, fasilitas yang diberikan pun cukup istimewa. Akomodasi kami (berdasar laporan dari yang sampai duluan) sudah disediakan di apartemen bintang 4.5 di pusat kota, dan uang jajan pun lumayan ($75/hari jika harus disebut).
Nah, apa tadi Hani sudah menyebut professional? Betul. Jadi, ternyata, disana Hani bakal jadi yang paling muda lagi. Jadi anak bocah di tengah ibu-ibu. Sungguh. Status fellow yang lain, semuanya sudah menikah, dan usianya pun paling muda sudah kepala 3, beberapa kepala 4, dan ada yang kepala 5, sebaya dengan ibu dan bapak di rumah. Hani satu-satunya yang lebih seumur dengan anak-anak mereka. Tapiii.. CV mereka memang luar biasa. Ada dua orang yang memang staf kementrian, ada direktur NGO nasional yang juga mengajar di UI untuk gender study, ada pengusaha yang sudah mengglobal, dan perempuan-perempuan hebat lainnya. Ini wajah-wajah mereka:
bd50a-img_6644

minggu pertama = akhir musim dingin, si Ucil Hani belum datang

Yah.. jadi begitulah…

Walaupun beasiswa ini agak berbeda, tapi mungkin ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran secara general:
1. Track record. 
Raih prestasi sebanyak-banyaknya, belajar banyak hal, karena semua akan berguna pada saatnya.
2. Social Position.
Entah itu jadi pemimpin perusahaan, ketua lembaga, pembuat kebijakan, atau terlibat di organisasi. Yang jelas, kriteria ini berguna untuk membantu meyakinkan bahwa, pada saat si penerima beasiswa teredukasi, tidak hanya akan dia sendiri yang mendapatkan manfaatnya, tapi juga lingkungannya bisa ikut terpengaruh dan merasakan dampak. (Saat membuat resume, Hani menulis, selain sedang berusaha menjadi wirausahawati yang baik, belajar meramu kebijakan untuk tim kerja, juga terlibat aktif mengelola komunitas bisnis, untuk terutama memberdayakan para pengusaha muda, dan di waktu luang juga menulis untuk berbagi segala hal yang sekiranya bermanfaat untuk diketahui orang lain).
3. Berdoa.
Ini agak cerita pribadi. Tapi setelah dirinci, ternyata ada beberapa hal di dua tahun belakangan ini, itu adalah hal-hal yang pernah Hani semogakan entah berapa tahun silam, yang mungkin terlupa tapi tiba-tiba kejadian. Salah satunya sekolah di Ostrali. Rasanya Hani pernah punya keinginan ini saat masih SMP atau SMA. Gak pernah kepikiran lagi, tapi tiba-tiba aja tanpa persiapan, langsung disuruh beneran pergi sekolah (walaupun konteksnya memang agak beda). Tapi sungguh, jadi, tetaplah berdoa, dan menyemogakan apa yang kalian mau. Karena kita gak akan pernah tau kapan Allah mengiyakan doa kita ^^
4. Berani melangkah
Kalo waktu itu Hani gak ikut si Indonesia Womenpreneur, mungkin Hani gak akan disini. Padahal waktu itu juga banyak ragunya, ngerasa masih gak siap, bingung juga mesti ikut karantina. Tapi memang mindset adalah yang paling berpengaruh. Hani selalu mikir, “di dunia ini gak ada yang gak bisa dipelajari. Just take a step and promise that you’ll always improve by always learning along the way”. Tiap berani buka pintu, pasti nanti akan buka pintu-pintu yang lain. Yang pasti, kalo gak berani melangkah, ya jelas kita gak akan kemana-mana. Ke Adelaide pun sebenarnya banyak ragunya. Kenapa harus Adelaide? Kenapa gak Melbourne? Sydney? Kenapa harus beberapa bulan? Semua urusan di Indonesia gimana? Terlalu banyak yang harus ditinggal dan dikorbankan. Tapi ya itu, berani melangkah. Karena setelah ini, Hani yakin dia akan bawa Hani ke pintu yang lain lagi.
6bc00-img_2602

nulis sambil ngamatin progress pesawat

Fyuh… panjang juga ya blog kali ini. Padahal masih ada yang ingin Hani sampaikan. Yaitu izinkan Hani untuk berterima kasih banyak (selain untuk Australia Award), juga untuk orang tua, ibu sama bapak, yang gak pernah larang Hani untuk jalanin apapun yang Hani mau, udah minta nganterin ke bandara tadi walaupun sebenarnya Hani gak pengen ngerepotin kalian. Untuk Pak Maftuh dari KPPA, yang hingga detik ini belum pernah ketemu sama sekali (karena pre-departure workshop-nya pun di-cancel), tapi udah bantu banyaaak banget selama proses administrasi, banyak sekali direpotkan, tapi Pak Maftuh sabar dan sampe akhirnya tetap bisa on track. Luar biasa. Untuk tim, Rizky Irawan, Aldy Manggala, Prasetya Kharisma, maaf Hani mesti pergi dulu, berat rasanya, tapi kalian tetap berusaha ngasih support, makasih banyak, dan doain Hani. Juga untuk Ryan Triadhitama, makasi sempet dateng ke bandara, walaupun gak ketemu. Maaf jadi makin panjang. But I really want to thank them all. I dont wanna take them for granted. Those are mean a lot for me. Really. Thank you so much.

Dan atas semuanya, alhamdulillah, terima kasih. Teruntuk kalian, doakan Hani semoga semua berjalan baik ya.. Hani doakan juga kalian semua bisa semangat terus mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.

dari ketinggian 180.000 kaki di atas permukaan laut,

 
dengan sisa energi terkuras, sepertinya harus segera tidur
 
 
(*) Saat tulisan ini dibuat, memang belum ada direct flight Jakarta – Adelaide, harus transit dulu minimal satu kali di kota lain, entah itu Singapore, Bali, Melbourne, Sydney, atau lainnya.
Disclosure: postingan ini repost dari http://bit.ly/2cdAdj1 untuk integrasi blog

Ngomongin Listrik Gak Pernah Seasyik Ini #Part1

f9026-52_1_1323173018

Dengan konsep #SmartGrid, transfer energi listrik yang terjadi gak cuma dari PLN ke konsumen, tapi bisa juga sebaliknya \o/ (Sumber gambar: http://maps.meshcities.com/reports/view/52 )

 

Hai, semuanya! Apa kabar? 😀

Sebenernya sih postingan kali ini mestinya Hani gak ribet sama sekali, karena cuma diminta share titipan tulisan orang, hihi.. Tulisannya Ryan Triadhitama yang beneran jadi kepancing nulis karena postingan Hani sebelumnya di blog sebelah :)) [Link Disini] (mending ini dibaca dulu sih biar agak nyambung, gituu :p)
Jangan tanya juga kenapa dia lebih milih nitip posting disini dibanding bikin blog-nya sendiri. Kayaknya dia gak kepikiran buat ngelola blog lagi, walaupun ini bidangnya dia banget dan sebenernya dia juga pengen share banyak sama orang-orang seputar isu ini (terutama curhat hasil beberapa tahun jadi enjinir di Jepun kali ya :p). Tapiii.. dari yang asalnya gak niat itu, jangan salah… pas kirim draft tulisan, ternyata gak nanggung2 bo, 5 halaman word! Nyahahaha.. Udah gitu, bilangnya; “nanti ada part.2-nya ya nyusul”. ^_^
Maka, inilah.. awal perjalanan dari obrolan listrik kita.
Dan tapi maaf lagi ya, aa Ryan. Berhubung dirimu pake lapak Hani, Hani juga jadi punya objektif sendiri nih, hehe (>,<)
Kalo obrolannya teknis banget, ntar gak ada bedanya dong sama diktat kuliah o.O
Aku pengen diskusi kita enjoyable untuk siapapun. Compromise the gap between the technical geeks and common people, my job. Dan kalo bisa sih, jadi nambah juga cewek-cewek yang doyan sama topik ginian. (Ayo a, tunjukkan pesonamu! xP)
3f88d-s__4866069

“Halo, neng2. Ada yang mau main setrum?” | *dijitak 8))

Bagian pertama ini masih pemanasan kok. Mari kita simak 😀
 .
Pentingkah Keseimbangan Energi Listrik? 
By Ryan Triadhitama (ryantriad@yahoo.com)
 Spoiler alert! Jawabannya penting abis!!
 .
Energi listrik itu sebenernya adalah bentuk energi yang relatif mudah dikonversikan. Sama seperti bentuk energi lainnya, energi listrik gak bisa diciptakan, tapi merupakan hasil konversi energi lain, seperti energi kinetik, thermal, dkk. Lalu, energi listrik juga gak bisa dihancurkan, tapi bisa diubah ke bentuk energi yang lain-lain tadi. Sayangnya sih gak bisa dikonversikan ke energi cinta…
Distribusi transmisi energi listrik itu gak ribet. Dari pembangkit sampai costumer-end emang perlu teknik macem-macem supaya bisa disalurkan secara maksimal. Tapi itu mending.. daripada coba bayangin kalo gak ada energi listrik dan kita cuma bisa pake energi kinetik air. Kebayang gak selang-selang, pipa-pipa segede gaban yang akan melintas overhead. Wuiiiii….
Salah satu keuntungan energi listrik yang lainnya adalah bisa disimpan. Bisa secara langsung, masih dalam bentuk energi listrik seperti baterai, atau bisa juga disimpan dalam bentuk energi lain, seperti energi potensial air. (gimana caranya hayooo?!)
Nah, kelebihan-kelebihan energi listrik di atas lah yang jadi alesan kenapa energi listrik itu needs-nya banyak banget dan bakal terus bertambah. (begitu pun juga needs electrical engineer, sebagai professional engineer dan sebagai pasangan dambaan bermasa depan cerah.) (haisshh.. si aa :)))
Untuk melayani needs energi listrik yang teruuuuusss meningkat, pembangkit listrik dibangun dimana-mana. Bahkan waktu artikel ini ditulis dan dirilis (Agustus 2015), pemerintah lagi gencar-gencarnya membangun pembangkit 35000 MW. Tujuannya ya selain untuk menerangi rumah para pembaca, juga untuk melayani industri-industri yang sudah ada dan/atau yang akan dibuat di Indonesia. Maka secara tidak langsung, energi listrik juga memberi energi ke roda perekonomian negara ini toh?
Untuk menghasilkan energi sebanyak itu, bisa saja pemerintah atau IPP (Independent Power Producer) membangun pembangkit listrik tenaga uap, apalagi dari batubara. Satu pembangkit tenaga uap bisa menghasilkan sampai 2GW (2000 MW). Dan kalau kita bangun 18 pembangkit tenaga uap masing-masing 2GW, kan bisa beres cepet tuh! Gak perlu bangun pembangkit yang lain banyak2!
Well,,, tapi sayangnya gak bisa sesimpel itu. DAN, dari sinilah inti diskusi tulisan ini dimulai =] (setelah muter ngalor ngidul kemana-mana, phew~)
************************************************************
*Anda penasaran lanjutan ceritanya? Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keseimbangan listrik? Kenapa itu penting? Dan ada hubungan apa antara Syahrini dengan Aliando? Nantikan semuanya di episode berikutnya ;D
kamar, Jumat pertama di bulan Agustus
 
di tengah project masang solar panel juga untuk studi kasus
 
 
PS: Bahasan kontekstualnya baru dikit biar gak TLDR. Nunggu respon dari para pembaca dulu aja, hehe..
Masukan dari @GiriKuncoro:
Soal penyimpanan, diksi yang tepat memang “kita bisa store energy”, tapi “kita gak bisa store listrik”; energi dan listrik itu beda. Kalo listrik, dia harus seimbang terus supply and demand-nya, makanya butuh load balancing, gak bisa disimpen. Efisiensi jadi sangat krusial.


——————————————————————————————————————–

Tapi terus ternyata sang narasumber ngerasanya tulisan di atas nanggung banget, jadi mari kita langsung lanjutkan saja ke episode berikutnya XD

Pengantar: Kurva Beban

Apakah teman-teman sudah familiar dengan apa yang disebut dengan “Load Curve” atau “Kurva Beban”??
(Jika sudah, bisa di-skip penjelasan di bawah ini.)

Kurva beban itu grafik konsumsi energi listrik suatu area dalam jangka waktu 1 hari (24 jam), bisa juga mingguan, atau tahunan. Kurva beban di Indonesia bisa dilihat di situs ini: http://hdks.pln-jawa-bali.co.id/app4/system.php. Gambar berikut adalah sala satu contoh kurva beban harian di suatu daerah:

Dari kurva di atas, bisa dilihat pola konsumsi energi listrik di suatu daerah yang makin siang demand energi listriknya makin tinggi. Mulai pagi pukul 08:15, aktivitas manusia mulai aktif, mesin-mesin di industri mulai beroperasi, begitu pun dengan kantor-kantor, dan berbagai macam aktivitas lain yang mengkonsumsi energi listrik. Kemudian, bisa dilihat saat siang menjelang pukul 12:00, masuk jam istirahat, mesin-mesin dalam keadaan stand by, operatornya makan-makan dulu, ngobrol dulu, sholat dulu, dan jam 13:00 aktivitas dimulai lagi. Hari mulai gelap, shift malam di pabrik pun dimulai, dan karyawan-karyawan yang pulang mulai menghidupkan TV dan lampu rumahnya, ABG2 mulai main game di komputer dan setel lagu masa kini di kamar masing-masing. Mulai saat itu juga demand energi listrik akan naik lagi. Mulai pukul 20:00, orang-orang sudah mulai ngantuk. Setelah matikan TV, mereka masuk ke kamar, matiin lampu, masuk kasur, dan tidur. Konsumsi energi listrik makin menurun. Di pabrik pun shift malam mulai berakhir. Mesin-mesin mulai dimatikan, konsumsi energi listrik mencapai minimum-nya pada pukul 03:30. Pukul 06:00 fajar mulai menyingsing, dan aktivitas manusia pun dimulai. Mulailah demand energi listrik naik perlahan-lahan, memulai siklus yang sama setiap harinya.

Dari kurva di atas juga, bisa dilihat bahwa konsumsi energi listrik itu akan berubah-ubah seiring dengan waktu dan pola aktivitas manusia.

Nah, melihat pola seperti kurva beban seperti itu, seandainya kita hanya punya banyak PLTU batubara, meskipun total kapasitasnya sesuai dengan demand energi elektrik maksimal per hari, apa yang terjadi? Kita bakal punya kelebihan energi listrik!! “Lha matiin aja PLTU-nya bisa toh, bang?”. Ndak bisa segampang itu lah, dek.. Matiin pembangkit itu gak bisa secepat pencet tombol dan mati, pencet tombol dan hidup. Pengalaman saya sih, untuk matiin PLTU itu bisa memakan 3-5 jam!! Steps untuk matiin dan ngidupin PLTU itu buanyak buanget!! Buku operation manualnya aja ada 2 jilid untuk ngidupin dan 2 jilid untuk matiin. Belum lagi mode operasinya ada macem2. Aje gile ga tuh!!

da365-srly1

Salah satu contoh PLTU di Suralaya, Banten. Gak bisa gitu aja langsung di on/off v(^,^) (Sumber gambar: http://www.indonesiapower.co.id/SitePages/NewsDetail.aspx?dN=497)

Keseimbangan Suplai Energi Listrik


Tantangan dalam power generation, distribution, dan transmission itu adalah bagaimana caranya supaya energi bisa disuplai dalam jumlah yang tepat, gak kurang, gak lebih, sesuai dengan demand energi listrik (Load atau Beban). Kondisi itu yang disebut balance.. Seimbang..

Soalnya, “Kalau energi listriknya kurang, tegangan bisa drop, frekuensi listrik juga drop. Kalau energi listriknya lebih, tegangannya naik, frekuensi listrik juga naik.” Dari efek-efek anomali di atas, itu bisa berakibat buruk ke pembangkit yang menyuplai listrik dan juga peralatan-peralatan yang terhubung.
Kalau diandaikan oleh sepeda, kecepatan sepeda harus bin wajib bin kudu sesuai dengan specified speed dan dijaga konstan setiap saat, gak boleh terlalu kenceng atau terlalu lambat. Kalo nggak, sepedanya beserta muatannya bisa jatuh! Ya kira2 begitulah.

Faktor penentu kualitas listrik (power quality) di suatu negara, sebenarnya bukan ditentukan oleh frekuensi black-out (mati lampu) saja. Tapi, kestabilan tegangan dan frekuensi grid juga taken into account. Mau tahu ranking kualitas electricity supply di Indonesia keberapa? Kita menempati urutan ke-93 dengan nilai 3.9 pada periode 2012-2013! (bisa merujuk ke tautan ini http://photos.state.gov/libraries/indonesia/890636/pdf_001/business_power-sector.pdf)

Seberapa pentingnya sih menjaga kualitas suplai listrik? Jawabannya; Tahukah anda kalau kestabilan tegangan dan frekuensi itu mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan industri? Listrik yang berkualitas juga akan mengundang para investor untuk membangun industri di Indonesia. Kemudian terciptalah lapangan kerja yang lebih banyak untuk menghidupi rakyat. Kemudian, jika barang dihasilkan berkualitas, maka demand akan produk Indonesia bertambah, dan perdagangan makin makmur bin mujur dan Indonesia pun bisa ketiban untung. Warbiyasa bukan??

Sebenernya ada cara lain untuk mengakali jeleknya suplai listrik di Indonesia, yaitu dengan teknologi inverter yang akan men-suplai listrik lebih stabil ke alat-alat di industri. Tapi, para pengusaha harus invest di inverter yang harganya warbiyasa muahhhalll!! Gak boong!! Belum lagi efek samping dari inverter yang mengasilkan harmonic current ke-grid. Wahhh……
(terus Hani nanya “harmonic” itu apa. A Ryan: mmm.. sejenis noise. Kalo org teknis pasti ngerti)

More about power quality https://en.wikipedia.org/wiki/Power_quality and power quality ranks: http://www.statista.com/statistics/268155/ranking-of-the-20-countries-with-the-highest-quality-of-electricity-supply/

e6407-10670137_4601567335077_3526812844761156569_n

Cantiknya para penari langit di Sumba Timur. Pembangkit listrik tenaga angin Palindi oleh IBEKA/Pertamina/LAN (Sumber gambar: facebook bang Ricky Elson yang juga pegiat energi mandiri di Ciheras, Tasikmalaya)

Keseimbangan Suplai Energi Listrik: How To


Salah satu cara untuk menyeimbangkan supply & demand itu, adalah diversifikasi jenis dan ukuran pembangkit.
Pertama, setiap jenis pembangkit itu waktu untuk matiin dan ngidupinnya beragam, ada yang cepet, ada yang lambat. PLTA contohnya, bisa dihidupkan dan dimatikan dengan cepat, antara 1-5 menit. PLTG juga bisa dioperasikan dengan cepat. (Saya kurang tahu juga berapa lamanya, tapi katanya sih cepet!). PLTU, PLTN, PLTP bisa benar-benar lambat, bahkan sampai berjam-jam.
Kedua, untuk small power supply adjustment, pembangkit-pembangkit kecil bisa dimanfaatkan. Kalau besar semua, waaahh susah, bro! Kalau cuma butuh sedikit doang, PLTA small scale atau PLTG bisa dimanfaatkan. Lagian butuhnya juga bukan untuk waktu yang lama-lama amat =)

Sebenernya, ada 3 pengklasifikasian jenis pembangkit; base, intermediate, & peak. Yang base load itu seperti PLTN, PLTU, atau PLTA run-of-the-river. Fungsinya untuk menyuplai beban dasar (base load). Kalau pembangkit base udah ga mumpuni melayani beban2 yang bertambah, pembangkit2 intermediate dioperasikan. Kalau sudah sampai beban peak-nya, barulah pembangkit peak dioperasikan.

Sebenarnya lagi, penyeimbangan supply & demand energi listrik itu bukan hanya mengatur timing operasi pembangkit saja, tapi bisa juga menggunakan Grid Energy Storage atau Smart Grid. Mau tau lebih lengkap?? Ikuti artikel blog selanjutnya ya!

Fyi:

df1b2-earth-hour

Did you know??? Earth Hour itu sebenernya bisa jadi musuh loh! Memang energi yang dipangkas cukup banyak hingga ratusan MW (di Indonesia sekitar 200 MW), cukup untuk mematikan 1 power plant. Tapiii… durasinya yang cuma 1 jam itu loh yang bikin nanggung! Baru juga matiin mesin, eh udah disuruh idup lagi. Hahaha.. Kalau dibikin 6 jam kayaknya lebih asik. Mana tau dengan bergelap-gelapan di malam hari, kita bisa motret milky way di langit kota yang gelap pekat, ihiyyy~
*jadi inget, di Jepang gak ada Earth Hour lho! Wkwkwkwk..
.
.
Keseimbangan Suplai Energi Listrik: Pengaruh Renewable Energy


Renewable energy (energi terbarukan) seperti solar panel, solar heat, wind turbine, etc juga sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan energi listrik secara instan. Tapi, ada sisi buruk dari pembangkit ini. Renewable energy sangat tergantung oleh keadaan alam seperti angin, awan, atau suhu, sehingga output dari pembangkit pun menjadi angin-anginan (pun intended). Kita tidak punya kuasa atas keadaan-keadaan tersebut sehingga kita juga tidak bisa mengendalikan output dari pembangkit. Efeknya, nilai dari jumlah energi yang dibangkitkan akan terjadi fluktuasi. Hal ini menyebabkan pengendalian keseimbangan supply & demand menjadi sulit. Kestabilan tegangan dan frekuensi grid pun terganggu. Belum lagi inverter yang digunakan oleh solar panel atau wind turbine. Harmonic-nya itu loh bow! Mengganggu sekaleh! Diperlukan lagi alat untuk memfilter harmonic yang dihasilkan tersebut, atau kadang sebuah transformer juga bisa dipakai.

Oleh karena itu, (sebenarnya) pembangunan renewable energy power plants memerlukan infrastruktur tambahan untuk meredam fluktuasi energi. Infrastruktur ini sifatnya menyimpan energi yang berlebih saat energi yang dihasilkan lebih banyak dari konsumsi. Ketika tambahan suplai energi diperlukan, energi tersebut bisa langsung disuplai ke grid dengan cepat. Ya.. mirip-mirip sama kapasitor laa.. Contoh dari infrastruktur ini adalah pump storage power plant, ternary power plant, atau battery station. (apaan tuh, bang?? Akan dibahas di artikel blog selanjutnya yak.

5771f-ota-city-solar-power-japan

Solar panel yang terpasang manis di rumah-rumah di Jepang, salah satu negara yang sangat mendukung energi terbarukan. (Sumber gambar: http://cleantechnica.com/2012/08/17/leasing-finance-company-to-invest-nearly-700-million-in-japans-solar-power-market/)

Pengalaman saya dari kerjaan sebelumnya, Amerika, Eropa, dan Jepang punya infrastruktur seperti di atas untuk mengkompensasi PLTN dan renewable energy power plant mereka. Kalau di Jepang sendiri, mereka banyak mengandalkan pump storage untuk menstabilkan suplai listrik. Ada sekitar 50 plants kalau tidak salah. Beberapa diantaranya itu adjustable speed pump storage power plant. (apa pulak itu bang???)

Di ASEAN, Thailand sudah punya pump storage power plant, namanya Lamtakong (kalau tidak salah tulis). Denger-denger, ini jadi pump storage pertama loh di ASEAN! Tapi santai… Indonesia akan memiliki pump storage baru, namanya Cisokan Atas atau Upper Cisokan. Katanya sih 2017, cuma yaa ndak tau yaa ^^

Kebanyakan, renewable energy itu dipakai untuk island operation, hanya mensuplai satu daerah saja, tidak terhubung dengan grid besar. Mungkin setelah mantap grid besarnya, baru bisa dihubungkan. Asiknya, berbagai macam tipe renewable energy bisa digabungkan menjadi satu system loh! Thanks to power electronic technology that makes it happen. Salah satu implementasi yang pernah saya liat, mereka menggabungkan solar panel, solar heat, dan wind turbine untuk mensuplai satu daerah di Jepang. Output dari masing-masing berupa listrik DC, kemudian di-convert ke AC menggunakan inverter. Sayangnya penggunaan inverter masih costly. Tapi akan tiba saatnya kok teknologi itu jadi murah. Tenang saja =)

Tambahan: Tanggapan Atas Isu Jual Beli Listrik Dari Solar Panel
2a9af-capture-20150817-183608

Hasil search dengan keywords terkait. Lumayan nih…

Akhir-akhir ini jadi sering dengar tentang rencana PLN untuk membeli listrik dari solar panel yang dipasang di rumah-rumah. Saya sih setuju banget sama konsep ini. Karena kalo mau bikin solar field, itu butuh lahan segede gaban. Masa buka hutan lagi? Katanya green energy, masa motongin pohon di hutan-hutan? Terus, panelnya itu kan harus di lap satu-satu perhari loh! Kebayang dah ngelapin panelnya satu-satu selapangan sepak bola. Capek bow! Dengan nebeng solar panel di atap rumah, kan jadi bisa memaksimalkan space. Udah gitu, maintenance-nya bisa minta dilap sama asisten yang ada di masing-masing rumah itu, minta agar dirawat baik-baik. PLN juga jadinya bisa menghemat investasi biaya pembelian solar panel yang lumayan mahal. Tapiii.. PLN harus mengawasi peralatan-peralatan yang dipasang di tiap rumah, memastikan semuanya lulus standar. Kalo tidak, inverter abal-abal saja dicolok ke grid, wah bisa bahaya! Kenapa? Karena fitur utama on-grid inverter itu ada fitur anti-islanding. Kalo seandainya terjadi black out, inverter otomatis mati sendiri. Kalo nggak, orang PLN yang lagi benerin kabel bisa-bisa kena sengat listrik dari inverter abal-abal. Dan satu lagi, inverter yang abal-abal itu kandungan harmoniknya tinggi. Efeknya jadi nambah jelek kualitas grid. Nah, kandungan harmonic itu diatur oleh standar di setiap negara. Jadi kalo inverter yang sudah lulus uji PLN, mestinya kandungan harmonic-nya jadi lebih bagus dong!

–end of part.1–
*to be continued

Hatur nuhun kanggo neng Hani yang udah merelakan blog-nya ditumpangi artikel ini.

Any questions? Ask me!
Any thoughts? Share below!

Cheers!

Ryan Triadhitama (ryantriad@yahoo.com)

————————————————————————————————————–

Hehe.. Oke, sama-sama aa! Terima kasih juga sudah memeriahkan blog ini dengan tulisannya yang aduhay 😀

Nahhh.. kali ini beneran akhir dari tulisan perdana kita :)) Gimana? Makin tertarik sama listrik? berminat untuk pasang solar panel juga di rumah? Ditunggu tanggapannya ya! 😀

With luv n hi spirit,

Hani Rosidaini 

Disclosure: postingan ini hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2015/08/ngomongin-listrik-gak-pernah-seasyik.html untuk tujuan integrasi blog

Lets Talk About Power & Electricity! :D

quote-all-power-corrupts-but-we-need-the-electricity-anonymous-287909 Hi, Hani is back! *grinning*

So much stories, so little time. I really wish I could have all the time in the world, (and the good mood for writing as well, lol). Fyi, I do even have several blogs for different purposes, but none of them is updated in recent months. *grinning wider*

As a person who really love to share stories, everytime I meet or have a good conversation with people and get something new from them, I always become very excited to reshare it with others. Usually they were my family or close friends, but sometimes I find no one fits into my stories, then I choose to write it on my blog, expect nothing but to deliver my excitement, besides as a reminder for myself in the future. Well, just like now. My hands soo itchy already to grab my laptop and start writing. But you know what? It’s not always that easy to jot down in words, it like a hard nut to crack. But.. instead of posting nothing, I found a better idea; How if I just post the chat here? Ha ha ha.. I dont have to edit, so that you can read the whole things that we discussed about. Clever, eh? ;)) (not sure if it’s clever or lazy)

This time I was talking about electrical generator, hydro power, and solar pv system with a buddy (hello,, Mr. Ryan Triadhitama :p). He’s a power engineer who just resigned from Toshiba Japan after worked there for about 3.5 years. He just come home for good, prepare his study to pursue the master degree in the UK, focused on… future power network? smart grid? smart power generation? yea, kind of that sort ^^ I need his insights for my upcoming projects, so here are our chats…

1h   2

Need translation? Please do wait until tomorrow, xixixi

Then ha! I remembered I ever read about that enefarm: http://panasonic.co.jp/ap.FC/en_doc03_00.html The advertisement had started from 2008. The cost is quite high, but he told that the outcome is also the same, unstable. Nya nyaa X3

3 4 5

And about solar pv system: (already in English)

6 7 8u

9 10j 11

12 13 14

Urghhh.. I’m suddenly covered with the glorious of curiousity. I really want to learn how those all work X)) And since I got a business partner who also associated with Japan company, actually it should be delicate, ehe ehe ehe.. Japan wish to have role model in here, in Indonesia, and by that, we also can learn from them and make the improvement after all. Hope anything goes well~

jua;

schematic diagram for pv in house, the electricity incl. for sale

S__4538395

not for sale, but we need the battery

So, any of you who also interested in this subject? Lets discuss more! I also want to hear your stories 😀 And for aa Ryan, mmm… wish you nothing but good luck for anything you planned. Please surprise us, just like the electromagnetic shockwave. *droll*

Bandung, H+4 Iedl Fitr

under the blanket, dealing with my fever

PS: I made this writing to encourage you, who has greater things worth to share, but never eager to write. There’s no better time to start than today. And while blogging is a challenge that I believe fits into me at this exact moment in time, you may find greater opportunity in sharing to sophisticated audiences. But either way, I’d love to have you join me in some ways v(^^)

Father

il_fullxfull.337517962

I’m kind of that girl, who has her father as her no.1 man on this planet. Eventho we rarely talking, because we’r also not that so expressive to state our feelings. He often keeps silent, yet I know he’s always watching me. Never force something, coz he knows that I’ll always have my own expectation. Mother phoned me, but I know it was my father who really wanna do it and asked her to do so. He’s the one who would be happier when I’m happy, and feel broken when I’m sad.

This Ramadhan brings those memories.. when he carried me on his back while going home from the mosque after i’tikaf. What old times.

Nothing as big as my love for you, dad. All I wanna do is to make you feel proud of me. 💞❤️💖 #FeelingEmosyenel

Update:

I can’t stop telling people that I love my dad so much. But weirdo, I can’t tell him directly so often instead. Maybe you’re also aware when you see my this blog’s title: Daddy’s Little Warrior. I dedicated to him. Well.. since I was a kid I realize that I wasn’t born a princess, and my parents never raised me to be one. Instead, they raised me to be “a warrior”, a person who can survive in any condition of life, and I’m thankful for that.

If only you know my father very well, we are so much alike, maybe not apparent physically, but in basic character and attitudes (unfortunately including all the bad habits). I always see him as a mirror, I see myself in him, and he’s in me, even for little things. When I am confused analyzing myself, I usually end up finding the answer in him, I almost always act, react, and think exactly like him. I’m just his other version. I know how he works so hard for his family and never complains to surrender his life to his loved ones. So this time, all I can say is.. “so will I, dad”. I’ll be ashamed if I give up on life just by remember you. Even when everything seems bleeding and depressing. I promise that I will always be.. your little warrior. *cross finger* #KeepSurvivingForDad #ThugLife

[BukuBaru] Filosofi Agile & Panduan Scrum

masih bau kertas, siap langsung disampul :3

So, ceritanya beberapa bulan lalu diminta jadi proof reader buat buku temen, sang master of #SCRUM, ceo-nya Agile Campus, yang juga front-end software developer, @RizkySyaiful. Kayaknya itu pas beberapa saat setelah aku nulis di blog “Scrum tu apaan sik?“, metode yang kayaknya jadi happening terutama karena disebutin di serial Silicon Valley-nya HBO. Awalnya sih sama Scrum-nya sendiri antara tertarik gak tertarik. Tapi kalo untuk jadi pembaca awal dari draft buku orang lain, itu rasanya menyenangkan, hehe.. Selain permintaan testimoni juga ditujukan untuk sekalian mewakili generasi Y yang dekat dengan dunia digital startup maupun ekosistem bisnis pada umumnya.

Hmm.. Setelah dibaca, ternyata buku ini bukan cuma ngomongin Scrum, horee.. tapi juga manajemen organisasi, sistem, tim, proyek dan segala unsur yang para entrepreneur mesti ngeh kalo pengen scale up. Dijelasin pula berdasarkan pengalaman-pengalaman secara jelas dan efektif. (Seefektif algoritma prohemer sekelas bro Rizky :p)

Dan akhirnya sekarang ni buku udah cetak & terbit untuk umum, yay! Cukup hepi juga liat hasilnya. Semoga bisa bawa manfaat buat orang-orang yang baca yaa.. Dan makasih juga buat bro Rizky yang udah jauh-jauh bawain buku fisiknya ini buat Hani =D

Jakarta, bulan puasa

Repost dari postingan di Path aku, hhe..

PS: Untuk pemesanan & pembelian, bisa kunjungi website rizkysyaiful.com 😉

Jangan Telat Perpanjang Domain!

holding-a-dot-com1

hap!

Haaaaiii…!! 😀

Here is my another daily note. Something that might be very common for some people, but could be an information for others, so I choose to share it with you guys..

Jadiii… ceritanya kan aku ngelola beberapa domain yang aktif nih, entah itu untuk pribadi ataupun usaha. Untuk yang belum tau apa itu domain, bisa cek lebih lengkap disini, atau gampangnya sih; nama website,  kayak halo.com, halo.net, dll, dimana untuk pake domain itu, kalian harus sewa dalam jangka waktu tertentu, yang standarnya sih per tahun.

Nah, ternyata, ada salah satu domainku yang masuk masa expired seminggu lebih yang lalu. Emang sih, ada email pemberitahuan sebelumnya, tapi karena gak sempet, jadi ya belom ditanggepin. Terus, baru inget kemaren, dan pas login ke website penyedia domain-nya, ternyata kok jadi gak ada di daftar aku. Nanya langsung ke customer service, dan tadaaa… ternyata dia bilang domain aku jadi udah masuk “Queue to Deletion”. Ngek. Rrr… oke… jadi gimana tuh? Bla bla bla bla… intinya, kalo mau perpanjang sekarang, kita jadi harus bayar 10x lipat dari harganya. Dhuarrr! Hmmm… ngitung-ngitung, kalo yang standarnya 110rb/tahun jadi 1,1 juta dong? yang 200rb jadi 2 juta? dan kalo 400rb jadi 4 juta? Huweee…

“Well, okay.. is there another option, please?”
 
Dan ya, ternyata ada opsi lain. Yaitu kita harus nunggu 70-90 hari sampe domain itu dihapus, terus kita beli baru lagi dengan harga normal. “Okay, that’s more make sense…” but hey, wait! Masalahnya, domain yang (terpaksa) gak aktif itu, hostingnya lumayan gede (hosting = tempat nyimpen data website, bayar juga, makin gede kapasitas, makin mahal). Dan hosting-annya itu emang kebetulan punya masa expired yang beda. So, kalo mesti nunggu 90 hari, itu artinya selama 3 bulan, hostingnya jadi nganggur, gak kepake sama sekali, dan jadi mubadzir. *sigh* Itupun setelah ditanyain lagi, ternyata sang customer service gak bisa mastiin tanggal “penghapusannya” itu kapan, cuma bisa ngasih range waktunya aja. Jadi kalo domain kalian “hot” banget, ya mesti wanti-wanti juga, takutnya pas udah kehapus, eh tiba-tiba udah keburu langsung disamber orang. *double sigh* (Berlebihan sih emang, tapi kan namanya juga “kalo”, muehehehe…)
Jadi, pilihan aku sekarang sih, perpanjang domain hari ini juga, atau ya relain aja hosting-nya jadi mubadzir, haha… Ya.. demikianlah. Udah dulu ya. Aku mau ngitung dan nimbang-nimbang dulu nih mending gimana. Ciaaooo~ X’D

– Bandung, di kamar sambil nikmatin cuaca yang bikin waktu istirahat makin nikmat B)) (the weather of this city is really a thing that i miss the most!)

DIsclosure: ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2015/02/jangan-telat-perpanjang-domain.html untuk tujuan integrasi blog

Scrum? Apaan tu?

AlbertEinstein

Langsung inget kalimatnya opa Einstein di atas begitu Yuricho Billy cerita soal pertanyaannya ke seorang Scrum Master tentang apa itu Scrum, gunanya apa, dan kenapa kita harus pake Scrum, yang mana jawabannya dirasa gak bikin ngerti sama sekali. Gak jelas.

Bikin gw juga jadi penasaran sebenernya Scrum itu apa, secara lagi lumayan happening, jadi mulai banyak workshop-nya juga, dan orang-orang (katanya) jadi ikutan make (entah karena mereka emang udah beneran ngerti atau biar keliatan up-to-date aja). Dan tantangannya adalah, setelah ntar gw pelajari, apakah gw bisa menjelaskan secara sederhana soal ini ke si Cocho dan bikin dia ngerti? Haha..

Baca, baca, baca, dan ha! Gak ada yang menarik ~,~

Oke, yang gw tangkep adalah.. Scrum ini sejenis salah satu metode manajemen gimana caranya handle suatu project (yang disini lebih bertendensi ke bidang IT development) untuk mengefektifkan cara kerja dan jadi jembatan antara keinginan project owner dan developer (karena project owner berorientasi waktu, harus on time sesuai perjanjian ke klien, sedangkan developer bukan robot yang skill-nya bisa ditekan kalo mau hasil bagus). Salah satu caranya adalah membagi masa pengerjaan project ke dalam beberapa termin, dimana tiap selesai satu termin, kita semua harus meeting dan review bareng, termasuk expose progress itu ke sang klien biar doi tau update-annya. Cuma jadi agak ribet disini karena pake banyak istilah, ya artifacts lah, backlog, sprint, increment, bla bla bla.. ^^

Sekilas langsung inget dan jadi mirip sama Lean Startup (ya nggak sih?). Cuma bedanya, Lean Startup fokus ke produk, sedangkan si Scrum lebih concern ke orang-orangnya juga. Inti objektifnya sama; efektifitas. Kenapa jadi beken? Jelas, karena konsep ini dateng dari pusat teknologi dunia dan terbukti berhasil di sana. But again.. gak semua yang sukses di luar bisa berhasil di Indonesia, dan sebenernya gak harus juga semua diadaptasi kemari. Ya.. lumayan sih buat jadi referensi, tapi kenyataannya, punya metode yang macem2 kadang justru lebih menarik, hehe.. atau lebih bagus ya kita bikin metode sendiri (kali-kali) terus dinamain dan bikin itu worldwide :))
Ada pendapat? =)
 
— tengah hari, di tengah kota-kota yang menunggu didatangi, saat bingung jadinya mau pake facebook social plugin atau nggak buat insert komen di blog
 
Sumber referensi:

http://www.scrumguides.org/scrum-guide.html#team-sm
View at Medium.com
http://scrum-indonesia.org/apa-itu-scrum

(Disclosure: postingan ini repost dari status saya di akun facebook pribadi. Yaa.. daripada ntar tenggelam ditelan waktu, mending saya posting di sini juga, biar sekalian ada update, hehe..)